
Mr. Bla terbahak. "Itu sebabnya aku ingin bertemu dengannya secara langsung. Mungkin dia tidak memberitahukan pada Anda mengenai hutang ini. Jadi ada baiknya jika aku saja yang akan menagihnya pada suami Anda."
"Gawat, mereka tidak boleh bertemu Eduardus. Tidak boleh ada yang tahu jika dia sakit," katanya dalam hati. Rebecca takut kalau seandainya ada orang asing yang bertemu Eduardus, lelaki itu akan bertingkah aneh dan meminta pertolongan. Jadi, lebih baik ia berbohong demi menutupi keberadaan Eduardus yang nantinya akan berisiko besar terhadapnya. Ia tidak ingin jutaan dolar akan melayang hanya karena kebohongannya terbongkar, "Dia tidak ada di rumah. Suami saya sedang keluar negeri untuk urusan bisnis."
"Bisnis?" ulang lelaki itu dengan nada mengejek, "Apa dia ke sana akan mencari target lagi untuk dibohongi?" Lelaki itu tertawa, "Aku tak menyangka ternyata suami Anda sangat berbakat untuk menipu orang, Nyonya."
Rebecca terkejut. "Apa maksud Anda, Tuan? Suami saya tidak pernah berbohong soal bisnis."
Mr. Bla berdecak dan menatap Rebecca. "Tapi suami Anda sudah membohongiku. Dia meminjam uang kepadaku ratusan juta dengan jaminan rumah, tapi sampai sekarang dia tidak pernah muncul lagi dan membawa kabur semua uangku. Jadi aku datang ke sini untuk menagih uangku kepadanya. Kalau pun uang itu tidak kembali, setidaknya rumah yang dia janjikan itu bisa menjadi milikku."
"Rumah, maksud Anda rumah ini?"
Mr. Bla mengarahkan pandangannya ke semua bangunan rumah serta halaman luas yang dipenuhi tanaman hijau. "Sepertinya iya," jawabnya pelan. Ia menoleh menatap Rebecca, "Apakah ini rumah milik Eduardus?"
Rebecca tersentak. "Bukan. Rumah ini bukan miliknya, tapi rumah ini milik anaknya."
Lelaki itu menyeringai kemudian berjalan menjauhi tubuh Rebecca. Sambil membelakangi wanita itu Mr. Bla berkata, "Aku tidak peduli entah ini rumah dia atau siapa. Yang kuinginkan sekarang hanyalah bertemu dengan suami Anda untuk menagih hutang yang sudah berbulan-bulan dipinjamnya."
"Bukannya sudah kubilang kalau suamiku tidak ada di rumah!"
"Kau pikir aku percaya, hah?" ketus Mr. Bla. Ia menatap para anak buahnya, "Ayo, cepat kalian periksa rumah ini dan cari dia sampai dapat!"
"Baik, Bos!"
Rebecca terkejut. "Jangan! Kalian tidak boleh memasuki rumah orang tanpa ijin."
Mr. Bla tidak peduli. Anak buahnya bahkan menyeret tubuh Rebecca saat wanita itu menghalangi mereka masuk.
Rebecca semakin garang. "Kubilang keluar dari rumah ini! Kalian tidak bisa seenaknya menggeledah rumah orang tanpa ijin!"
Mr. Bla mendekatinya. "Nyonya Rebecca, seandainya Anda mau jujur soal keberadaan suami Anda yang tercinta itu saat ini, aku tidak akan mungkin menggeledah rumah Anda. Tapi karena Anda sudah berbohong kepadaku, jangan salahkan aku jika anak buahku menemukan suami Anda di rumah ini."
Rebecca semakin panik. Jantungnya bahkan berdetak cepat saat melihat beberapa anak buah Mr. Bla menaiki tangga menuju kamarnya. "Sebaiknya kalian keluar dari rumah ini sebelum aku menelepon polisi."
"Bos! Eduardus ada di sini," teriak salah satu pria dari lantai atas.
Mata Mr. Bla melihat Rebecca. "Kau yakin itu Eduardus?"
"Iya, Bos!"
Seringai lebar semakin tampak dari wajah Mr. Bla. "Aku tak menyangka, suami dan istri ternyata sama-sama berbakat dalam kebohongan." Dengan cepat lelaki itu bergegas menaiki tangga untuk memeriksa keberadaan Eduardus di dalam sana.
Rebecca yang kini semakin takut karena ketahuan berbohong dalam hati terus berdoa agar Mr. Bla tidak membunuh suaminya. "Ya, Tuhan, semoga saja mereka tidak berbuat macam-macam kepadanya. Kalau dia mati, hilang sudah satu juta dolarku." Rebecca takut para lelaki yang sama sekali tidak dikenalinya itu akan membunuh Eduardus karena sakit hati. Sementara di lain pihak Dean menyuruhnya agar lelaki itu tetap hidup sampai dia benar-benar tersiksa. Seandainya jika Dean ingin Eduardus segera mati, saat ini pun Rebecca tak peduli meski Mr. Bla dan rekan-rekannya akan membunuh lelaki itu, "Ya, Tuhan, semoga saja mereka tidak melakukan hal itu," katanya dalam hati.
