Mysterious CEO

Mysterious CEO
Penyerahan Dokumen.



Dengan perasaan sedih dan bahagia Eduardus mengangguk. Ia bahkan tak bisa mengeluarkan suara, akibat air mata yang kini membasahi pipinya.


Mata Kensky ikut berkaca-kaca. "Apa itu artinya Papi menerima lamaran ini?"


Eduardus menarik cairan hidungnya. "Tentu saja. Tentu saja, Sayang. Papi menerima lamaran Dean dan merestui hubungan kalian."


Dengan cepat Kensky beranjak dari sofa dan mendekati ayahnya. Mereka saling berpelukan dan menangis bersama. "Terima kasih, Pi, terima kasih karena Papi telah mengijinkan Dean untuk menjadi suamiku."


Mrs. Stewart ikut menangis. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Jika Eduardus tahu kalau Kensky adalah cucu kandungnya dan Dean bukanlah anak kandungnya, apakah lelaki itu akan menerima Dean sebagai suami Kensky?"


Dean yang duduk sambil menatap mereka pun sama pemikiran. Ia bertanya-tanya dalam hati, "Seandainya Eduardus tahu aku punya hubungan dengan keluarga Barbara, apakah dia akan menerima lamaranku kepada Kensky?"


Setelah tangis mereka berhenti, Mrs. Stewart mengajak Eduardus untuk keluar. "Eduardus, maukah kau menemaniku ke butik? Aku ingin bertemu desainerku dan mendiskusikan pernikahan anak kita."


Lelaki itu menghapus airmatanya. Dengan cepat ia berdiri kemudian menghampiri Mrs. Stewart. "Tentu saja, Nyonya. Ayo, kita pergi sekarang." Eduardus memberikan lengannya kepada Mrs. Stewart untuk digandeng.


Wanita itu tersenyum. Dengan susah payah ia berdiri kemudian meraih lengan Eduardus. "Baiklah anak-anak, mami keluar sebentar. Soal pernikahan kalian tidak usah khawatir, mami dan Eduardus yang akan menyiapkan semuanya. Kalian hanya siapkan saja tanggal dan tempat pelaksanaannya, karena nanti malam mami akan menanyakan hal itu lagi dengan kalian berdua."


Perkataan wanita itu membuat Kensky terharu. Namun tidak ingin merusak kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Mrs. Stewart, Kensky hanya mengangguk pelan sambil menatap mereka.


"Bye," kata Eduardus bersama Mrs. Stewart.


Dean dan Kensky tersenyum lalu membalas perkataan mereka. "Hati-hati."


Karena di ruangan itu tersisa mereka berdua, Dean dan Kensky saling bertatap dengan pandangan malu-malu.


Dean bergerak mendekati Kensky. Tangannya terulur kemudian meraih kedua tangan gadis itu. Perlahan ia mengangkat kedua tangan itu lalu menciumnya dengan mata mengarah ke wajah Kensky. "Kau bahagia?" bisik Dean.


Kensky tersenyum lemah. "Aku sangat bahagia, bahkan sangat bahagia."


Dean menatap bibir Kensky. "Aku masih punya kejutan untukmu."


Senyum di wajah Kensky semakin melebar. "Kejutan apa lagi?"


"Nanti kau akan tahu. Ayo, ikut aku."


Kensky menurut dan mengikuti Dean. Dengan sangat pelan lelaki itu membawanya menuju lantai dua. "Kita akan ke mana?"


"Lihat saja," balas Dean yang terus menggenggam tangan Kensky saat menyusuri koridor di lantai dua.


Mereka pun tiba di ruangan paling ujung yang pintunya berwarna cokelat. "Kau siap?"


Kensky hanya tersenyum, sementara Dean yang tahu jika gadis itu tidak keberatan pun segera membuka pintu lalu membawanya masuk.


Clek!


Dilihatnya sebuah ruangan yang dipenuhi banyak buku, serta kursi dan meja yang diatur sedemikian rupa seperti ruangan kantor. Melihat hal itu pun Kensky langsung bisa menebak bahwa ruangan itu pasti ruang kerja Dean. "Apa ini ruang kerjamu?" tanya Kensky untuk meyakinkan.


Dean bergerak ke arah meja. "Iya, tapi dulu ini adalah ruang kerja milik kakekmu."


Mata Kensky mengarah ke laci di mana Dean mengeluarkan dua lembar dokumen berwarna biru.


"Kemarilah, Sayang," kata Dean.


Kensky menurut dan mendekati Dean. Begitu tubuhnya berdiri di samping lelaki itu, Dean segera menariknya ke dalam pangkuannya. Kensky tersenyum dan mengecup pipi Dean. "Sepertinya aku memang perlu diet, biar tubuhku tidak berat ketika posisi kita seperti ini."


Kensky tertawa. "Ngomong-ngomong sebelum kita terhanyut, sebaiknya jelaskan padaku ... apa tujuanmu memanggilku ke sini?"


Dean tersenyum. Namun sebelum menjelaskan tentang apa tujuannya, ia menempelkan bibir ke leher Kensky membuat gadis itu mendesah pelan.


