
"Oh, maaf," Kensky tersentak, "Maafkan aku, Mr. Hans, aku sedang berkhayal," kata Kensky lalu tertawa.
Mr. Hans ikut tertawa. "Kau pasti sedang memikirkan bagaimana rasanya berpacaran dengan pak Dean, bukan?"
Kensky tertawa lagi. Wajahnya bahkan bersemu merah saat membayangkannya. Karena meski tidak dibayangkan pun ia sudah tahu bagaimana rasanya berpacaran dengan lelaki yang bernama lengkap Dean Bernardus Stewart itu. Lelaki ganas, namun penuh kelembutan.
Di sisi lain.
"Bagaimana, apa kau sudah membujuk pengacara gadungan itu?" tanya Dean kepada Matt.
Saat ini mereka sedang berada di ruangannya yang tak lain di dalam gedung kantor Kitten Group.
"Sudah, Bos. Tapi dia minta imbalan untuk membongkar semua kejahatan Rebecca di hadapan mereka."
Dean menyeringai. "Berapa pun yang dia inginkan berikan saja, asalkan dia bisa membuat Rebecca masuk penjara dan membusuk di dalam sana."
"Baik, Bos."
Dean yang tadinya duduk dikursi, kini berdiri mendekati jendela. "Hubungi Mr. Bla sekarang dan tanyakan kabar Eduardus."
"Baik, Bos."
Dengan cepat Matt merogoh ponsel dalam saku celananya kemudian menghubungi Mr. Bla. Sesuai perintah sang atasan, Matt menanyakan kabar lelaki itu kepada Mr. Bla melalui telepon dan menyampaikannya kepada Dean. "Kata Mr. Bla pak Eduardus sudah bisa menggerakan semua tubuhnya, Bos."
Dean berbalik menatap supirnya, "Mereka tidak lupa memberikannya vitamin, kan?"
Matt kembali berbicara kepada seseorang di balik telepon sesuai dengan apa yang ditanyakan Dean. "Katanya selalu, Bos. Mereka tidak pernah lupa memberikannya vitamin sesuai yang diperintahkan Anda."
"Bagus, lakukan seterusnya sampai dia benar-benar kuat. Karena begitu kita kembali dari Jerman, aku akan membuat kejutan bagi mereka. Aku akan menghadirkan sosok Eduardus di depan Rebecca dan Soraya."
Di sisi lain.
Sore hari saat pulang kerja Kensky mampir ke apartemen Tanisa. Selain karena merindukan sahabatnya itu, Kensky juga ingin memberitahukan kepada Tanisa soal keberangkatannya ke Eropa yang tinggal menghitung hari.
"Deutscher! Ya, ampun, Sky. Tidak salah lagi, dia pasti akan menikahimu. Aku rasa dia serius tentang perjodohan itu. Coba pikir, hal yang tidak mungkin jika dia tidak menyukaimu, tapi mengajakmu ke luar negeri."
Saat ini kedua gadis itu sedang duduk di ruang televisi sambil menikmati segelas cokelat hangat dan biskuit. Udara musim dingin membuat tubuh mereka menggigil meski berada di dalam ruangan di mana mesin pemanas sudah dinyalakan.
Kensky masih mengenakan pakaian kantor. Sementara Tanisa sudah mengenakan pakaian rumah karena hari ini dia tidak dinas alias libur.
"Dia bukan mengajaku liburan, Tan. Dia memutasiku ke sana."
Wajah ceria Tanisa kini berubah kusut. "Mutasi? Berarti kau akan menetap di sana selamanya?"
Kensky tersenyum. "Bisa iya, bisa tidak. Tapi Dean memberikan aku liburan sesuka hati. Katanya kalau aku ingin pulang dan menjenguk papi atau dirimu, aku bisa ambil cuti dan pulang sebulan berapa kali."
"Wah, kau dispesialkan. Tapi aku rasa dia bersikap begitu, karena memang dia menyukaimu, Sky. Kenapa kau tidak menerima saja cintanya?"
Tanisa menyesap cokelatnya. Setelah menjauhkan gelas itu dari mulut ia berkata, "Iya, kenapa? Apa ibunya mengusirmu?"
Kensky menggeleng. "Justru ibunya mengucapkan kata yang sama dengan Dean. Kata beliau aku adalah calon istrinya."
Tanisa tertawa. "Dari awal memang aku sudah yakin, bahwa dia itu pasti calon suamimu. Hal yang tidak mungkin Dean bisa menebak namamu dan ayahmu dengan benar, jika mereka tidak saling kenal."