Kepala Rebecca tersentak saat melihat tubuh Eduardus dibopong oleh salah satu anak buah Mr. Bla. Matanya melotot menatap mereka. "Apa-apaan kalian ini? Cepat turunkan dia!"
Mr. Bla menuruni tangga tepat di belakang para anak buahnya. Dengan langkah gontai ia mendekati Rebecca lalu berkata, "Bukannya tadi Anda bilang Eduardus ada di luar negeri, kan? Mungkin sebaiknya aku membawa suami Anda menjauh, dengan begitu Anda bisa menganggap dia sedang berada di luar negeri. Bukan begitu, Nyonya Rebecca?"
"Lepaskan dia! Dia sedang sakit parah. Kalian tidak boleh membawanya," Rebecca hendak mendekati pria yang membopong Eduardus, tapi salah seorang anak buah yang lain langsung menghentikannya, "Lepaskan aku. Kalian tidak boleh membawa suamiku!"
Mr. Bla tidak peduli. Ia terus berjalan mengikuti mereka tanpa melihat Rebecca. "Bawa dia ke mobil."
Rebecca semakin memberontak. "Kalian mau bawa dia ke mana? Dia sedang sakit! Lepaskan aku!"
Mr. Bla menghentikan langkahnya dan tertawa. "Anda tenang saja, Nyonya Rebecca. Suami Anda akan baik-baik saja, aku hanya ingin membawanya sebentar. Aku ingin memberi pelajaran sedikit kepadanya, biar dia ingat soal hutang dan janjinya kepadaku tempo hari."
Rebecca semakin histeris dan terus melepaskan diri. Tapi cekalan tangan anak buah Mr. Bla sangat kuat, sehingga ia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. "Woy, lepaskan dia! Jangan sentuh dia! Dia itu sedang sakit!"
Mr. Bla seakan tuli. Ia terus berjalan hingga melewati tubuh Rebecca. "Suruh wanita itu diam. Jika dia tidak mau, bunuh saja dia."
"Diam!" bentak anak buah Mr. Bla.
Mau tidak mau ia pun harus diam dan membiarkan mereka membawa Eduardus. "Ya, Tuhan, siapa mereka sebenarnya? Dan kenapa mereka membawa Eduardus?" katanya dalam hati.
Meski hal itu sudah terjadi, tidak ada sedikit penyesalan atau kekhawatiran dalam diri Rebecca saat melihat Eduardus dibawa pergi oleh sosok yang ia sendiri tidak tahu. Ia justru senang kalau suaminya itu tidak ada di rumah, agar dia sendiri tidak perlu repot-repot untuk mengurusinya. Namun, yang membuat ia sedikit khawatir kalau Dean akan marah jika tahu soal ini. Itu artinya ia akan gagal mendapatkan jutaan dolar, serta impian untuk menjadi mertua Dean pun sudah pasti akan gagal.
***
Di dalam sebuah apartemennya yang berada di tengah kota New York, Dean sedang berdiri di depan dinding kaca sambil menatap ke luar. Pikiran-pikiran akan rencananya untuk menghancurkan Eduardus serta keluarganya sedikit demi sedikit sudah terlaksanakan termasuk membuat lelaki itu lumpuh berkat bantuan Rebecca. Dean memang sengaja menghasut Rebecca agar mau menjual Kapleng Group kepadanya dan hal itu sedikit lagi akan tercapai. Dean juga tidak perlu khawatir soal pemalsuan dokumen atau sebagainya, karena yang berperan di situ hanyalah Rebecca. Jadi sewaktu-waktu jika Kensky menuntutnya, Rebecca-lah orang yang pantas dipersalahkan.
Apalagi sekarang sertifikat rumah yang juga menjadi incarannya kini sudah berada di tangannya. "Sedikit lagi, sedikit lagi aku akan menguasai semuanya, Eduardus. Aku akan merebut semua yang sebenarnya bukan milikmu. Aku akan merebut semuanya, seperti kau merebut semua yang dimiliki ibuku tempo hari."
Tok! Tok!
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Dean. Dengan cepat ia berbalik menatap pintu dengan sebelah tangan di dalam saku celana. "Masuk!"
Clek!
Sosok Matt pun muncul. "Bos, Mr. Bla dan para anak buahnya sudah berhasil menculik Eduardus. Sekarang dia sudah aman bersama mereka."
Dean menyeringai. "Bagus, pasti sebentar lagi Rebecca akan menghubungiku dan mengeluh soal itu."
Bersambung___