Mysterious CEO

Mysterious CEO
Pengakuan Eduardus Kepada Kensky.



"Jadi tujuan istri Anda menjual Kepleng Group dan rumah itu bukan karena pak Dean, tapi karena dia tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan apa-apa selama putri kandung Anda masih hidup," jelas Mr. Pay.


Eduardus menatap bingung ke arah Mr. Pay. "Jadi Dean yang telah mengatakan semua ini kepada Anda?"


"Benar. Pak Dean juga tahu siapa pengacara gadungan yang disuruh istri Anda untuk memalsukan semua dokumen ini, serta orang yang meyakinkan nona Kensky agar mau menjual perusahan ini kepada beliau."


"Benarkah?"


"Iya, jadi istri Anda membuat semua dokumen ini agar putri Anda percaya dan mau menjual perusahan Anda kepada pak Dean."


Eduardus terkejut. "Rebecca sangat keterlaluan, dia bilang padaku bahwa semua ini perbuatan Dean."


Mr. Pay tersenyum. "Maaf, tapi bukannya saya ingin menuduh istri Anda. Yang lebih membuat saya yakin jika semua ini perbuatan istri Anda, karena setiap kali ingin mencari Anda di rumah beliau selalu banyak alasan. Begitu juga dengan orang kantor, ketika mereka ingin datang ke rumah untuk membesuk Anda, istri Anda melarang kami dengan alasan Anda sedang sekarat dan tidak boleh diganggu."


Eduardus menggeleng-geleng kepala.


"Kalau memang ini semua perbuatan pak Dean, tidak mungkin beliau akan mengatakan masalah ini kepada saya yang selaku kuasa hukum Anda. Dan jika memang istri Anda benar-benar mencintai Anda, beliau tidak mungkin melakukan ini semua hanya karena uang. Sudah jelas istri Anda lebih memilih uang daripada Anda, Pak."


Eduardus tampak berpikir. "Benar juga, kalau Dean memang ingin balas dendam kenapa dia harus menceritakan masalah ini kepada Mr. Pay?" katanya dalam hati lalu menggeleng kepala, "Rebecca memang kelewatan, aku harus memberinya pelajaran. Kita akan memprosesnya ke jalur hukum, Mr. Pay. Aku tak peduli meskipun dia istriku, tapi sikapnya kepadaku benar-benar keterlaluan."


"Itu sudah pasti, tapi sebaiknya saya jangan menampakan diri di depan istri Anda dulu untuk saat ini."


"Kenapa?"


"Tempo hari saya bersikeras ingin menemui Anda di tempat pengobatan. Mungkin tidak ingin kejahatannya terungkap, istri Anda menghubungi pak Dean untuk meminta bantuan. Istri Anda ingin pak Dean menyingkirkan saya sebelum hari Kamis itu tiba. Hari kamis di mana istri Anda akan mengajak saya ke tempat pengobatan yang beliau sebutkan kepadaku."


Eduardus berdecak. "Sudah gila. Tempat pengobatan di mana, sedangkan aku waktu itu dibawa Mr. Bla keluar dari rumah itu? Benar-benar wanita gila."


"Nah, mungkin saja karena beliau sendiri tidak tahu di mana Anda berada waktu itu, jadi beliau menghubungi pak Dean dan beliau memberitahukannya padaku."


"Dean memberitahukannya pada Anda?"


"Iya, pak Dean sendiri yang menghubungi saya dan menceritakan hal itu. Beliau juga yang melarang saya untuk menampakan diri, agar istri Anda tahu bahwa pak Dean sudah menyingkirkan saya. Mungkin jika tidak ada pak Dean waktu itu, saya tidak akan bertemu dengan Anda hari ini."


"Ya, Tuhan, kenapa dia begitu baik padaku sedangkan dulu aku begitu jahat kepadanya?" kata Eduardus dalam hati.


Di sisi lain.


Begitu tiba di rumah Kensky langsung menaiki tangga. Ia bahkan tidak peduli Rebecca telah menyapanya dengan kata-kata manis yang dia tahu hanya dibuat-buat.


Clek!


Kensky masuk ke kamarnya, dan hal petama yang ia lakukan adalah mencari ponsel. Matanya jelalatan sambil mengingat kapan ia meletakan benda itu dan ada di mana.


Zet!


Matanya mendapati benda itu di atas ranjang. "Perasaan aku meletakannya di atas nakas," kata Kensky dalam hati.


Ia ingat kalau semalam meninggalkan Soraya di dalam kamar. Saking sakit hatinya dan terlalu banyak pikiran, ia bahkan lupa mengunci pintu dan membiarkan wanita itu di dalam kamar. Sambil duduk di atas ranjang Kensky mengotak-atik ponselnya dan ....


Zet!


Lusinan panggilan dari Dean terpampang di panggilan tak terjawab. Kensky ingin menekan radial, tapi tidak jadi karena mengingat hari ini ia akan menemui lelaki itu. Ia pun meletakan kembali ponselnya di atas meja dan masuk ke kamar mandi.


