
Mata Kensky terbelalak. "Jangan! Jangan jemput aku di rumah."
Alis Dean berkerut. "Kenapa?"
"Pokoknya jangan. Tapi kalau Anda memang ingin menjemputku, Anda bisa menjemputku di apartemen temanku yang kemarin."
Dean mengangkat bahu. "Baiklah, kalau begitu sampai ketemu lusa." Dean pun bergerak mengintari meja, melewati tubuh Kensky yang masih berdiri, membuka pintu, lalu keluar ruangan meninggalkan gadis itu.
Entah kenapa ada rasa sakit dalam hati Kensky ketika lelaki itu tak lagi bercanda seperti sebelumnya. Jika biasanya Dean selalu memeluk atau menciumnya, kini lelaki itu pergi tanpa menyentuhnya sama sekali. Hal itu membuat Kensky rindu dan sakit hati. "Apakah itu artinya setelah pesta dia tidak akan pernah bertemu denganku lagi?" rasa sakit di dada Kensky semakin mencuat ketika ia membayangkan sosok Dean yang biasanya romantis saat bertemu dengannya, kini berubah dingin dan cuek, "Ya, Tuhan, rasanya aku tidak akan sanggup menerima kenyataan itu." Tapi apa daya. Mau tidak mau Kensky harus menerimanya, dia sendiri yang meminta hal itu kepada Dean: jangan mengganggunya lagi.
Tak ingin berlama-lama di dalam rungan itu, Kensky pun bergerak dan keluar.
Clek!
"Sedang apa kau di dalam sana?"
Suara Soraya mengagetkan Kensky. Dilihatnya gadis itu berdiri sambil bersandar di meja sekertaris dengan tangan yang bertaut di depan tubuh. "Tadi aku dipanggil pak Dean dan beliau sudah keluar lebih dulu," kata Kensky. Ia bisa melihat wajah Soraya yang dipenuhi makeup itu tampak tidak senang. Dengan alis mencuat Kensky pun langsung berkata, "Sepertinya kau tidak senang jika aku bertemu pak Dean, kenapa?"
Soraya mendorong tubuhnya hingga tersentak. Ia menatap Kensky bagaikan singa lapar yang hendak memangsa. "Kau ingin tahu kenapa aku tidak suka kau mendekatinya?"
Kensky mengangguk. "Iya, aku ingin tahu."
Dengan wajah garang Soraya berkata, "Itu karena___"
"Soraya!"
Suara berat Dean terdengar dari arah belakang. Hal itu membuat Soraya segera menghentikkan perkataannya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Apa dokumen yang tadi sudah selesai kau kerjakan?"
Soraya menelan ludah. Wajahnya yang tadi sangat garang kini berubah pucat dan takut. "Belum, Pak. Ada berapa materi di dokumen itu yang belum saya pahami. Jadi saya sedang menunggu ibu Kim untuk membantu saya."
Tatapan Dean sangat datar. "Pekerjaanmu memang selalu lambat. Cepat selesaikan dokumen itu dan bawa ke dalam sebelum jam pulang tiba."
"Baik, Pak."
Dean pun melewati tubuh Kensky saat gadis itu menunduk hormat.
Lagi-lagi ada rasa sakit yang dirasakan gadis itu ketika Dean tidak menyapanya. Namun karena tahu apa penyebab sikap Dean berubah, ia pun tidak mau terlalu memikirkannya. Karrna baginya hal itu hanya akan menambah rasa sakit di dalam dadanya. "Aku permisi dulu," katanya kepada Soraya.
"Tunggu!" cegah Soraya.
Kensky menoleh. "Ada apa?"
"Aku harap kau jangan pernah mendekati Dean lagi, Sky."
Kensky tak peduli. Dan bukannya membalas perkataan Soraya, ia malah berpaling dan berjalan menuju lift.
***
Tak berapa lama Kensky pun keluar dari lift kemudian berjalan menuju ruangannya. Di saat ia hendak memasuki ruangan itu, Kim tiba-tiba keluar dari ruangan di mana tempat sehari-hari ia dan Mr. Hans bekerja.
"Kim?" Wajah Kensky tampak kaget.
Tak hanya Kensky, wajah Kim bahkan merona merah begitu melihat Kensky. "Eh, Kensky. Eh, maaf, tadi aku ada urusan sedikit dengan Mr. Hans. Jadi aku ke sini untuk mengobrol dengan beliau. Oh, iya, apa urusanmu dengan pak Dean sudah selesai?"
Kensky tersenyum lebar saat mengingat apa tujuan Dean yang sebenarnya. Namun, saat mengingat sikap Dean yang tiba-tiba berubah dingin membuat Kensky seakan kehilangan setengah nyawanya. "Sudah," jawabnya pelan.
"Terus beliau bilang apa? Tidak ada masalah, kan?"
"Tidak, kok. Beliau hanya ...," dengan cepat Kensky menghentikan perkataannya dan langsung tersenyum lebar, "Ya, Tuhan, hampir saja aku keceplosan," katanya dalam hati.
Entah kenapa ia merasa bahwa Kim adalah orang yang bisa dipercaya meskipun baru mengenalnya. Dan memang sejak awal ia bergabung di Kitten Group, hanya Kim-lah kolega wanita yang selalu bersikap ramah dan baik kepadanya.