"Sayang, kau belum menjawab pertanyaanku."


Dean terpaksa menjauhkan wajahnya dari leher Kensky. Dengan gairah yang meluap ia memeluk tubuh gadis itu lalu berkata, "Tapi kau janji, setelah ini kita akan kamar."


Wajah Kensky merona merah. "Iya, dan sekarang cepat katakan apa tujuanmu memanggilku ke sini."


Dengan kedua tangan yang melingkar erat di perut gadis itu Dean menatap kedua dokumen yang ada di depan mereka. "Buka dan lihatlah."


Kensky menurut dan membuka dokumen pertama kemudian melihatnya. Sambil membolak-balikan lembaran itu ia berkata kepada Dean, "Ini kan surat keterangan kepemilikan saham."


"Benar," balas Dean.


Kensky tak menjawab. Ia menutup kembali dokumen pertama dan menggantikannya dengan dokumen kedua. Dengan wajah serius ia membuka dan melihat isinya. Begitu mata indah Kensky menangkap huruf besar yang bertuliskan sertifikat rumah, ia segera menoleh dan menatap Dean. "Apa maksudmu? Apa ada masalah dengan ke dua dokumen ini?"


Dean hanya tersenyum. "Aku ingin mengembalikannya padamu. Kau yang lebih berhak memiliki dokumen-dokumen ini, bukan aku. Lihat, nama pemilik yang tercantum di sana adalah ibumu, jadi kau yang lebih pantas memegang kedua dokumen ini."


Kensky terkejut. Ia merapaikan kembali kedua dokumen itu kemudian menatap Dean. "Tapi kenapa?"


Dean mengusap pipi Kensky. "Tujuanku mengambil rumah dan perusahan itu sebenarnya bukan untuk merebut apa yang pernah direbut ayahmu dari ibuku, tapi karena aku tidak ingin perusahan dan rumah Barbara jatuh ke tangan orang yang salah. Dan sekarang, aku ingin memberikan perusahan dan rumah itu kepadamu selaku orang yang pantas dan berhak memilikinya."


Kensky menatap sedih. "Kenapa? Kan sebentar lagi kita akan menikah dan sudah pasti kau yang lebih pantas untuk mengurus perusahan itu."


"Iya, tapi aku cukup tahu diri. Jika kau memang ingin membangun perusahan itu sendiri atau menyuruh ayahmu untuk menanganinya seperti dulu, aku tidak akan melarangmu. Kau yang lebih berhak memutuskan itu, Sky."


Kensky memeluk Dean. Dengan kepala yang bersandar di dadanya ia berkata, "Tidak, Sayang, justru aku akan senang kalau kau yang memegang kendali atas perusahan itu. Mami juga pasti akan senang di alam sana, jika melihatmu yang menangani Kapleng Group. Dan aku yakin, kau pasti bisa membuat nama Kapleng Group mendunia seperti nama Kitten Group saat ini."


Dean tersenyum sayang. Dengan tubuh yang sedang memeluk Kensky ia berkata, "Terima kasih kalau mau mempercayakanku atas hal itu. Dan aku tidak mau berjanji, bahwa diriku bisa membuat Kapleng Group terkenal. Tapi aku yakin kalau suatu saat nama Kapleng Group pasti akan mendunia seperti Kitten Group saat ini."


Kensky menjauhkan kepalanya dari dada Dean. Sambil menatap lelaki itu ia berkata, "Daripada kita buang-buang waktu, lebih baik kita ke kamar saja, mumpung mami dan papi tidak ada."


Tak menunggu lama Dean pun segera berdiri dan menggendong tubuh Kensky.


Wanita itu memprotes. "Sayang, jangan menggendongku. Nanti kalau orang tua kita tiba dan melihatnya, bagaimana?"


"Itu tidak akan terjadi," balas Dean yang terus menyusuri koridor kemudian masuk ke kamarnya.


Clek!


Dean membuka pintu kamar dengan sebelah tangannya. Begitu tubuhnya masuk bersama Kensky yang masih berada dalam gendongan, ia mendorong pintu kamar itu menggunakan kaki agar kembali tertutup.


Wajah Kensky merah merona. Meskipun sudah sering berduaan di dalam kamar, tapi tetap saja perasaan malu ketika lelaki itu menatapnya seperti sekarang ini di atas ranjang membuat jantungnya berdebar-debar. "Akhirnya penantianku tidak akan lama lagi bisa terwujud," bisik Kensky seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Dean.


Lelaki itu berada di atas tubuh Kensky. Sambil menatap sayu dan mengusap pipinya ia menjawab, "Penantian apa?" Tangan Dean yang tadinya berada di pipi Kensky, kini perlahan turun hingga ke dadanya. Diusapnya bagian subur itu dengan punggung tangan seakan membangkitkan gairah dalam diri Kensky.


"Penantian kita akan bercinta, selama ini kan kau selalu menolakku. Jadi, sudah tidak lama lagi kita akan melakukannya dan rasa penasaranku akan terlampiaskan."


Bersambung___