Mysterious CEO

Mysterious CEO
Mengorbankan Harga Diri.



"Iya."


"Kenapa dengan perusahan itu?"


"Perusahan itu sebentar lagi akan beralih ke tangan orang lain. Menurut kuasa hukum papi, katanya papi sudah meminjam uang dengan jumlah banyak dan menjadikan Kapleng Group sebagai jaminannya. Jadi aku ingin kau membantuku. Maafkan aku, Ceo. Tapi seandainya itu bukan perusahan mami, aku pasti tidak akan meminta bantuanmu. Dan seandainya papi masih sehat, aku pasti tidak akan menyusahkanmu seperti ini."


Sosok di balik telepon tertawa pelan. "Aku mengerti maksudmu, Sayang. Sekarang sebutkanlah berapa total hutang yang Eduardus pinjam kepada orang itu."


"Aku sendiri tidak tahu. Tapi jika perusahan sebagai jaminannya, itu berarti totalnya sangat banyak," Kensky terkekeh, "Kau pasti berpikir aku ini gila, karena begitu yakin jika kau mau meminjamkan uang sebanyak itu kepada gadis yang belum pernah kau lihat. Tapi aku janji padamu, aku tidak akan menerima uang itu secara gratis. Aku akan mengembalikannya dan aku rela melakukan apa saja yang kau perintahkan, asalkan kau bersedia membantuku untuk mendapatkan kembali perusahan mami."


Lagi-lagi sosok di balik telepon itu tertawa. "Kata siapa aku berpikir kau gila, hah? Lagi pula apa yang menyangkut denganmu dan Barbara adalah tanggung jawabku. Aku bersedia membantumu."


"Ya, Tuhan, terima kasih banyak," kata Kensky dalam hati.


"Tapi kalau memang jumlah itu sangat banyak, itu artinya kau memang harus memberikanku jaminan," kata orang dari balik telepon.


Kensky terkejut. "Katakanlah. Jaminan apa yang kau mau, hah?"


"Apa, ya? Tapi kau yakin akan memberikannya?"


Kensky pasrah. Dan kalau pun dia meminta jaminan untuk tidur bersama, ia akan setuju asalkan perusahan ibunya bisa kembali dan tidak jatuh ke tangan orang lain. Toh laki-laki itu calon suaminya. "Aku yakin."


"Baiklah, karena kau adalah gadis yang dipilih oleh Barbara untukku. Jadi ...."


"Jadi apa? Katakan saja," balas Kensky cepat.


"Maukah kau menikah denganku?"


Mata Kensky terbelalak. "Menikah?"


"Iya, menikah. Aku ingin kita menikah secepatnya."


Kensky tertegun. Apakah ia akan siap menikah dengan lelaki yang belum pernah dilihatnya? Apakah ia akan mampu menjalin rumah tangga dengan lelaki yang tidak dicintainya?


Wajah Dean tiba-tiba muncul kembali dalam benaknya. Entah kenapa ia membayangkan bahwa dirinya bersama Dean akan menikah dan hidup bahagia.


"Sayang?" Suara pelan dari balik telepon itu membuyarkan pikiran Kensky.


"Eh, ya? Maaf."


"Kenapa diam? Apa kau ragu padaku?" tanya lelaki itu.


"Tidak, kok. Aku tidak ragu, sumpah. Apalagi kan kau lelaki pilihan mami. Aku yakin, kau pasti lelaki terbaik yang telah mami siapkan untuku."


"Kau yakin?"


"Aku yakin."


"Jadi kau mau menikah denganku?"


"Iya, aku mau."


"Meskipun kau tidak cinta padaku?"


Zet!


Pertanyaan lelaki itu membuat Kensky terkejut. Tapi perkataan itu benar, Kensky memang tidak mencintai laki-laki itu karena mereka belum pernah bertemu. Tapi apakah Kensky harus jujur kepada laki-laki itu bahwa dirinya mencintai lelaki lain? Tidak!


"Eh, aku rasa kalau bicara soal cinta ... Eh, kau tenang saja. Pasti setelah menikah aku akan jatuh cinta padamu. Anggap saja kita akan mulai berpacaran setelah menikah," kata Kensky. Ia tertawa untuk mencairkan suasana, takut laki-laki itu akan melontarkan pertanyaan yang membuat dirinya salah menjawab. Kensky khawatir kalau laki-laki itu tidak akan jadi membantunya untuk mempertahankan Kapleng Group agar tidak jatuh ke tangan orang lain, "Tapi kalau dengar dari cara bicaramu aku bisa menilai, bahwa kau orang yang menyenangkan dan romantis. Aku yakin, pasti setelah bertemu nanti aku akan jatuh cinta kepadamu. Itu pasti," kata Kensky penuh keyakinan.


