
Wanita itu menatap bingung. "Apanya yang hancur, Sky. Oh, iya. Setahuku beberapa hari yang lalu kau pergi ke Jerman bersama Dean, kenapa sekarang kau di sini dan," Tanisa menatap tajam, "apa kau sedang ada asalah dengan Dean?"
Mendengar nama Dean membuat Kensky kembali menangis. Rasa sakit hati akibat penipuan yang dilakukan lelaki itu cukup membuatnya terluka. "Kau tahu," kata Kensky setelah tangisnya hilang, "Aku pulang ke sini karena kata Rebecca papiku sekarat. Jadi aku minta cuti kepada Dean satu-dua hari ini untuk melihat papi. Tapi ternyata kabar itu tidak benar, Tan."
Sekarang ini Kensky sama sekali tidak merasa sedih ketika tahu sikap Rebecca terhadap ayahnya. Mengingat perlakuan lekaki itu kepada ibunya dulu membuat Kensky sakit hati. Jadi sudah sepantasnya kalau sekarang sang ayah menerima perlakuan yang sama. Dan yang membuatnya sakit hati, karena mengetahui Dean telah membohonginya.
"Kau ingat waktu aku menceritakan soal lelaki yang dijodohkan ayahku?"
"Dean?"
"Bukan, yang kata Rebecca adalah lelaki mapan?"
"Oh, iya. Itu Dean, kan?"
Kensky menggeleng. "Bukan."
Hal itu membuat Tanisa semakin bingung. "Tapi kan kata Dean dia lelaki yang dijodohkan ayahmu denganmu?"
"Nanti akan kuceritakan padamu. Pokoknya semua ini ada sangkutpautnya dengan Dean, papi, Rebecca dan Soraya."
Tanisa pun bingung. Tapi saat ini ia memilih duduk diam sambil menyimak penjelasan Kensky.
"Ternyata Rebecca dan Soraya telah mengatur rencana untukku. Mereka mengatakan ayahku sedang sakit parah, ternyata itu hanya alasan saja. Bahkan begitu tiba di rumah, mereka berdua menangis seperti orang kehilangan."
"Kehilangan?"
"Ibu dan anak itu berakting seakan-akan ayahku sudah meninggal. Mereka bahkan membuat makam bohongan, agar aku percaya bahwa ayahku benar-benar sudah meninggal."
Tanisa terkejut. "Kejam sekali mereka berdua. Lalu apa kau tidak mencari di mana mereka menyembunyikan ayahmu?"
Kensky menarik napas panjang. "Itu dia, Tan. Mungkin kalau tidak ada kejadian ini, aku tidak akan pernah tahu kalau selama ini ayahku menghilang."
Lagi-lagi Tanisa terkejut. "Ayahmu menghilang? Kenapa bisa? Bukankah kau bilang ayahmu sudah lumpuh?"
Kensky mengangguk pelan. "Jadi tujuan Rebecca dan Soraya menyuruhku datang itu, karena mereka ingin mempertemukanku dengan lelaki pilihan mereka. Lelaki itu dokter yang tempo hari pernah merawat Soraya waktu dia jatuh dari tangga."
"Ya, ampun, benar-benar kelewatan mereka. Terus, terus?"
"Tadi aku sangat kaget kenapa yang muncul bukan Dean. Sebelum itu aku juga menghubunginya untuk memastikan, setidaknya aku bisa memancing dengan alasan apa agar bisa tahu kalau itu benar-benar dia, tapi panggilanku tidak direspon. Seandainya direspon dan dia menolak ingin bertemu, berarti kemungkinan karena dia ingin menghadiri pertemuan itu, kan? Tapi begitu setiap kali kuhubungi kontaknya tidak aktif. Aku berpikir mungkin dia sengaja melakukan itu untuk memberiku kejutan, tapi ternyata pikiranku salah," Kensky terdiam sesaat. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol emosinya. Setelah stabil kembali ia berkata, "Tak lama setelah Rebecca memanggilku untuk menunggu dokter itu datang dan hanya selisih berapa detik saja, tiba-tiba ayahku muncul dengan kondisi yang sangat sehat dan bugar."
