Mysterious CEO

Mysterious CEO
Akting Rebecca.



"Lalu, apa kau tetap masih memilih laki-laki lain daripada dia? Belum tentu laki-laki yang namanya aneh itu tidak punya teman tidur untuk menemaninya setiap malam? Aku rasa pasti ada dan tidak mungkin dia akan memberitahukannya padamu. Sementara Dean, kau sendiri sudah mengalaminya, kan? Dia tidak akan menidurimu meskipun kau sudah telanjang. Dia laki-laki yang hebat, Sky. Tidak mudah bagi seorang lelaki normal mampu menahan gejolak dalam dirinya, padahal kesempatan sudah di depan mata. Seandainya kau yang sedang bersama laki-laki bernama Ceo itu, aku tidak yakin dia akan bersikap sama seperti Dean. Aku tidak percaya, bahwa dia bisa menahan nafsu untuk tidak menidurimu."


"Entalah, Tan. Yang aku malah semakin pusing memikirkan semua itu. Sebaiknya sekarang kau bantu aku memilih gaun yang cocok untuk pesta ulang tahun ibunya."


Tanisa pun beranjak menuju lemari. "Oke! Kau harus memakai gaun yang wow agar ibunya Dean terpikat dan mau menjadikanmu menantu."


"Tanisa! Kau ini bicara apa, hah?" Kensky tertawa.


Tanisa juga ikut terbahak hingga suara mereka berdua memenuhi kamar itu.


Di sisi lain.


"Bagaimana ini? Apa aku harus bilang kepada Kensky kalau ayahnya diculik?"


Rebecca sedang mondar-mandir di ruang tamu dengan perasaan gelisah. Dalam hati ia terus memikirkan bagaimana cara untuk bisa memberitahukan alasan kepada Kensky soal hilangnya Eduardus.


"Ma! Mama kenapa?"


Zet!


Rebecca tersentak dan langsung menoleh. "Ternyata kamu, mama pikir kau Kensky," Rebecca bernapas lega lalu melihat di belakang Soraya untuk memeriksa. Ia takut kalau-kalau anaknya itu pulang bersama Kensky, "Mana dia?"


Soraya mendudukan badannya ke sofa. "Aku tidak tahu. Memangnya ada apa? Kenapa Mama terlihat panik?"


Saat itulah Rebecca duduk di samping Soraya. "Ayah diculik. Itu sebabnya mama bingung bagaimana cara menyampaikan berita ini kepada Kensky."


"Bingung? Kenapa harus bingung, bukankah ini semua idenya Mama? Rencana apa lagi yang akan Mama lakukan sampai menyuruh orang untuk menculik ayah?"


Rebecca terkejut. "Jangan sembarang menuduh, ya. Ayahmu dibawa pergi sama orang-orang yang mama sendiri tidak tahu siapa mereka. Katanya sih ayah punya hutang kepada mereka. Dan sebagai sanksinya, mereka membawa ayah pergi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."


"Terus sebagai istri Mama membiarkan begitu saja mereka membawa ayah, hah? Ayah sedang sakit, Ma."


"Aku tahu, Soraya. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka jumlahnya banyak. Mama tidak bisa melawan mereka semua. Seandainya mereka perempuan, mama pasti sudah melawan."


Alis Soraya berkerut. "Kenapa aku merasa ragu ya dengan perjelasan Mama?"


Rebecca berdiri. "Apa maksudmu?" bentaknya.


Soraya pun ikut berdiri. Tak ingin berdebat dengan sang ibu, ia malah pergi meninggalkan Rebecca sendirian.


"Mau ke mana kau?" pekik Rebecca.


Soraya tak menjawab. Namun saat langkahnya menginjak di anak tangga pertama, ia menoleh dan berkata, "Aku tidak bermaksud apa-apa soal perkataanku tadi, tapi kan aku yang paling tahu siapa Mama dan apa saja yang telah Mama rencanakan."


Emosi Rebecca merebak. "Kau memang anak tidak tahu terima kasih. Aku melakukan ini semua karenamu, Soraya!"


Karena wanita itu tidak mengacuhkannya, Rebecca kembali duduk dan memikirkan tentang kejadian di mana Mr. Bla datang untuk menagih hutang.


"Kalau misalnya Kensky setuju rumah ini diambil oleh Mr. Bla asalkan ayahnya kembali, itu berarti rumah ini tidak akan menjadi milik Dean, dong? Dan itu tandanya aku tidak bisa mendapatkan keuntungan dari rumah ini," katanya dalam hati.


"Ma?" Suara pelan dan lembut itu membuat Rebecca terkejut, "Mama kenapa?" tanya Kensky yang tiba-tiba muncul tanpa sepengetahuan Rebecca.


"Brengsek! Bisa-bisanya dia mengagetkan aku seperti itu. Kalau aku jantungan dan mati ... aku tidak bisa menikmati uang dari hasil penjualan perusahan dan rumah ini, dong," katanya dalam hati. Dengan cepat Rebecca mengubah ekspresinya, "Eh, mama ... mama tidak apa-apa, Nak. Mama hanya sedang banyak pikiran."


"Pikiran apa, Ma?"


Rebecca kembali duduk. "Eh, tidak. Tidak apa-apa, Sayang. Mama bisa mengatasinya, kok."


