Mysterious CEO

Mysterious CEO
CEO Misterius.



Setelah berhasil mengirim pesan itu Kensky menatap foto ibunya yang sedang tersenyum di layar handphone. "Mami, aku ingin sekali bertemu denganmu. Oh, iya, Mam. Kau tahu, aku sudah mendapatkan pekerjaan. Besok hari kedua aku bekerja di kantor itu. Dan Mami tahu, bos di perusahanku itu sangat tampan, tapi sayangnya dia aneh. Masa dia bertemu denganku dan mengaku bahwa dirinya calon suamiku. Itu kan gila, Mam."


Kensky berkata seolah-olah foto itu hidup. Dan saat ia kembali mengingat kejadian saat dirinya bertemu Dean untuk pertama kalinya, tanpa sadar bibirnya membentuk senyum saat membayangkan Dean memeluknya waktu di dalam ruangan.


"Mam, aku kan sebentar lagi ulang tahun. Seperti kata Mami dulu, aku boleh pacaran saat sekolahku sudah selesai. Berarti sekarang aku boleh berpacarankan, Mam? Apa aku boleh pacaran dengan atasanku?" Kensky terkejut sendiri saat mendengarkan kata-katanya, "Tidak, tidak! Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin bisa berpacaran dengannya. Dean pasti salah ... aku bukan calon istrinya, tapi Soraya."


Mengucapkan nama Soraya membuat hati Kensky terasa sakit. Entah kenapa ia tak ingin Dean menjadi suami Soraya.


Dengan cepat ia menarik napas panjang. "Tapi aku bersumpah, wajahnya tampan sekali. Seandainya Mami juga ada di sini dan melihatnya, Mami juga pasti akan jatuh cinta kepadanya," Kensky tertawa geli membayangkan sosok Barbara yang sudah tua itu akan jatuh cinta kepada Dean yang masih muda dan mempersona, "Maaf, Mami. Tapi maksud aku Mami akan jatuh cinta kepadanya sebagai menantu saja. Dan bukan hanya aku, mungkin semua wanita pasti akan jatuh cinta kepadanya," Kensky teringat akan perkataan Dean yang mana mereka sudah dijodohkan, "Tapi aku heran, Mam. Kenapa dia bisa tahu nama lengkap papi, ya? Dia juga bilang bahwa diriku sudah dijodohkan dengannya sejak lama dan yang menjodohkan kami adalah papi. Apa itu benar, Mam?"


Kensky masih mengarahkan layar ponsel itu tepat di wajahnya seakan-akan ia sedang bicara secara langsung dengan foto Barbara. "Apa sebaiknya aku menanyakan hal itu kepada papi?" pikir Kensky sambil mengerucutkan bibirnya yang merah itu, "Aku jadi penasaran, kenapa ya papi mau menjodohkan aku dengan Dean?"


***


Di kamar yang besar dengan ranjang yang berantakan terlihat Dean baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang. Rambutnya yang basah bahkan masih meneteskan air hingga jatuh ke dadanya yang berbulu.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel membuat Dean segera mendekati nakas. Ketika melihat Rebecca sebagai nama pemanggil, dengan cepat Dean segera menyambungkan panggilan itu dan menyapanya.


"Ada apa, Rebecca?"


"Dean, apa benar kau menerima anak tiriku bekerja di kantormu?"


Dean mengerutkan alis. "Anak tiri? Siapa?" tanyanya pura-pura.


"Namanya Kensky Revina Oxley."


"Oh, dia," Dean bergerak ke arah lemari kecil untuk meraih jam tangan, "Apa Soraya tidak menceritakanya kepadamu?"


"Tidak, dia tidak menceritakannya padaku. Seandainya tadi malam Eduardus tidak bertanya mengenai hasil wawancara mereka, aku tidak akan tahu kalau Kensky ternyata ikut mendaftarkan diri di perusahanmu."


Dean berjalan mendekati pintu pembatas yang ada di sudut kamar. Dibukanya pintu berwarna hitam yang senada dengan cat dinding lalu masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah ruangan ganti. Di sana terdapat beberapa lemari pakaian dan lemari-lemari lainnya. Dean meraih salah satu kemeja berwarna biru muda dengan setelan jas hitam yang mewah.


"Lalu kenapa? Apa dia membuat masalah?"


"Tidak. Tapi kan kau tahu dia adalah anak Eduardus, musuh besarmu."


"Bukannya kau dan Soraya juga istri serta anak dari Eduardus?" kata Dean asal. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja berkaca lalu membesarkan suara. Sambil mengenakan pakaiannya, ia mendengarkan setiap kata bermakna tidak suka yang dilontarkan Rebecca terhadap Kensky.