***


Soraya dan Rebecca sedang berada di ruang makan. Karena hanya berdua mereka saling diam tanpa bicara apa-apa. Rebecca masih marah kepada Soraya, karena telah menyebutkan nama Dean kepada Kensky. Begitu juga Soraya. Ia tidak ingin meminta maaf, karena merasa sikap ibunya itu sangat egois.


"Mana Kensky?" Suara Eduardus mengejutkan kedua wanita itu.


Rebecca berdiri. "Sayang, kau ingin sarapan?"


Eduardus tak menjawab. "Soraya, panggilkan Kensky. Katakan aku menunggunya di ruang tamu."


Spontan Soraya berdiri. "Baik, Ayah."


Eduardus hendak berlalu, tapi suara Rebecca menghentikan langkahnya


Lelaki itu berbalik. "Besok aku akan mengirimkan surat perceraian kita. Dan sebaiknya mulai sekarang kau dan anakmu berkemas lalu keluar dari sini."


Rebecca terkejut. Ia hendak berbicara, tapi tubuh Eduardus sudah berlalu di balik tembok pembatas. "Bercerai? Keluar dari sini? Ya, Tuhan, aku tidak ingin itu terjadi, aku tidak ingin hidup di jalanan."


Di sisi lain.


Tok! Tok!


Soraya mengetuk pintu. "Sky? Apa kau di dalam?"


Clek!


Sosok Kensky muncul dari dalam kamar. "Ada apa?" ketusnya.


"Ayah menunggumu di ruang tamu."


Tanpa berkata apa-apa Kensky langsung menutup pintu kamarnya dengan kasar.


Brak!


Soraya memaki-maki dalam hati. "Seandainya ini rumahku, sudah lama aku akan mengusirmu dari sini." Tak ingin lama-lama di sana Soraya segera turun dan kembali ke ruang makan. Dilihatnya sang ibu sedang berdiri dengan perasaan gelisah, "Mana ayah?"


Rebecca terkejut. Dengan cepat ia menoleh dan menatap anaknya. "Kita harus melakukan sesuatu, Soraya. Mama akan diceraikan dan kita disuruh keluar dari rumah ini secepatnya."


"Mama serius?" Ekspresi Soraya tak kalah terkejut.


"Iya, Nak, kita harus melakukan sesuatu. Mama tidak punya rumah. Dan jika kita diusir dari sini, kita akan tinggal di mana?"


Soraya tampak berpikir. "Aku tahu caranya, aku akan membuat mereka tidak akan mengusir kita."


Wajah Rebecca berubah. "Cara apa, Soraya? Apa yang akan kau lakukan?"


Soraya menatap ibunya. "Mama tenang saja, yang pasti kita tidak akan diusir dari sini."


Di sisi lain.


Sambil membaca koran Eduardus duduk di ruang tamu.


"Pagi, Pi," sapa Kensky yang muncul tiba-tiba.


Eduardus menoleh dan tersenyum. "Pagi. Duduklah, Nak."


Kensky mengambil posisi di depan sang ayah. Dengan kaki saling bertumpang ia menatap Eduardus lekat-lekat.


"Maafkan papi, Nak. Selama ini papi tidak pernah menceritakan masa lalu papi padamu dan ibumu Barbara."


Kensky menunduk sesaat. Memang itulah yang ia harapkan dari Eduardus: penjelasan. Pengakuan Rebecca semalam yang menyebutkan Dean adalah anak tiri Eduardus cukup membuatnya terkejut.


"Kau jangan menyalahkan Dean, dia tidak salah. Yang salah di sini adalah papi."


Kensky terkejut. "Tapi kan dia telah menjahati, Papi?"


"Benar, Sky. Tapi jika dibandingkan dengan perlakukan papi terhadap dia dan ibunya dulu, kejahatannya tidak sebanding dengan apa yang pernah papi lakukan terhadap mereka."


Kensky terdiam, pengakuan Eduardus hari ini mengingatkannya pada curhatan Dean malam itu. Matanya pun langsung berkaca-kaca membayangkan penyiksaan yang diberikan ayahnya kepada Dean.


Eduardus mendongak, ia menatap wajah Kensky dan terkejut saat melihat anaknya menangis. "Kenapa kau menangis, Sky?"


Wanita itu menarik cairan hidungnya. "Dean sudah pernah menceritakan kisahnya itu kepadaku, Pi. Aku sudah mendengarnya, tapi dia tidak bilang kalau lelaki itu adalah Papi."


Eduardus menunduk. "Seandainya papi bisa bertemu dengannya dan minta maaf ... tapi itu tidak mungkin, Sky. Dia sangat membenci papi, papi telah merebut semua milik mereka dan mengusir mereka. Jadi, sudah sepantasnya jika dia ingin merebut perusahan dan rumah kita. Bahkan jika dibandingkan dengan harta yang papi rebut, kekayaan kita tidak seberapa dengan kekayaan yang papi rampas dari mereka dulu."


Bersambung___