"Aku akan memberitahumu, tapi kau harus janji dulu."
"Aku janji, memangnya ada apa?" tanya Kim tak sabaran.
Kensky mendekatkan tubuhnya dengan Kim lalu berbisik, "Beliau mengajakku ke pesta ulang tahun ibunya."
Mata wanita itu terbelalak, kedua tangannya bahkan menutup mulut seakan tak percaya. "Kau serius, Sky?"
"Iya, tapi kau sudah janji tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun, ya?"
"Aku janji! Sumpah. Lalu, kapan acaranya?"
Kensky tersenyum. "Lusa, tapi aku tidak tahu tempatnya di mana. Beliau hanya memintaku untuk menemaninya saja di pesta itu."
"Wah, kalian memang pasangan yang serasi. Pasti orang-orang akan iri kepada kalian."
"Sstt!"
"Ops, maaf. Tapi jujur, beliau memang tidak salah memilihmu sebagai partnernya. Kau cantik, dia tampan," Kim tampak mengkhayal, "Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi ibunya ketika pak Dean memperkenalkanmu padanya."
Wajah Kensky memerah. "Kau ini bicara apa, sih. Itu kan tidak mungkin. Pikiranmu terlalu jauh, Kim. Lagi pula kan aku hanya bawahan. Justru aku takut ibunya akan marah, karena tidak suka pak Dean mengajak bawahannya."
Wajah Kim seakan meledek. "Iya, dari bawahan jadi atasan."
Mereka berdua pun tertawa. "Sudah, sana. Sepertinya Soraya sedang butuh bantuanmu."
Tawa Kim kontan terhenti. "Aku? Memangnya kenapa dia?"
"Katanya ada dokumen yang belum dia selesaikan, tapi sayangnya dokumen itu sudah diminta pak Dean. Jadi dia sedang menungggumu untuk memperjelas dokumen yang tidak dia pahami itu."
"Ya, ampun, dia itu memang lambat. Kapan sih pak Dean akan memecatnya? Maaf, Sky. Tapi aku memang sangat tidak suka dengan cara kerja saudara tirimu itu, dia buang-buang waktu dan selalu salah."
Kensky tertawa. "Santai saja. Aku tidak marah, kok. Kau mau membunuhnya pun aku tidak akan peduli."
Mereka lagi-lagi tertawa sebelum akhirnya Kim pamit dan meninggalkan Kensky. "Baiklah. Aku pergi dulu, ya. Sampai ketemu nanti. Bye."
***
Saat pulang kantor Kensky mampir ke apartemen Tanisa. Karena bingung soal dandanan yang akan ia kenakan untuk menghadiri pesta bersama Dean, ia meminta pendapat Tanisa soal gaun dan lain sebagainya.
"Kalau aku jadi kamu, aku akan pilih Dean. Kalian cocok: tampan dan cantik. Tidak hanya itu, sikap Dean yang mau mengajakmu ke pesta ulang tahun ibunya sudah cukup bukti dan jelas kalau dia itu mau serius denganmu, Sky."
Kensky menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang lalu berkata, "Itulah yang membuat hatiku galau, Tan. Sejak aku menerima lamaran laki-laki itu di telepon aku menjadi semakin memikirkan Dean. Tadi saja saat dia bersikap dingin kepadaku hatiku rasanya sakit sekali, padahal biasanya aku akan marah jika dia bersikap nakal. Tapi kali ini justru aku merindukan sikap nakalnya itu dan sakit ketika dia mengabaikanku."
"Nah, sudah tahu begitu lantas kenapa kau lebih memilih sakit hati daripada menjalin hubungan dengannya? Kau mau hatimu sakit terus? Yang ada justru akan berdampak pada hubunganmu dengan laki-laki pilihan ibumu itu," kata Tanisa sambil mendudukan tubuh di atas ranjang, "Sekarang kau harus jujur padaku, apa yang membuatmu mencintai Dean?"
Kensky kembali mengingat semua kenangannya bersama Dean, baik dari awal mereka bertemu sampai terkahir kali sebelum mereka terlibat percekcokkan akibat tawaran yang menyangkut soal hutang.
"Sebenarnya yang membuat aku cinta bukan karena dia kaya atau tampan, tapi dia memang tipe lelaki yang aku inginkan. Kalau pun dia bukan pemimpin perusahan dan hidup sebagai orang biasa, aku akan tetap mencintainya, Tan-" kata Kensky kemudian bangun dari ranjang. Ia menatap Tanisa dan berkata lagi, "Yang membuatku semakin cinta kepadanya, karena dia selalu menghargaiku. Meskipun dia selalu bersikap nakal, tapi dia sama sekali tidak mau merusak harga diriku."
Alis Tanisa berkerut. "Tidak merusak harga diri bagaimana maksudmu?"
Kensky menceritakan soal malam di mana saat dirinya mabuk bersama Dean. Ia juga menceritakan secara detail apa yang dilakukan Dean kepadanya malam dan pagi itu. "Meski sudah bergairah tapi dia sama sekali tidak meniduriku, Tan. Lelaki lain mungkin sudah meniduriku saat tubuhku ditelanjangi, tapi dia tidak. Bukannya dia tidak normal, tapi dia mau melakukannya setelah kita menikah nanti."
Bersambung___