
Mata Eduardus berkaca-kaca. "Ya, Tuhan, seandainya waktu bisa diulang ... aku tidak akan pernah menjahatimu, Dean, sumpah. Aku benar-benar menyesal."
Dean tersenyum samar. "Justru aku bersyukur kau menjahatiku, Eduardus. Berkat sikapmu yang jahat itu aku bisa bertemu dengan Kensky."
Tawa bahagia pun terdengar dari suara Dean, Eduardus dan Mr. Pay.
"Tapi aku minta kau jangan dulu memberitahukan hal ini kepada Kensky, aku ingin memberi kejutan kepadanya," kata Dean.
"Kau tenang saja, Nak. Sekarang, apapun yang kau perintahkan padaku akan kulaksanakan."
Mr. Pay kembali tertawa. Sedangkan Dean dengan tatapan bahagia kini asik menatap Eduardus yang sedang mengeluarkan air mata karena rasa bahagia yang dia rasakan.
***
Aktivitas kantor yang cukup menguras tenaga membuat tubuhnya berkeringat. Berendam air panas ditemani scent white jasmine dari produk lilin aroma terapi membuat Kensky merasa nyaman. Saking nyamannya ia bahkan sampai tertidur di dalam bathtube. Dan sekarang dengan tubuh terbalut jubah mandi berwarna putih dan handuk kepala yang berwarna senada, Kensky menatap dirinya di depan cermin.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel mengalihkan pandangannya. Dengan cepat ia meraih benda yang tak jauh dari tubuhnya dan melihat layar. "Dean!" Dengan senyum lebar ia menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan, "Halo, Dean?" sapanya sambil berjalan mendekati ranjang.
"Sedang apa? Sudah makan malam?"
"Aku baru saja selesai mandi."
"Wow! Pasti kamu belum mengenakan baju, kan?"
Wajah Kensky langsung memerah. "Belum," jawabnya sambil tertawa geli.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak, aku hanya ingin tertawa."
Dean balas tertawa. "Sky?"
"Iya?"
"Aku ingin kita menikah."
Ekspresi Kensky kontan berubah. "Kenapa tiba-tiba kau mengajakku menikah?"
"Ada yang salah? Kan tidak ada salahnya kalau aku mengajakmu menikah."
Entah kenapa ada rasa ragu dalam dirinya di saat Dean mengatakan hal itu. Seandainya Dean tidak pernah memanfaatkannya, mungkin rasa ragu itu tidak akan pernah ada dalam dirinya. "Ya, Tuhan apakah aku harus menerimanya?" batin Kensky.
"Sayang?"
Suara Dean mengejutkannya. "Iya?"
"Kenapa diam?"
Kensky menatap sedih. "Tidak apa-apa, aku hanya terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja kau katakan."
"Apa kau tidak ingin menikah denganku?"
"Jangan berpikir negatif dulu, Dean. Entah kenapa hatiku saat ini merasa ragu terhadapmu," katanya lemah.
"Apa alasan membuatmu ragu?"
Kensky berdiri mendekati balkon. "Maafkan aku, Dean, tapi aku sendiri juga tidak tahu apa yang menyebabkan keraguan itu muncul."
"Aku tahu. Pasti karena lelaki pilihan ibumu itu, kan?"
Kensky terdiam cukup lama, apa yang dikatakan Dean itu memang benar. "Seandainya tidak terikat dengan dia, mungkin aku akan langsung menerima lamaranmu, Dean. Tapi___"
"Tapi aku tidak bisa," kata Dean cepat, "Begitu kan yang ingin kau katakan?"
"Bukan begitu, Sayang. Kumohon jangan berpikir yang macam-macam dulu dan tolong beri aku waktu sampai satu minggu, lagi pula sekarang dia sudah tidak pernah menghubungiku lagi. Aku takut di saat kita mengadakan pernikahan, tiba-tiba dia muncul dan mengacaukan semuanya. Aku tidak mau itu terjadi, Dean."
"Itu tidak mungkin," balas Dean.
"Itu mungkin, Sayang. Dia pernah bilang padaku, bahwa dia selalu memantauku setiap saat. Aku tidak ingin hanya karena kecemburuannya dia akan mencelakai calon suamiku."
"Kau takut dia mencelakaiku?"
"Bukan hanya takut, tapi sangat takut."
"Apa itu artinya kau mencintaiku?"
"Aku sangat mencintaimu, Dean."
"Kalau begitu tidak ada alasan lagi untuk menolak lamaranku."
Kensky membuang napas panjang. "Aku tidak akan menolakmu, tapi kumohon beri aku waktu. Setidaknya aku harus bicara dulu dengannya."
"Baiklah, kuberi kau waktu satu minggu untuk menghubunginya."
Kensky tersenyum paksa. "Terima kasih."
"Iya."
Tut! Tut!
Dean menutuskan panggilannya. Sementara Kensky berdiri sambil menatap layar ponsel dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa ada rasa sakit dalam dirinya ketika membayangkan sosok ceo akan kecewa ketika dia mengucapkan kabar ini.