Zet!
Tanisa terkejut. "Sehat? Maksudmu ayahmu sudah sembuh?"
Kensky mengangguk. "Selama hidup nanti malam ini aku lihat dia begitu marah pada Rebecca. Menurut pengakuannya, dia lumpuh dan sakit itu karena Rebecca telah menaruh obat ke dalam makanannya."
"Mereka gila! Kau harus melaporkan mereka ke polisi, Sky."
Kensky tak menggubris. "Biarlah itu menjadi urusan ayahku. Lagi pula kalau mengingat kembali perbuatannya terhadap ibuku dulu, sudah sepantasnya dia mendapatkan balasan seperti itu dari mereka. Anggap aja itu karma dari setiap perlakukannya terhadap ibuku."
"Tunggu," kata Tanisa. Wajahnya penasaran, "Tapi bagaimana sampai ayahmu muncul dengan kondisi sehat, padahal sebelumnya ayahmu lumpuh total, kan?"
Kensky berdecak. "Aku sendiri juga kaget dan bingung. Menurut cerita ayahku, selama ini dia menghilang untuk menghindari Rebecca. Tapi yang masih membuatku penasaran, bagaimana bisa dia pergi sementara kondisinya saat itu tidak bisa berjalan? Di satu sisi menurut pengakuan Soraya padaku, katanya tempo hari ada orang yang datang ke rumah untuk menagih hutang kepada ayahku. Tapi karena ayahku sudah sakit, orang itu membawa ayahku pergi agar bisa mempertanggungjawabkan kewajibannya. Intinya ayahku diculik dan selama ini mereka telah menyembunyikan masalah itu dariku, Tanisa. Jadi kalau tadi ayahku tidak muncul tiba-tiba, seumur hidup aku menganggap ayahku sudah meninggal."
"Ibu dan anak itu benar-benar sakit jiwa. Lalu apa alasan mereka melakukan itu kepadamu? Apa mereka memberitahukannya?"
Tanisa terus menatap Kensky. Meski belum mendengar kelanjutan cerita itu, tapi ia bisa menangkap rasa sedih yang amat dalam di dalam hati sahabatnya itu.
Kensky menarik napas panjang. Ia menuduk sesaat lalu menatap Tanisa dengan mata berkaca-kaca. "Mereka di suruh Dean. Dean memberikan otorisasi kepada Rebecca untuk menyingkirkan ayahku, Tan."
Mata Tanisa terbelalak. "Apa? Itu tidak mungkin, Sky. Dean tidak mungkin melakukannya."
"Tapi sayangnya dialah otak di balik semua ini. Mereka telah berkonspirasi untuk mendapatkan rumah dan perusahan ibuku. Dan lebih menyakitkan lagi," Kensky menahan tangis, "Dean memanfaatkanku untuk membalaskan dendamnya kepada ayah."
Tanisa ikut emosi. "Kau jangan dulu percaya, Sky. Bisa jadi ini hanya alasan ibu dan kakak tirimu saja, agar kau membenci Dean. Kau sendiri kan yang bilang, bahwa Soraya sangat menginginkan Dean. Siapa tahu mereka memang merencakan perjodohanmu dengan dokter itu, agar kau tahu bahwa calon suamimu bukan Dean."
Kensky menggeleng. "Soraya sudah menunjukan buktinya padaku, Tan. Bukti pembicaraan saat Dean dan mereka saling berkomunikasi."
"Maksudmu rekaman?"
Kensky mengangguk.
"Apa yang dia katakan?"
"Aku tidak mendengar jelas. Yang pasti dalam rekaman itu Dean berkata, bahwa dia hanya memanfaatkanku untuk balas dendam kepada ayah dan setelah itu dia berjanji akan menikahi Soraya."
