
Seminggu pun berlalu. Kensky yang seharusnya sudah kembali ke Eropa akhirnya tertunda akibat permintaan Dean. "Aku sudah terlalu lama di sini, kalau aku menundanya lagi yang ada pekerjaanku semakin banyak. Aku tidak mau meskipun kau pacarku, tapi melalaikan tugas sebagai karyawanmu."
Dean tersenyum sayang. Saat ini mereka sedang berada di restoran langganan sambil menikmati makan siang. "Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menghubingi Mr. Bon dan menyuruhnya untuk menangani semuanya. Kau tenang saja."
"Aku tidak ingin mereka menganggap aku dispesialkan olehmu, Dean. Aku tidak ingin mereka menilai, bahwa kau membeda-bedakan karyawanmu. Aku tidak ingin itu terjadi. Di sini aku pacarmu, tapi di sana aku karyawanmu."
Lelaki itu menyudahi makannya. "Kenapa kau harus khawatir, Sayang? Kau memang orang yang spesial bagiku dan Kitten Group. Hanya saja mereka tidak tahu, bahwa kaulah pemilik Kitten Group yang sebenarnya bukan aku."
Kensky menatap haru. Perlahan ia meraih sebelah tangan Dean kemudian menggenggamnya. "Tidak, Dean, meskipun aku keluarga kandung keluarga Stewart tapi aku ingin kaulah yang mengendalikan Kitten Group. Jika tidak ada kamu, mana mungkin Kitten Group akan sebesar ini. Kitten Group pasti tidak akan seperti sekarang jika tidak ada kamu."
Dean balas meremas tangan Kensky. "Kau yakin tidak akan mencobanya? Kau punya potensi yang bagus, Sky."
Kensky menggeleng keras. "Tidak, Sayang. Lagi pula aku seperti itu karena ada kamu yang membimbingku. Seandainya tidak ada dirimu, mana mau semangat kerjaku seperti sekarang ini. Kau bagaikan kekuatan bagiku, itu sebabnya aku sangat antusias dalam menjalankan setiap pekerjaan. Seandainya aku tidak jatuh cinta padamu dan kau tidak menyukaiku, mana mungkin semangatku akan seperti ini."
"Baiklah," kata Dean sambil tersenyum. Tiba-tiba sesuatu muncul dalam pikirannya, "Oh, iya, besok ada undangan dari salah satu relasiku. Kau mau kan temani aku ke acara itu?"
"Undangan? Dalam rangka apa?"
"Kakak ipar pemilik Harvest Group akan menikah. Jadi, acaranya akan diadakan di GH Apartemen. Kalau tidak salah nama wanita itu Ester dan calon suaminya Robbin."
Kensky mengerutkan alis. "Tapi, bukankah Alexandro Harvest ada di Rusia bersama istri dan anak-anaknya?"
"Iya, tapi kakak iparnya ada di sini. Katanya dia akan menikah dengan salah satu dokter ternama di rumah sakit pusat, kalau tidak salah nama pria itu dokter Robbin."
"Dokter?" ulang Kensky. Alisnya berkerut-kerut menatap Dean, "Tapi bukannya kakak iparnya Alex berpacaran dengan Ceo Harvest Group?"
Dean mengangkat bahu. "Entalah, tapi aku juga pernah mendengar berita itu dan mungkin mereka tidak berjodoh. Aku juga hanya dengar dari Matt, bahwa laki-laki yang akan menikah dengan kakak iparnya adalah mantan pacarnya sendiri."
"Ya, ampun, kasihan sekali si ceo itu, pasti dia sakit hati mendengar kabar ini."
Dean hanya tersenyum. "Ayo, balik. Aku ingin mengajakmu bertemu mami."
Dengan senyum lebar Kensky langsung berdiri.
Dean yang juga sudah selesai kini berdiri dan menggandeng tangan Kensky kemudian meninggalkan restoran itu. "Matt?" panggil Dean seraya berjalan menuju parkiran.
"Iya, Bos?"
"Kau sudah melaksanakan apa yang kuperintahkan?"
"Sudah, Bos. Kemungkinan juga beliau sudah tiba di sana saat ini."
"Bagus, kalau begitu kita ke sana sekarang."
"Baik, Bos."
Kensky menatap bingung. "Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti."
Tepat di saat itu mereka tiba di parkiran. Dean segera membukakan pintu untuk Kensky dan menyuruh gadis itu masuk. Ia pun menyusul, dan sambil menggenggam tangan Kensky ia berkata, "Kau pasti akan segera tahu."
Kensky balas menatap Dean. "Kau memang selalu membuatku penasaran."
***
Mereka pun tiba di rumah besar keluarga Stewart. Kensky yang sejak tadi merasa penasaran terus menatap Dean seakan menunggu penjelasan. "Sebenarnya apa yang kau rencanakan, hah?"
Lelaki itu hanya tertawa. Tak ingin gadis yang paling dicintainya mati penasaran, ia segera meraih tengkuk Kensky kemudian mencium bibirnya.
Gadis itu membalas. Dengan mata terpejam ia terus menggerakan bibirnya di saat bibir Dean dengan penuh kelembutan bergerak di bibirnya. Namun saat ciuman mereka semakin dalam, saat itulah Dean melepaskan bibirnya. Kensky pun kesal dan memasang wajah kecewa.