"Mami, aku harus bagaimana? Kenapa rasanya aku sangat dekat dengan ceo, padahal aku belum pernah melihatnya? Kenapa aku merasa nyaman dengannya, padahal aku hanya mendengar suaranya? Kenapa, mami? Kenapa rasanya aku tak tega melepaskan dia, padahal namanya saja aku tidak tahu?"
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel kembali terdengar. Hal itu membuat Kensky dengan cepat menatap layar dan ....
Zet!
Mata Kensky terbelalak saat melihat nama ceo di layar ponsel. Jantungnya bahkan sudah berdetak meski belum mendengar suaranya. "Ya, Tuhan, semoga dia tidak menuntut hal yang sama padaku," dengan cepat Kensky menyambungkan panggilannya lalu menyapa, "Halo?"
"Kau marah padaku?"
Pertanyaan laki-laki membuat Kensky terkejut. "Marah? Kenapa aku harus marah?"
"Aku pikir kau marah karena aku tidak pernah menghubungimu lagi. Maaf, aku sedang sibuk. Setiap kali selesai kerja aku ingin sekali menghubungimu, tapi takut mengganggu tidurmu."
"Tidak apa-apa, aku tidak marah. Aku juga saking sibuknya jadi tidak sempat menghubungimu, maaf," kata Kensky pelan, "Oh, iya, ngomong-ngomong soal bantuan waktu itu ... aku rasa kau tidak perlu melakukannya lagi."
"Kenapa?" Nada suara laki-laki itu terdengar khawatir.
Kensky pun menceritakan padanya semua masalah yang terjadi baik perbuatan Rebecca terhadap ayahnya, maupun keterikatan Dean dengan Rebecca.
"... dia hanya ingin balas dendam kepada papi. Dia ingin membalas perbuatan yang pernah papi lakukan kepadanya."
"Kenapa? Apa dia musuh ayahmu?"
"Bukan, tapi dia adalah mantan anak sambungnya papi."
"Apa hal itu akan mengubah pikiranmu, Sky?"
Kensky mengerutkan alis. "Maksudmu?"
"Kau tetap akan menikah denganku, kan?"
Saat itulah pikiran Kensky merasa terbebani. Ada rasa tidak tega untuk mengungkapkan bahwa dirinya sudah mencintai lelaki lain, tapi di satu sisi ia juga tidak ingin melepaskan Dean. "Ya, Tuhan, apakah aku harus jujur kepadanya? Apakah aku harus jujur bahwa aku mencintai Dean?" Pertanyaan-pertanyaan itu terus melayang dalam benak Kensky. Dan begitu ia teringat sesuatu yang selama ini bersarang pada dirinya, ia melontarkan pertanyaan itu, "Aku akan memberikan jawabannya, tapi bisakah kita bertemu dulu?"
"Kau takut ya jika aku tidak sesuai dengan kriteriamu?"
Kensky tertawa. "Pertanyaan macam apa itu, hah? Aku ingin bertemu denganmu, karena banyak hal yang ingin kutanyakan soal mami. Lagi pula pembahasan kita waktu itu belum sempat kau jawab, bukan? Jadi aku rasa kau tidak akan menolak jika aku ingin bertemu denganmu dan membahas semuanya secara langsung."
"Baiklah, jika itu bisa membuatmu menerima lamaranku aku akan mengabulkannya."
Kensky menahan tawa. "Tapi saat ini aku tidak di Amerika, aku ada di Eropa."
"Tidak masalah. Sekalipun kau ada di Indonesia, aku akan ke sana untuk menemuimu."
Kensky tersenyum. "Baiklah. Kabari aku kapan akan ke sini, biar aku yang akan menjemputmu di bandara."
"Aku harap setelah bertemu kau tidak akan mengecewakanku, Sky."
Pertakaan itu membuat Kensky terdiam. Lagi-lagi ia merasakan dilema dalam dirinya. "Yang aku takutkan justru kaulah yang akan mengecewakanku," kata Kensky. Ia sengaja bergurau untuk menghalaukan kecurigaan laki-laki itu.
"Itu sangat tidak mungkin. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Sky."
"Ya, sudah, sampai ketemu nanti."
"Iya. Mimpikan aku, ya?"
Kensky hanya tertawa kemudian memutuskan panggilannya.
Tut! Tut!
"Ya, Tuhan, kenapa rasanya berat sekali menyampaikan hal itu kepadanya? Kenapa rasanya aku tidak tega mengatakan bahwa diriku sudah mencintai lelaki lain? Kenapa, Tuhan, kenapa?"
Tak ingin pikiran itu terus menyelimutinya, Kensky segera mencari kontak Tanisa untuk meluapkan dilema yang ia rasakan saat ini. Namun baru saja hendak menekan radial untuk menghubungi sahabatnya itu, nama Dean kembali terpampang di layar ponsel.
Kensky terkejut, tapi dengan cepat ia menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan. "Halo, Sayang?" sapanya pelan.
"Kenapa panggilanmu sibuk?"
Zet!
Kensky terkejut mendengar suara Dean yang sepertinya sedang kesal. "Maaf, tadi dia baru saja menghubungiku."
"Dia siapa?"
Bersambung__