
Soraya mendorong kursinya ke belakang lalu berjalan menjauhi meja. Sambil membelakangi Rebecca ia berkata, "Jika benar Dean menolakku hanya karena Kensky, aku berjanji, Ma ... aku tidak akan membiarkan Kensky hidup dan menghalangi jalanku," Soraya berbalik menatap ibunya kembali, "Aku tidak akan segan-segan membunuhnya, Ma. Aku berjanji."
Rebecca menelan ludah. "Mama bukan tidak setuju kau melakukan itu, tapi Mama takut terjadi sesuatu kepadamu. Yang kau hadapi ini bukan orang sembarangan, tapi orang yang berkuasa di Amerika dan Eropa. Jika kau melakukan hal itu, sudah jelas Dean tidak akan tinggal diam. Bahkan sebelum kau melakukan niatmu itu terhadap Kensky, Dean akan lebih dulu melenyapkanmu."
"Aku tidak peduli, Ma. Setidaknya jika aku gagal mendapatkan Dean, itu berarti wanita lain juga tidak boleh mendapatkan dia termasuk Kensky."
Rebecca ikut berdiri. "Kau tenang dulu, lagi pula ini kan belum tentu benar. Ini hanya pikiran mama saja, siapa tahu alasan Dean benar bahwa dia mendekati Kensky hanya untuk balas dendam."
Soraya menggeleng kepala. "Tidak, Ma. Kalau memang Dean benar-benar serius padaku, dia tidak akan bersikap dingin kepadaku, Ma. Di kantor dia menganggapku seperti orang lain, berbeda dengan Kensky yang selalu dipanggil untuk menghadap. Padahal yang seharusnya lebih banyak konversasi dengannya itu adalah aku, bukan Kensky."
Rebecca berdecak. "Soraya, pernikahan kalian hanya sebatas perjanjian. Sudah sewajarnya dia bersikap dingin kepadamu, perjodohan kalian itu terjadi jika mama berhasil menjual Kapleng Group kepadanya. Jadi sudah sepantasnya dia bersikap begitu kepadamu, karena perjodohan itu terjadi bukan karena cinta. Apa kau mau men___"
"Sudah kubilang aku tak peduli, Mama!" potong Soraya, "Aku tak peduli meskipun dia tidak mencintaiku. Dia sendiri yang sudah membuatku jatuh cinta kepadanya dengan semua perkataan Mama itu, jadi kalian berdua harus menanggung risikonya. Aku akan tetap menikah dengan Dean, Ma. Bagaimanapun caranya, aku hanya mau menikah dengan Dean."
Rebecca tak bisa berkata apa-apa, keputusan Soraya sudah bulat. Itu artinya dia rela melakukan apa saja demi mendapatkan Dean. "Soraya, kau tenang dulu. Nanti kalau Dean sudah pulang dari Jerman, biar mama yang akan bicara padanya."
Soraya menatap Rebecca. Matanya bahkan menyipit seakan tak percaya apa yang baru saja dilontarkan ibunya. "Selama ini aku lihat Mama tidak ada pergerakan sama sekali. Mama terlalu takut pada Dean, padahal bukti semuanya ada pada Mama. Harusnya Mama bisa mengambil keputusan sendiri dengan memanfaatkan semua bukti-bukti yang ada, bukannya menunggu dan bertemu untuk mendiskusikan masalah ini dengan dia. Bagiku itu hanya buang-buang waktu saja, Mama. Kan Mama bisa menghubunginya melalui telepon, kenapa harus menunggu dia kembali? Kalau dia tidak kembali lagi, bagaimana?"
Rebecca semakin frustadi. "Kalau begitu mama harus bagaimana, Soraya? Dean pasti tidak akan mau menikahimu sebelum perusahan itu jatuh ke tangannya."
Soraya mengendus. "Mulai sekarang Dean adalah urusanku, biar aku yang akan mencari cara sendiri agar dia mau menikahiku. Mama urus saja urusan Mama sendiri. Jangan ikut campur lagi urusanku dan kalau ada apa-apa jangan pernah mencariku." Tanpa menunggu jawaban sang ibu, Soraya langsung berlalu dan meninggalkan Rebecca sendiri di ruang makan.
"Soraya! Tunggu, Soraya!"
***
Beberapa hari pun berlalu dengan cepat. Setelah seminggu bersama Kensky di Jerman, hari ini adalah hari terakhir bagi Dean untuk berpisah dengan Kensky. Dean akan kembali ke Amerika, sedangkan Kensky akan tetap tinggal di Jerman dengan tugas dan tanggung jawab untuk mengawasi perusahan yang sudah diperintahkan Dean kepadanya.
"Kau tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri di sini?" bisik Dean.
Saat ini mereka sudah tiba di bandara dan berdiri sambil berhadapan. Kensky dengan pakaian eksekutifnya yang rapi, sedangkan Dean dengan kemeja hitam, celana jins dan kaca mata serta Matt yang juga sedang berdiri di belakangnya.
"Aku tidak apa-apa, lagi pula di sini ada Mr. Bon yang bisa kuandalkan. Karyawan yang lain juga sangat ramah, mereka sangat baik padaku. Jadi, kau tidak perlu khawatir."