Kensky mendekati Rebecca dan duduk di sampingnya. "Pasti karena papi, ya?"


"Mama tidak perlu khawatir soal itu. Hutang papi akan segera dilunaskan. Temanku mau membantuku, kok. Mama tenang saja."


Rebecca tidak peduli dengan perkataan Kensky sehingga ia tak menjawab apa yang baru saja dikatakan gadis itu. Ia terlalu sibuk memikirkan hal lain. "Eh, Sky? Sekarang kan ayahmu sedang sakit. Kalau seandainya perusahan itu kembali ke tangan kita, lantas siapa yang akan mengurusnya, papimu kan sudah tidak bisa berbuat apa-apa?"


Kensky tersenyum kemudian meraih tangan Rebecca. "Mama tenang saja, aku akan berhenti dari kantor untuk meneruskan perusahan itu. Aku yang akan menangani Kapleng Group bersama temanku itu."


"Gawat, ini tidak boleh terjadi. Aku harus menghubungi Dean, dia tidak boleh membiarkan Kensky merebut kembali perusahan itu."


"Ma? Apa yang Mama pikirkan?" tanya Kensky saat menangkap ekspresi khawatir di wajah Rebecca.


Suara Kensky membuatnya tersentak. "Ah, tidak. Mama tidak berpikir apa-apa, Sayang. Kalau itu memang sudah keputusanmu, mama setuju saja. Lagi pula kamu yang lebih berhak atas kepemilikan Kapleng Group, bukan mama atau Soraya."


"Terima kasih, Ma. Kalau begitu aku ke atas dulu, ya," katanya lalu berdiri meninggalkan Rebecca.


"Sky?"


Gadis itu menoleh. "Iya, Ma?"


"Kau ingin mama buatkan sesuatu?"


"Tidak usah, Ma. Terima kasih. Aku mau melihat papi dulu."


Zet!


"Gawat! Dia tidak boleh tahu kalau Eduardus tidak ada," kata Rebecca dalam hati. Ia pun segera memikirkan alasan dan mulai berakting di depan Kensky, "Ya, ampun, Sayang. Maaf, tapi mama lupa dan belum memberitahukanmu. Lagi pula saat mama ingin meneleponmu tadi nomormu tidak aktif."


Alis Kensky berkerut. "Ada apa?"


Rebecca mendekati gadis itu dan memegang tangannya. "Jadi begini, ada kerabat mama yang suaminya ternyata pernah mengalami penyakit sama seperti yang diderita ayahmu. Dan begitu mama menceritakan kondisi ayah, dia merekomendasikan pengobatan tradisional itu kepada mama karena suaminya itu sekarang sudah sembuh. Jadi saking bahagianya, mama langsung membawa ayahmu ke tempat itu untuk di rawat tanpa meminta ijin padamu. Nah, karena itu adalah pengobatannya tradisional pemilik klinik itu menyuruh ayahmu menginap di sana sampai dia sembuh. Paling tidak sampai saraf-saraf di tubuhnya berfungsi lagi. Jadi mulai besok, setiap hari mama harus ke sana untuk mengecek keadaan ayahmu. Maafkan mama. Tapi mama melakukan ini semua demi kesembuhan ayahmu, Sayang."


"Perawatan tradisional, maksud Mama dipijat?"


"Iya, Sayang. Itu lebih bagus lho, lebih murah lagi. Jadi, kita tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk pengobatan ayahmu," Rebecca memasang wajah sedih, "Seandainya ekonomi kita masih seperti dulu, mungkin tidak masalah jika kita membayar spesialis untuk melakukan terapi kepada ayahmu. Tapi kamu tahu sendirikan bagaimana kondisi kita saat ini? Tapi itu tidak masalah, yang utama adalah kesehatan ayahmu."


Kensky memeluk Rebecca. "Terima kasih banyak, Ma. Terima kasih karena Mama begitu peduli kepada papi."


Tanpa mereka sadari, sosok Soraya sedang memantau dari lantai atas. "Ya, Tuhan, maafkanlah ibuku. Maafkan atas semua dosa yang telah dia lakukan."


Soraya sebenarnya ingin turun untuk menemui Rebecca. Tapi karena melihat ibunya sedang berbicara dengan Kensky, ia pun menghentikan langkahnya dan menyimak akting yang diperankan Rebecca untuk meyakinkan Kensky.


"Awas saja sampai aku tahu kalau mama sengaja membuat Dean dekat dengan Kensky. Jika itu benar, aku tidak akan segan-segan membongkar kedok mama di hadapan Kensky biar dia tahu kalau mamalah otak di balik semua kejadian ini."


***


Hari itu pun tiba. Hari di mana Kensky harus menemani Dean untuk menghadiri acara ulang ibunya.


"Ya, ampun. Kenapa aku gugup sekali, ya? Padahal kan belum waktunya."


Saat ini Kensky sedang berada di kamarnya dengan tubuh yang masih terbalut jubah mandi. Karena hari ini ia akan menghadiri acara ulang tahun si pemilik perusahan Kitten Group, sebisa mungkin Kensky mempersiapkan diri untuk terlihat sangat cantik. Apalagi partnernya malam ini adalah Dean, anak dari pemilik perusahan tersebut.


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu membuat Kensky terkejut dan menoleh ke arah pintu. "Siapa?"


"Ini mama, Sayang."


Bersambung___