
Mereka berjalan memasuki ruang tamu. "Pak Dean mau saja membebaskan hutang papi, tapi dengan catatan aku harus berpacaran dengannya, Ma. Katanya kalau aku ingin Kapleng Group kembali, aku harus menyetujui kesepakatan itu."
"Apa?" pekik Soraya yang membuat Rebecca dan Kensky terkejut, "Dean mengajakmu berpacaran?" Ia menuruni tangga dengan langkah yang sangat cepat.
Rebecca tampak panik. "Bukan begitu, Sayang. Eh, maksud Kensky___"
Soraya menatap ibunya dengan pandangan marah. "Aku cukup jelas mendengarnya, Ma. Tadi katanya Dean akan membebaskan hutang ayah asalkan Kensky mau berpacaran dengannya. Hutang apa yang kalian maksud? Dan kenapa harus Kensky yang dipilihnya untuk menjadi pacarnya? Aku ini adalah___"
"Tutup mulutmu, Soraya!" bentak Rebecca untuk menghentikan perkataan anaknya. Ia tidak ingin Kensky tahu bahwa selama ini mereka dan Dean telah merencanakan kejahatan untuk merebut perusahan itu, "Kau tidak tahu apa-apa soal ini, Soraya. Jadi sebaiknya kau diam dan jangan ikut campur."
"Apa? Diam? Kata Mama aku harus diam?" Suaranya berubah parau dengan wajah yang kelihatan memerah. Ia mendekati Rebecca dan berkata, "Mama suruh aku diam saja ketika ca___"
Plak!
Tamparan keras mengenai wajah Soraya.
Kensky ternganga. Ia cukup kaget dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Sambil memegang pipi yang berdenyut-denyut Soraya berkata, "Mama menamparku?" kata Soraya dengan mata yang mulai nanar, "Mama menamparku hanya karena aku___"
"Mama bilang diam, Soraya!" potong Rebecca. Suaranya sangat keras.
Wanita itu menggeleng-geleng kepala. Ia tak menyangka jika ibunya tega menaparnya di depan Kensky. Hal itu pun membuat Soraya bisa merasakan apa yang pernah dialami Kensky saat Eduardus menamparnya di depan mereka.
"Sekarang kau masuk kamar dan jangan keluar sebelum aku menyuruhmu keluar," kata Rebecca.
"Tapi, Ma. Aku___"
"Aku bilang masuk, Soraya."
Saat itu juga Soraya menatap Kensky. "Kau harus bertanggung jawab akan hal ini, Sky. Kau harus bertanggung jawab."
Kata-kata Soraya yang penuh penekanan itu membuat Kensky bertanya-tanya. "Apa maksudnya, Ma? Dan kenapa juga Mama harus menamparnya? Dia kan tidak salah."
Rebecca berpura-pura sedih dan memasang wajah menyesal. "Maafkan mama. Sebenarnya mama tidak ingin melakukan itu, hanya saja mama tidak suka jika Soraya bersikap kasar kepadamu."
Alis Kensky berkerut-kerut lalu bertanya, "Apa mungkin emosi Soraya timbul karena dia tidak mau aku menjalin hubungan dengan Dean?"
Rebecca menelan ludah. "Gawat, Kensky tidak boleh tahu soal perjodohan ini. Jika dia tahu, itu artinya dia akan tahu bila mana perjodohan itu terjadi akibat persekongkolanku dengan Dean," kata Rebecca dalam hati. Dengan cepat ia berpikir dan menjawab pertanyaan Kensky, "Tidak, Sayang. Jadi begini," Rebecca meraih tangan Kensky dan membawa gadis itu duduk, "Sebenarnya Soraya itu sangat terobsesi pada Dean. Dan kebetulan karena ayahmu berteman dekat dengan lelaki itu, mama menyuruhnya untuk mereferensikan Soraya di Kitten Group. Jadi karena kalian berdua anaknya ayah, itu sebabnya Dean menerima kalian berdua sebagai karyawannya."
Entah kenapa Kensky merasa alasan Rebecca tidak masuk akal. "Kalau Soraya masuk di Kitten Group karena papi, itu berarti aku diterima kerja di sana juga karena papi?"
"Benar, karena Dean tahu kalian adalah anaknya Eduardus Oxley," jawab Rebecca.
Lagi-lagi Kensky bertanya-tanya dalam hati. "Apa jangan-jangan Rebecca tahu soal perjodohan yang dibuat papi dengan Dean? Tapi kalau misalkan dia tahu, lantas kenapa Soraya begitu tidak suka saat mendengar Dean mengajakku berpacaran? Toh Rebecca pasti akan mengatakan kepadanya kalau akulah calon istri Dean."
Ting! Tong!
Sementara Rebecca yang sudah mendengarnya dengan cepat menoleh ke arah pintu. "Mama harap ini bukan penagih hutang lagi," kata Rebecca. Ia segera berdiri dan meninggalkan Kensky sendirian.
