
Rebecca menatap sedih. Sebagai perempuan yang pernah mencintai seseorang ia mengerti apa yang dirasakan Soraya saat ini. Anaknya itu pasti tertekan ketika melihat Dean lebih dekat dengan Kensky daripada dengan dirinya. Sama halnya waktu dulu saat Eduardus lebih memilih Barbara daripada dirinya, ia merasa ingin mati saja daripada melihat Eduardus bersama wanita lain meskipun wanita itu istrinya.
Rebecca menatap Soraya kemudian mendudukan dirinya di samping wanita itu. "Kamu yang sabar, ya. Mama yakin di balik ini semua pasti ada sesuatu yang Dean rencanakan, karena tidak mungkin dia akan menyukai Kensky yang dia tahu adalah anak dari musuhnya."
Soraya menengadahkan kepalanya menatap Rebecca. "Aku tidak yakin, Ma. Sikap Dean kepadaku semakin hari semakin dingin, sementara setiap hari dia semakin dekat dengan Kensky. Aku rasa dia memang tidak menyukaiku, Ma. Dia tidak ingin menikahiku."
"Tenangkan dirimu, Sayang. Biar mama akan mencari tahu dulu semunya. Siapa tahu sikap Dean seperti itu hanya ingin menjebak Kensky. Nanti mama akan telepon dia dan minta penjelasannya. Kau tenang, ya?" Tak ingin membahas soal Dean, Rebecca mengalihkan pembicaraan dengan membahas soal kondisi Soraya, "Dokter bilang apa? Kau sudah bisa pulang, kan?"
"Kata dokter aku bisa pulang, tapi tunggu sebentar lagi. Masih ada hasil tes yang harus diperlihatkannya kepadaku."
"Hasil?" ulang Rebecca, "Kenapa harus menunggu, keadaanmu sekarang kan tidak apa-apa?"
"Kepalaku sering pusing, Ma. Jadi tadi mereka memeriksa kepalaku dengan alat scanner, dan aku disuruh dokter untuk menunggu sampai hasilnya keluar. Dokter takut kalau ada sesuatu yang terjadi di kepalaku, akibat benturan saat aku terjatuh tadi."
"Baiklah, kalau begitu mama di sini saja menemanimu," kata Rebecca kemudian membuang muka. Sambil membuang napas panjang ia menatap kosong ke arah jendela.
Sebagai anak Soraya bisa merasakan apa yang sedang membuat pikiran ibunya melayang. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, "Ada masalah apa, Ma? Apa yang Mama pikirkan?"
Rebecca tersentak kemudian melirik Soraya. "Tidak apa-apa, mama hanya ingin mengkhayal saja."
Intuisi seorang anak pastilah tepat. "Mama sedang memikirkan keuntungan yang akan diperoleh dari penjualan perusahan dan rumah, kan?"
Rebecca hendak memprotes. Tapi karena tidak mau anaknya berpikiran yang macam-macam, ia pun segera meluapkan apa yang memang sedang menjadi beban pikirannya saat ini. "Sebenarnya bukan itu. Yang mama pikirkan adalah orang suruhan mama kabur dan membawa sertifikat rumah serta bukti pernyataan yang telah ditandatangani ayahmu."
"Sertifikat rumah?"
"Iya, Sayang. Itulah sampai kenapa mama selalu bersikap lembut kepada Kensky. Karena dia bersikeras akan membayar semua hutang ayahnya dan meminta batas waktu, mama memanfaatkan alasannya itu untuk mengambil sertifikat rumah itu darinya. Mama berbohong kepadanya kalau Dean telah memperpanjang kesempatan itu dan meminta jaminan. Jaminan yang tak lain adalah sertifikat rumah mereka. Dan begitu dia memberikan sertifikat itu, mama memberikannya kepada orang suruhan mama dan orang itu sekarang tidak tahu ada di mana."
Soraya terkejut. "Jangan-jangan sertifikatnya digadaikan, Ma."
Rebecca menatap sedih. "Itulah yang mama khawatirkan. Jadi mama harap kau bisa mengerti kenapa selama ini sikap mama kepada Kensky seperti itu. Kalau mama tidak membujuknya atau tidak bersikap baik, kita akan ketahuan dan tidak akan mendapatkan keuntungan dari perusahan dan rumah itu. Dialah yang berkuasa dan lebih berhak dari kita, Soraya. Apalagi sekarang Eduardus sudah tidak ada, bisa-bisa kita akan diusir dari rumah itu kalau dia tahu semua ini perbuatan kita."
"Kita?" ulang Soraya, "Aku tidak mau ikut campur, Mama. Itu semua ide Mama, bukan aku. Tapi kalau Mama ingin aku merahasiakannya, aku bisa. Asalkan Mama harus membuat Dean menikahiku secepatnya. Pokoknya Dean harus menjadi suamiku, Ma."
