
Di dalam kamarnya yang selalu ia rindukan selama berada di Eropa, Kensky tampak cantik dengan balutan gaun putih panjang bertali satu. Karena tahu Dean suka dengan warna putih, ia sengaja memilih gaun itu untuk pertemuannya kali ini. Meski hampir setiap hari mereka bertemu, tapi Kensky ingin sesuatu yang beda di pertemuan mereka kali ini, apalagi malam ini mereka akan bertemu layaknya pasangan yang sudah dijodohkan. Kensky ingin berusaha sebaik mungkin agar tidak kelihatan seperti karyawan Dean. Dan begitu pikirannya teringat pada lelaki itu, saat itulah Kensky meraih ponsel dan menghubunginya. Dengan senyum manis ia menempelkan ponsel ke telinga sambil menatap diri di hadapan cermin.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah___"
Tut! Tut!
Kensky memutuskan panggilan. "Kenapa ponselnya tidak aktif?" katanya pelan. Ia mencoba sekali lagi. Namun jika tadi wajahnya tersenyum saat menatap di cermin, kini wajah cantik itu berkerut saat balasannya ternyata masih sama.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah___"
Tut! Tut!
Kensky melirik jam tangan yang telah menunjukkan pukul tujuh malam. "Satu hari ini dia bahkan tidak memberiku kabar. Apa jangan-jangan dia sengaja tidak mengabariku biar aku semakin penasaran?"
Wajah cantik itu kembali tersenyum saat membayangkan hal itu. Ia pun yakin kalau Dean pasti sengaja tidak memberi kabar kepadanya seharian ini karena sebentar lagi mereka akan bertemu. Pertemuan yang bukan sebatas antara atasan dan bawahan, melainkan pertemuan antara pasangan yang sudah dijodohkan dan sebentar lagi mungkin akan menjadi suami-istri.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu mengejutkan Kensky. Dengan cepat ia menoleh dan membuka pintu itu.
Clek!
"Soraya?"
Wanita itu tersenyum. "Mama menyuruhmu turun, calon suamimu sudah dalam perjalanan menuju ke sini."
Jantung Kensky berdebar. "Kenapa aku semakin gugup, ya?"
Soraya terkekeh. "Namanya juga perjodohan. Kalau jadi kamu, aku juga pasti akan merasakan hal yang sama."
"Baiklah, aku akan turun dalam waktu lima menit lagi."
"Jangan lama-lama, mama tidak mau membuatnya menunggu."
"Iya," balas Kensky sambil tersenyum. Ia menutup pintu lalu berjalan kembali mendekati meja rias. Sambil membenarkan dandanannya ia berkata pada dirinya lewat cermin, "Mami, bantu aku. Entah kenapa hatiku jadi tidak enak."
Setelah berkata begitu Kensky langsung keluar dari kamar. Dengan langkah anggun ia menuruni tangga sambil menatap Soraya dan Rebecca yang kini sedang duduk manis di sofa dekat tangga.
"Dia datang," bisik Soraya saat melihat Kensky.
Rebecca menoleh dan mereka sama-sama melemparkan senyum kepada Kensky. "Kau sangat cantik, Sayang," puji Rebecca.
Kedua wanita itu juga berdandan tak kalah mewah. Rebecca mengenakan gaun merah, sedangkan Soraya mengenakan gaun berwarna biru tua yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Sambil menunggu tamu undangan datang mereka mengajak Kensky duduk bersama.
Ting! Tong!
Bunyi bel mengejutkan mereka.
Rebecca segera berdiri lalu berkata, "Biar mama saja."
Soraya dan Kensky saling bertatap.
"Itu pasti dia," kata Soraya seraya menatap Kensky.
"Aku sangat gugup, Soraya. Lihat, tanganku sampai berkeringat." Ia sendiri heran kenapa hal itu terjadi, padahal orang yang akan bertemu dengannya saat ini adalah orang yang hampir setiap hari bersamanya.
"Biar gugupmu hilang, tarik napas dalam-dalam lalu buang," kata Soraya lalu tertawa.
Kensky tersenyum dan di saat bersamaan Rebecca muncul.
"Sky?"
Soraya dan Kensky menoleh menatapnya.
"Kenalkan, ini lelaki yang telah dijodohkan denganmu. Dia calon suamimu, Sky. Ayo, sini."
Zet!
Kensky terkejut. Dilihatnya sosok lelaki tinggi yang berdiri di samping Rebecca. Lelaki itu tampan, mata birunya berkacamata dan Kensky merasa tidak asing melihat wajahnya. "Kenapa bukan Dean?" katanya dalam hati.
Rebecca menangkap ekspresi Kensky. "Kenapa, Sky?"
Gadis itu terkejut. "Tidak, aku tidak apa-apa."
Soraya ikut berkomentar. "Oh, jadi ini calon suaminya adikku. Ayo, silahkan duduk."
"Sky?" panggil Rebecca.
