Mysterious CEO

Mysterious CEO
Analisa Kensky.



"Takut kenapa, Ma?" tanya Soraya.


"Takutlah kalau benar laki-laki itu terus memantau Kensky, berarti dia akan tahu rencana kita untuk menjodohkan Kensky dan dokter Harvey."


"Jadi apa rencana Mama sekarang?"


"Entalah. Yang penting sekarang dokter Harvey sudah setuju dan Kensky pun mau dirinya dijodohkan," Rebecca membuang napas panjang, "Tapi mama harus mencari tahu siapa laki-laki yang sudah dijodohkan Barbara dengan Kensky, kalau tidak dia pasti akan menyerang kita karena sudah memberikan Kensky kepada laki-laki lain. Dia bahkan bisa membunuh kita kalau dia tahu hal itu sampai terjadi."


Ting! Tong!


Bunyi bel pintu membuat Rebecca dan Soraya terkejut. Mereka saling melirik dan berkata, "Itu pasti dia," kata Soraya.


Rebecca mengendus. "Mama harap dia belum tahu sosok bocah di foto itu, dengan begitu mama bisa berbohong dan bilang kalau itu adalah dokter Harvey."


Tepat di saat itu gadis yang mereka bicarakan pun muncul. "Selamat sore," sapa Kensky begitu memasuki ruang tamu. Dilihatnya Soraya sedang menikmati minuman, sementara Rebecca dengan wajah berseri-seri sedang tersenyum lebar saat menatapnya. Dengan alis berkerut ia memborong semua tubuh Rebecca yang berpenampilan tidak seperti biasanya, "Mama dari mana? Sepertinya hari ini Mama cantik sekali."


"Terima kasih, Sayang. Duduklah, ada hal yang ingin mama sampaikan."


Soraya berpura-pura tidak mau tahu. "Aku pamit dulu, ya."


Rebecca menatapnya. "Kau mau ke mana?"


"Aku mau mandi, Ma. Aku sudah gerah."


Rebecca pun membiarkan Soraya pergi meninggalkan mereka. Dan setelah Kensky sudah mendudukkan diri di sampingnya, wanita itu pun memulai. "Tadi mama pergi membesuk papimu. Dia titip salam kepadamu dan juga menanyakan kabarmu dan mama bilang kau baik-baik saja."


Kensky terharu. "Benarkah? Bagaimana kabar papi, Ma?" Ini pertama kali bagi Kensky mendengar sang ayah begitu perhatian kepadanya. Saking bahagia bahkan rasanya ia ingin menangis saat mendengar kata-kata yang penuh perhatian itu.


"Kabar papimu baik. Mama lihat juga sudah banyak perubahan yang terjadi pada tubuhnya, tapi si tukang terapi itu bilang papi harus menginap lagi selama satu sampai dua minggu agar kondisinya benar-benar pulih."


"Syukurlah," Kensky bernapas lega, "Tapi Mama tidak mengatakan kepada papi kan kalau aku akan ke Eropa?"


Rebecca meraih tangan Kensky. "Tidak, Sayang. Mama tidak setega itu padanya. Mama takut kalau mengatakan kabar itu kondisi papi akan turun lagi dan membuatnya semakin parah. Jadi, mami berpikir ada baiknya kita rahasiakan saja dulu mengenai kabar itu dari papimu sampai kondisinya sehat."


Kensky tersenyum. "Keinginanku juga seperti itu, Ma."


"Mama memang sudah memikirkan hal itu sebelumnya, dan mama bersyukur pembicaraan itu tidak berlanjut lagi saat papimu mengganti topik soal perjodohanmu dengan lelaki mapan itu."


Mata Kensky berubah cemerlang. "Apa yang dikatakan papi, Ma?"


Rebecca bisa menangkap tatapan Kensky yang memancarkan rasa keingintahuan yang tinggi. Dan itu artinya gadis itu pasti tidak tahu siapa sosok di foto itu. Tapi meskipun begitu, ia sangat berharap semoga Kensky tidak tahu siapa sosok bocah di foto itu, agar ia bisa memainkan perannya. "Oh, iya. Sebelumnya mama mau tanya, apa kau sudah tahu siapa lelaki yang akan dicalonkan denganmu? Apa ayahmu sudah pernah bicara soal ini sebelumnya kepadamu?"


"Iya, namanya Dean Bernardus Stewart." Ingin sekali Kensky mengucapkan nama itu. Tapi karena lelaki itu ada sangkutpautnya dengan Soraya, Kensky harus berbohong demi menyembunyikan sosok lelaki yang telah dijodohkah sang ayah dengannya. "Tidak, Ma. Aku tidak tahu. Bahkan nama dan keberadaannya pun aku tidak tahu."


"Masa, sih? Mama pikir kau sudah tahu siapa lelaki itu."


Rebecca semakin melebarkan senyumnya. "Berarti kemungkinan besar semua itu memang sudah direncana oleh kedua orangtuamu untuk menyembunyikan identitas laki-laki itu darimu, Sky. Atau mungkin mereka sengaja tidak memberitahukannya karena ingin memberikanmu kejutan."