"Telepon aku kalau perlu sesuatu. Oh, iya, ngomong-ngomong selama ini aku tidak pernah tahu kontak teleponmu. Lucu, bukan?" Dean terkekeh, "Apa aku boleh minta kontakmu, Nyonya Stewart?"
Kensky tersenyum lebar. "Iya, Tuan Stewart. Aku juga baru sadar, kalau selama ini kau tidak pernah menghubungiku melalui telepon pribadi. Tapi sebaiknya aku saja yang menyimpan kontakmu, biar nanti kalau ada apa-apa aku yang akan menghubungimu lebih dulu."
Dean mengulurkan tangannya kepada Matt untuk meminta kartu nama.
Matt pun dengan cepat meraih selembar kartu dan memberikannya kepada Dean. "Ini, Bos."
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," kata Dean seraya memberikan kartu itu.
Kensky mengambilnya. "Aku akan merindukanmu, Dean."
"Aku juga. Mungkin kalau aku tidak ada pekerjaan di sana, aku akan ke sini lagi untuk menemuimu," kata Dean lalu mencium kepala Kensky. Dari kepala turun ke pipi, kemudian ke bibir, "Jaga dirimu, Sayang."
Kensky hanya tersenyum. "Jangan nakal di sana. Aku akan membencimu, jika tahu kau nakal dengan wanita lain. Matt, lapor kepadaku kalau dia mengajak wanita lain di kamarnya."
Dean ikut tersenyum. "Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi."
Setelah berpamitan Dean langsung masuk ke dalam bandara bersama Matt. Sedangkan Kensky langsung pergi ke parkiran untuk naik mobil yang dikendarai Mr. Bon kemudian meninggalkan bandara.
Dan ketika mobil yang dikendarai Mr. Bon sudah menjauh, dengan cepat Dean meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. "Halo, Mr. Pay," sapa Dean begitu panggilannya terhubung.
"Halo, Pak Dean! Apa kabar? Saya dengar Anda akan pulang hari ini, benar?"
Dean mendudukan bokongnya di kursi berbahan besi, sedangkan Matt terus berdiri di belakangnya untuk memantau di area sekeliling mereka.
"Kabarku baik. Tapi hari ini ada sedikit perubahan, aku tidak jadi pulang ke Amerika hari ini. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini, Mr. Pay. Mungkin beberapa hari lagi aku akan ke sana."
Lelaki di balik telepon itu mengutarakan kekecewaannya kepada Dean. Orang yang dia harapkan akan pulang hari ini ternyata batal. Tapi dengan antusiasnya ia menceritakan soal kejadian waktu mereka mengundang Rebecca di kantor polisi. "Katanya kamis besok dia akan membawa saya menemui suaminya. Entah itu benar atau tidak__ yang jelas kalau sampai tidak benar___ saya akan mencobloskan dia ke penjara."
"Aku tahu, tapi untuk saat ini bisakah Anda mengikuti permainanku, Mr. Pay?"
"Permainan apa, Pak Dean?"
Dean menceritakan soal rencana Rebecca untuk mencelakai Mr. Pay. "Jadi untuk sementara sebaiknya seperti itu saja dulu."
"Untuk apa dia ingin menyingkirkan saya?"
"Seperti yang sudah kita duga, kemungkinan dia sudah membunuh Eduardus dan tidak ingin Anda mengoreksi semuanya. Itulah yang membuatnya takut, tidak bisa memenuhi janjinya kepadamu. Dia takut masuk penjara, Mr. Pay. Jadi dia meminta bantuanku untuk menyingkarkan Anda."
"Saya tak menyangka dia begitu jahat. Tapi saya senang karena Anda telah memberitahukannya. Kalau begitu apa yang harus saya lakukan? Apa ada imbalan yang harus saya berikan untuk masalah ini, Pak Dean? Anda sudah membantu saya."
Dean berdecak. "Anda tidak perlu memberikan aku imbalan apapun, yang harus Anda lalukan hanyalah mengikuti permainanku. Jangan menemuinya dulu dalam waktu beberapa hari sampai aku menghubungi Anda. Jadi hari Kamis nanti Anda tidak usah menjemputnya atau menuntutnya bertemu Eduardus, agar supaya dia tahu bahwa aku sudah benar-benar sudah menyingkirkan Anda."
"Baiklah, tapi selanjutnya bagaimana? Apa dia tidak akan menuntut balik seandainya tahu bahwa Anda telah membohonginya?"
"Anda tenang saja, semua itu sudah kupikirkan. Pokoknya Anda jangan dulu menampakan diri di hadapannya, karena saat itu aku sendiri yang akan menuntutnya."
"Baiklah. Terima kasih banyak, Pak Dean. Kalau begitu nanti kabari saya kalau Anda sudah tiba di Amerika."
"Itu pasti."
Tut! Tut!
Dean memutuskan panggilannya. "Matt, kau sudah memesan kamar hotel untuk kita?"
"Sudah, Bos."
"Bagus. Ayo, kita ke sana. Pokoknya jangan sampai Kensky tahu bahwa kita tidak jadi pulang ke Amerika hari ini."
"Siap, Bos."
Bersambung__