
Bunyi tamparan membuat sang ibu terkejut. Dilihatnya bibir sang anak yang berdarah akibat pukulan keras dari tangan besar Eduardus.
"Berani-beraninya kau membentakku, hah?! Dasar anak kurang ajar!" Ia melayangkan tangan untuk memukul Dean dan ....
"Jangan!" cegah ibunya, "Jangan sakiti dia, Eduardus! Jangan sakiti dia." Wanita itu mulai menangis.
"Ibu!" Dean menangis keras sambil menyembunyikan wajah di perut sang ibu. Bibirnya berdarah, matanya bengkak, sementara pipinya menimbulkan cairan merah yang mengendap dari dalam.
"Kau tak pantas melindunginya. Dia anak kurang ajar dan butuh ajaran." Eduardus hendak menyerang lagi, tapi wanita itu mencegahnya.
"Kumohon jangan, Eduardus," Ia berlutut sambil memeluk Dean. Dengan terbatuk-batuk ia berkata, "Apa yang kau inginkan katakanlah? Aku akan mengabulkannya, asalkan jangan pukul putraku, Eduardus."
Ekspresi Eduardus langsung berubah. "Kenapa tidak dari tadi kau mengeluarkan pertanyaan seperti itu, hah?" Nadanya berubah pelan. Perlahan ia mulai berjalan sambil terhuyung akibat alkohol yang menguasainya, "Aku ingin semua hartamu. Aku ingin rumah ini, uangmu dan semua perhiasanmu."
Uhuk! Uhuk!
"Ambil-lah jika itu bisa membuatmu senang, asalkan jangan kau melukai anakku dan diriku lagi."
"Kalau begitu pergilah kalian dari sini. Aku ingin hidup bahagia sendiri di rumah ini. Aku ingin hidup tenang tanpa dirimu dan putramu yang kurangajar ini."
Dean mendongak menatap ibunya. "Bu, kita akan tinggal di mana kalau kita keluar dari rumah ini? Ini sudah larut malam, Bu. Ibu sedang sakit."
"Tidak apa-apa, Sayang. Kita bisa tidur di depan pertokoan untuk sementara sampai pagi."
Dean berdiri menghadap Eduardus. "Kau suami yang tidak bertanggung jawab. Teganya kau mengusir istrimu yang sedang sakit dari rumahnya sendiri?"
Eduardus terbahak. "Hei, anak kecil! Jangan sok menceramahiku. Aku menikah dengan ibumu bukan karena cinta, tapi karena harta. Hanya pria bodoh yang mau bertahan dengan janda penyakitan seperti ibumu ini."
Sang ibu yang mendengar kata-kata itu pun langsung menangis. Dean yang penuh amarah ingin sekali melampiaskan emosinya, tapi tidak bisa. Ia hanya bisa mengepalkan tangan sambil menatap Eduardus.
Sebelum menikah ibunya tidak pernah sakit. Tapi sejak kehadiran Eduardus di rumah itu, ibu Dean sering sakit-sakitan. Dean curiga kalau sakit ibunya itu disebabkan oleh Eduardus. Dan setelah mendengar pengakuan lelaki itu tadi, Dean yakin bahwa tuduhan itu benar.
"Tunggu apalagi? Cepat kalian pergi dari sini! Aku muak melihat kalian."
"Ayo, Sayang," ajak ibunya sambil memeluk Dean lalu berdiri
"Tapi, Bu ... Ibu sedang sakit."
"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu bisa menahannya."
Dengan terpaksa Dean pun membantu sang ibu menuruni tangga. Setelah tiba di anak tangga yang terakhir, ia menatap pintu kamarnya untuk terakhir kali dengan air mata yang mulai menetes.
Eduardus yang masih berada di posisinya pun langsung berteriak. "Di mana kau menyimpan semua perhiasanmu itu, hah?"
Ibu Dean berbalik dan balas menatapnya. "Di lemari pakaian."
Dean mengepalkan tangan. "Aku berjanji, Bu. Aku berjanji bahwa suatu saat nanti aku akan membuatnya menderita. Aku akan membuatnya merasakan apa yang kita rasakan saat ini. Aku berjanji, Bu. Sumpah!"
Flashback Off.
Drrttt... Drrttt...
Getaran ponsel menyadarkan Dean dari masa lalunya. Tanpa ia sadari tangannya meremas ponsel itu dan terkejut saat merasakan getarannya. Ia mengulurkan tangan lalu menatap layar yang ternyata satu panggilan masuk dari sosok yang ia cintai. Sambil tersenyum ia pun dengan cepat menghubungkan panggilannya.
"Halo, Mami?"
"Dean, kau di mana?"
"Aku masih di rumah, Mam. Aku sedang bersiap-siap ke kantor." Ia bergerak menuju pintu.
"Dean, besok ulang tahun kantor. Kau tidak lupa, kan?"
"Tidak, Mam."
"Baguslah. Apa kau punya rencana untuk besok?"
Dean menuruni tangga secepat mungkin. "Tentu saja, Mam. Rencanaku ini bahkan sangat istimewa."
"Benarkah? Rencana apa itu?"
"Rahasia, dong," Dean terkekeh, "Aku akan mengabarinya nanti, oke?"
"Ah, kau ini memang selalu membuatku penasaran."
"Baiklah, Sayang. Kalau begitu aku serahkan semuanya kepadamu."
