Mysterious CEO

Mysterious CEO
Malam Pengantin.



Di dalam kamar vila mewah dan terbesar di Amerika, Dean sedang berdiri sambil menghadap jendela kaca dengan tubuh yang hanya mengenakan celana pendek. Tubuh bagian atasnya terbuka, sedangkan sebelah tangannya menahan ponsel yang menempel di telinga.


"Maafkan aku, Dean. Padahal aku dan istriku ingin sekali menghadiri pernikahanmu, tapi kakak iparku mendadak menyuruh kami ke Rusia pagi tadi. Mertuaku meninggal, karena kecelakaan."


"Aku turut berduka cita. Kapan pemakamannya?"


"Terima kasih, Dean. Pemakamannya besok. Anak-anaknya ingin mempercepat pemakaman, karena bagian tubuhnya hancur. Jadi mereka merasa kasihan jika harus menahan jenazah-nya lebih lama lagi."


"Maafkan aku, Mister. Aku ingin sekali hadir ke pemakaman itu, tapi Anda sendiri tahukan?"


"Aku mengerti, Dean. Tapi ngomong-ngomong soal vila, kau suka tempat itu, kan? Aku sengaja memberikan kamu vila di atas puncak itu biar kau bisa menikmati indahnya kota dari atas sana."


Dean tersenyum samar. "Terima kasih sudah memberikan kami hadiah pernikahan, Mister. Istri saya sangat menyukainya, dia suka sekali melihat pemandangan dari atas sini."


"Syukurlah, kalau begitu."


Clek!


Tepat di saat itu bunyi pintu kamar mandi terbuka. Dean menoleh dan melihat Kensky dengan balutan gaun putih tipis yang memperlihatkan bagian dalam tubuhnya secara samar. Ia tersenyum dan berkata kepada sosok di balik telepon, "Baiklah, Mister. Terima kasih banyak atas hadiahnya."


"Sama-sama, Dean."


Tut! Tut!


Lelaki itu memutuskan panggilannya lalu menatap Kensky. Dan tepat di saat itu Kensky sudah berdiri di hadapannya dengan senyum yang melebar.


"Siapa?" tanyanya lemah.


Dean menatap sayu. Perlahan ia meraih tangan Kensky kemudian mengecupnya. "Pemilik vila ini. Dia minta maaf, karena tidak sempat hadir ke pesta pernikahan kita."


Alis Kensky berkerut. "Kenapa?"


"Mertuanya meninggal di Rusia karena kecelakaan, pemakamannya besok."


"Cepat sekali," balas Kensky.


"Menurut ceritanya, salah satu organ tubuh mertuanya itu sudah hancur. Jadi anak-anaknya tidak mau menahannya lebih lama lagi."


Kensky menatap sedih. Perlahan ia memeluk Dean dan menempelkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. "Seandainya ini bukan hari spesial buat kita, besok kita pasti sudah menghadiri pemakamannya."


Dean tersenyum sayang. Ia mengecup pucuk kepala Kensky kemudian berkata, "Aku akan menyuruh Matt sebagai perwakilan, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Sekarang kita nikmati saja hari bersejarah ini dan membuat kenangan untuk diingat ketika kita tua nanti."


Kensky tertawa. Ia mendongak menatap lelaki yang kini sudah menjadi suaminya yang sedang balas menatapnya. "Kau tidak mandi?"


"Mandi?"


"Iya, bukankah setiap pengantin itu harus mandi dulu sebelum tidur bersama pasangannya?"


Dean menunduk, menempelkan bibirnya ke bibir Kensky untuk merasakan kelembaban di bibir itu. Ketika bibirnya merasakan dingin yang luar biasa dari bibir Kensky, ia membuka mulut kemudian ******* bibir itu.


Kensky membalas. Perlahan ia mengulurkan tangan dan mengalungkan di leher Dean. Saat tubuhnya merasakan tangan Dean meraup dadanya yang telanjang di balik gaun, ia mendesah dan melepaskan ciumannya. "Mandilah, aku akan menunggumu di ranjang," bisiknya lemah.


Dean tersenyum dan menurut. Namun sebelum ia memberi jarak di antara tubuh mereka, ia berbisik kepada gadis yang kini sudah menjadi istrinya, "Aku sangat mencintaimu, Sky."


"Aku juga. Aku sangat mencintaimu, Dean."


Lelaki itu mengecup dahi Kensky kemudian bergerak menuju kamar mandi.


Sedangkan Kensky yang memang sengaja menyuruh suaminya mandi, dengan cepat berlari ke arah nakas dan meraih ponselnya. Ia mencari kontak Tanisa kemudian menghubunginya. Sambil melirik ke arah jendela dengan tangan menempel ke telinga ia menunggu panggilan itu terhubung. "Halo, Tan?"


"Sky! Ada apa? Kenapa kau meneleponku? Bukankah seharusnya kau sedang bermalam pertama dengan suamimu saat ini?" kata Tanisa dari balik telepon. Ia terbahak seakan meledek Kensky.


"Itu dia masalahnya, Tan. Kami belum memulai dan aku bingung bagaimana cara melakukannya."


"Cara apa?"


"Yang kau bilang tempo hari, apa yang Dean lakukan padaku dan aku harus membalasnya. Nah, dia itu suka sekali mencium di bagian sensitifku. Jadi, apa aku juga harus melakukan hal yang sama?"


Zet!


Mata Kensky terbelalak. "Aku harus mencium keperkasaannya juga?"


"Kau tahu? Itu salah satu yang paling disukai para lelaki di dunia ini. Kalau kau tidak mau dia merasakannya dari wanita lain, kau harus melakukannya. Aku tahu Dean tidak mungkin melakukannya dengan wanita lain, tapi kau juga harus pintar-pintar menjaganya. Jangan sampai dia bisa merasakan kenikmatan itu dari wanita lain."