Kensky terkejut. "Maksud Mama mami dan papi?"


Rebecca mengangguk seakan meyakinkan. "Iya, kedua orangtuamu. Tadi papimu bilang kepada mama, bahwa dia dan Berbara sudah merencanakan perjodohan itu jauh sebelum kau lahir. Laki-laki itu adalah anak sahabat mereka. Tapi perjodohan itu sudah tidak pernah dibicarakan lagi, karena rumah tangga kedua orangtuamu mulai renggang. Dan sekarang karena takut terjadi apa-apa sebelum semuanya terungkap, papimu menyuruh mama untuk mengatakan hal ini kepadamu."


Kensky terkejut. "Jadi selama ini mami dan papi sudah merencanakan perjodohan itu?" Kensky semakin berpikir, "Apa jangan-jangan bocah di foto itu adalah Dean? Ya, Tuhan, aku tak menyangka jika ceo itu adalah Dean. Apa mungkin karena alasan itu dia menjuluki dirinya Ceo?"


"Apa sebelumnya ibumu pernah bercerita soal perjodohan?"


Pertanyaan Rebecca mengejutkan Kensky dari pikirannya. "Maaf, Ma. Bisa diulangi apa yang Mama katakan?"


Rebecca tahu Kensky berpura-pura tidak dengar, tapi ia sempat menangkap ekspresi terkejut yang begitu jelas dari wajah gadis itu. "Kan hubungan kamu dan mendiang ibumu sangat dekat, apa semasa hidupnya beliau tidak pernah membahas soal laki-laki yang telah mereka jodohkan denganmu?"


Ingin sekali Kensky mengutarakan sosok laki-laki di foto itu. Tapi mengingat perbuatan Rebecca dulu kepadanya serta Soraya yang begitu menyukai Dean, hal itu membuat Kensky menelan kembali niatnya dan memilih untuk merahasiakan soal foto itu. "Tidak, Ma. Mami tidak pernah membahasnya."


Rebecca tersenyum samar. Dalam hati ia berkata, "Oh, jadi dia tidak mau jujur kepadaku. Tidak masalah, justru itu yang aku harapkan," wanita itu tersenyum lalu menatap Kensky, "Kalau begitu nanti mama akan membujuk papimu. Siapa tahu dia mau mengatakan siapa laki-laki itu, karena sampai sekarang pun papimu tidak ingin memberitahukannya kepada mama. Kalau dipikir-pikir, kenapa sih mereka harus merahasiakannya, kan itu sama saja mempersulitmu untuk bertemu dengannya."


Kensky senang jika Eduardus telah merahasiakan siapa dan apa identitas lelaki yang telah dia jodohkan dengannya. Itu artinya Soraya maupun Rebecca tidak akan tahu bahwa sebenarnya lelaki itu adalah Dean. Meski awalnya ia sendiri ragu dan sempat beranggapan bahwa dirinya telah dijodohkan dengan orang yang berbeda. Tapi jika benar Eduardus dan Barbara telah menjodohkannya dengan seseorang, itu berarti benar soal kabar yang dilontarkan Mrs. Stewart waktu lalu. Dan hal itu membuat Kensky semakin yakin kalau lelaki di foto itu sudah jelas adalah Dean.


"Sky?" panggil Rebecca.


Lagi-lagi Kensky terkejut. "Oh, iya," balasnya cepat, "Maaf."


"Sepertinya kau banyak pikiran. Memangnya kau sedang memikirkan apa?"


Kensky tersenyum lagi. "Tidak ada, Ma. Aku hanya penasaran, bagaimana sih sosok laki-laki yang telah mereka jodohkan denganku?"


"Kau tenang saja, mama akan membujuk papimu segera mungkin agar dia mau mengatakan siapa lelaki itu."


Kensky menatap haru. "Baiklah. Terima kasih banyak ya, Ma. Aku mau ke atas dulu."


"Iya, Sayang. Silahkan," katanya sambil menatap tubuh Kensky yang kini menaiki tangga.


Setelah gadis itu lenyap di balik pintu kamarnya, Rebecca langsung menyusul Soraya di lantai atas. Sebenarnya ia ingin menunggu sampai anaknya itu selesai dan menemuinya. Tapi karena sudah tidak tahan memendam sendiri soal informasi yang baru saja ia dapatkan dari Kensky, Rebecca memutuskan agar langsung mencari Soraya dan memberitahukan soal itu.


Drtt... Drtt...


Baru hendak menuju kamar Soraya, ponsel Rebecca bergetar. "Siapa sih menelepon jam begini," katanya sambil meraih ponsel dari saku roknya, "Dean?" pekik Rebecca saat melihat nama itu. Matanya berbinar-binar lalu menyambungkan panggilan, "Halo, Calon mantu mama."


"Aku ingin malam ini Kensky tidur di apartemenku. Besok pagi-pagi sekali kami bertiga akan berangkat. Kau tidak keberatan, kan?"


Bersambung___