Mysterious CEO

Mysterious CEO
Memutuskan Ikatan.



Di dalam sebuah hotel berbintang, Dean sedang duduk di depan jendela sambil menatap sebuah gedung tinggi yang ada di hadapannya.


"Bos, Rebecca menelepon," kata Matt.


Dean segera menoleh dan meraih benda itu. "Ada apa?" sapa Dean begitu panggilannya terhubung. Suaranya bahkan terdengar sangat berat akibat marah.


"Kapan kau pulang, Dean?"


"Kemungkinan sebulan lagi aku di sini. Aku harus melatih Kensky sampai dia benar-benar percaya, bahwa aku akan menugaskan dia di perusahanku ini."


Terdengar Rebecca mengendus dari balik telepon. "Tapi, Dean, bolehkah aku memintamu untuk menyuruhnya pulang? Sehari atau dua hari saja. Aku sudah membuat rencana soal dia dengan lelaki itu. Aku hanya ingin dia dan lelaki itu bertemu, setelah itu terserah mereka. Setidaknya Kensky sudah tahu dialah lelaki yang telah mereka jodohkan dengannya, setelah itu aku akan menyuruh dia kembali ke Jerman untuk bekerja di kantormu."


Dean tampak berpikir kemudian menjawab, "Boleh. Kapan pertemuan itu akan dilaksanakan?"


"Minggu besok. Aku juga sudah menyiapkan semuanya untuk pertemuan itu. Jadi mereka hanya tinggal bertemu, makan malam, lalu pulang. Selebihnya itu urusan mereka."


"Baiklah. Tapi aku tidak yakin kalau Kensky mau, kecuali kau membuat alasan yang tepat untuk membuatnya bisa pulang."


"Akan kucoba, yang terpenting kau sudah mengijinkannya."


"Oh, iya, mengenai Soraya ... apa kau sudah mengatakan kepadanya tentang perjanjian kita yang sudah dibatalkan?"


"Aku tidak mengatakan kalau perjanjian itu sudah dibatalkan. Tapi aku memberikan nasehat yang bisa membuatnya berpikir, bahwa dia tidak usah mengharapkan pernikahan itu. Pernikahan dari orang yang sama sekali tidak mencintainya."


"Terserah apa alasanmu, yang jelas kita sudah sepakat dan urusan kita sudah selesai."


"Apa maksudmu urusan kita selesai, Dean?"


Dean berdiri dari kursi. Dipandangnya aktivitas lalu lintas yang berada sepuluh kaki dari tempatnya berdiri dengan sebelah tangan di dalam saku celana. "Bukankah keinginanku untuk mendapatkan Kapleng Group sudah tidak bisa? Bahkan sertifikat rumah yang kau janjikan akan menjualnya kepadaku, mana?"


"Tapi kan misimu untuk membalas dendam terhadap Eduardus belum terealisasi, Dean."


"Kan ada Kensky yang bisa menggantikannya."


"Tapi, Dean."


"Tapi apa, Rebecca? Oh, iya, ngomong-ngomong aku belum tahu alasanmu yang sebenarnya ... untuk apa kau ingin menjodohkan Kensky dengan lelaki itu?"


"Sebenarnya ini bukan rencanaku, Sorayalah yang ingin menjodohkan mereka. Dia cemburu sering melihatmu bersama Kensky. Jadi dia ingin mempertemukan mereka, biar Kensky tidak dekat-dekat lagi denganmu."


Dean meremas tangannya di balik saku celana. "Baiklah. Terserah apa yang akan kalian lakukan kepadanya, yang jelas kalian tidak boleh melukainya kecuali aku."


Rebecca diam cukup lama. "Dean, kau tidak benar-benar menyukainya, kan? Bagiku sungguh tidak wajar kau melarang kami untuk melukainya? Bukankah justru lebih bagus jika kami yang melukainya, agar kau tidak perlu repot-repot. Apalagi kami tinggal se rumah dengannya, hal itu akan sangat mudah bagiku untuk membantumu."


"Aku punya cara sendiri untuk dia. Dan jika kalian berani melukainya, itu berarti aku sudah tidak bisa membalaskan dendamku. Aku ingin melukainya dengan caraku sendiri, Rebecca."


"Baiklah, kalau begitu terserah kamu saja."


"Benar, kalau begitu juga mulai sekarang kita tidak ada urusan lagi dan jangan pernah kau menggangguku, Rebecca. Aku tidak mau ikut campur dengan rencana kalian dan menyangkut-pautkan namaku. Kalau sampai terjadi apa-apa dan namaku terbawa-bawa, aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu."


"Iya, Dean, kau tenang saja. Sekali lagi terima kasih, karena kau sudah mengijinkan Kensky. Ngomong-ngomong soal pengacara itu, dia tidak muncul. Apa itu berarti kau sudah melenyapkannya?"


"Bukankah itu yang kau inginkan?"


"Oh, Dean, aku senang sekali. Terima kasih banyak, Dean."


Tut! Tut!


Dean memutuskan panggilannya. Dengan pandangan garang dan kedua tangan di dalam saku celana ia berkata dalam hati, "Sudah saatnya aku untuk menghancurkan kalian berdua Rebecca."


Di sisi lain.


