
Soraya menatap Rebecca. "Aku akan menggunakan nama ibunya, Ma. Aku akan membuat surat__ di mana ada tulisan tangan__ seakan-akan surat itu tante Barbara yang membuatnya. Aku juga akan menaruhnya di dalam amplop perekat bersama nomor ponsel dokter Harvey. Jadi aku akan membuat seakan-akan surat itu adalah surat peninggalan ibunya. Di surat itu aku akan mengarahkan Kensky untuk menghubungi calon suaminya, yaitu Dr. Harvey."
Rebecca mengerutkan alis. "Mama ragu, Soraya. Apalagi kalau seandainya dia menghubungi dokter Harvey dan beliau mengelak soal perjodohan itu. Kita pasti akan ketahuan, Soraya."
"Mama ikut berperan, dong. Mama kan bisa berpura-pura di depan dokter Harvey. Mama buat seakan-akan Mama itu ingin sekali Kensky cepat menikah. Kalau perlu bilang kepadanya bahwa selama ini anak gadis Mama itu tidak mau menikah, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jadi Mama berencana ingin mencarikan Kensky pacar agar dia cepat menikah dan pacar itu adalah dokter Harvey."
"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Rebecca.
"Aku yakin, Ma. Tapi Mama harus membuat perjanjian dulu dengan dokter Harvey."
"Perjanjian apa?"
"Suruh dokter Harvey agar pembicaraan dan pertemuan kalian dirahasiakan dari Kensky. Jadi buat seakan-akan mereka berkenalan bukan karena Mama, tapi karena surat itu."
Rebecca menggeleng. "Mama tidak yakin, Soraya. Mama yakin ini tidak akan berhasil."
"Tapi hanya dengan cara ini dia tidak akan mendekati Dean lagi, Ma. Kalau dia sudah punya pacar kan tidak mungkin dia menerima Dean."
"Kalau begitu bagaimana caramu memberikan surat itu kepadanya?"
"Aku akan menyusup ke kamarnya," kata Soraya lalu mengalihkan pandangan menghadap jendela, "Malam ini dan besok adalah kesempatanku untuk menaruh surat itu di kamarnya. Dan aku harap hal itu bisa membuatnya batal ke Eropa bersama Dean. Aku tidak ingin mereka pergi bersama sekalipun itu untuk urusan pekerjaan."
"Untung kau ingatkan, mungkin sebaiknya mama telepon dia sekarang saja dan menanyakan hal itu secara langsung kepada Dean."
Soraya terkejut lalu menatap Rebecca. "Mau tanya apa, Ma?"
"Mau tanya soal kenapa dia tidak mengajakmu, tapi malah mengajak Kensky."
"Jangan dulu, Ma. Kabar ini belum jelas, aku hanya mendengar kabar itu dari Kimberly. Mama tunggu sampai Kensky pulang saja, dia pasti akan menceritakan hal ini kepada Mama. Karena kalau Mama tanya sekarang dan ternyata kabar itu tidak benar, Dean pasti akan marah. Kan bisa saja Kimberly berbohong atau sengaja ingin membuatku marah."
"Kenapa begitu? Memangnya Kimberly itu siapa?"
"Dia sekertarisnya Dean, Ma. Dia juga salah satu karyawan yang sangat tidak menyukaiku. Dan sebaiknya sekarang kita tunggu dokter Harvey saja, kemudian Mama bahas soal Kensky. Kita lihat, apakah dia akan merespon atau tidak. Tapi aku yakin dia pasti akan suka, secara tadi Mama sendiri dengar kan dia menanyakan soal Kensky."
"Memangnya tadi Kensky datang ke sini?"
"Iya, dia datang bersama Dean untuk menjemputku."
***
Rupanya Mr. Hans sudah mendengar kabar itu dari sang atasan. Dan karena waktunya tinggal beberapa hari lagi, lelaki itu memanfaatkan sisa waktu sebelum asisten andalannya itu pergi dan meninggalkannya.
Meski baru berapa minggu di Kitten Group, tapi cara kerja Kensky membuat Mr. Hans sangat sempurna. Ia merasa sangat terbantu, sehingga tak rela jika Kensky akan meninggalkannya.
"Jadi kau akan dimutasikan ke Jerman?" tanya Mr. Hans dari mejanya. Wajahnya tampak sedih saat menatap gadis itu.
Kensky berbalik menatapnya. "Iya, Mr. Hans. Awalnya aku sendiri tidak percaya waktu pak Dean memanggilku tadi pagi dan mengatakan hal ini. Padahal kan beliau bisa menyuruh Kim atau Soraya untuk pergi ke sana."
