Mysterious CEO

Mysterious CEO
Mulai Curiga.



Rebecca tersenyum kecut. "Seandainya kita tidak terikat perjanjian aku pasti tidak akan menyetujuinya, Dean. Aku sebenarnya tidak suka calon suami Soraya mendekati gadis lain, meskipun itu saudaranya. Apalagi dia hanyalah saudara tiri."


"Sama. Jika saja tidak terikat perjanjian denganmu soal Eduardus, aku juga tidak akan pernah mau menikahi Soraya."


Rebecca tersentak. "Maaf, Dean. Aku tidak bermaksud begitu. Baiklah, akan kusampaikan kabar ini kepadanya."


Tut! Tut!


Dean memutuskan panggilannya sepihak.


Rebecca kesal. Dengan tatapan garang ia melihat layar ponsel. "Dasar laki-laki sinting, kau pikir aku akan diam saja jika kau terus-terusan menyakiti Soraya? Jangan harap." Dengan kesal ia pun menuju kamar Kensky.


Tok! Tok!


"Sky! Sky!" Wajah Rebecca terlihat kesal. Bahkan suara ketukan pintu sangat keras saking jengkelnya kepada Dean, "Berani benar dia mengatakan hal seperti itu kepadaku," kata Rebecca dalam hati.


Clek!


Gadis itu membuka pintu kamar. "Ada apa, Ma?"


"Apa benar kamu akan berangkat besok pagi bersama Dean?"


Alis kensky berkerut. "Mama tahu dari mana?"


"Bos kamu, dia baru saja menghubungi mama. Katanya malam ini kau harus menginap di apartemennya, karena pagi-pagi sekali kalian akan ke bandara."


"Kenapa Dean menelepon Mama dan memberitahukan hal itu? Perasaan tadi beliau sudah mengatakannya kepadaku sebelum pulang kantor."


Rebecca terperanjat. Saking jengkelnya dia bahkan lupa untuk berakting. "Gawat, Kensky bakal curiga kalau begini," katanya dalam hati. Dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya agar terlihat santai, "Kan dia pikir aku orangtuamu, Sky. Jadi sudah sewajarnya dia menghubungi mama dan meminta ijin. Apalagi dia akan membawa anak gadis mama, lho."


Alasan yang cukup masuk akal bagi Rebecca. Tapi bagi Kensky itu meragukan. Ia merasa tidak seharusnya Dean mengatakan hal itu kepada Rebecca. "Apa jangan-jangan ada sesuatu di antara mereka? Tidak seharusnya Dean mengatakan masalah ini kepada Rebecca melalui telepon?" kata Kensky dalam hati. Matanya menatap wajah Rebecca, "Pantasan saja tadi ketukan pintu dan wajah Rebecca tidak seperti biasanya. Apa jangan-jangan dia tidak suka aku diajak Dean? Sudah pasti iya, secara Soraya kan sangat menginginkan Dean."


"Sky?" panggil Rebecca.


Gadis itu terkejut. "Iya, Ma?"


"Apa yang kau pikirkan?"


Kensky tersenyum lebar. "Aneh saja sih, kenapa Dean harus menghubungi Mama dan memberitahukan hal ini kepada Mama. Tapi tidak masalah, aku tadi memang berniat akan mengatakannya kepada Mama. Namun, karena Dean sudah mengatakannya aku rasa hal itu tidak perlu kuulangi lagi."


"Gawat, dia mulai curiga," kata Rebecca dalam hati, "Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sayang. Lagi pula itu wajar jika dia memberitahukannya pada mama. Seperti yang mama bilang tadi, dia akan membawa anak gadis mama. Jadi biarpun dia sudah mengatakannya kepadamu, tetap saja dia harus ijin kepada mama," Rebecca meraih tangan Kensky, "Mama tidak marah kau pergi dengannya, asalkan kau harus pintar-pintar menjaga diri. Hati-hati dan jangan percaya terhadap laki-laki, meskipun dia itu atasanmu."


Alis Kensky berkerut. "Maksud Mama jangan percaya ... jangan percaya soal apa, Ma?"


Kensky bisa melihat ekspresi dan nada tidak suka yang terlontar dari suara Rebecca. Tapi hal itu tidak membuat rasa cintanya kepada Dean berkurang. "Mama tenang saja, aku akan selalu hati-hati. Lagi pula aku dan pak Dean kan tidak ada hubungan apa-apa. Sungguh kurangajar kalau dia berani berbuat macam-macam kepadaku."


"Baiklah, mama hanya ingin menyampaikan pesan itu saja. Sebaiknya kau bersiap dan pergi sebelum dia marah."


"Iya, aku akan bersiap-siap. Terima kasih, Ma."