Kensky tampak berpikir. "Lalu, bagaimana cara aku melakukannya? Bagian itu kan cukup besar dan panjang, mulutku tidak muat untuk menampungnya."


Tanisa tertawa di balik telepon. "Kau pernah makan permen lolipop, kan? Nah, seperti itulah caranya."


Mata Kensky menatap kaget. Lolipop? Tapi kan lolipop ukurannya kecil. Masa kau menyamakan permen lolipop dengan itu."


Tanisa terbahak. "Kan kau bertanya bagaimana caranya? Jadi caranya tidak jauh berbeda dengan cara kau mengemut lolipop. Soal ukuran memang berbeda dan kau tinggal menyesuaikan saja dengan mulutmu. Bagaimana menurutmu nyaman, itu saja yang kau lakukan. Kau tidak perlu mengikuti ukurannya, Sky."


"Baiklah, akan kuhubungi lagi kau. Terima kasih, Tanisa."


Tut! Tut!


Kensky memutuskan panggilannya. Tahu suaminya sebentar lagi akan segera keluar, ia segera meletakan ponselnya ke atas nakas kemudian kembali ke arah jendela. Ia mendekati sofa panjang yang di depannya ada meja yang sudah tersedia minuman anggur untuk mereka nikmati sebagai pemanasan.


Clek!


Dean membuka pintu kamar mandi. Dilihatnya sang istri sedang duduk sambil menatapnya dengan sebelah tangan mengangkat gelas kristal berisi cairan gelap. Ia tersenyum dan melangkah mendekati gadis itu dengan balutan handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Ini untukmu," kata Kensky seraya menyodorkan gelas itu ke arah Dean.


Dean meraihnya kemudian duduk di tangan sofa. Perlahan ia menunduk dan mencium pucuk kepala Kensky, "Terima kasih."


Kensky menelan habis isi gelasnya. Setelah mengisi kembali gelasnya, ia menatap Dean dan berkata, "Malam ini aku ingin memberikan kejutan padamu."


Dean mengerutkan alis dengan tangan sebelah menempel di dada Kensky. "Kejutan apa?"


Gadis itu berdiri. "Duduklah di sini, aku akan memberikan kejutan itu."


Dean menurut dan duduk di samping istrinya. Dengan tangan sebelah merangkul tubuh Kensky, ia menelan habis isi gelasnya kemudian meletakan gelas kosong itu ke atas meja.


Kensky meraup sebelah pipinya. "Selama ini kan kau selalu membuatku enak. Jadi di malam pengantin kita ini, ijinkan aku untuk memberikanmu kenikmatan yang sama seperti yang sering kau berikan padaku sebelumnya."


Dean menatap bibir Kensky. Ia tahu apa yang dimaksud Kensky. Meksi gadis itu tidak mengutarakannya dengan jelas, tapi ia tahu apa yang akan dilakukan Kensky terhadapnya. "Kau tidak perlu melakukan itu, Sayang. Apa yang kulakukan padamu itu tulus dari hatiku, aku ingin membuat wanitaku bahagia. Jadi aku melakukannya berdasarkan ketulusan dan tidak mengharap balasan."


"Aku tahu, tapi aku juga demikian. Aku ingin melakukannya, karena aku ingin membuatmu senang."


Dean tersenyum sambil menggosokkan hidungnya ke hidung Kensky. "Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin memberikannya, hah?"


Kensky balas tersenyum. "Aku ingin kita sama-sama enak. Apalagi malam ini adalah malam pertama bagi kita berdua, aku ingin ada sesuatu yang berbeda ketika kita melakukan pemanasan."


"Sekarang jujur padaku, kau tahu hal itu dari siapa?" tanya Dean sambil melepaskan tali gaun Kensky.


"Tanisa. Sebelum kita menikah, aku sering berkonsultasi padanya soal seksulitas."


Dean tertawa. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Kensky kemudian mengisi gelasnya sendiri. "Kau tidak perlu melakukan itu, Sayangku. Sudah tugasku sebagai laki-laki untuk memberikan kenikmatan dan kepuasan untuk wanita yang kucintai."


Kensky menelan minumannya. Dan saat lehernya terangkat menghadap langit, Dean mencondongkan kepala kemudian mengecup leher Kensky. Gadis itu terkejut dan hampir mengeluarkan kembali minuman dari mulutnya, tapi Dean segera ******* bibir itu dan merebut sisa anggur dari mulut Kensky. Setelah ciuman dalam yang cukup singkat itu selesai, Dean melepaskan bibirnya dan menelan habis isi gelasnya.


Kensky membalas dendam. Tapi jika tadi Dean mencium lehernya, kali ini Kensky menunduk untuk meraih pucuk dada Dean dengan bibirnya.


Dean terkejut dan langsung terbahak ketika bibir Kensky seperti bayi saat ******* bagian itu dengan pelan. Namun bukannya menjauhkan kepala Kensky dari bagian itu, ia malah membiarkan gadis itu terus melakukan serangan bibir di pucuk dadanya hingga keperkasaan di balik handuk langsung mengencang.


***


Belasan tahun pun berlalu. Usaha dan kerja keras yang dilakukan Dean dan Kensky tidak sia-sia. "Menurutmu apa Clare tidak akan keberatan jika tahu kita telah menjodohkannya?"


Dean yang sedang duduk di samping Kensky ikut berkomentar. "Kita akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dengannya. Lagi pula Levon adalah anak yang baik dan pintar, dia juga tampan. Aku yakin, Clare pasti akan suka padanya."


Tamat___