Kensky balas menatap Rebecca.
"Kau tidak ingin berkenalan dengan calon suamimu?" Dalam hati Rebecca juga bertanya-tanya saat melihat sikap dan ekspresi Kensky yang berbeda dengan sebelumnya. Seingatnya gadis itu sampai menangis saking bahagianya waktu mendengar dirinya telah dijodohkan, tapi kenapa sekarang ekspresi Kensky sangat berbeda dan hal itu membuatnya penasaran.
Ting! Tong!
Bunyi bel pintu mengejutkan mereka. Rebecca menoleh dan menatap anaknya. "Soraya, tolong bukakan pintunya," katanya lalu menatap lelaki itu, "Dokter Harvey, ayo silahkan duduk. Kensky, ayo," katanya seraya mengodekan dengan mata.
Mendengar nama itu membuat Kensky teringat. "Dokter? Oh, iya ... sekarang aku ingat. Dokter ini kan yang tempo hari merawat Soraya," kata Kensky dalam hati. Ia pun yakin kalau ini semua pasti rencana Rebecca dan Soraya, "Mereka pasti sengaja menukar peran Dean dan Harvey agar Soraya bisa menikah dengan Dean."
"Ma!"
Teriakan Soraya membuat Rebecca terkejut. Ia pun menoleh lalu berkata, "Dokter, silahkan duduk. Aku ke depan dulu untuk___"
"Tidak perlu Rebecca!"
Suara laki-laki yang baru saja masuk ke ruangan itu membuat dua pasang mata menoleh. Kensky terdiam bagaikan patung, sementara Rebecca terkejut dengan wajah pucat dan gemetar.
"Papi?"
"Eduardus," lirih Rebecca hampir tak terdengar.
Eduardus menatap Rebecca dan si dokter secara bergantian. "Ada pertemuan apa ini? Siapa laki-laki ini?"
Zet!
Lagi-lagi Kensky terkejut dan segera mendekatinya. "Papi? Apakah benar ini, Papi?" Matanya berkaca-kaca.
Eduardus menatapnya. "Iya, Sayang. Ini papi. Papi minta maaf karena selama ini papi menghilang. Papi sengaja menghilang untuk menghindar dari si penjahat ini," katanya seraya menunjuk Rebecca.
Mata Kensky tersentak menatap ibu tirinya. "Apa maksud dari semua ini, Ma? Apa maksud Mama dan Soraya bilang papiku sudah meninggal? Jika sekarang ini papi sedang berdiri, lantas siapa yang kalian kubur di makam belakang rumah?"
Rebecca terperanjat. Sementara Soraya yang juga ikut terlibat kini berdiri dan menjauh dari mereka semua.
"Wanita ini jahat, Kensky. Dia sengaja menaruh obat ke dalam mangkuk bubur papi, agar papi sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa."
Lagi-lagi Kensky terkejut. Dengan mata garang ia menatap Rebecca. "Apa benar yang papiku katakan?"
Rebecca nyaris menangis. Matanya berkaca-kaca dengan tubuh gemetar.
"Itu tidak benar," pekik Soraya dari belakang.
Eduardus menoleh. "Diam kau! Kau dan ibumu sama jahatnya," katanya lalu menatap Kensky lagi, "Tempo hari mereka mendesak papi agar mau menandatangani kertas kosong. Mau tidak mau papi menurut saja, karena waktu itu Rebecca mengancam papi jika tidak melakukannya."
"Itu tidak benar, Kensky," pekik Rebecca.
"Kau tidak perlu mengelak Rebecca," geram Eduardus, "Kau tahu, Sky, dia juga yang telah menyuruh orang untuk menjadi pengacara papi. Mereka melakukan itu aga bisa membuatmu menandatangani surat pernyataan seakan-akan papi telah menyetujui untuk menjual Kapleng Group kepada orang lain."
Saat itulah Kensky menatap Eduardus. "Tapi kata mereka papi punya hutang yang banyak kepada Dean, benar?"
Mata Eduardus menyipit. "Hutang? Papi tidak punya hutang, Sky. Lagi pula maksumu Dean siapa?"
Zet!
Mata Kensky terbelalak. "Jadi Papi tidak mengenal Dean? Dean atasannya aku dan Soraya, Pi," kata Kensky. Wajahnya berubah khawatir.
"Tidak, papi tidak mengenalnya."
Kensky terkejut. Tapi yang membuatnya terjekut bukan soal hutang Eduardus kepada Dean, melainkan tidak kenalnya Eduardus terhadap Dean. "Berarti kalau papi tidak mengenalnya, lantas kenapa Dean bilang papi telah menjodohkan kami?" katanya dalam hati.
"Sky?" panggil Eduardus, "Apa maksudmu papi punya hutang kepada atasan kalian?"
Kensky menatapnya. "Apa benar Papi telah menjodohkan aku dengan seseorang?"
Eduardus terkejut. "Tidak, kata siapa?"
Zet!
Bersambung___