Mysterious CEO

Mysterious CEO
Di Kantor Polisi.



Pikiran itu membuat wajah Rebecca berubah pucat. Jantungnya bahkan berdetak sangat cepat begitu membayangkan sosok Eduardus telah menunggunya di kantor polisi. "Ya, Tuhan, apakah dia yang sedang menunggu di sana? Apakah dia akan melaporkan semua perbuatanku ke polisi? Oh, Tuhan, aku tidak mau di penjara. Aku tidak mau."


Karena tidak mau kedua polisi itu mencurigai apa yang sedang ia pikirkan, sebisa mungkin Rebecca bersikap santai sampai rasa takut dalam dirinya kini mehilang.


Polisi yang terlihat lebih muda itu mengambil alih. "Kami ke sini hanya diperintahkan untuk menjemput Anda, Nyonya. Jadi sebaiknya Anda ikut saja sebelum kami mengambil tindakan dan bersikap kasar."


Mau tidak mau Rebecca terpaksa mengalah. "Baiklah. Tapi tunggu sebentar, aku mau ganti baju dulu."


Kedua polisi itu mempersilahkan dan rela menunggu di luar.


Rebecca yang kini berjalan menaiki tangga dalam hati bertanya-tanya, "Apakah itu Eduardus? Jangan-jangan dia sudah sembuh dan melaporkan semua yang telah kulakukan kepadanya? Tidak! Itu tidak mungkin. Itu pasti bukan Eduardus, tapi kalau bukan dia lalu siapa?"


***


Tak berapa lama mereka pun tiba di kantor polisi. Kedua polisi tadi membawa Rebecca masuk ke dalam ruangan yang di mana ada sosok lelaki berjas hitam sedang duduk bersama kepala kepolisian kota.


Tok! Tok!


Salah satu dari kedua polisi itu mengetuk pintu.


Clek!


Polisi itu kemudian mendorong pintu dan mempersilahkan Rebecca masuk. "Pak, ini nyonya Rebecca Oxley."


Lelaki yang ternyata adalah kepala kepolisian itu tersenyum samar lalu berdiri. "Selamat pagi, Nyonya Rebecca. Ayo, silahkan duduk. Jangan malu-malu."


Rebecca menaik kursi kemudian duduk di depan kepala kepolisian itu. Namun saat matanya mengarah ke sosok yang ada di sampingnya, ia cukup kaget saat melihat sosok berjas hitam itu sedang tersenyum kepadanya. Dalam hati ia berkata, "Siapa, ya? Perasaan aku pernah melihatnya."


Kepala kepolisian itu berdeham. "Sebelumnya kami minta maaf sudah menyita waktu Anda, Nyonya Rebecca."


Rebecca mengalihkan pandangan dari lelaki itu kemudian menatap kepala kepolisian. "Tidak apa-apa, Pak."


Lekaki berjas hitam itu duduk tepat di samping Rebecca dan hal itu membuat pikirannya terbebani. Dalam hati lagi-lagi ia bertanya tentang siapa sosok lelaki itu. Ia merasa tidak asing dengan wajahnya dan merasa pernah bertemu tapi lupa di mana. Saking penasarannya terhadap lekaki itu Rebecca terus memeras otak untuk mengingat-ingat kembali, tapi tetap saja tidak ada hasil.


"Jadi begini," kata kepala kepolisian, "Ini mengenai suami Anda, Nyonya."


Rebecca terkejut. Matanya yang tiba-tiba melotot itu membuat si kepala kepolisian langsung merekam respon pertama Rebecca ke dalam otaknya.


"Ada apa dengan suamiku?" tanya Rebecca dengan suara bergetar.


"Apa Anda tahu beliau ada di mana? Apa benar menurut informasi beliau sedang sakit parah dan tidak pernah masuk kantor lagi?"


Kepala Rebecca dengan spontan mengarah ke arah si lelaki berjas hitam untuk mengingat apa keterlibatan suaminya dengan lelaki itu. Namun, lagi-lagi ia tidak ingat siapa sosok tersebut dan apa hubungannya dengan Eduardus.


Pembahasan mengenai keberadaan suaminya membuat jantung Rebecca terpukul. "Iya, Eduardus sedang sakit parah dan sudah lama tidak masuk kantor."


"Bisa kami bertemu dengannya?"


Emosi Rebecca meledak. Ia berdiri dan menatap kepala kepolisian itu bagaikan seekor singa betina yang lapar. "Apa maksud kalian menanyakan kabar suamiku di kantor polisi, hah? Jika kalian hanya ingin bertemu, seharusnya kalian datang ke rumah saja dan tidak perlu membawaku ke sini."


Lelaki berjas hitam itu tetap diam di tempat duduk, sementara kepala kepolisian mengodekan kepada kedua bawahannya agar segera menenangkan Rebecca.


Emosi Rebecca perlahan mulai turun meski sebenarnya rasa takutlah lebih besar yang ia rasakan saat ini. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Ada apa ini, apa maksud mereka menanyakan Eduardus? Tapi kenapa mereka mengajakku ke kantor polisi? Dan siapa lelaki berjas ini? Apa hubungannya dengan Eduardus?"