Kensky kembali berkutat dengan pikiran-pikiran yang mengarah pada emosi Soraya tadi. "Jika dia hanya terobsesi, lantas kenapa dia begitu marah mendengar Dean mengajakku berpacaran?" lirihnya.
"Sky!"
Suara Rebecca mengejutkannya. Dengan cepat ia menoleh dan berdiri saat melihat Mr. Lamber muncul bersama Rebecca. Jantungnya bahkan berdetak cepat meski lelaki itu belum berkata apa-apa.
"Sepertinya apa yang di luar pikiran mama telah terjadi, Sky," kata Rebecca.
"Maafkan saya, Nona. Tapi baru saja pak Dean menelepon soal perpanjangan itu. Beliau ingin dalam minggu ini kalian harus melunasi hutangnya, jika tidak maka Kapleng Group akan dialihkan kepadanya. Saya juga sudah bertemu dengan para direksi Kapleng Group terkait masalah ini dan mereka setuju untuk bekerja di bawah naungan pak Dean. Jadi begitu mendapatkan persetujuan dari Anda, dalam waktu dekat ini Kapleng Group sudah bukan lagi milik keluarga Oxley."
Mata Kensky melotot. "Itu tidak mungkin. Kumohon tambah aku waktu beberapa hari saja, seminggu tidaklah cukup. Aku janji akan membayar semua hutang-hutang papi berapa pun jumlahnya."
Rebecca menatap skeptis. "Kau yakin, Sky? Hutang ayahmu sangat banyak. Tidak mungkin kau bisa melunasi semua itu, sementara saat ini kita sendiri tidak punya uang sebanyak itu."
"Aku bisa, Ma. Aku punya teman yang bisa membantuku."
"Teman, siapa?" kata Rebecca dalam hati, "Masa bodoh, yang penting aku bisa punya uang banyak. Dan ini kesempatan emas buatku untuk mendapat keuntungan dari kedua pihak," lanjutnya kemudian mengalihkan pandangan pada Mr. Lamber, "Mr. Lamber, sebaiknya Anda duduk saja dulu. Apa Anda ingin minum sesuatu?"
Lelaki itu pun duduk tepat di depan Kensky. "Air putih saja," katanya kemudian menatap Kensky. "Maaf, tapi itu sudah keputusan pak Dean. Beliau sudah menegaskan bahwa hari ini juga saya harus mendapatkan persetujuan Anda, Nona."
"Kumohon tambah aku waktu tiga hari saja," balas Kensky.
"Aku tidak yakin jika pak Dean akan setuju."
"Kumohon, Mr. Lamber."
"Sebaiknya aku ambilkan air putihnya dulu," kata Rebecca kemudian berjalan meninggalkan mereka.
"Baiklah. Tapi saranku jika Anda ingin menundanya sampai tiga hari ke depan, lebih baik Anda memberikan sesuatu yang bisa dijadikan jaminan untuk perpanjangan waktu tersebut. Aku yakin, pak Dean pasti akan memberikan toleransi jika Anda memang benar-benar berniat ingin melunasi hutang tersebut."
"Jaminan? Tapi aku tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan."
Mata Mr. Lamber menyapu seluruh ruangan. "Bagaimana kalau sertifikat rumah ini. Walaupun jumlahnya tidak seberapa jika dibandingan dengan total keseluruhan hutang ayah Anda, tapi setidaknya Anda punya etikat baik untuk melunasinya. Lagi pula ini kan hanya jaminan untuk berapa hari ke depan, setelah itu sertifikat itu bisa kembali kepada Anda jika semua hutangnya sudah lunas."
"Setifikat rumah?" seru Rebecca seraya membawa nampan berisi segelas air putih, "Harga rumah ini kan tidak seberapa dengan jumlah hutang Eduardus. Lalu kalau misalnya sertifikat ini dijadikan jaminan terus Kensky tidak menepati janji, apa sertifikat itu akan hangus?"
"Tidak, Nyonya. Itu kan hanya jaminan perpanjangan. Jadi jika batas tiga hari nona Kensky tidak bisa melunasinya, sertifikat itu akan dikembalikan dan mau tidak mau Anda harus menandatangani perjanjian itu, Nona."
Kensky hanya diam. Ia sendiri bingung harus berbuat apa. Namun ia sangat berharap jika Ceo bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah ini. "Mam, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mengorbankan perusahan demi melunasi hutang papi?" katanya dalam hati. Ia menatap wajah Mr. Lamber, "Beri aku kesempatan, aku janji akan melunasi hutang papi secepat mungkin."
"Kau yakin, Sky?" tanya Rebecca, "Ya, Tuhan, aku tak menyangka ternyata Eduardus sangat menyusahkan kita."
Bersambung___