Mysterious CEO

Mysterious CEO
Kembali Ke Eropa.



"Terus, Rebecca mau?"


"Papi tidak perduli, dia mau atau tidak keputusan papi sudah bulat dan perceraian itu sedang diurus. Papi ingin bercerai dengannya, Kensky. Selama ini papi sangat menyesal telah mempercayainya. Papi bahkan menomor duakan anak kandung papi sendiri hanya demi membahagiakan mereka. Papi benar-benar memyesal, Sky, benar-benar menyesal."


Wajah Kensky terlihat sedih. "Sudahlah, semua sudah terjadi. Hanya saja aku sedikit khawatir, aku takut Rebecca akan mencelakai Papi lagi. Aku tidak ingin itu terjadi lagi, Pi."


"Tidak, Sky. Papi tidak ingin bertemu lagi dengan wanita jahat seperti dia. Memang semua ini rencana Dean, tapi setidaknya dengan masalah ini papi bisa tahu bahwa Rebecca tidak benar-benar mencintai papi."


"Baiklah. Tapi Papi janji jangan pernah berurusan dengan mereka lagi, ya? Aku tidak ingin mereka berpura-pura dan mencelakai Papi, karena mereka sakit hati. Mereka pasti akan melakukan segala cara untuk membalas perbuatan Papi kepada mereka. Memang Papi tidak menyakiti mereka secara langsung, tapi tidak mendapat bagian sepeserpun dari Papi pasti membuat Rebecca sakit hati."


Eduardus meraih tangan anaknya. "Kamu tenang saja, itu semua tidak akan terjadi. Papi tidak akan lagi tinggal di rumah itu, papi akan tinggal bersama Mr. Bla."


Kensky tersenyum sayang. "Kira-kira mami akan marah tidak ya jika tahu rumah dan perusahannya sudah jatuh ke tangan orang lain?"


Eduardus menunduk sesaat. "Seandainya waktu bisa diulang, papi tidak akan pernah menyakiti ibumu, Sky. Papi benar-benar menyesal."


"Sudahlah, Pi, semuanya sudah terjadi. Meskipun kita tidak bisa menyelamatkan perusahan dan rumah mami, setidaknya dua aset itu jatuh ke tangan orang yang hebat. Mami pasti senang jika Kapleng Group akan dikelolah oleh Dean, dan aku percaya ... suatu saat Dean pasti akan membuat nama Kapleng Group terkenal seperti nama Kitten Group."


Mata Eduardus berkaca-kaca. "Dia benar-benar orang yang hebat, Sky."


Di saat bersamaan Dean muncul dari arah belakang dan mengejutkan mereka. "Sudah waktunya berangkat."


Kensky dan Eduardus menoleh. Mereka langsung berdiri dan menatap Dean.


"Pi, aku pergi dulu, ya? Papi jaga kesehatan."


Mata Eduardus berkaca-kaca. "Dean, seandainya bukan kau yang mengirimnya ke sana mungkin aku tidak akan setuju, aku tidak ingin dia meninggalkanku. Tapi karena kau adalah atasannya, aku percaya kau bisa menjaga dia."


Dean menunduk sesaat. "Anda tenang saja, keselamatan Kensky hal yang utama bagiku."


Wajah Kensky merona merah. "Baiklah, Pi, aku pergi dulu."


"Hati-hati, Sayang."


Dean dan Kensky pun pamit dan meninggalkan Eduardus. Sementara lelaki itu hanya bisa menatap sedih saat tubuh Kensky menjauh dan meninggalkannya.


***


Beberapa hari pun berlalu. Dean yang kini sedang berkutat dengan pekerjaannya tampak terganggu ketika getaran ponsel mengenai telinganya.


Drtt... Drtt...


Dilihatnya nama Rebecca sebagai pemanggil. "Mau apa lagi wanita gila ini?" Dengan terpaksa Dean menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilannya, "Halo?"


"Dean! Apa benar rumah ini sudah menjadi milikmu? Apa benar Eduardus telah memberikan rumah ini padamu?"


"Eduardus yang telah memberitahukannya?"


"Lelaki tua itu hampir setiap hari datang ke sini hanya untuk mengusir aku dan Soraya. Katanya rumah ini sudah menjadi milikmu, benar?"


"Itu benar."


"Tidak, itu tidak mungkin! Mana buktinya? Pokoknya aku tidak mau keluar dari rumah ini sebelum ada bukti bahwa rumah ini sudah menjadi milikmu, Dean."


Dean menyeringai. Ia tahu sikap Rebecca seperti itu karena yang dia tahu sertifikat itu sudah hilang. "Harusnya kau cukup tahu diri, Rebecca. Apa keterangan dari sang pemilik rumah belum jelas juga sampai kau bersikeras ingin bertahan? Harusnya kau malu, karena si pemilik rumah telah mengusirmu."


"Tidak! Si pemilik rumah ini sudah meninggal dan dia ibunya Kensky. Pokoknya aku dan Soraya tidak akan keluar dari rumah ini sebelum ada bukti sah yang menyatakan bahwa rumah ini adalah milikmu."


"Apa aku harus menyuruh Kensky dan Eduardus untuk memberikan surat pernyataan kepadamu, hah?"


"Pokoknya aku tidak mau keluar dari sini sebelum kau membuktikan bahwa rumah ini benar-benar sudah menjadi milikmu, Dean."


Rebecca memutuskan panggilannya dan hal itu membuat Dean tertawa. "Matt?"


