Mysterious CEO

Mysterious CEO
Foto dan Buku.



"Dear, Kensky," ucap Kensky sambil membaca tulisan itu. Ia pun mulai membuka halaman pertama dari buku itu, hingga terlihat tulisan tangan ibunya yang begitu rapi, "Kensky sayang, anak mami yang paling cantik dan paling manis. Mami minta maaf karena telah membuatmu menunggu belasan tahun untuk membuka kotak ini. Kau pasti bertanya-tanya kenapa mami menyuruhmu membuka kotak ini saat usiamu dua puluh tiga tahun? Alasannya mami pun tidak tahu. Tapi yang jelas di usia ini memang sangat cocok jika kau tahu semuanya. Ngomong-ngomong selamat ulang tahun, Sayangku."


Kensky tersenyum saat membaca kalimat itu. Bulir kristal di matanya bahkan sudah terbentuk ketika ia membayangkan bahwa Barbara sedang berada bersamanya dan menceritakan tulisan di dalam buku itu secara nyata.


"Kau lihat foto anak laki-laki yang bersama mami, kan? Kau tahu, dia itu adalah calon suamimu. Hahahaha. Kau pasti terkejut, kan? Tapi itulah faktanya, Sayang. Dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Dia sangat pantas menjadi suamimu, Kensky."


Gadis itu terdiam. "Calon suami?" bisik Kensky sambil melirik foto tadi, "Apa jangan-jangan dia adalah Dean?"


Kensky mengalihkan matanya kembali pada catatan di buku itu dan lanjut membaca. "Mami minta maaf karena tidak memberitahukannya lebih dulu. Mami memang sengaja menjodohkan kalian, karena mami rasa dia-lah orang yang pantas untuk menjadi suamimu. Mami juga minta maaf karena tidak bisa mengatakan siapa namanya dan di mana dia berada. Ini semua demi kebaikkanmu, Sayang. Tapi percayalah, sejak kecil sampai sekarang dia selalu ada bersamamu. Dia selalu memantaumu di manapun kau berada, dan dia akan selalu menjaga, melindungimu sampai kapan pun selama dia masih hidup."


Tulisan itu lagi-lagi membuat Kensky terkejut. "Menjaga dan melindungi?" Ingatannya kembali terangsang. Entah kenapa ia merasa bahwa kata-kata itu tidaklah asing baginya. Ia seperti pernah mendengar kata-kata itu.


"Ceo!" pekik Kensky begitu ingatannya ditemukan. Ia baru ingat kalau kata-kata yang baru saja dibacanya itu sama persis dengan isi pesan yang dikirimkan oleh seseorang yang memberikan ponsel kepadanya, "Apakah anak di foto itu adalah Ceo? Apakah lelaki yang mami jodohkan denganku adalah Ceo?"


Dengan cepat Kensky berdiri untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. "Dia pasti laki-laki yang telah memberikanku handphone waktu itu. Tidak salah lagi, itu pasti dia. Karena dia-lah yang telah memasang foto mami sebagai walpapper di ponselku."


Kensky mencari kontak bernama Ceo yang memang hanya itu di dalam kontak teleponnya. Dan saat melihat nama itu di buku telepon, entah kenapa hati Kensky rasanya tenang dan merasa akrab dengannya. "Aku tak menyangka ...." Saking bahagia, Kensky menghentikan perkataannya dan langsung menekan radial untung menghubungi Ceo.


Untuk menghilangkan rasa gugup yang menyelimuti diri, ia menarik napas panjang sambil menunggu panggilannya terhubung.


"Halo?"


Suara pelan lelaki dari balik telepon membuat jantung Kensky berdegup kencang. Ia terdiam sesaat waktu mendengar suara lelaki yang mungkin adalah calon suaminya. Karena rasa penasaran tingkat dewa bersarang dalam dirinya, ia pun melontarkan pertanyaan itu kepada lelaki di balik telepon. "Apa benar kau calon suamiku?"


Tawa lelaki di balik telepon terdengar sekali. "Jadi kau sudah membuka kotaknya?"


Kensky tersenyum dengan wajah memerah. Tebakan lelaki itu benar dan itu artinya sosok yang dimaksud oleh ibunya adalah lelaki yang kini sedang berbicara dengannya lewat telepon.


