Mysterious CEO

Mysterious CEO
Menjenguk Soraya.



Dean berlari kecil menghampiri Kensky yang baru saja meninggalkan meja resepsionis. "Di mana ruangannya?"


"Di ujung koridor," balas Kensky.


Setelah mereka menemukan ruangan tempat di mana Soraya di rawat, Dean dan Kensky duduk di bangku yang terletak di depan ruangan untuk menunggu.


"Kau sudah menyuruh Kim untuk menghubungi mama?"


Dean menggeleng. "Belum, kita pastikan saja dulu kondisi Soraya. Aku tidak mau hanya karena mendengar kabar ini ibumu jadi panik dan terjadi apa-apa padanya."


Kensky tersenyum. Dean benar, ibu tirinya itu pasti akan panik jika tahu Soraya cedera seperti ini. Bisa-bisa wanita itu akan frustasi dan melakukan sesuatu di bawah kesadarannya.


Clek!


Seorang lelaki tampan berkacamata dengan pakaian serba putih keluar dari ruangan di mana Soraya dirawat.


Kensky menoleh dan berdiri. "Bagaimana keadaan Soraya, Dokter? Apa dia baik-baik saja?"


Si dokter menatap bingung. "Maaf, apa Anda keluarga pasien?"


"Iya, Dokter. Aku adiknya."


Dokter itu tersenyum manis. "Kakak Anda baik-baik saja. Dia hanya mengalami sobekan kecil di bagian pelipis yang diakibatkan benturan, jadi Anda tidak perlu khawatir."


Dean merangkul bahu Kensky karena tidak suka cara melihat si dokter itu kepada gadis yang dicintainya. "Sudah kubilang, kan? Dia akan baik-baik saja."


Saat itulah Kensky bernapas lega. Dengan senyum manis ia membalas tatapan si dokter. "Apa aku bisa melihatnya sekarang, Dok?"


"Tentu saja. Silahkan."


"Terima kasih, Dokter," balas Kensky.


"Kalau begitu aku permisi dulu. Jika butuh sesuatu panggil saja aku."


"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama." Sang dokter menunduk pamit kepada Kensky dan Dean.


Setelah dokter itu pergi, Kensky pun mengajak Dean untuk melihat keadaan Soraya di dalam ruangan. "Ayo, kita masuk."


"Kau saja lebih dulu, aku harus menghubungi klien dulu."


"Maaf sudah merepotkanmu," kata Kensky.


"Tidak apa-apa," balas Dean sambil tersenyum samar.


Kensky pun masuk, meninggalkan Dean berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sedang menempelkan ponsel di telinga untuk menghubungi seseorang.


Clek!


Kensky mendorong pintu ruangan yang mana di dalamnya ada sosok wanita yang tak lain adalah kakak tirinya. "Soraya, kau tidak apa-apa?" Dilihatnya wanita itu sedang duduk di atas ranjang dengan dahi yang terpasang perban dan kaki menjuntai.


Wanita itu terkejut. "Kensky? Kau tahu dari mana aku di sini?"


"Kim yang memberitahu kami," Kensky mendekati Soraya, "Bagaimana ceritanya sampai kau terjatuh?"


"Tadi saat ke toilet, aku tidak melihat kalau ada petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai di tangga. Jadinya pas aku berjalan, aku menginjak kain pel itu dan jatuh hingga akhirnya kepalaku terbentur."


"Ya, ampun, Soraya. Kau membuatku khawatir, untung saja kau tidak apa-apa."


Meski Soraya dan Rebecca sering bersikap kasar kepadanya, tetapi kalau mendengar salah satu dari mereka terjadi sesuatu atau sakit Kensky pasti akan khawatir.


"Kau ke sini dengan siapa?" tanya Soraya. Nadanya sedikit penasaran.


"Pak Dean. Beliau ada di luar."


Clek!


Tepat di saat itu pintu ruangan terbuka dari luar. Dean muncul dengan wajah datar, namun tetap saja terlihat tampan.


Soraya yang melihat sosok idolanya pun kini berubah semangat. "Dean, kau datang menjenguku?"


Sapaan Soraya kepada Dean membuat Kensky terkejut. "Dean?" ulangnya dalam hati, "Kenapa Soraya tampak sangat akrab saat menyapanya?" ia menatap Dean dan Soraya secara bergantian. Dilihatnya mimik wajah lelaki itu yang tampak biasa-biasa saja saat Soraya memanggilnya seperti itu. Hal itu pun membuat rasa curiga dalam dirinya mini meningkat.


"Aku sedang menemani Kensky. Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja. Terima kasih kau sudah meluangkan waktu untuk datang dan menjenguku."


Ekspresi Dean biasa saja. "Ya, sudah. Sky, kau masih mau di sini untuk menjaganya?"