Clek!
Pintu ruangan yang terbuka dari luar mengejutkan Soraya dan Rebecca. Dilihatnya sosok dokter tampan, tinggi, berkulit putih yang muncul dengan pakaian serba putih dan berkaca mata.
"Selamat siang," sapanya sopan.
"Siang, Dokter," balas Rebecca dan Soraya bersamaan.
"Ma, ini dokter yang menanganiku tadi," Soraya memperkenalkan.
Rebecca mengulurkan tangan untuk berjabat. "Terima kasih, Dokter. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan anak saya? Apa lukanya tidak parah?"
Dokter tampan bermata biru itu tersenyum manis kepada Rebecca. "Putri Anda tidak apa-apa. Dahinya itu dijahit beberapa jahitan, karena benturan cukup keras sehingga menyebabkan luka sobek. Tapi Anda tenang saja, dia akan baik-baik saja."
"Berarti aku sudah bisa pulang sekarang, Dok?" tanya Soraya
"Sebentar lagi. Hasil scan-nya belum keluar. Aku khawatir tejadi apa-apa dengan di kepalamu akibat benturan itu. Bersabarlah, kalau hasilnya sudah keluar kau sudah bisa langsung pulang."
Sang dokter tersenyum manis. "Oh, iya, gadis yang tadi datang membesukmu ke mana? Apa benar dia adikmu?"
Rebecca menyipitkan mata menatap Soraya. Sedangkan wanita itu menatap sang dokter begitu tahu siapa sosok yang dimaksud.
"Iya, Dok. Dia adikku. Namanya Kensky, dia asisten kepala keuangan di Kitten Group."
"Oh, pantasan saja dia tadi datang bersama pak Dean."
Soraya dan Rebecca saling melirik. "Anda mengenal Dean?"
Si dokter tersenyum lagi. "Aku tidak terlalu mengenalnya. Hanya saja waktu masih kuliah di Jerman, aku dan dia seangkatan. Dia di fakultas Bisnis dan Management, sedangkan aku Kedokteran. Aku juga tahu beliau adalah CEO di Kitten Group, karena pamanku bekerja di kantornya."
"Oh, begitu," balas Rebecca.
Soraya tersenyum-senyum sendiri seakan ada yang sedang ia pikirkan. Tiba-tiba saja wanita itu memiliki ide untuk medekatkan si dokter dengan Kensky. "Oh, iya, Dok. Nama Anda siapa? Apa Anda punya kartu nama? Supaya di saat kembali untuk membuka jahitan ini aku akan menghubungi Anda lebih dulu sebelum ke sini."
"Oh, tentu saja," balas si dokter sambil mengeluarkan selembar kertas dari saku kemeja yang dipakainya, "Ini kartu namaku. Jika kau ingin ke sini untuk membuka jahitannya, telepon saja aku. Ada baiknya kau menghubungi satu jam sebelum ke sini. Takutnya kau ke sini di saat aku sedang sibuk dan akan menunggu lama."
Tok! Tok!
Clek!
Seorang perawat muncul dari balik pintu. "Permisi, Dokter Harvey. Hasilnya scanner-nya sudah keluar."
"Oh, iya. Aku akan segera ke sana," ia menatap Soraya dan Rebecca, "Hasilnya sudah keluar, aku ke sana dulu untuk mengeceknya."
"Silahkan, Dokter," balas Rebecca.
Soraya tersenyum lebar.
Sementara Rebecca yang kini sedang menatapnya, mengerutkan alis seakan penuh tanya. "Kenapa kau tertawa?"
"Dr. Harvey ... sepertinya aku punya ide, Ma."
"Ide apa?"
Soraya menatap ibunya. "Aku ingin menjodohkan Kensky dengan Dr. Harvey. Menurut Mama bagaimana? Dengan begitu kan Kensky tidak akan bisa lagi dekat-dekat dengan Dean."
"Memangnya dia mau? Kensky kan tipe orang yang selektif."
Soraya menyeringai. "Dia pasti akan mau. Mama lihat saja apa yang akan kulakukan."
Rebecca penasaran. "Memangnya apa yang akan kau lakukan?"
Soraya menatap jendela. Tatapannya kosong seakan sedang membayangkan apa yang ada dalam pikirannya itu akan menjadi kenyataan. "Kalau kita gunakan ayah sebagai alasan bila mana dia telah dijodohkan, Kensky pasti akan menanyakan hal ini kepada ayah, bukan? Sementara keberadaan ayah saat ini tidak tahu ada di mana. Dan kalau bisa kita jangan membahas soal ayah dulu di depannya, takutnnya dia akan rindu dan mencari ayah."
Rebecca berdecak. "Terus, apa hubungannya dengan Dr. Harvey, Soraya?"
Bersambung___