Mysterious CEO

Mysterious CEO
Dilema.



Kensky menatap Tanisa dengan mimik wajah sedih. "Sebenarnya ada hal yang belum aku ceritakan kepadamu," katanya lemas, "Sebenarnya aku ingin sekali bertemu denganmu dan menceritakan semuanya, tapi selama ini waktuku terlalu sibuk."


"Soal apa?" tanya Tanisa yang kini sudah duduk di hadapannya.


Kensky mengeluarkan ponsel canggihnya dari dalam tas dan memperlihatkannya kepada Tanisa.


"Cie handphone baru," ledek Tanisa sambil menatap benda itu.


"Aku tidak membelinya, tapi handphone ini pemberian seseorang yang tidak aku kenali."


Mata Tanisa terbelalak. "Serius? Kapan? Siapa dia? Pasti dia sangat kaya."


"Kau ingat kan saat aku datang kepadamu dengan tubuh yang basah kuyup tempo hari?"


"Iya, aku ingat. Bahkan sangat ingat," katanya seraya menahan tawa.


"Malamnya aku dapat kiriman tanpa nama. Aku pikir isinya apa, ternyata ini."


Kensky memberikan benda itu kepada Tanisa.


Sahabatnya itu pun mengambil ponsel itu kemudian memeriksanya. "Kau beruntung, Sky. Sangat jarang ada orang yang mau memberikan hadiah kepada orang asing dengan harga semahal ini. Tapi aneh, kalau dia tidak mengenalmu kenapa dia mau memberikanmu handphone semahal ini?" Mata Tanisa terus menatap benda itu.


"Itu dia masalahnya, Tan. Aku juga baru tahu hari ini."


Tanisa menatap wajah Kensky dengan alis berkerut. "Maksudmu?"


"Orang yang memberikan ponsel ini ternyata laki-laki yang dipilih ibuku, dia calon suamiku."


Tanisa terkejut. "Calon suami? Lalu Dean bagaimana? Bukannya dia juga calon suami pilihan ayahmu?"


Kensky membuang napas panjang. "Itulah yang membuat aku bingung, Tan. Di satu sisi aku ingin menyutujui permintaan Dean demi perusahan itu, tapi di satu sisi lagi aku sudah punya laki-laki yang dipilih oleh mami sebagai calon suamiku."


"Memangnya kamu dan laki-laki pilihan ibumu itu sudah bertemu?"


"Belum," jawab Kensky lemah.


"Kalau begitu kenapa kamu harus bingung? Kan kau tinggal bilang padanya, kalau kau sudah punya pacar. Sudah beres."


"Tidak segampang itu, Tan."


"Helo, Sky! Dean itu CEO di perusahan besar. Siapa yang tidak tahu Kitten Group itu seperti apa? Dia bahkan bisa membelikanmu handphone sejenis ini dalam jumlah banyak. Satu kontener pun bisa dia belikan untukmu."


"Tapi laki-laki pilihan mami juga itu adalah CEO, Tan. Hanya saja dia tidak bilang kalau dia CEO di perusahan apa. Itu sebabnya dia menaruh nama kontaknya dengan sebutan itu. Jadi sampai sekarang aku sendiri tidak tahu namanya siapa."


Mata Tanisa terbelalak. "Dia juga CEO? Kau serius?"


Kensky tersenyum saat mengingat kembali waktu pertama kali ia menghidupkan ponsel itu yang sudah terdapat satu kontak bernama Ceo. "Awalnya aku sudah curiga saat wallpaper ponsel ini adalah foto mami. Tapi aku tidak berpikir kalau dia adalah laki-laki yang mami jodohkan denganku, aku pikir dia hanya kerabat atau keluarga mami. Tapi setelah aku membuka kotak yang tempo hari mami berikan kepadaku, ternyata di dalam kotak itu ada foto mami masih muda yang sedang duduk sambil tertawa bersamanya. Usia laki-laki di foto itu sekitar delapan tahunan kalau tidak salah."


Alis Tanisa berkerut. "Dari mana kau bisa tahu kalau laki-laki di foto itu adalah dia?"


Kensky menarik napas panjang. "Di dalam kotak itu terdapat foto dan juga buku harian mami. Di dalam buku itu terdapat kata-kata mami yang sama persis dengan pesan yang dikirimkan laki-laki itu saat pertama kali aku menyalakan ponsel ini. Jadi karena penasaran, aku menghubungi dia dan bertanya kalau benar dia adalah laki-laki pilihan mamiku. Dan ternyata benar, dia dengan jujur langsung mengakuinya kalau dialah orang yang ada di foto itu bersama mami."


Tanisa berdecak. "Tapi kan bisa saja dia mengada-ngada."