"Siap! Mami tenang saja. Dan aku yakin, Mami pasti akan setuju dengan rencanaku ini."
"Ya, sudah, sekarang cepatlah pergi sebelum kau terlambat. Tidak baik kalau seorang pemimpin mencerminkan hal buruk bagi bawahannya."
Dean tertawa. "Siap, Bu Bos."
***
Dalam perjalanan menuju kantor, Dean duduk di bangku belakang sambil menatap indahnya pusat kota. Melihat para pejalan kaki yang lalu lalang membuat Dean kembali teringat pada kejadian kemarin pagi saat sang supir pribadinya melindas air dan membasahi tubuh Kensky. Tanpa sadar ia tertawa lepas saat mengingat kembali tubuh Kensky yang basah akibat percikan air kotor.
Sang supir yang mendengar tawanya pun dengan cepat menatap Dean dari kaca spion lalu bertanya, "Apa Anda baik-baik saja, Bos?"
Dean terkejut dan merasa malu. Dengan cepat ia mengubah raut wajahnya kembali datar. "Aku tidak apa-apa, Matt. Sungguh aku tidak apa-apa."
Setelah mengatakan itu Dean kembali mengarahkan pandangan ke arah jendela. Pikiran yang tadinya diselimuti oleh wajah cantik Kensky kini tenggantikan dengan masa lalunya yang kelam akibat perbuatan lelaki yang tak lain adalah ayahnya Kensky. Dean menatap tajam ke arah luar dan dalam hati berkata, "Kau harus menyaksikannya, Kensky. Kau harus menyaksikan bagaimana ayahmu menderita. Kau juga harus menyaksikan bagaimana caranya meyebabkan dua wanita yang paling kucintai meninggal."
"Bos? Kita sudah tiba," kata Matt yang tak lain adalah supir sekaligus tangan kanan Dean.
Lelaki itu tersadar dan menatap ke arah toko kue yang ada di sebelah kanan. Dengan cepat ia turun saat Matt membukakan pintu. Dan seperti biasa, sebelum melangkah masuk Dean merapikan jas-nya sesaat lalu melangkah memasuki toko.
"Selamat pagi, selamat datang di Bebbi Bakery. Ada yang bisa dibantu, Pak?" sapa pegawai toko begitu Dean menghampirinya.
"Aku pesan kue ulang tahun," katanya dengan suara berat yang mampu membuat karyawan kemayu itu berdebar-debar.
"Baik. Ayo ikut saya, Pak." Pemuda itu mengajak Dean ke etalase di mana letak berbagai macam kue basah, "Ini, Pak. Anda bisa memilih model dan ukurannya sesuai selera Anda."
Dean melihat berbagai bentuk kue yang terpajang di dalam etalase beserta harganya. Mulai dari bentuk kotak, segi empat, bahkan bentuk karakter binatang juga ada. Ia tersenyum saat melihat kue yang bentuknya bulat bergambar beruang.
"Aku pesan satu yang ini," katanya seraya menunjuk kue cokelat yang diameternya dua puluh enam senti dengan tinggi enam senti.
"Baik, Pak. Apa ada tulisan khusus untuk kue ini?"
"Ada," sergah Dean, "Tapi apa kalian bisa merangkaikan kata-kata terbaik untuk kue ini?"
"Dengan senang hati, Pak. Kue ini untuk siapa? Orang spesial atau keluarga Anda?"
Dean menggeleng. "Bukan, kue ini untuk ulang tahun kantor. Nama kantornya Kitten Group. Terserah kalian saja akan membuat kata seperti apa, yang jelas jangan lupa untuk mencantumkan nama Kitten Group di kue ini."
"Baik, Pak. Anda tenang saja," katanya sambil menunduk paham.
"Aku minta kue yang baru, ya? Aku tidak mau yang sudah di pajang seperti ini."
"Baik, Pak. Kalau begitu, silahkan melakukan transaksinya. Apa ada tambahan lagi?"
Dean mengucapkan tambahannya lalu menyelesaikan transaksi. "Itu saja."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
Dean mengangguk. "Besok anak buahku yang akan mengambil kue ini. Toko kalian tutup jam berapa?"
"Jam sembilan malam, Pak."
"Baik, aku pastikan anak buahku akan datang sebelum jam delapan malam."
"Siap, Pak. Serahkan saja semuanya pada kami."
Dean menangguk lalu pergi meninggalkan toko. Setelah selesai dengan urusan kue, ia pun mulai memikirkan hal apa yang cocok untuk suasana pesta kantor besok malam. Namun tak ingin repot-repot, ia melontarkan semua tugas-tugas yang menurutnya repot itu kepada Matt.
"Pastikan restorannya yang enak, Matt. Aku tidak mau karyawan-karyawan perempuan itu membicarakan Kitten Group di belakang layar hanya karena menu makannya yang tidak enak. Kau tahu kan bagaimana mulut ibu-ibu di staf marketing dan keuangan?"
Matt menahan tawa sambil mengemudi. "Baik, Bos. Anda tenang saja, aku akan memesan makanannya di restoran langganan Anda."
"Bagus. Nanti aku akan menyuruh Mr. Hans untuk mengkalkulasi semua anggarannya lalu mengirim biayanya di rekeningmu."
"Baik, Bos."
Bersambung___