Mysterious CEO

Mysterious CEO
Masa Lalu Dean - Bagian 2.



"Bu?"


"Hmm," erangnya dengan mata yang masih terpejam. Badannya menggigil, padahal pakaian yang ia kenakan sangat tebal. Cuaca pagi juga sangat cerah, tapi badan wanita itu kedingingan seperti berada di gunung es.


"Sebaiknya kita pulang saja, ayah pasti akan merawat ibu di sana."


Sang ibu menggeleng. "Jangan, Nak, dia itu kejam. Kamu lihat sendiri kan bagaimana dia memperlakukan kita semalam?"


"Tapi setidaknya ayah bisa memanggilkan dokter untuk merawat ibu. Lihat, kondisi ibu semakin buruk. Ayo, sebaiknya kita pulang saja."


Lagi-lagi wanita itu menggeleng. "Ibu tidak mau, Dean. Kita di sini saja, ibu rela mati di sini daripada mati di dekatnya."


Dean mulai menangis. "Jangan berkata begitu, Bu. Kalau Ibu meninggal aku akan tinggal di mana? Ayah pasti akan menyiksaku, dia pasti akan membunuhku."


"Dean? Berjanjilah pada ibu, Nak."


"Janji apa, Bu. Aku mau berjanji asalkan Ibu mau tetap hidup bersamaku. Aku takut sendiri, Bu. Dean takut sendiri," Airmatanya merebak.


"Dean?" Ibunya mengulurkan tangan dan Dean pun segera meraih tangan itu dan menggenggamnya, "Kau mau berjanji pada ibu, kan?"


"Aku janji, Bu. Aku janji."


"Kau harus menjadi anak yang kuat, dan berjanjilah kalau kau tidak akan pernah menyakiti wanita seperti yang dia lakukan terhadap ibu, ya?"


Dean mengangguk cepat. "Aku janji, Bu. Aku berjanji," katanya sambil menangis.


Tangan sang ibu pun melemas.


"Ibu! Bangun, Bu!" Dean panik, "Ibu bangun! Ibu harus bertahan."


Sang ibu semakin lemas.


"Tolong! Tolong aku!" Dean berteriak, "Tolong aku! Ibuku sekarat!" Dean berdiri, mendekati orang yang berpapasan dengannya untuk meminta tolong, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mau membantunya.


Mata Dean tiba-tiba menangkap sosok wanita tua yang berjalan ke arahnya, Dean mendekat. "Nyonya! Tolong ibu saya, ibu saya sedang sekarat. Dia memerlukan obat, tapi saya tidak punya uang. Tolong ibu saya, Nyonya," rengek Dean.


Wanita tua itu menatap Dean lama sekali. Dan setelah matanya memborong semua tubuh Dean, ia pun tersenyum dan berkata, "Ayo, ikut aku, Nak."


Dengan hati girang Dean pun berkata, "Benarkah? Nyonya sungguh-sungguh ingin menolong ibu saya?"


Wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Nak."


"Kalau begitu tunggu sebentar, saya akan berpamitan pada ibuku dulu agar dia tidak mencari saya," Dean pun berlari menemui sang ibu yang sedang duduk di lantai depan toko dengan tubuh menggigil, "Bu, tunggu di sini, ya? Bertahanlah, aku akan membeli ohat. Percayalah, Ibu pasti akan sembuh."


Setelah berpamitan Dean pun mengikuti wanita tua itu menuju sebuah gang yang letaknya di persimpangan jalan. Wanita itu ternyata mengajak Dean ke sebuah apotik. "Ibumu sakit apa, Nak?"


Dean hendak menangis lagi, ia tak menyangka ternyata masih ada orang yang mau berbaik hati dan ingin menolongnya. "Saya tidak tahu ibuku sakit apa, tapi badannya sangat panas. Mungkin ibuku deman, Nyonya."


Wanita tua itu mengangguk kemudian menyebutkan nama obat kepada petugas apotik dan memberikannya kepada Dean. Dia juga meminta dua botol air mineral dan dua buah roti yang ukuran besar lalu memberikannya lagi kepada Dean. "Bawalah ini dan berikan obatnya kepada ibumu."


Dean menangis bahagia. "Terima kasih, Nyonya, terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda."


Wanita itu mengangguk. "Sama-sama, Nak. Pergilah dan berikan obat itu padanya."


Dengan harapan besar Dean pun pergi untuk menemui ibunya sambil membawa kantorng plastik berwarna putih yang isinya adalah obat, roti air. Dilihatnya sang ibu dari seberang jalan yang masih berposisi sama seperti saat ia meninggalkannya; duduk sambil memeluk kedua kaki dan menyandarkan dahi di punggung tangan. "Ibu, aku datang!" Dean berlari menyeberangi jalan, "Ibu, ini ada roti. Makanlah lalu minum obatnya," Dean membangunkan ibunya, "Ibu! Ibu bangun, Bu!" Dean menggoyang-goyangkan badan ibunya, "Ibu, bangun, Bu! Aku bawa roti dan obat buat Ibu!" Diguncang-guncangkannya tubuh sang ibu, "Ibu! Bangun Ibu!" Dean menangis, "Ibu bangun! Jangan tinggalkan aku, Bu!"