Kensky menggeleng. "Tidak, Tan. Bahkan saat aku tanya kalau benar dia adalah calon suami pilihan mami, dia malah balik bertanya soal kotak itu. Kalau memang dia hanya mengada-ngada, mana mungkin dia tahu soal kotak itu."


"Benar juga, sih. Lalu sekarang dia ada di mana? Apa kalian tidak punya janji untuk bertemu atau kencan di mana, gitu?" ledek Tanisa sambil menyesap kopinya lagi.


Kensky menggeleng pelan. "Dia bahkan tidak mau menyebutkan namanya. Mami juga tidak mencantumkan nama dan alamatnya. Dan sayangnya tadi saat aku hendak bertanya apa hubungannya dengan mami, ponsel ini tiba-tiba mati. Aku mencoba untuk mehubungi lagi, tapi nomornya sudah tidak aktif," Kensky membuang napas panjang, "Aku bingung, Tan. Menurutmu sebaiknya aku pilih siapa?"


"Menurutmu yang paling penting siapa?"


"Keduanya," jawab Kensky.


Tanisa tersenyum, "Bisa kau deskripsikan padaku sepenting apa mereka berdua di matamu?"


Tanisa melepaskan kalengnya di atas meja kemudian melipat kedua kakinya hingga duduk bersilang. "Aku paham maksudmu. Hmm, sekarang kita bicara menyangkut perasaan, ya? Menurut kata hatimu saja, siapa di antara mereka berdua yang paling kau sukai?" tanya Tanisa.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel dari samping mengejutkan Tanisa dan Kensky. Ia mengambil ponsel itu dan melihat layarnya.


"Siapa, Tan?"


"Ceo," jawab Tanisa seraya menyodorkan ponsel itu kepada Kensky.


Kensky pun dengan cepat menyambungkan panggilannya. "Halo?" sapanya dengan wajah bersemu merah.


"Halo, Sayang. Apa aku mengganggumu?"


"Tidak, kok," jawab Kensky, "Maaf soal tadi, ponselku kehabisan baterai."


"Tidak apa-apa. Kau di mana sekarang?"


"Aku sedang bersama sahabatku di apartemennya."


"Apartemen? Di mana itu?"


Kensky menyebutkan alamatnya.


"Ya, sudah. Kalau begitu nanti kabari aku kalau sudah pulang, ya? Aku ingin melanjutkan pembicaraan kita.


"Iya."


Tut! Tut!


Kensky memutuskan panggilannya. Sedangkan Tanisa berseru girang. "Apa yang dia katakan sampai wajahmu merah begitu, hah?"


"Dia tanya kalau aku di mana, katanya dia ingin bicara soal pembahasan yang sempat terputus tadi."


"Ya, ampun, Sky. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Dean saat kau tolak dengan alasan sudah punya calon suami. Begitu juga sebaliknya dengan lelaki yang namanya aneh itu, dia pasti akan murka jika tahu saingannya pemilik perusahan terkenal di seluruh Amerika dan Eropa."


Ting! Tong!


Bunyi bel pintu mengejutkan mereka. "Sebentar, ya," kata Tanisa seraya beranjak dari sofa.


Kensky sendiri masih tetap di posisinya sambil menikmati kopi. Namun saat melihat jendela yang terbuka, ia pun beranjak untuk mengintip keluar. Dilihatnya pemandangan kota yang begitu ramai. "Mami, aku harus bagaimana?" lirihnya.


"Sky, ada yang mencarimu."


Suara Tanisa membuat Kensky menoleh. "Sia ... Dean?!" Matanya terbelalak melihat sosok lelaki yang berdiri di belakang Tanisa.


Dean tersenyum lebar. "Iya, aku di sini."


"Sedang apa kau ...," Kensky berdiri di hadapan Tanisa dan Dean. Diborongnya tubuh lelaki itu yang hanya mengenakan celana training hitam dan kaos oblong berwarna putih, "Dari mana tahu aku ada di sini?"


"Kau kan calon istriku, jadi sudah sepantasnya aku tahu di manapun kau berada. Lagi pula salahmu sendiri kenapa pulang tanpa memberitahuku dulu, aku kan bisa mengantarmu."


Kensky dan Tanisa saling menatap. Alis Kensky berkerut, sementara Tanisa menaikan kedua alisnya sebagai jawaban tidak tahu.


"Kalian tidak menyuruhku duduk?" tanya Dean basa-basi.


"Oh, maaf. Ayo, silahkan duduk. Saya ambilkan minuman dulu," pamit Tanisa seakan melarikan diri.


Kensky menatap tajam dan Dean mengambil posisi duduk di dekat gadis itu. Karena posisi mereka sangat dekat, Dean menarik tangannya hingga tubuh Kensky jatuh di atas pangkuannya.


Bersambung___