"Kami memang istri dan anak musuhmu, tapi kami tidak punya hubungan darah dengannya. Sementara Kensky ... dia anak kandungnya Eduardus, Dean. Darah dagingnya! Kau ingat itu."


Dean selesai mengancingkan kemejanya. Dengan wajah datar ia menatap dirinya di depan kaca lalu berkata, "Kau tidak perlu membentakku, Rebecca. Tanpa kau bilang pun aku sudah mengetahuinya. Itulah alasannya kenapa aku menerima gadis itu di perusahanku."


"Jadi kau sudah tahu? Lalu, apa kau punya rencana sendiri?"


"Ya."


"Apa yang akan kau lakukan padanya? Apa kau ingin memanfaatkannya untuk balas dendam?"


"Tentu saja, aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Sejak bulan lalu aku selalu rutin meletakkan pil itu ke dalam minuman dan makanannya sesuai dengan arahanmu, Dean. Kau tenang saja."


"Bagus, kau benar-benar istri yang jahat, Rebecca," Dean menyeringai, "Lakukanlah seterusnya sampai obat itu benar-benar bereaksi."


"Tentu saja. Selama kau menjamin kehidupanku dan Soraya, aku akan selalu melakukan apa saja yang kau perintahkan, Dean."


"Baiklah. Langsung kabari aku jika reaksi obatnya sudah mulai terlihat."


"Baik. Tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Dean sambil mengikat dasinya.


"Apa kau ingin aku menaruhkan obat itu juga ke makanan Kensky biar dia mati sekalian?"


Dean meremas dasi itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Tidak perlu. Kau tidak perlu melakukan itu, Rebecca. Biar aku sendiri yang akan menangani gadis itu. Kau cukup melumpuhkan ayahnya saja. Aku ingin dia melihat bagaimana Eduardus hidup di jalanan seperti yang dia lakukan terhadap keluargaku dulu."


"Baiklah. Oh, iya, terima kasih karena kau sudah memberikan jabatan yang bagus untuk Soraya."


"Itu tidak masalah. Hal itu sepantasnya kulakukan karena kau telah membantuku. Tapi ingat, jika kau mengambil alih dan menyentuh Kensky sedikit pun, aku tidak akan segan-segan membatalkan perjodohanku dengan Soraya."


"Jangan, Dean. Baiklah, aku tidak akan menyentuhnya. Tapi tunggu ... kau tidak sedang jatuh cinta kepadanya, kan?"


"Aku hanya ingin dia menyaksikan setiap perubahan yang ditimbulkan Eduardus. Aku ingin gadis itu melihat setiap proses di mana ayahnya yang serakah itu akan hidup susah dan penyakitan. Aku hanya ingin dia ikut menyaksikan sendiri bagaimana aku akan membalas dendam terhadap ayah kandungnya yang juga adalah ayah tiriku."


"Baiklah, Dean. Aku mengerti, aku juga percaya padamu dan aku berjanji tidak akan menyentuh Kensky. Biarlah kau yang menanganinya."


"Aku juga demikian, Rebecca. Aku tak ingin dikecewakan, begitu juga denganmu, bukan?"


Setelah mendapat jawaban puas dari Rebecca Dean segera memutuskan panggilan itu kemudian membuka dan medekati jendela kamarnya. Ia mengenang kembali apa yang pernah dilakukan Eduardus terhadap keluarganya.


Lelaki yang kini berusia tiga puluh tiga tahun itu bahkan masih sangat ingat saat-saat di mana ia dan ibunya memiliki kehidupan yang damai tanpa Eduardus. Kehadiaran Eduardus di tengah-tengah kehidupan Dean dan ibunya bagaikan setetes tinta hitam yang jatuh ke dalam susu putih. Lelaki itu telah merebut kebahagiaan mereka, merampas rumah, uang dan mengusir mereka ke jalanan hingga ibunya meninggal.


Flashback On:


"Lepaskan aku, Eduardus! Lepaskan aku!"


"Pergi kau dari sini! Aku tak butuh wanita penyakitan sepertimu. Istri macam apa kau ini? Aku tidak ingin istri yang sakit-sakitan sepertimu. Aku butuh dilayani, bukan melayani."


Dean yang usianya mendekati delapan tahun itu hanya bisa menangis saat melihat ibunya diseret oleh Eduardus dari dalam kamar. Ketika lelaki itu hendak mendorong ibunya ke tangga, Dean dengan cepat mencegahnya agar ibunya tidak terjatuh. "Ibu?!" pekiknya keras sambil memeluk sang ibu.


"Untuk apa kau menahannya? Biarkan dia mati! Dia wanita tidak berguna," ketus Eduardus.


"Tutup mulutmu, Esuardus!" pekik Dean, "Dia ibuku! Harusnya kaulah yang keluar dari rumah ini, bukan kami! Kau yang tidak berguna!"


Brak!


Bersambung____