Tanisa terlonjak. Ia berdiri dan mondar-mandir di hadapan Kensky. "Maafkan aku, Sky. Bukannya aku ingin membela Dean, tapi aku rasa kau harus menyelidikinya. Ini semua tidak beres."
Alis Kensky berkerut menatap Tanisa. "Untuk apa? Semua bukti dan pengakuan sudah sangat jelas, Tan. Apalagi kata ayahku dia tidak mengenal Dean, berarti kan lelaki itu memang pembohong."
Tanisa kembali duduk. "Oke, secara negatif memang seperti itu. Tapi dari sisi positif coba kau pikir, kalau memang dia hanya ingin balas dendam kenapa dia tidak menyakitimu? Bahkan dia masih menjaga kesucianmu meski kalian sudah tidur bersama. Iya, kan?"
Kensky tampak berpikir. Ingatannya kembali merangsang tentang semua perlakuan Dean kepadanya. Ia bahkan hendak tersenyum ketika semua itu berenang dengan jelas dalam pikirannya. Namun, senyum manis itu langsung memudar begitu pengakuan Eduardus memenuhi kepalanya. "Aku sudah menanyakan hal itu pada ayahku, Tan, dan ayahku bilang tidak mengenalnya. Bahkan katanya dia tidak pernah menjodohkan aku dengan siapa-siapa. Jadi itu sudah cukup bukti bahwa Dean benar-benar membohongiku."
Lagi-lagi Tanisa protes. "Kau yakin? Tapi kalau memang benar ayahmu tidak mengenalnya? Lantas kenapa Dean ingin balas dendam?"
"Karena Dean adalah anak tiri ayahku, Tan."
Zet!
Tanisa terkejut. "Anak tiri? Berarti kalian masih punya ikatan, begitu?"
Kensky menggeleng. "Aku tidak tahu kejelasannya, yang jelas yang aku tahu anak ibuku hanya aku. Kalau pun dia benar anak tiri ayahku, kemungkinan dia anak di istri sebelum ibuku."
Tanisa tampak berpikir. "Aneh juga, sih. Tapi kau harus bicara dengan Dean, Sky. Kau tidak boleh menyalahkan secara sepihak sebelum mendengar penjelasan darinya. Pasti dia melakukan ini semua karena ada alasannya."
"Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan soal keterkaitannya dengan mereka. Yang membuatku sangat marah dan kecewa, karen dia telah melakukannya padaku. Kenapa dia tega membohongiku, Tan?"
"Tidak, Sky, aku rasa dia pasti punya alasan sendiri di balik ini semua. Dan seperti yang kulihat sikapnya terhadapmu, selama ini sama sekali tidak ada rasa kebencian atau amarah dalam dirinya terhadapmu. Justru yang aku lihat dalam dirinya adalah cinta dan perlindungan yang sangat dalam terhadapmu."
Kensky menunduk sesaat. Apa yang dikatakan wanita itu memamg benar. Selama ini Dean selalu bersikap baik padanya. "Entalah, Tan. Tapi kalau memang itu demikian, kenapa dia tidak jujur sejak awal? Setidaknya kalau sudah menceritakan semua dari awal, begitu semua terungkap seperti ini mau tidak mau aku harus bisa menerima kenyataan. Aku pasti bisa mengerti, karena dia sudah menjelaskannya padaku terlebih dulu. Tapi kenyataannya tidak, tidak pernah ada penjelasan padaku sampai kenapa dia mau melakukan ini semua."
Tanisa teringat sesuatu. "Ibunya! Bukankah kau pernah bilang padaku kalau ibunya juga pernah bilang, bahwa kalian berdua sudah dijodohkan?"
Kensky menatap skeptis. "Iya, aku ingat. Terus apa hubungannya?"
Bersambung__