"Kalau begitu mama turun dulu."


Kensky pun menatap Rebecca yang kini berjalan menuruni tangga. Setelah wanita itu menghilang di balik pembatas dinding dapur dan ruangan nonton, ia kembali masuk ke dalam kamar. "Aneh, kenapa bisa Dean mengatakan hal itu kepada Rebecca? Kalau pun dia ingin minta ijin sekalipun, dia kan bisa datang ke sini dan berpamitan langsung," Kensky terus berpikir, "Benar-benar aneh; Rebecca punya kontak Dean, sementara Dean juga punya kontak Rebecca. Aku harus mencari tahu soal ini, sepertinya mereka sudah saling berkomunikasi."


Tak ingin memikirkan masalah itu untuk sementara, Kensky akhirnya mengambil koper dan mulai mengemasi barang dan pakaian yang akan dibawanya. Meskipun Dean sudah melarang untuk tidak usah membawa pakaian, Kensky merasa harus membawa beberapa pakaian ganti, berupa setelan kantor maupun pakaian untuk bersantai. Terlebih pakaian dalam, gaun tidur yang baginya sangatlah penting, serta beberapa barang seperti foto Barbara untuk dipajang di dalam kamar maupun di ruang kantor barunya nanti.


"Mami, akhirnya anakmu ini bisa ke Eropa," Kensky pun teringat akan kata-kata yang dulu sering diucapkan oleh ibunya waktu masih hidup.


'Mami akan mengajakmu ke Eropa, Sayang.'


'Kapan, Mami?'


'Kalau kau sudah dewasa. Di sana kau akan mendapatkan duniamu yang sebenarnya, dunia yang akan membuatmu merasa bahagia selamanya.'


Air mata Kensky menetes membasahi pipi saat menatap foto Barbara di dalam bingkai. "Mami, aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin mami hadir di sini dan menjawab semua pertanyaanku," Kensky menarik cairan hidungnya, "Apa benar mami dan papi telah menjodohkanku dengan Dean? Apa benar laki-laki di foto itu adalah Dean? Oh, mami. Aku ingin mami menjawabnya, mam. Semua itu membuatku bingung dan sakit kepala. Aku ingin tahu, apa benar Mrs. Stewart adalah sahabat mami dan papi?" Kepalanya serasa mau pecah saat membayangkan semua itu. Jika benar bocah di foto itu adalah Dean, lalu kenapa selama ini lelaki itu tidak mau berkata jujur padanya?


***


Selama makan malam berlangsung, Soraya dan Rebecca saling diam. Ketidakberadaan Kensky saat ini mengharuskan Rebecca berkata jujur kepada Soraya meski tahu hal itu membuat anaknya marah. "Lalu mama harus bagaimana? Tempo hari kau sendiri sudah dengar sendiri kan alasannya kenapa dia mau mendekati Kensky?"


Soraya tetap diam. Wajahnya kusut dan tak mau menatap ibunya. Emosi dalam dirinya sudah mengembang bagaikan balon dan siap meledak.


"Jika saja kita tidak terikat kejahatan dengan Dean, mama tidak akan mungkin menuruti semua kemauannya. Dia tahu perbuatan kita, Soraya. Dia bisa saja melaporkan kita kalau satu saja permintaannya tidak kita turuti."


Kepala Soraya tersentak menatap Rebecca. Tatapannya tajam bagaikan pisau yang siap menusuk. "Kita? Mama bilang kita? Aku tidak pernah ikut campur dengan urusan Mama dan Dean. Dan bukannya Mama sendiri yang bilang kepadaku, bahwa dia akan memperlakukanku dengan cara berbeda. Tapi sekarang apa? Jelas sekali perbedaan yang dia lakukan terhadapku dan Kensky. Dia lebih dekat dengan Kensky bukan aku dan semua itu karena Mama."


Rebecca tak bisa berkata apa-apa lagi. "Kita hanya bisa sabar, Soraya. Lagi pula dia melakukan itu kan hanya karena ingin balas dendam."


"Sabar? Aku sudah cukup sabar, Ma. Harusnya sekarang Mama-lah yang mendesaknya untuk segera melamarku."


"Tugas mama belum selesai, Soraya. Masih ada tugas lagi yang harus mama lakukan kepada ayahmu."


"Ayah sudah hilang, Ma," pekik Soraya, "Ayah sudah hilang dan sekarang lelaki itu entah di mana, dan itu berarti tugas Mama juga sudah selesai. Kalaupun Mama bilang belum selesai, lantas apa yang akan Mama lakukan sekarang sementara kita sendiri tidak tahu keberadaan ayah ada di mana?"


Bersambung___