"Itu juga yang membuatku bingung, Tan. Jika benar mereka sudah merencanakan perjodohan ini dengan keluargaku sebelumnya, kapan dan dengan siapa? Apakah dengan mami atau papi? Kalau pun papi, lantas kenapa dia tidak pernah membahas soal itu kepadaku? Kalau seandainya mami yang menjodohkan kami, pasti sudah lama mami memberikanku kotak berisi foto seorang lelaki yang katanya adalah calon suamiku. Dan jika benar bila mami yang mengatur perjodohanku dengannya, itu berarti bocah di foto itu adalah Dean? Dan kalau pun perjodohan itu diatur dengan papi, berarti lelaki di foto itu siapa?"
"Tapi kalau benar ibunya mengatakan hal yang sama, besar kemungkinan berarti mereka telah mengatur semua ini dengan ibumu. Karena hanya ibumulah yang mengatakan kalau kau sudah dijodohkan. Jadi kalau memang benar begitu, besar kemungkinan bocah laki-laki di foto itu berarti Dean."
Kensky terkejut. "Dean?" ia terbahak, "Itu tidak mungkin, Tan. Bocah di foto itu bicaranya sangat pelan dan sopan, sementara Dean ... dia bahkan sering bersikap kurangajar kepadaku kalau sedang berdua di ruangannya. Jadi aku rasa sungguh sangat mustahil jika itu dia. Lagi pula foto itu sangat berbeda dengan wajah Dean."
Tanisa tertawa. "Lantas kapan kau akan dilamar, katamu si ceo itu akan mengajakmu menikah?"
"Aku belum tahu, tapi nanti malam aku harus bicara dengannya. Aku harus jujur kepadanya mengenai kepindahanku ke Eropa."
"Kau yakin dia akan mengijinkanmu?"
"Entalah, Tan. Yang jelas mau tidak mau kalau dia melarangku pergi, aku terpaksa harus membuat Dean kecewa."
Tanisa berdiri untuk mengambil tisu di dekat TV. "Kalau menurut kata hatimu sendiri, bagaimana?"
"Aku sudah ada perjanjian dengan ceo itu, Tan. Kau sendiri tahu kan apa perjanjian itu? Jadi mau tidak mau aku harus meninggalkan Dean ketika dia datang untuk melamarmu," Kensky terdiam sesaat, " Tapi di satu sisi aku takut, Tan. Rasanya aku takut sekali."
"Takut kenapa?"
"Dean bilang dia akan membunuh siapapun laki-laki yang berani mendekatiku."
Mata Tanisa terbelalak sebelum akhirnya ia terbahak. "Horor juga ya si Dean. Tapi hati-hati, Sky, orang seperti itu biasa serius. Kau pasti tidak ingin dia masuk penjara hanya karena cemburu, kan?"
Kensky menarik napas panjang kemudian berdiri. "Orang kaya raya seperti dia tidak mungkin melakukannya sendirian. Tapi jika dia akan melakukannya, aku akan menyesal karena dia telah membunuh orang yang tidak bersalah," Kensky meletakan gelasnya di atas meja, "Aku pulang dulu, ya. Aku harus membicarakan masalah ini dengan Rebecca. Aku juga harus menghubungi ceo untuk berpamitan. Semoga saja dia mengijinkanku pergi ke sana."
Tanisa terbahak. "Yah, sudah. Hati-hati, ya. Jangan lupa telepon aku. Selama memegang ponsel baru kau jadi jarang menghubungiku."
Kensky berdecak. Sambil tersenyum ia menatap Tanisa lalu berkata, "Itu dia masalahnya, Tan. Untung kau ingatkan, aku tidak punya kontakmu. Dan di ponsel ini hanya ada nama ceo saja."
Mereka berdua pun terbahak sebelum akhirnya Tanisa menyebutkan angka-angka untuk di simpan dalam kontak Kensky. Dan setelah selesai, Kensky langsung pamit untuk meninggalkan sahabatnya.
***
Dalam perjalan pulang ke rumah Kensky terus memikirkan Dean. "Apa benar dia calon suami Soraya?" Rasa cemburu terus menyelimutinya setiap kali ia mengingat perkataan Soraya waktu di rumah sakit. Meski dirinya sendiri tahu kalau Dean tidak pernah bersama wanita itu, tapi tetap saja ada rasa sakit dalam hatinya ketika mengingat kegigihan Soraya untuk mendapatkan Dean. Apalagi waktu di rumah sakit lelaki itu hanya biasa-biasa saja saat Soraya menyapanya dengan panggilan akrab, "Apa mungkin mereka menjalin hubungan diam-diam?" tanya Kensky dalam hati, "Ya, Tuhan, kenapa rasanya hatiku sakit sekali membayangkan Soraya bersama Dean? Apa itu artinya aku juga mencintainya? Iya, aku memang mencintainya, Tuhan. Aku tak akan sanggup kehilangannya."
Bersambung___