
Karena begitu sensitif dengan suara lembut wanita itu, dengan cepat Dean langsung memindahkan posisi. Tubuhnya yang tadi di samping Kensky kini berada di atasnya. "Kau sangat menggairahkan. Aku tak sabar lagi ingin menikahimu, Kensky. Sumpah."
Kensky balas menatapnya. Sejujurnya ia pun sangat menginginkan Dean, tapi pikiran akan pengakuan lelaki itulah yang membuat Kensky sampai saat ini masih kebingungan. Dilihatnya wajah tampan Dean yang begitu diinginkannya. Perlahan tangannya terulur untuk merasakan bulu-bulu halus yang ada di rahang lelaki itu.
Dean balas mengerang saat jemari lembut Kensky menyapu pipinya dengan sentuhan-sentuhan sensual penuh gairah. "Aku mencintaimu, Kensky. Aku sangat mencintaimu," bisik Dean sambil menatap wajah Kensky.
Hati Kensky berbunga-bunga, tapi lagi-lagi sikap skeptis dalam tatapannya begitu mencuat hingga hal itu membuat Dean bisa menebak.
"Apa yang membuatmu ragu? Apa aku harus menikahimu dulu biar kau bisa percaya bahwa aku mencintaimu?" kata Dean lalu bangkit dari atas tubuh Kensky dan duduk di tepi ranjang, "Kalau itu yang kau mau, hari ini aku akan mengurus semuanya. Kita akan menikah besok."
Mata Kensky terbelalak. "Tidak, tidak! Jangan. Eh, maksudku bukan itu. Tapi ...," ia menunduk sesat, "Sebenarnya aku masih punya tujuan lain. Aku___"
"Tujuan apa?" potong Dean.
Saat itulah Kensky mendongak lalu menatap Dean. Ia menggeleng kemudian berkata, "Aku sendiri tidak tahu. Tapi aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang belum aku lakukan. Rasanya ada rahasia keluarga yang belum terungkap dan aku ingin mencaritahu."
Alis Dean mengerut. "Rahasia, rahasia apa itu?"
Kensky menarik napas panjang. "Entalah, tapi aku merasa ibuku menyembunyikan sesuatu padaku. Sesuatu itulah yang selama ini membuatku harus mencari tahu. Aku bahkan bisa merasakan kalau hal itu pasti akan muncul jika sudah saatnya, tapi aku sendiri tidak tahu kalau sesuatu itu apa."
Dean tersenyum. Ia meraih tangan Kensky dan menggenggamnya. "Apapun itu, aku akan siap membantumu. Aku akan selalu bersamamu dan selalu melindungimu."
Kensky terkejut. Kata-kata Dean barusan mengingatkannya kepada sosok yang memberikannya ponsel. Saking penasaran, ia menatap mata Dean sambil bertanya-tanya dalam hati, "Apa jangan-jangan Ceo itu adalah Dean?"
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Dean, "Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku."
Kensky mengedipkan kedua matanya. "Aku tidak butuh apa-apa, terima kasih. Saat ini aku hanya ingin pulang dan istirahat."
Dean merapatkan tubuh untuk membawa Kensky ke dalam pelukannya. "Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang."
Kensky dengan cepat menengadahkan wajahnya ke wajah Dean. "Jangan! Bi-biar aku pulang sendiri saja."
"Kenapa? Sekalian aku ingin bertemu ayahmu."
Kensky merasa senang, tapi bayangan wajah Rebecca dan Soraya membuat pikirannya berubah. "Ja-jangan, lebih baik aku pulang sendiri saja."
Lagi-lagi Dean memaksa. "Kenapa? Apa aku tidak boleh bertemu keluargamu?"
"Bu-bukan begitu, tapi lebih baik saat ini aku pulang sendiri saja. Kumohon ... tolong mengertilah."
Dean tertawa dalam hati. Sikap memohon yang diciptakan dari ekspresi wajah Kensky itu sangatlah lucu dan membuatnya gemas. "Baiklah, tapi kau harus kembali. Jika kau lama-lama, maka aku akan pergi ke rumahmu dan menjemputmu di sana."
"Jangan, jangan. Kau tidak boleh menjemputku."
Dengan mengangkat alis. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?"
"Ti-tidak ada. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Kumohon, mengertilah."
Sikap manja Kensky dimanfaatkan Dean. "Kalau begitu nanti malam aku tunggu kau di mension ini lagi. Aku ingin kau selalu bersamaku, Kensky." Dean mengecup dahinya.
Kensky kembali berbunga-bunga. Seandainya ia sudah punya bukti kuat bahwa Dean benar-benar adalah calon suaminya, hari itu juga ia akan meminta Dean untuk menikahinya. "Papi?" pikirnya, "Aku harus menanyakan hal ini kepada papi," perlahan tangan Kensky terulur dan meraup pipi Dean, "Aku janji akan kembali lagi."