Laki-laki di balik telepon itu ikut tertawa. "Kau tidak perlu bohong padaku, Sky. Kau mencintai lelaki lain, bukan?"


Zet!


Lagi-lagi Kensky terkejut. Dalam hati ia berkata, "Apa jangan-jangan___"


"Kau tidak lupa kan bahwa aku selalu memantaumu?"


Zet!


"Aku percaya padamu dan selalu percaya padamu," kata laki-laki yang tak mau menyebutkan namanya, "Jadi bagaimana, apa kau bersedia menikah denganku meskipun kita belum pernah bertemu?"


"Iya, aku bersedia," jawab Kensky mantap. Dalam hati ia berkata, "Ya, Tuhan, apakah aku harus berbohong kepadanya demi menyelamatkan perusahan mami? Apakah aku harus berbohong pada diriku sendiri bahwa aku tidak mencintai Dean?"


"Terima kasih kau sudah memberikan jawabannya. Tapi aku ingin tanya satu hal, boleh?"


"Tentu saja," jawab Kensky.


"Kau menerima lamaranku bukan karena terpaksa, bukan? Seandainya tidak ada sangkut-paut dengan hutang Eduardus, apakah kau tetap mau menikah denganku sebagai laki-laki pilihan Barbara?"


Kensky terdiam cukup lama. Pertanyaan laki-laki itu sungguh membuat dirinya merasa bersalah. Ia pun menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. "Jika disuruh pilih mami atau papi, aku akan tetap pilih mami. Mami lebih mencintaiku daripada papi, jadi dia yang paling tahu apa yang terbaik buatku. Jadi karena kau laki-laki pilihan mami, sudah pasti aku akan memilihmu sebagai suamiku."


"Terima kasih, Kensky. Terima kasih. Baiklah, sekarang sebaiknya kau tidur. Soal hutang Eduardus ... kau tidak usah memikirkannya lagi, aku akan membereskannya segera mungkin. Dan untuk beberapa hari ini, kau pasti akan menerima kejutan dariku."


Kensky terkekeh. "Apakah itu artinya dia akan datang dan melamarku?" tanya Kensky dalam hati, "Ya, Tuhan, semoga saja aku akan mendapat kabar baik sebelum jatuh tempo itu habis."


"Sayang?"


"Iya?"


"Mimpikan aku, ya?"


Kensky tersenyum. "Iya."


"Bye, Kensky."


"Bye, Ceo."


Tut! Tut!


Kensky pun memutuskan panggilannya. Namun entah mengapa__ meskipun belum pernah bertemu__ ia begitu nyaman setelah berbagi cerita dengan laki-laki yang tak mau menyebutkan nama itu. "Ya, Tuhan, semoga dia bisa menjadi suami terbaik buatku. Dan semoga aku bisa mencintainya dengan setulus hatiku."


***


Keesokan harinya di sebuah restoran yang letaknya di tengah kota, Dean sedang duduk sambil menikmati sarapan.


"Selamat pagi, Bos," sapa Matt yang baru saja tiba, "Ini sertifikat rumah yang Anda minta."


Dean menyelesaikan kunyahannya. Setelah membersihkan bibir dengan serbet berbahan linen itu, ia segera meraih map biru dari tangan Matt dan memeriksanya. "Bagus, lalu bagaimana dengan pengacara palsu itu?"


"Dia sudah diamankan, Bos."


"Kalau begitu sekarang hubungi Mr. Pay. Katakan padanya bahwa aku akan menunggunya di sini."


"Baik, Bos."


Dengan cepat Matt pun segera menekan angka di atas ponsel untuk menghubungi yang bersangkutan.


Sementara Dean yang masih menatap sertifikat itu, kini menyeringai puas dan berkata, "Aku tak sabar lagi, Eduardus. Aku tak sabar lagi ingin melihatmu tinggal di jalanan."


Di sisi lain.


"Soraya?" pekik Rebecca saat memasuki kamarnya, "Soraya! Kamu di mana, Sayang?"


Gadis itu muncul dari kamar mandi dengan tubuh terbalut jubah berwarna putih, kepalanya terbungkus handuk, wajahnya cemberut dan tidak sedikit pun membalas sapaan ibunya.


"Kau masih marah, ya?" tanya Rebecca, "Maafkan mama, Sayang. Mama tidak bermaksud menamparmu di depan Kensky. Maksud mama menamparmu itu, agar kau jangan dulu memberitahukan soal perjodohanmu dengan Dean kepada Kensky."


Langkah Soraya terhenti. "Kenapa? Supaya Mama bisa menjual Kensky kepada Dean, begitu? Aku tahu apa yang ada di otak Mama. Uang, uang dan uang!" katanya lalu mengeluarkan pakaian kantor dari dalam lemari. Emosi dalam diri Soraya tak kunjung padam sejak Rebecca menamparnya kemarin.


Bersambung___