Mata Mr. Hans memborong semua wajah Kensky. "Boleh aku bertanya?"
Kensky tertawa. "Tentu saja boleh, Mr. Hans. Memangnya ada hak apa aku melarang Anda untuk bertanya?"
Mr. Hans tersenyum samar. "Seandainya pak Dean menyukaimu, apa kau mau menerimanya?"
Kensky terkejut mendengar pertanyaan kepala divisinya. Pertanyaan yang menurut Kensky jauh dari konversasi mereka saat ini. Tapi tidak ingin lekaki itu curiga, ia pun tersenyum manis seolah-olah pertanyaan itu biasa-biasa saja. "Itu tidak mungkin Mr. Hans, aku hanya bawahannya dan pak Dean tidak mungkin menyukaiku."
"Tapi dari pandanganku sebagai sesama lelaki, aku merasa dia menyukaimu, Sky."
Kensky terbahak. "Ah, Mr. Hans ini ada-ada saja. Itu tidak mungkin."
Mr. Hans ikut tertawa. "Tidak masalah, Sky. Lagi pula beliau kan belum menikah. Apalagi tidak biasanya dia bersikap seperti ini terhadap wanita. Selama ini tidak ada wanita yang dispesialkan di kantor ini kecuali kamu."
"Mr. Hans terlalu berlebihan, masa begitu saja Anda bilang dispesialkan."
Saat itulah Mr. Hans berdiri. Ia mendudukan bokongnya di atas meja dan menghadap Kensky yang sedang duduk bersandar di kursinya. "Pertama, tidak ada karyawan yang baru lulus bisa menempati jabatan sebagai asistenku. Kalau pun orang itu memiliki riwayat dari lulusan universitas ternama, dia harus punya pengalaman minimal satu tahun menjadi staf dulu di bagian keuangan. Setelah satu tahun jika hasil kinerja bagus, besar kemungkinan dia akan diangkat menjadi asistenku. Kedua, tidak pernah ada satu pun karyawan yang diajak masuk ke mension untuk minum anggur. Kalau pun ada peringatan hari besar seperti ulang tahun kantor barusan, beliau tidak akan memperbolehkan satu pun dari ratusan karyawannya untuk masuk ke mension itu, sementara malam itu kita berdua diijinkan masuk dan ditawarkan anggur. Bahkan kamu diperbolehkan menggunakan toilet di kamarnya. Ketiga," Mr. Hans menarik napas, "Selama ini tidak ada satu pun karyawan dari sini yang dikirim beliau untuk menjadi supervisor di Kitten Group Jerman. Bahkan beliau sendiri yang telah menetapkan semua tenaga kerja di sana haruslah asli orang Eropa. Tapi sekarang, dia akan mengirimu ke sana."
Kensky sebenarnya tahu alasan utama kenapa Dean mau mengirimnya ke sana. Namun jika disangkut-pautkan dengan operasional, dia bukanlah orang yang pantas untuk mengawasi perusahan itu. Dia merasa dirinya belum berpengalaman. Dia bahkan orang yang sangat-sangat baru dikenal oleh Dean. Namun jika alasan lelaki itu menyangkut perjodohan, hal itu juga masih sangat tidak masuk akal. Sebab sampai sekarang pun ia tidak pernah mendapat keterangan jelas dari sang ayah mengenai perjodohan itu. Dan saat ini yang masih membuat Kensky bingung adalah kenapa Mrs. Stewart juga mengatakan hal yang sama kepadanya? Kenapa wanita itu begitu penuh keyakinan mengatakan, bahwa dirinya adalah calon istri Dean. Sementara Kensky tidak pernah tahu kapan dan siapa orangtuanya yang telah menjodohkan mereka? Apakah itu Barbara atau Eduardus?
Jika seandainya hanya Dean saja yang mengakui perjodohan itu, Kensky masih wajar untuk tidak mempercayainya. Bisa saja itu hanya akal-akalan Dean untuk mendekatinya. Tapi karena hal itu juga diakui oleh Mrs. Stewart selaku ibunya Dean, mau tidak mau Kensky harus percaya. Bahkan sampai saat ini pengakuan itu terus melayang-layang dalam ingatannya. Dan jika benar sejak dulu dirinya sudah dijodohkan dengan Dean, lantas siapa bocah laki-laki di foto yang sedang duduk bersama ibunya?
"Kensky?" panggil Mr. Hans.
Gadis itu tak menjawab karena ia sedang terlarut dengan semua pikirannya.
"Kensky?"
Bersambung___