"Iya, aku sudah membukanya, bahkan aku sudah membaca sebagaian lembar pertama di buku kecil ini," katanya pelan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, "Tapi tunggu, dari mana kau tahu? Apa mami juga memberitahukan kepadamu mengenai kotak ini? Apa itu artinya anak lelaki yang bersama mami di foto itu adalah kamu?"


Lelaki itu lagi-lagi tertawa. "Foto masih kecil, ya? Bisa kau jelaskan penampilanku seperti apa di foto itu?"


Kensky meraih kembali foto itu. "Di sini kau memakai jaket merah tebal dengan celana cokelat panjang. Kelihatannya kau dan mami sedang tertawa di foto ini."


"Iya, benar. Foto itu kami ambil saat aku akan berangkat ke luar negeri dan aku tak menyangka kalau itu merupakan foto terakhirku bersama Barbara."


Suara lemah lelaki itu membuat Kensky terpicu untuk melontarkan pertanyaan. "Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Silahkan," balasnya pelan.


"Kenapa mami menjodohkan kita?"


"Aku tidak tahu. Tapi beberapa hari sebelum meninggal ibumu juga sempat berpesan padaku, bahwa aku harus selalu menjagamu dan melindungimu. Ibumu itu bahkan sudah menentukan wanita mana yang pantas kunikahi, yaitu kau."


"Dan kau setuju?"


"Tentu saja. Barbara sudah seperti saudaraku, apa yang dia katakan sudah pasti aku akan menurutinya."


"Kami adalah___ "


Tut! Tut!


Hilangnya suara itu membuat Kensky menatap layar ponselnya yang berwarna gelap. "Sial, ponselku habis batrei!"


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu membuat Kensky terkejut. Dengan cepat ia meletakkan ponsel, foto dan buku kecil itu ke dalam kotak, lalu menyimpannya kembali ke dalam lemari.


Tok! Tok!


"Tunggu!" Kensky beranjak menuju pintu. Setelah ia membukanya, sosok Rebecca ternyata sudah berdiri di depan pintu. Kensky melirik jam tangan dan menjawab, "Ini kan belum makan siang, Ma."


Rebecca memasang wajah berbinar. "Tujuan mama bukan itu, tapi mama ada kabar baik untukmu."


Wajah Kensky ikut berbinar. "Kabar baik apa, Ma?"


"Mr. Lamber baru saja menghubungi mama, katanya dia sudah mengkonfirmasi soal hutang itu kepada bos kamu."


"Benarkah? Lalu apa kata pak Dean?"


"Dia setuju, dia juga mau memberikan waktu kepada kita untuk melunasi hutang ayahmu."


Mata Kensky nanar. "Ya, ampun, pak Dean memang atasan yang baik hati, Mama."


"Iya dia menang baik, tapi di balik itu ... dia ingin kau sendiri yang memohon kepadanya untuk meminta perpanjangan waktu."


Kensky terkejut. "Aku? Kenapa harus aku?"


"Entalah, mungkin karena kau anaknya Eduardus. Dan dia menitip pesan kepada Mr. Lamber, bahwa kau harus menemuinya sekarang juga."


"Sekarang?! Kenapa harus sekarang?" Suara Kensky meninggi karena terkejut. Ia yakin kalau Dean pasti sedang mengerjainya.


"Mama tidak tahu, Sayang. Tapi sebaiknya kau cepat pergi sebelum dia berubah pikiran."


Kensky pun pasah. Lagi pula dia tidak mungkin mengatakan kepada Rebecca soal kedekatan dia dan lelaki itu. "Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu."


"Oke. Mama pergi dulu, ya," kata Rebecca lalu meninggalkan kamar itu.


Setelah memastikan ibu tirinya itu benar-benar pergi, Kensky segera menutup pintu kamarnya dan kembali mengambil ponsel yang ternyata sudah mati total. Ia masih penasaran dengan kalimat terakhir yang diucapkan lelaki di balik telepon tadi. Tapi karena benda itu sudah mati, Kensky pun mengisi dayanya kemudian pergi ke kamar mandi.


Bersambung___