Sikap ketakutan Dean mengundang orang-orang untuk melihatnya. "Ada apa, Nak? Apa yang terjadi?"


"Ibu," Dean menarik cairan hidungnya, "ibuku tidak mau bangun."


Dean terkejut. "Apa? Meninggal?"


Sosok pria tadi langsung berdiri dan mengusap kepala Dean. "Iya, Nak, ibumu sudah meninggal. Kau yang sabar, ya."


Dean hiteris. "Ibu! Bangun, Bu! Ibu tidak boleh pergi. Ibu tidak boleh meninggalku, Bu. Ibu kumohon!" Dean terus menggoncangkan tubuh ibunya, "Ibu! Aku takut sendiri, Bu, aku takut sendiri. Jangan tinggalkan aku, Bu! Ibu aku mohon jangan tinggalkan aku."


Tangisan dan teriakan Dean membuat salah satu pemilik toko yang berderet di situ keluar dan melihatnya. "Ada apa di luar?" tanya wanita itu kepada anak buahnya.


"Ada anak kecil yang menangis, Bos. Sepertinya ibunya sudah meninggal."


Wanita itu keluar. Dilihatnya bocah yang sedang menangis histeris sambil memeluk tubuh sang ibu. Hal itu pun membuat hatinya tergerak dan langsung mendekati Dean. "Permisi," ia menunggu sampai Dean menoleh, "Apa yang terjadi, Nak?" Dilihatnya wajah sang ibu yang sudah sangat pucat.


"Ibuku sakit dan dia tidak mau bangun untuk minum obat, padahal aku sudah membawakan obat untuknya," kata Dean.


Wanita itu menatap pria yang ternyata masih berdiri di sana. "Apa yang terjadi," tanyanya pelan.


"Ibunya sudah meninggal, tapi sepertinya dia tidak terima."


Wanita muda yang usianya sekitar dua puluhan tahun itu terkejut dan menatap Dean.


"Bu, ayo bangan, Bu! Jangan tinggalkan aku, Bu. Aku tidak mau sendiri, Bu." kata Dean sambil menangis.


Wanita itu ikut menangis karena tak tahan melihat kejadian itu. Diraihnya tangan Dean sampai anak itu menatapnya. "Ibumu sudah meninggal, Nak."


"Tidak, ibuku hanya tidur. Dia belum makan dan minum obat, tadi dia sudah berjanji akan menunggu sampai aku kembali."


Air mata wanita itu semakin deras. "Ayo, sebaiknya kau ikut aku."


Dean menggeleng. "Tidak! Aku mau tinggal dengan ibu. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian."


Wanita itu semakin menangis. "Ayo, Sayang, ibumu sudah meninggal," ia menanggil beberapa orang yang merupakan anak buah di tokonya untuk membawa jasad sang ibu, "Kau harus ikut denganku, ya? Soal ibumu, biar mereka yang akan membawa jenazahnya untuk segera dimakamkan. Ayo, sekarang ikutlah denganku."


Flashback Off.


Kensky menangis sejadi-jadinya.


Dean pun yang sudah selesai menceritakan kisah tentang ibunya kini tak sadar bahwa airmatanya pun sudah mengalir kemudian saling bertatapan.


"Maafkan aku, harusnya aku tidak membuatmu mengingat kembali kejadian itu," lirih Kensky. Matanya bengkak, hidungnya merah dan bibirnya lembab kemerahan.


Dean mendekatkan wajahnya dan ******* bibir Kensky seakan menarik semua kesedihan dalam dirinya. "Aku memang ingin kau mengetahuinya semuanya. Dan asal kau tahu, sejak saat itulah aku bertemu keluarga Stewart. Wanita muda yang menolongku pagi itu adalah anak semata wayang mereka. Hari itu juga dia langusung menutup tokonya dan mengajakku bertemu kedua orangtuanya, orang tua yang sekarang sering aku panggil dengan sebutan mami."


Kensky terharu. "Ya, Tuhan, baik sekali wanita itu."


Dean tersenyum sayang. "Dia sangat baik, dan bahkan baik sekali. Dia bagaikan malaikat buatku," tatapan Dean kembali kosong, "Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika waktu itu tidak ada dia. Namun, sayangnya kebersamaan kami tidak bertahan lama."


"Kenapa?" tanya Kensky penasaran.


"Hanya setahun aku bersamanya, mereka langsung mengirimku ke sini."


"Ke Jerman maksudmu?"


Dean mengangguk. "Karena tidak punya anak laki-laki, Mrs. Stewart dan Mr. Stewart mengangkat aku sebagai anak. Mereka menginginkan aku untuk meneruskan dan mewarisi semua harta mereka. Aku menolaknya, tapi anak mereka yang satu-satunya itu justru sangat setuju. Ternyata dia sendiri yang telah mengusulkan kepada Mr. Stewart untuk mengirimku ke sini untuk sekolah, agar aku bisa meneruskan perusahan mereka."


"Oh, iya? Nama wanita itu siapa?"


Bersambung_