Seperti biasa, Rebecca dan Soraya kini sedang bersantai di ruang tamu. Rebecca duduk di sofa tunggal dengan balutan gaun panjang berwarna merah serta rambut yang disanggul sedemikian rupa. Sedangkan di hadapannya ada Soraya yang duduk dengan balutan dres panjang biru, rambut diikat asal, serta wajah pucat tanpa polesan makeup.


"Dia setuju, dia akan mengijinkan Kensky untuk pulang," katanya dengan wajah tampak muram.


Soraya menatap skeptis. "Kenapa wajah Mama seperti itu?"


Rebecca terdiam. Tidak mungkin ia harus mengatakan bahwa Dean telah memutuskan ikatan mereka. Jadi karena tidak ingin hal itu memicu kecurigaan Soraya, Rebecca segera memikirkan alasan agar anaknya itu bisa mempercayainya. "Mama bingung harus memberikan alasan apa kepada Kensky nanti. Mama takut dia tidak akan ke sini jika alasannya tidak tepat. Dan kalau itu terjadi, berarti rencana kita untuk menjodohkannya dengan dokter Harvey akan gagal."


Soraya berdecak. "Tumben otak Mama lambat. Kan Mama bisa menggunakan ayah sebagai alasannya."


Rebecca menyipitkan mata menatap Soraya. "Apa maksudmu?"


"Kan kita bisa beralasan, bahwa ayahlah yang menyuruhnya pulang. Mama bisa membohonginya dengan kondisi ayah saat ini. Mama bilang padanya, bahwa ayah sudah sekarat. Dengan begitu dia pasti akan datang untuk menjenguk ayah."


"Tapi kalau dia datang dan ayah tidak ada, bagaimana?"


"Ya kita bilang saja ayah sudah meninggal. Kalau perlu kita siapkan kuburan bohongan sebagai makam, agar dia percaya kalau ayah sudah benar-benar meninggal. Kalau perlu Mama langsung bilang bila mana ayah menitip pesan terakhir, yaitu ayah ingin dia menikah dengan lelaki itu tepat di depan makam ayah. Katakan padanya juga, bahwa ayah ingin dia menikah secepatnya."


Rebecca tersenyum lebar. "Ide bagus. Kamu memang pintar, Sayang. Kamu memang pintar."


***


Berhari-hari tanpa Dean di sisinya membuat Kensky merasakan rindu yang mendalam. Tapi karena lelaki itu telah memberikan tugas dan tanggung jawab kepadanya yang cukup berpengaruh, Kensky tetap bersemangat saat menjalani harinya di kantor tersebut.


Saat ini dia baru saja pulang dari kantor. Dan di dalam mansion yang besar itu, Kensky kini terbaring di atas ranjang dengan tubuh yang masih terlilit pakaian kantor. Diambilnya benda portable itu dan menatapnya. Ia memeriksa setiap panggilan dan pesan untuk mengecek apakah ada panggilan tak terjawab dari Dean.


"Tumben dia tidak menghubungiku hari ini," bisiknya lemah.


Karena tubuhnya begitu lelah, Kensky memutuskan untuk berendam. Ia bangkit dari ranjang dan meletakkan ponsel itu di atas nakas. Namun baru saja hendak melangkah lagi menuju kamar mandi, getaran benda itu langsung menghampiri telinganya.


Drtt... Drtt...


Kensky terkejut dan menoleh. "Itu pasti Dean." Dengan antusias ia melangkah dan meraih benda itu secepatnya.


Zet!


Alis Kensky berkerut saat melihat nomor tanpa nama sebagai pemanggil. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Siapa ini? Kenapa ada nomor baru?"


Seingat Kensky yang tahu kontak barunya itu hanyalah Tanisa, Dean dan lelaki bernama Ceo. Namun berpikir jika pemilik nomor itu pasti adalah salah satu dari mereka, Kensky pun langsung duduk di atas ranjang dengan hati kecewa disertai rasa penasaran yang tinggi.


"Halo?"sapa Kensky saat panggilannya terhubung.


"Sayang! Kau di mana? Ya, ampun!" Terdengar suara si penelepon mulai menangis.


Kensky sangat mengenali si pemilik suara. "Mama! Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis?"


Kensky bahkan tidak mementingkan lagi Rebecca tahu dari mana kontak barunya begitu mendengar suara di balik telepon itu sedang menangis. Ia cukup terkejut mendengar tangisan Rebecca yang kian merebak.


"Papimu ... papimu, Sky."


"Papi kenapa, Ma? Apa yang terjadi dengan papi?" Jantung Kensky ikut bergetar.


"Papimu, Sky! Papimu___"


"Iya, katakan papi kenapa, Mama! Apa yang terjadi dengam papi?" Suara Kensky terdengar marah.


"Oh, Kensky, maafkan mama. Tapi sebaiknya kau pulang sekarang, mama rasa ayahmu sebentar lagi akan meninggalkan kita."


"Apa?" Kensky terkejut dengan bibir gemetar, "Bukankah Mama bilang papi sudah sehat?"


"Ceritanya panjang, Sky. Mama sendiri tidak tahu apa yang terjadi kepadanya. Jadi sebelum kau benar-benar tidak bisa melihatnya lagi, sebaiknya kau telepon atasanmu dan minta ijin satu-dua hari. Mama takut kamu tidak akan bisa lagi melihat papimu selamanya, Sky."


Bersambung__