"Sungguh?"
"Iya, Sayang."
Bukannya menjawab, Dean malah ******* bibir Kensky sesaat lalu melepaskannya. "Aku sangat mencintaimu, Kensky. Percayalah, aku sangat mencintaimu."
***
Dalam perjalanan Kensky terus memikirkan Dean. Perlakuan lelaki itu terhadapnya sangat membuat dirinya penasaran tapi juga sekaligus senang dan bahagia.
"Jika dia benar-benar menginginkanku, kenapa dia tidak melakukannya seperti di film-film; sengaja membuatku mabuk, kemudian meniduriku?" pikirnya, "Padahal kan aku juga ingin diperlakukan begitu."
"Nona Oxley, kita sudah tiba."
Suara Matt mengejutkan Kensky. "Oh, iya! Maaf," balas Kensky. Ia melihat pria itu keluar dari pintu kemudi kemudian mengintari mobil untuk membukakan pintu untuknya, "Oh, iya, nama kamu siapa?" tanyanya pelan sambil keluar dari mobil.
"Nama saya Matt, Nona."
"Oke, Matt. Terima kasih banyak, ya."
Pria itu menunduk hormat. "Anda akan dijemput jam berapa, Nona?"
Kensky terkejut. "Dijemput?"
"Iya, tadi pak Dean menyuruh saya untuk menjemput Anda kembali, jika urusan Anda sudah selesai."
Kensky nyaris lupa. "Terima kasih, Matt. Tapi biar aku saja yang menemui Dean sendirian. Kau tidak perlu menjemputku. Lagi pula aku belum tahu urusanku selesai jam berapa."
Pria berjas hitam itu mengambil sesuatu dari saku jas-nya kemudian memberikan kepada Kensky. "Ini kartu nama saya, jika Anda perlu sesuatu silahkan hubungi saya."
Kensky menerimanya lalu tersenyum menatap Matt. "Terima kasih banyak, Matthew."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu." Pria itu menunduk lagi kemudian pergi.
Sedangkan Kensky yang masih berdiri di tempat itu terus menatapnya dengan pandangan lembut. Ia terus menatap mobil sedan hitam itu hingga menghilang di ujung jalan. Ingatannya pun kembali saat pertama kali melihat mobil itu melindas air hingga mengenai tubuhnya. Ia tersenyum lebar lalu berkata, "Tak kusangka, orang yang begitu sombong dan membuatku kotor tempo hari, kini begitu perhatian kepadaku. Aku mencintaimu, Dean."
Dengan cepat Kensky menepiskan pikirannya tentang Dean kemudian melangkah untuk memasuki rumah. Dibukanya pintu lalu mengedarkan pandangan. Alisnya berkerut begitu melihat suasana rumah tampak sepi.
"Ma?" panggilnya sambil melangkah menaiki tangga ke lantai atas di mana sang ayah berada. Ia ingin menengok ayahnya, "Ma? Soraya? Kalian di mana?"
Clek!
Bunyi handle pintu dari lantai tiga mengagetkan Kensky. "Mama?"
"Kensky, kenapa kau baru pulang? Dari mana saja kau?" Suara Rebecca terdengar lembut. Sementara ia berdiri tepat di depan pintu kamar yang ditempatinya bersama Eduardus.
Kensky merasa bersalah. Dalam hati ia berpikir; apakah ia harus jujur atau tidak soal kejadian yang menimpanya tadi malam? Tidak! Ia tidak boleh jujur meski sikap Rebecca sudah benar-benar baik kepadanya. "Maaf, Ma. Semalam aku mabuk," katanya sambil menunduk, "Aku diberikan anggur oleh bosku dan aku tidak enak menolaknya."
"Mabuk?" ulang Rebecca dalam hati, "Dean membuatnya mabuk?" Rebecca berdiri di depan dan memborong tubuh Kensky dengan pandangan menyipit, "Mabuk? Bosmu membuatmu mabuk? Lalu apa yang dilakukannya kepadamu, Sky?" Sikap Rebecca pura-pura khawatir. Diperiksanya seluruh tubuh Kensky untuk menemukan bukti apabila Dean telah melakukan sesuatu kepadanya, "Apa dia memukulmu?" Matanya terbelalak, "Atau jangan-jangan dia ...."
Kensky tersenyum menatapnya. "Tidak, Ma, bosku itu tidak kurangajar. Dia tidak melakukan apapun kepadaku."
Rebecca terdiam. Ia tampak berpikir dengan apa yang baru saja dikatakan Kensky. "Kau yakin dia tidak melakukan apa-apa kepadamu?"
Kensky memegang kedua lengan Rebecca seakan menenangkan. "Tidak, Ma, beliau tidak melakukan hal yang seperti Mama pikir," katanya pelan.
"Kau yakin? Tapi bukannya kau dalam keadaan mabuk?"
Bersambung___