
Dean meraup pipi Kensky. "Apa kau tidak ingat sedikit pun tentang kejadian semalam?"
Gadis itu tampak berpikir. "Kalau tidak salah semalam aku minum anggur, kan?" katanya pelan. Namun tiba-tiba ia terpikir sesuatu hingga matanya berubah cemerlang," Apa ...," ia menengadahkan kepala menghadap Dean, "Kau ...," Kensky terkejut saat menatap tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja, "Di mana pakaianku?"
Semalam setelah mereka puas bermesraan, Dean memakaikan kemejanya kepada Kensky agar gadis itu tidak kedinginan. "Apa lagi yang kau ingat?" tanya sambil menyeringai.
Kensky mengingat kembali saat dirinya dan Mr. Hans ditawarkan anggur oleh Dean. Ia juga mengingat saat dirinya yang hampir terjatuh ketika menuju kamar mandi. Ia juga ingat saat ia masuk ke dalam bathtube dan terbangun saat Dean mengganggunya di saat ranjang sampai tubuhnya menggeliat-geliat di bawah dekapan tubuh lelaki itu.
Zet!
Begitu mengingat semua kejadian yang ia lakukan bersama Dean, wajah Kensky terasa panas dan memerah akibat malu yang kini menyerangnya.
Dean tersenyum samar. "Kau sudah ingat, kan?" bisiknya tepat di telinga Kensky, "Kau lupa, kau bahkan sangat menikmatinya."
Lagi-lagi Kensky merangsang ingatannya. Yang ia ingat terakhir bahwa dirinya sedang berpelukan dengan Dean sambil berbincang-bincang. Setelah itu ia tak tahu lagi apa yang terjadi sampai akhirnya cahaya matahari membangunkannya saat ini.
Perlahan gadis itu menoleh untuk menatap Dean. Sambil memborong semua wajah pria itu, Kensky kembali mengingat apa benar mereka telah melakukannya semalam?
"Aku tak menyangka kalau ternyata tubuhmu sangat nikmat."
Perkataan Dean membuyarkan ingatan Kensky. "Hah, apa?"
Dean berdecak. Ia mengulurkan tangan lalu mengelus pipi Kensky. "Kau sekarang hanya milikku, hanya milikku dan untuk milikku selamanya."
Kensky menatap bingung. Jika benar mereka telah melakukannya lantas kenapa ia tidak merasakan sakit di bagian itu? "Apa benar kita sudah melakukannya?" tanya Kensky polos.
Dean tersenyum. "Apa kau ingin kita melakukannya lagi?"
Dengan cepat Kensky menggeleng dan beranjak dari ranjang, tapi tangan Dean segera menahannya hingga tubuh mereka terbaring.
"Kau mau ke mana?"
"Aku harus ke kantor," kata Kensky seraya berusaha untuk melepaskan diri dari Dean.
"Kau tidak boleh ke mana-mana." Dean segera membaringkan tubuh Kensky di ranjang lalu menyerang lehernya dengan bibir.
Kensky menolak, tapi kecupan-kecupan bibir Dean seakan membangunkan gairah yang ada dalam tubuhnya. Ia mendesah dan tak ingin hal itu berakhir.
Di sisi lain.
Tok! Tok!
"Soraya!" teriak Rebecca, "Soraya, buka pintunya!"
Tok! Tok!
"Soraya!"
"Hmmm," gumamnya dari dalam kamar. Ia menggeliat di atas ranjang. Suara ibunya membuat gadis itu terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
"Soraya, ayo cepat buka pintunya!"
"Iya, iya!" balasnya sambil beranjak dari kasur. Ia menepiskan selimutnya kemudian berjalan menuju pintu.
Clek!
"Ada apa? Kenapa___"
"Di mana Kensky? Kenapa mama periksa kamarnya tidak ada. Kasurnya bahkan masih rapi. Bukannya kalian sama-sama pergi ke pesta tadi malam?"
Soraya mengucek matanya dengan punggung tangan. "Aku tidak tahu, Ma," balasnya malas lalu kembali berbaring di atas ranjang.
Rebecca mengekor. "Bukannya tadi malam kalian berdua pergi ke acara kantor?"
Soraya menghamburkan tubuhnya ke ranjang. Sambil menutup mata ia menjawab, "Aku tidak tahu, Ma. Aku tidak bertemu dengannya."
"Tidak bertemu?" bisik Rebecca. Ia tampak berpikir, "Dean! Pasti itu semua karena Dean!"
Dengan cepat ia meraih ponselnya untuk menghubungi lelaki itu. Sedangkan Soraya langsung terlelap karena kantuk yang masih melandanya.
"Halo, Dean, apa Kensky bersamamu?" tanya Rebecca begitu panggilannya terhubung.
"Tidak apa-apa. Aku hanya panik saat melihat tempat tidurnya masih rapi. Tapi ngomong-ngomong apa alasan kau menahannya, Dean?"
"Bukankah kau ingin mencari sertifikat rumah itu? Aku sengaja menahannya agar rencanamu cepat selesai. Kau mengerti, kan? Ngomong-ngomong apa kau sudah berhasil mendapatkan tanda tangannya Eduardus?"
