
"Rebecca benar-benar kelewatan," geram Dean, "Hubungi Mr. Pay, aku harus bicara dengannya."
Tanpa menunggu lagi Matt langsung mencari nama Mr. Pay dalam kontak kemudian menghubunginya. "Ini, Bos," kata Matt seraya memberikan ponsel itu kepada Dean.
"Halo, Mr. Pay?" sapa Dean.
"Halo, Pak Dean."
"Maaf telah mengganggu Anda. Ada hal penting yang harus saja sampaikan kepada Anda, Mr. Pay."
"Tidak apa-apa, Pak Dean. Eh, kalau boleh tahu hal penting apa ya, Pak?"
Dean mendudukan dirinya di kursi. "Soal Rebecca, dia telah membuat kuburan di belakang rumah dengan pusara yang bertuliskan nama Eduardus Oxley."
"Apa? Anda tahu mana, Pak Dean?" Nada Mr. Pay terdengar kaget.
"Aku telah menyuruh orang untuk mematai-matai rumahnya. Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya. Tapi karena Kensky meminta cuti pulang untuk menjenguk ayahnya yang kata Rebecca sedang sekarat, aku menyuruh seseorang untuk memantau Rebecca dan anak perempuannya. Mungkin kalau aku tidak tahu masalah Eduardus dan Kensky bukan karyawanku, aku tidak akan ikut campur dalam masalah ini. Aku rasa ada hal lain yang telah direncanakan Rebecca sampai dia rela membuat makam bohongan yang mengatasnamakan Eduardus. Anda harus menyelidikinya, Mr. Pay, jangan sampai dia menghasut Kensky untuk menjual perusahan itu kepada orang lain."
"Terima kasih banyak untuk informasinya, Pak Dean. Nanti saya akan menyelidikinya."
"Kapan Anda akan ke sana?"
"Besok, Pak Dean. Mungkin setelah makan siang aku akan ke sana."
Dean menarik napas panjang. "Kalau itu aku kurang setuju, Mr. Pay. Kenapa tidak sekarang saja, kebetulan Kensky sudah tiba hari ini di rumah mereka? Aku ingin Anda sendiri yang menjelaskan kepada Kensky tentang apa yang dilakukan Rebecca selama ini terhadap ayahnya. Dan mungkin sudah saatnya Anda membongkar soal apa yang dilakukan Rebecca terhadap ayahnya. Aku ingin Kensky tahu semua perbuatan mereka, bahwa selama ini dia telah dibohongi Rebecca dan Soraya."
"Anda benar juga. Baiklah, nanti malam aku akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi nona Kensky."
"Itu harus, Mr. Pay, karena aku hanya memberi ijin kepadanya berapa hari. Jadi sebelum dia kembali ke Jerman, Anda harus segera membongkar semua kejahatan Rebecca tepat di hadapannya."
"Baik, Pak Dean. Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih."
Tut! Tut!
Begitu panggilannya terputus. Dean segera memberikan benda itu kepada Matt kemudian meraih ponselnya. Dengan pandangan garang ia menatap dinding dan berkata, "Kau hubungi Kim, tanya kalau Soraya tadi masuk kantor atau tidak."
"Baik, Bos."
Sesuai dengan permintaan, Matt segera melakukannya. Dan tak perlu menunggu lama ia segera menyampaikan kembali informasi itu kepada Dean. "Katanya sudah dua hari Soraya tidak masuk kantor, Bos."
"Bagus, ini alasan yang tepat untuk menghubungi Rebecca." Dengan cepat Dean mencari nama wanita itu di kontak telepon dan menghubunginya.
"Halo, Dean?" sapa Rebecca.
"Maaf aku mengganggumu. Bisa aku tahu alasannya kenapa Soraya tidak masuk kantor selama dua hari?"
"Kau tahu dari mana, Dean? Bukankah kau di Jerman?"
"Kau pikir karyawan di perusahanku itu hanya Soraya, hah? Kata Kim sudah dua hari Soraya tidak masuk. Bisa aku tahu alasannya kenapa, Rebecca?"
"Eh ... eh ... maaf, Dean. Tapi___"
"Kuharap kau jangan mendustaiku, Rebecca. Aku tidak akan segan-segan memecatnya jika kau berani membohongiku."
"Bukankah kita sudah tidak punya urusan lagi?" Suara Rebecca terdengar meninggi, "Jadi aku rasa kau tidak perlu tahu alasan itu, Mr. Stewart."
"Kau mau mati pun aku tidak perduli, Rebecca. Tapi ingat, Soraya itu sekertarisku. Sehari saja dia melalaikan tanggung jawabnya di kantor aku bisa memberikan surat peringatan atau memecatnya secara tidak hormat."