Dean terkekeh. "Nanti kita akan lanjutkan setelah ini. Sebaiknya sekarang kita turun, karena di dalam sana sudah ada yang menunggu kita."
Lagi-lagi alis Kensky berkerut. "Siapa?"
Kensky tersipu malu. Dengan wajah memerah ia meraih tangan Dean kemudian keluar dari mobil. Setelah sebelah tangannya menggandeng lengan Dean ia berkata, "Untung aku tidak punya riwayat penyakit jantung. Seandainya aku punya penyakit jantung, mungkin setiap hari aku bisa masuk rumah sakit akibat seringnya menerima kejutan darimu."
Dean hanya tersenyum. Dengan langkah dominan dan setelan jas yang gelap, ia membawa Kensky untuk masuk ke rumah keluarga Stewart. Rumah keluarganya sekaligus keluarga Kensky yang sebenarnya.
"Halo, anak-anakku."
Suara Mrs. Stewart mengejutkan Kensky. Ada rasa bahagia ketika tahu saat ini ternyata wanita itu adalah neneknya. Ia melepaskan genggaman tangan Dean kemudian menghambur ke pelukannya. "Aku sangat merindukanmu, Ne___"
"Sky?"
Suara berat Eduardus mengejutkan Kensky. Dalam hati ia bersyukur, karena perkataannya terhenti dan tidak menyebutkan siapa Mrs. Stewart yang sebenarnya. Perlahan ia melapaskan pelukannya dan menatap wanita itu. "Aku sangat merindukanmu, Mami."
Mrs. Stewart menahan tawa. Ia tahu kalau Kensky tadi hampir keceplosan. "Mami juga sangat merindukanmu, Sayang."
Kensky mengalihkan pandangan ke arah Eduardus. "Sedang apa Papi di sini?"
"Papi diundang Mrs. Stewart, katanya ada pengumuman penting. Jadi itulah sebabnya papi ada di sini."
Mrs. Stewart tersenyum. Dengan langkah sangat pelan ia berkata kepada mereka, "Baiklah, ayo kita ke ruang tamu. Kita harus mempercepat pertemuan ini, sebelum ada yang menghalangi."
Eduardus menatap bingung. Tapi karena tubuh Mrs. Stewart sudah menjauh, ia segera mengejar wanita itu dan meninggalkan Kensky dan Dean.
Dean menyeringai. "Kau siap?"
Kensky mengerutkan alis. "Kau dan nenek sama-sama misterius."
Dean tertawa. Sambil berjalan menuju ruang tamu ia berkata, "Ingat, Sayang, jangan sampai kau memanggil sebutan itu di depan ayahmu, oke? Kau harus memanggil nenekmu dengan sebutan mami."
Kensky terkikik. "Tadi aku hampir keceplosan, habisnya aku pikir tidak ada papi di sini."
"Biar tidak keceplosan lagi, kau harus memanggilnya dengan sebutan mami saja. Meskipun tidak ada atau ada ayahmu, kau harus memanggilnya mami biar lebih terbiasa."
"Silahkan duduk, anak-anakku," kata Mrs. Stewart yang kebetulan melihat Kensky dan Dean. Ia mengambil posisi di kepala sofa, sedangkan Eduardus duduk di sofa panjang sebelah kiri dari Mrs. Stewart.
Kensky dan Dean duduk bersamaan. Mereka mengambil posisi di sebelah kanan Mrs. Stewart agar bisa berhadapan dengan Eduardus.
"Baiklah," Mrs. Stewart memulai, "Kalian pasti bertanya-tanya kan kenapa aku memanggil kalian?"
Kensky dan Dean saling bertatap. Sedangkan Eduardus dengan rasa penasaran yang tinggi menatap kedua anak itu secara bergantian.
"Jadi begini," kata Mrs. Stewart membuat tiga pasang mata tertuju kepadanya, "Karena di sini sudah ada Kensky dan ayahnya, sebaiknya kita mulai saja ... Dean?"
"Iya, Mami?"
"Ungkapkanlah apa yang ingin kau sampaikan mengenai Kensky dan Eduardus."
Perkataan Mrs. Stewart semakin membuat Kensky dan Eduardus penasaran. Ayah dan anak itu saling melirik satu sama lain, kemudian mengarahkan pandangan ke wajah Dean.
"Pak Eduardus Oxley, apakah Anda akan mengijinkan saya yang bernama Dean Bernardus Stewart untuk menikah dengan putri Anda bernama Kensky Revina Oxley?"
Perkataan Dean membuat Kensky menahan tawa. Perlahan ia mendekati telinga Dean lalu berbisik, "Kau terlalu formal."
Dean tak menjawab. Matanya terus menatap Eduardus yang kini merasa terharu dengan apa yang diucapkannya barusan.
"Kau ingin melamar putriku, Dean?" tanya Eduardus. Matanya berkaca-kaca seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Benar, aku ingin menikahi putri Anda. Aku ingin Kensky menjadi istri, teman dan ibu dari anak-anakku nanti."
Bersambung____