Setelah melihat Rebecca tenang, kepala kepolisian itu kembali mengambil alih. "Jadi bagaimana, apa kami bisa bertemu dengan suami Anda, Nyonya Rebecca?"


Rebecca terperanjat. Ia tidak mungkin berkata jujur bahwa suaminya sudah hilang dan dibawa oleh pria-pria berjas yang tidak dikenalinya. Jika dia mengatakan itu, sudah pasti dirinya akan disalahkan karena membiarkan suaminya hilang. Bahkan bisa saja mereka akan menuduhnya sebagai otak di balik penculikan suaminya, padahal dia sendiri pun tidak tahu keberadaan Eduardus sampai sekarang ada di mana.


Tapi mau tidak mau Rebecca harus berbohong. Dengan jantung yang masih berdetak cepat ia memberanikan diri untuk menatap si kepala kepolisian itu dan berkata, "Suamiku sedang berada di sebuah desa kecil, dia sedang melakukan terapi untuk proses penyembuhan. Lebih tepatnya pengobatan tradisional yang dilakukan oleh orang-orang desa pada umumnya."


"Bisa kami tahu penyakit apa yang dideritan suami Anda, Nyonya?"


Rebecca memasang wajah sedih. "Aku tidak tahu, Pak. Tapi sejak penyakit itu menyerangnya, semua persendiannya sulit digerakan. Dia seperti lumpuh total dan hanya mata yang bisa digerakan. Suaranya bahkan hilang. Aku sudah membawanya ke dokter, tapi tidak ada perubahan. Tapi untung saja ada kerabatku yang mau memberitahukan soal tempat terapi itu. Jadi, untuk sementara suamiku dirawat di sana sampai keadaannya benar-benar membaik."


Kepala polisian itu melirik lelaki berjas hitam seakan memberikan kode dengan anggukan kepala. "Baiklah kalau begitu, kami mengerti. Tapi, apa bisa Anda mengantarkan kami ke tempat di mana suami Anda berada sekarang ini?"


Rebecca lagi-lagi terkejut. "Gawat, kalau begini!" katanya dalam hati. Dengan cepat ia memasang wajah sedih lagi agar kepala kepolisian itu terintimidasi, "Aku sendiri sebagai istri dilarang untuk selalu mengunjunginya, Pak. Aku diijinkan berkunjung seminggu sekali. Itu pun hanya sekedar melihat, tidak boleh berbicara atau bertatap muka dengannya. Memang tidak masuk akal, tapi begitulah aturannya."


"Kalau begitu kapan Anda akan berkunjung lagi ke sana? Kami akan ikut jika Anda tidak keberatan. Kami hanya ingin memastikan, bahwa beliau benar-benar masih hidup."


Rebecca menatap aneh. "Sebenarnya ada masalah apa Anda menanyakan suamiku, Pak? Dan apa maksud Anda ingin memastikan bahwa suamiku masih hidup? Suamiku memang masih hidup, Pak."


Saat itulah kepala kepolisian menunjuk sosok lelaki berjas hitam yang duduk di samping Rebecca. "Apa Anda mengenal orang ini, Nyonya Rebecca?"


Rebecca menatap lelaki itu lekat-lekat. "Aku tidak mengenalnya, tapi rasanya aku pernah bertemu dengannya."


"Benarkah?"


"Iya, tapi aku lupa di mana."


Kepala kepolisian itu mengerutkan alis. "Sungguh Anda tidak mengenalinya sama sekali?"


Rebecca mengangguk. "Iya, aku tidak mengenalnya."


Saat itulah lelaki berjas hitam menghadap, mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri. "Kenalkan, saya Mr. Pay, saya tempo hari yang berkunjung ke rumah Anda untuk mencari suami Anda."


Rebecca membalas uluran tangannya. Dengan alis berkerut-kerut ia kembali mengingat-ingat kapan lelaki itu datang ke rumahnya. "Oh, iya!" seru Rebecca saat mengingat hari itu, "Anda sahabat suamiku, kan?"


Mr. Pay menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. Sambil menatap Rebecca ia berkata, "Sebenarnya saya bukan hanya sekedar sahabat beliau, tapi saya adalah kuasa hukum di perusahan suami Anda, Nyonya."


Zet!


Mata Rebecca terbuka lebar. "Kuasa hukum? Maksudnya, Anda adalah pengacara di Kapleng Group?"


"Benar, Nyonya Rebecca," jawab Mr. Pay.


Kepala kepolisian mengambil alih. "Masa sebagai istri pemilik perusahan Anda tidak tahu siapa kuasa hukum di perusahan kalian, Nyonya?"


Rebecca balas menatapnya. "Aku memang tidak tahu, Pak. Selama aku menikah dengan Eduardus pun aku tidak pernah tahu soal perusahan itu. Yang aku tahu dia memang memiliki perusahan, tapi soal lain-lain aku tidak tahu."


Bersambung___