
Kensky menatap tajam. "Jika aku jadi Dean, aku tidak akan pernah memaafkan Papi." Kensky sengaja mengatakan hal itu karena ia bisa merasakan kesakitan yang Dean rasakan waktu bersama Eduardus.
Eduardus menatap sedih. "Itu memang sepantasnya, Sky. Anak mana yang rela melihat ibunya disiksa oleh lelaki yang bukan ayah kandungnya. Sekalipun aku ayah kandungnya, dia pasti tidak akan menerima perlakuanku terhadap ibunya. Apalagi aku hanya ayah tirinya," ia menatap Kensky, "Itu sebabnya papi ingin bicara denganmu. Jika memang Dean menginginkan Kapleng Group dan rumah ini, papi akan ikhlas dan mau menjualnya kepada Dean. Berapa pun yang dia bayar, papi akan menerimanya. Setidaknya uang itu bisa kita gunakan untuk membeli rumah baru."
Mendengar kata rumah membuat Kensky teringat sesuatu. "Tapi, Pi, sertifikat rumah ini ada pada Mr. Lamber."
Eduardus terkejut. "Mr. Lamber? Siapa dia?"
"Kata Rebecca dia pengacara Papi. Dia datang tempo hari ke sini dan membawa bukti pernyataan. Pernyataan di mana Papi punya hutang kepada Dean dan jika hutang itu tidak lunas, maka Kapleng Group akan menjadi jaminan atas semua hutang-hutang Papi kepada Dean."
Mata Eduardus melotot. Ia berdiri dan menghadap ke arah lain. "Rebecca! Rebecca!"
Suara bariton Eduardus mampu menggetarkan seisi rumah. Kensky yang duduk di hadapannya pun serasa ikut bergetar ketika sang ayah terus berteriak.
"Ada apa, Sayang. Kenapa kau berteriak?" tanya Rebecca yang muncul tiba-tiba.
"Di mana sertifikat rumah ini?"
Zet!
Rebecca terkejut. Saking terkejutnya dengan pertanyaan itu membuat lututnya nyaris tak tersambung. "Ya, Tuhan, kenapa juga masalah ini datang sekarang."
"Jawab aku, Rebecca! Di mana sertifikat rumah ini?"
"A-ada pada Mr. Lamber, aku telah memberikan sertifikat itu kepadanya dan sekarang aku tidak tahu dia ada di mana."
Kensky dan Eduardus sama-sama terkejut. Kensky menatap garang, sedangkan Eduardus berdiri di depan Rebecca bagaikan singa yang ingin menyerang musuh dan hendak menghabisinya.
"Kau benar-benar kelewatan. Jika dalam minggu ini kau tidak mengembalikan sertifikat itu, jangan salahkan aku jika hidupmu di penjara," kata Eduardus kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Rebecca terkejut dan ingin memprotes.
Tapi Kensky segera berdiri dan berkata, "Sebaiknya kau lakukan saja apa yang dikatakan papi, kalau tidak ... bukan hanya papi yang akan menuntutmu, tapi aku juga."
Kensky berlalu dan hal itu membuat Rebecca semakin takut. "Ya, Tuhan, bagaimana ini? Aku harus mencari Mr. Lamber di mana?"
Soraya muncul. "Ada apa, Ma? Mana Kensky dan ayah?"
"Gawat, Soraya. Gawat."
"Gawat kenapa?"
"Mereka ingin sertifikat rumah ini kembali, sedangkan sertifikat itu ada pada Mr. Lamber."
"Kalau begitu Mama temui dia dan minta kembali sertifikatnya."
"Ya, ampun, Soraya. Kau lupa, ya? Mr. Lamber kan sudah kabur. Dia sudah pergi entah ke mana dan bersama sertifikat rumah ini."
Soraya terdiam. "Kalau begitu aku tidak mau tahu. Itu urusan Mama, karena Mama-lah yang mengidekan semua itu," katanya lalu pergi.
"Soraya! Soraya!" panggil Rebecca. Ia kesal, "Ya, Tuhan, bagaimana ini? Rasanya aku ingin mati saja."
***
Seperti yang sudah direncakan hari ini Kensky akan menemui Dean. "Apa sebaiknya aku menghubunginya dulu, ya?" katanya dalam hati.
Saat ini ia sudah di dalam taksi menuju Kitten Group. Tapi jika biasanya ia ke sana mengenakan pakaian kantor, hari ini Kensky mengenakan kemeja putih dan celana jins grey robek-robek serta heels yang lumayan tinggi.
Tak berapa lama ia pun tiba di depan gedung Kitten Group. Dengan cepat ia membayar taksi kemudian keluar. Dan baru saja kakinya melangkah sekali, sosok Matt langsung menyapanya.
"Nona, Kensky?"
Gadis itu menoleh. "Matt! Hai, apa kabar? Apa Dean ada bersamamu?"