"Eh, tidak," sergah Soraya, "Aku baik-baik saja. Tapi kalau kau yang mau menjagaku di sini, dengan senang hati aku akan menerimanya." Wajah Soraya tampak merah merona.


Dean tidak menggubris perkataan Soraya. Tatapannya bahkan terus mengarah ke wajah Kensky yang sedang tersenyum samar. "Aku ada janji dengan klien. Jika kau masih ingin di sini bersamanya, akan kusuruh Matt untuk menemanimu."


Kensky menatap Soraya. "Sepertinya dia tidak perlu perawat lagi. Iya kan, Soraya?" tanya Kensky, "Aku akan balik ke kantor saja bersama Anda. Masih banyak juga pekerjaan yang harus aku kerjakan."


Soraya kesal. Ia cemburu karena saat ini Kensky akan terus bersama Dean. Tapi sebisa mungkin ia menahan emosinya itu, agar tidak meledak-ledak ketika membayangkan Kensky dan Dean pulang bersama. "Iya, aku tidak apa-apa. Kata dokter juga sore baru aku bisa pulang," Suara Soraya tampak dibuat-buat.


"Yah, sudah. Kalau begitu kami pergi dulu," pamit Kensky.


Dean bergerak menuju pintu. Sedangkan Kensky masih berdiri sambil menatap Soraya yang ekspresi wajahnya menunjukan rasa tidak senang.


"Kau tidak apa-apa kan sendirian?" ledek Kensky.


Soraya berdecak. "Tidak usah sok peduli kepadaku, Sky."


Kensky terkejut. Tapi ia tahu kalau emosi Soraya itu disebabkan api cemburu ketika melihat kebersamaannya dengan Dean. "Kalau begitu aku pergi dulu, aku tidak enak bos kita menungguku lama-lama hanya karena aku."


Kensky bergerak menuju pintu. Namun saat tangannya hendak memegang handle pintu, Soraya memanggilnya.


"Sky?"


Gadis itu menoleh menatapnya. "Ada apa?"


"Jangan sampai aku mendengar kau berani macam-macam dengan calon suamiku, ya?"


Kensky terkejut. "Calon suami, maksudmu pak Dean adalah calon suamimu?"


Soraya tertawa. "Kau tidak tahu, ya? Asal kau tahu, ya. Lelaki yang akan membawamu ke Eropa adalah calon suamiku, ingat itu. Kalau kau tidak percaya, coba kau tanya mama. Kalau perlu kau tanya sendiri kepada Dean."


Kensky terdiam sambil berpikir. "Calon suami, kenapa Dean tidak pernah mengatakannya kepadaku? Mama juga tidak pernah mengatakannya," yakin itu hanya akal-akalan Soraya, dengan wajah ceria ia menatap wanita itu dan berkata, "Kau tenang saja, aku dan calon suamimu tidak ada hubungan apa-apa, kok." Tak menunggu jawaban atas pertanyaan saudara tirinya, Kensky langsung keluar dan meninggalkan wanita itu.


Soraya menatap garang di mana pintu yang kini tertutup. Dengan dua tangan yang terkepal ia berkata, "Kau pikir aku akan membiarkanmu mendekati Dean, hah? Jangan harap. Tunggu saja, aku akan membuat kalian tidak bisa pergi ke Eropa bersama."


***


Setelah mengantarkan Kensky ke kantor, Dean dan Matt pergi untuk makan siang sekaligus menemui pengacara Eduardus yang sebenarnya. Namun saat mereka hendak memasuki gedung restoran langganan, teriakan suara perempuan yang entah dari mana keberadaannya menghentikan langkah mereka.


"Dean!"


Langkah lelaki itu terhenti. "Matt, Siapa yang memanggilku?"


Matt mencari sosok tersebut. Matanya mengedar dan terhenti di seberang jalan. "Rebecca, Bos. Dia sedang menyeberang jalan menuju ke sini."


"Brengsek!" umpat Dean tanpa menatap ke kiri dan ke kanan, "Mau apa wanita gila itu ke sini? Kontrol semua area, Matt. Jangan sampai Mr. Pay melihatnya ada di sini."


"Baik, Bos." Matt pun berdiri tegap di belakang Dean. Dengan tangan di belakang matanya mengedar untuk memantau sekeliling.


"Dean, gawat!"


Saat itulah Dean menoleh. "Rebecca, sedang apa kau di sini?"


Napas Rebecca terengah-engah. Dadanya bahkan naik turun karena kelelahan. "Kau ingat waktu aku bilang, telah menyuruh orang untuk menjadi pengacara gadungan Eduardus?"


Dean tampak berpikir. "Aku ingat, memangnya kenapa dia?"


"Aku baru saja dari rumahnya. Dia hilang, Dean. Dia hilang, dan sertifikat rumah itu ada padanya!"


Bersambung___