"Aku tidak mau tahu soal Kensky, Rebecca. Yang aku tanya kenapa Soraya tidak masuk selama dua hari? Apa dia sudah bosan bekerja di Kitten Group? Kalau benar nanti akan kukirim surat pemecatannya jika itu yang dia inginkan."
"Jangan, Dean. Kumohon."
"Kalau begitu cepat katakan apa alasannya?"
Terdengar Rebecca menarik napas panjang. "Jadi begini, karena hari ini Kensky pulang, aku meminta Soraya agar membantuku membuat kuburan di belakang rumah."
"Kuburan?" tanya Dean pura-pura.
"Iya. Kan tidak mungkin aku menghadirkan Eduardus, sementara batang hidungnya saja sampai sekarang aku tidak tahu ada di mana. Jadi aku dan Soraya membuat kuburan bohongan sebagai bukti kepada Kensky, bahwa ayahnya sudah meninggal. Dengan begitu aku bisa berakting untuk menyampaikan pesan terakhirnya; bila mana Eduardus ingin dia menikahi lelaki itu secepatnya."
"Lalu, apa rencana kalian sudah berhasil?"
"Iya, Dean. Bahkan tanpa menyampaikan pesan itu Kensky sendiri yang mengusulkan untuk menikah dengan lelaki itu. Sepertinya dia merasa bersalah, karena aku memintanya untuk pulang hari itu juga tapi dia menundanya. Jadi demi menebus kesalahan kepada ayahnya, dia sendiri yang menawarkan diri untuk menikah di depan makam Eduardus. Padahal sebenarnya makam itu tidak benar."
Dean berdecak. "Lalu siapa yang kalian kubur di dalam sana?"
"Tidak ada, Dean, tanah itu kosong. Hanya saja kami membuat gunung di atasnya agar terlihat seperti makam sungguhan. Pusaranya saja hanya terbuat dari kayu biar terkesan sangat baru."
Dean meremas tangannya. "Jadi kapan Kensky akan menikah? Apa perlu aku tambahkan cutinya?"
"Tidak perlu, Dean. Malam ini aku akan mempertemukannya dengan lelaki itu. Soal kapan dan di mana pernikahannya, itu terserah Kensky. Setidaknya dia sudah setuju dan mau menikah dengan lelaki yang kubilang telah dijodohkan oleh Eduardus. Lelaki yang sebenarnya tidak pernah ada dan tidak pernah dijodohkan," kata Rebecca. Ia menarik napas panjang, "Hal ini sangat diinginkan Soraya, biar dia tidak bisa lagi dekat-dekat denganmu. Tapi sekarang kan Soraya tidak tahu bahwa perjanjian kita sudah batal. Jadi untuk mencegah amarahnya meluap, aku teruskan saja rencana ini."
"Baiklah, tapi kau harus pastikan besok Soraya segera masuk kantor. Jika tidak, lusa akan kusuruh Kim mengirimkan surat resign-nya ke rumahmu."
"Baik, Dean, kau tenang saja. Hari ini dia tidak masuk karena tahu Kensky akan pulang. Tidak mungkin kan dalam suasana berduka dia melihat Soraya sedang masuk kerja. Tapi begitu dia pulang, nanti akan kusampaikan pesanmu padanya."
"Pulang?"
"Iya, dia sedang menemani Kensky ke butik untuk membeli gaun. Malam ini kan pertemuannya dengan lelaki itu. Jadi sudah pasti dia harus menyiapkan diri biar lelaki itu terpikat padanya."
"Hmmm," gumam Dean lalu memutuskan panggilannya. Sambil meremas tangannya ia berkata kepada Matt, "Hubungi Mr. Bla." Suara Dean sangat berat. Wajahnya memerah dan urat-urat di tangannya mencuat saat kepalan tangannya mengeras.
"Ini, Bos."
"Halo, Mr. Bla?" sapa Dean.
"Iya, Bos. Ada apa?" balas Mr. Bla dari balik telepon.
"Malam ini Rebecca telah merencanakan pertemuan Kensky dengan lelaki pilihannya. Dan katanya dia telah membuat makam bohongan demi membohongi Kensky. Makam itu adalah makam Eduardus. Jadi, kau hasut Eduardus bagaimanapun caranya agar dia mau ke rumah itu dan mengacaukan pertemuan itu."
"Baik, Bos."
"Kabari aku secepatnya jika dia menolak."
"Itu tidak mungkin, Bos. Saat ini dia memang sedang emosi pada Rebecca. Seandainya aku tidak menahan sampai sekarang, mungkin sudah lama dia pergi dan menyerang wanita itu."
"Pokoknya kau atur saja semua, dan segera kabari aku kalau ada yang tidak beres."
"Siap, Bos."
Bersambung__