"Bos ada di mension, Nona. Bos juga sedang sakit, jadi hari ini bos tidak masuk kantor."
"Baik. Nona tunggu di sini, aku akan mengambil mobil dulu."
Dengan perasaan gelisah Kensky berdiri di tempat itu. "Kenapa dia bisa sakit? Apakah panggilannya semalam karena ingin memberitahukan hal itu? Ya, Tuhan, semoga saja sakitnya tidak parah."
Di sisi lain.
"Kensky ... Kensky ... kumohon jangan tinggalkan aku, Sky," Saat ini Dean sedang terbaring di ranjang. Matanya terpejam, dahinya berkeringat, "Kensky ... kumohon jangan tinggalkan aku."
Saat itulah gadis itu muncul. "Dean," lirihnya seraya mendekati ranjang.
"Kensky, jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku, Sky."
Mata Kensky berkaca-kaca. "Aku ada di sini, Dean. Aku ada di sini."
Meski tujuannya datang untuk meminta kejujuran tentang persekongkolan Dean dan Rebecca, tapi melihat kondisi lelaki itu sekarang membuat Kensky merasa kasihan. "Apa kalian sudah memanggil dokter?" tanya Kensky kepada pelayan yang kebetulan sedang menjaga Dean.
Matt berkomentar. "Sudah, Nona, tapi tuan menolak untuk diperiksa."
Kensky menatap Dean. "Apa dia sudah makan?"
"Tuan Dean belum makan apa-apa dari kemarin, Nona. Sejak tadi pagi juga tuan terus mengigau memanggil-manggil nama Anda dengan kondisi seperti ini. Aku ingin membangunkan tuan dan menyuruh makan, tapi melihat kondisi tuan seperti ini membuatku takut," jawab pelayan wanita yang berdiri de dekat ranjang.
"Dean," bisik Kensky, "Aku datang, Sayang."
Lelaki itu tak merespon. Ia terus memejamkan mata sambil memanggil-manggil nama Kensky.
Gadis itu tak menyerah. Ia menggenggam tangan Dean dan membangunkan lelaki itu. "Sayang, kumohon bangunlah. Ini aku ...."
Saat itulah Dean membuka matanya perlahan. "Sky, apakah itu kau?"
Kensky tersenyum sambil menangis. "Iya, ini aku. Aku datang menemuimu."
Dengan tenaga lemas Dean berusaha mengangkat tangan untuk memeluk Kensky.
Kensky yang tahu akan hal itu pun dengan segera bergerak dan memeluk Dean.
"Kumohon jangan tinggalkan aku, Sky. Jangan tinggalkan aku," kata Dean sambil manangis.
Kensky ikut menangis. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Apakah Dean benar-benar tulus mencintaiku? Saat ini dia pasti belum tahu kalau aku sudah tahu semuanya," perlahan Kensky melepaskan pelukannya. Sambil mengusap pipi Dean ia berkata, "Kenapa kau sampai sakit, hah? Kenapa kau menyiksa diri dan tidak mau makan?"
Dean menatap lemas. "Aku mengkhawatirmu, Sky. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Semalam aku menghubungimu, tapi Soraya yang mengangkatnya."
"Soraya?" ulang Kensky dalam hati, "Pantasan ponselku ada di atas ranjang.
Dean meremas tangan Kensky. "Kau mau berjanji padaku?"
Kensky terkejut. "Janji? Soal apa?"
"Jangan pernah tinggalkan aku. Kumohon jangan tinggalkan aku, Sky. Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku."
Kensky terdiam. Dalam hati ia berkata, "Apa jangan-jangan Soraya sudah mengatakannya?" Tak ingin membuat Dean semakin sakit, Kensky langsung tersenyum dan mengangguk, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku janji. Dan sekarang karena aku sudah ada di sini, sebaiknya kau makan dan minum obat, ya?"
Dean menurut dan membawa tangan Kensky ke wajahnya. Dengan tubuh panas dan berkeringat ia kembali memeluk Kensky dan bermohon-mohon untuk tidak meninggalkannya.
Kensky yakin pasti Soraya sudah mengatakan kepada Dean tentang kejadian semalam. Tapi meskipun ia yakin kalau Dean telah tahu bahwa dirinya sudah mengetahui semuanya, Kensky tak ingin membahas masalah itu untuk saat ini. Selain mengingat kondisi Dean yang tidak memungkinkan, Kensky ingin Dean-lah yang lebih dulu mengungkapkan kesalahanya. Ia ingin lelaki itu berkata jujur dan mengakui semuanya.
***
Pagi hari dengan bias mentari yang cerah Soraya bangun lebih awal. Suasana hatinya yang penuh kebahagiaan, kini meluap-luap dan secerah cuaca pagi.
Rebecca yang baru saja ingin membangunkannya pun ikut terkejut begitu melihat sang anak baru saja keluar dari kamar dengan dandanan rapi dan siap untuk pergi ke kantor.
Bersambung__