"Iya, Bos?"


"Telepon Mr. Pay, aku ingin bicara dengannya."


"Siap, Bos."


Di sisi lain.


"Aku tidak mau keluar dari sini, Eduardus. Meskipun kau bilang bahwa rumah ini sudah menjadi milik Dean, aku tidak akan keluar dari rumah ini sebelum ada bukti sah yang membenarkannya."


Tiga orang itu sedang berada di ruang tamu. Soraya sedang duduk, Rebecca berdiri, sedangkan Eduardus duduk tepat di hadapan mereka.


"Kau itu wanita sinting, ya? Bukannya aku sebagai pemilik rumah sudah mengatakan siapa yang berhak tinggal di rumah ini? Lagi pula untuk apa hakmu meminta bukti sah kepadaku? Itu tidak perlu."


"Aku ini istrimu, Eduardus! Wanita yang telah merawatmu selama puluhan tahun. Harusnya sebagai suami kau memberikan aku dan Soraya sesuatu sebagai bentuk tanggung jawabmu."


Kepala Eduardus tersentak. "Tanggung jawab? Apa kau meracuniku adalah bentuk tanggung jawab sebagai istri kepada suami, hah?"


Rebecca histeris. "Itu idenya, Dean. Aku hanya___"


"Aku tidak peduli, Rebecca! Mau idenya Dean atau Dayen pun aku tak peduli. Selama kau menuruti dan melakukan hal jahat kepadaku, itu berarti kau tidak mencintaiku sama sekali. Dan karena kau tidak mencintaiku, kau tidak pantas mendapatkan sedikitpun tanggung jawab dariku. Harusnya kau sadar diri, meskipun kau istriku tapi kau tidak memberiku keturunan. Jadi sudah sewajarnya kau tidak mendapatkan apa-apa dariku."


Rebecca terperanjat. Ia sama sekali tak menyangka jika Eduardus akan berkata begitu. Hal itu membuatnya sakit hati dan menyesal, karena tidak pernah mau memberikan anak kepada Eduardus.


Eduardus berdiri. "Sekarang terserah kalian, setidaknya aku sudah memperingatkan untuk segera keluar dari rumah ini sebelum para anak buah Dean mengusir kalian." Tanpa menunggu jawaban Rebecca lelaki itu segera bergerak dan keluar dari pintu.


Soraya yang sedari tadi menahan emosi, kini menatap tajam ke arah Eduardus. "Dasar laki-laki tak punya pikiran."


Rebecca mondar-mandir dengan tatapan tak menentu. "Tidak, pokok kita tidak boleh keluar dari sini."


Soraya menatap ibunya. "Apa ibu akan menunggu sampai kita benar-benar diusir, hah? Apa belum cukup perkataan Eduardus bahwa rumah ini sudah menjadi milik Dean? Apa ibu harus menunggu polisi datang untuk mengusir kita dari sini?"


Rebecca menatap anaknya. "Kau tahu kan di mana sertifikat rumah ini berada?"


Ekspresi Soraya berubah. Sesaat ia tampak berpikir lalu menjawab, "Ada pada orang suruhan Mama, kan? Dan orang itu sudah menghilang."


Rebecca kembali duduk. "Justru itu, Soraya. Karena sertifikat itu hilang jadi Dean tidak bisa sepenuhnya membenarkan, bahwa dialah pemilik rumah ini."


"Tapi kan dia yang kaya raya, Mama. Tak menghitung detik pun dia pasti bisa membuat sertifikat baru atas rumah ini. Apalagi ada bukti persetujuan dari Kensky dan Eduardus. Sebaiknya kita menyerah saja dan ayo pergi dari sini."


Rebecca mengendus. "Itu dia maksud mama, Soraya. Setidaknya kita masih bisa tinggal di sini sampai sertifikat barunya selesai. Bukankah dia harus melewati banyak proses dulu baru bisa mendapatkan sertifikat baru? Dengan begitu kita masih punya kesempatan mencari tempat untuk kita tempati, Soraya."


"Ya, ampun, kalau hanya soal itu kan Mama bisa minta toleransi kepada Dean. Lagi pula yang mengusir Mama kan Eduardus, bukan Dean. Aku rasa Dean pasti akan mengerti dan memberi kita waktu."


Rebecca menatap sedih dan kosong. "Mama ragu, Soraya. Dean pasti tidak akan mengijinkan kita tinggal di sini, lagi pula dia sudah menggaris merah nama kita berdua. Mama yakin dia tidak akan mau lagi membantu kita."


"Kenapa?"


Mata Rebecca beralih kepada Soraya. "Mama rasa dia pasti melakukan ini, karena marah kita telah menjodohkan Kensky dengan dokter Harvey. Coba kau pikir, kenapa setelah dokter Harvey datang semuanya jadi berantakan?"


Wajah Soraya berubah garang. "Persetan dengan itu, Ma. Pokoknya sekarang Mama harus cari cara bagaimana agar kita tetap tinggal di sini. Apa Mama lupa kalau kita tidak punya uang untuk mencari kontrakan baru."


"Mama tahu, Soraya. Itu sebabnya mama ingin kita tetap tinggal. Dan jalan satu-satunya yang bisa membuat kita bertahan di sini adalah itu; mendesak Dean untuk memperlihatkan bukti sertifikat itu kepada kita. Kalau dia sudah memperlihatkan sertifikat itu, mama akan langsung keluar dari rumah ini, sungguh."


Bersambung___