"Belum, tapi pagi ini pengacaraku akan datang membawa dokumennya. Mungkin sebentar lagi dia tiba. Aku sudah mengatur rencana untuk hal itu, kau tenang saja."
"Baiklah, tapi pastikan dia harus menandatanganinya dengan jelas. Aku tidak mau menunda lebih lama hanya karena kesalahan kecil seperti itu, Rebecca."
"Baik, Dean. Kau tenang saja. Ngomong-ngomong kau apakan anak tiriku sampai tidak dijinkan pulang?"
"Kau khawatir kepadanya?"
"Tidak, tidak sama sekali."
"Kalau begitu kau tidak perlu tahu apa yang kulakukan kepadanya. Kau tenang saja, aku tidak akan melukai anak kesayanganmu ini."
"Dia bukan anakku, Dean. Aku bahkan tak peduli kepadanya. Terserah kau ingin menyakitinya atau tidak, aku tak peduli."
"Baiklah. Cepat kabari aku kalau kau sudah berhasil mendapatkan tanda tangan Eduardus."
"Baik, Dean."
Tut! Tut!
Dean memutuskan panggilannya. Sementara Rebecca dengan masih berdiri menatap keluar jendela. Senyumnya bahkan sangat lebar saat membayangkan rencananya akan segera berhasil. "Kita akan kaya, Soraya. Kita akan kaya."
Merasa putrinya tak menjawab, Rebecca segera berbalik dan menatap tubuh Soraya yang terlentang dengan mata terpejam. "Ya, ampun! Dasar pemalas. Soraya, ayo bangun!"
"Hmmm, aku masih mengantuk, Ma," katanya lemas. Ia memiringkan tubuhnya memeluk guling.
"Tidak ada alasan, ayo cepat bangun!"
"Aku masih mengantuk, Ma," katanya dan semakin merapatkan gulingnya.
Rebecca tak peduli. Ia merampas guling itu dan memukul bokong Soraya. "Ayo cepat bangun, nanti kau terlambat ke kantor."
"Mama, ini kan hari minggu."
"Mama tak peduli. Ayo, cepat bangun. Mulai sekarang kau harus belajar bangun pagi, karena sebentar lagi kau akan menjadi istrinya Dean."
Soraya tak perduli. Ia malah memeluk gulingnya dan mengabaikan omelan-omelan ibunya.
Rebecca kesal. Tapi saat mendengar bel rumah berbunyi, ia pun terpaksa meninggalkan Soraya dan keluar dari kamar. "Itu pasti pengacaraku."
Di sisi lain.
Dean baru saja keluar dari kamar mandi dengan celana panjang katun berwarna abu-abu. Dadanya yang telanjang memperlihatkan butiran-butiran air yang masih menempel saat ia selesai mandi. Dilihatnya Kensky sedang tidur dengan begitu damai. Wajahnya yang lembut membuat Dean tak tahan untuk mendekatinya. Dengan pelan ia naik ke atas ranjang lalu berbisik, "Selamat datang di duniaku. Dunia di mana aku tidak akan pernah melepaskanmu selamanya."
Suara Dean membuat Kensky terbangun. Dengan pelan ia membuka mata sambil menggeliatkan tubuhnya. "Kau?" lirihnya.
Dean tersenyum sambil mengusap pipi gadis itu. "Maaf sudah membuatmu terbangun."
Kensky tidak menjawab. Matanya kembali terpejam dan mencoba untuk mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Ketika pikirannya teringat saat mereka berdua saling berpelukan dan berciuman, matanya kembali terbuka untuk menatap Dean. "Kenapa kau tidak jadi meniduriku? Bukannya tadi kau bilang akan memperkosaku?" Kensky tersenyum lembut.
"Aku akan melakukannya setelah kita menikah."
Di satu sisi Kensky memang sangat menyukai Dean, tapi sikap kurangajar pria itu membuatnya jengkel. Namun di balik kekurangajaran Dean, ternyata lelaki itu sangat menghargainya dan hal itu membuatnya senang. Setinggi apapun gairah yang diciptakan oleh mereka, Dean tidak mau menidurinya dan itu membuat Kensky semakin cinta padanya.
"Jam berapa sekarang? Aku harus ke kantor," tanya Kensky.
Dean memeluk Kensky lebih erat. "Hari ini dan seterusnya kau tidak perlu bekerja lagi. Aku tidak mau calon istriku kelelahan."
Kensky terkejut. "Kau gila," katanya sambil menahan tawa. Ia mencoba melepaskan diri, tapi pelukan Dean terlalu erat, "Lepaskan aku, Dean. Aku harus ke kantor."
Dean tak menjawab. Ia malah semakin mempererat pelukannya dan mencium pipi Kensky. "Ini hari minggu, untuk apa kau ke kantor?"
Jawaban Dean membuat Kensky terdiam. Tubuh bagian dalamnya yang tak mengenakan apa-apa pun langsung merespon saat tangan Dean meraup dadanya. Ia menggigit bibir saat jemari pria itu menyentuh pucuk di bagian itu.
Bersambung___