
"Laki-laki itu. Eh, maksudku laki-laki pilihan ibuku.
"Oh, pantasan saja dari tadi aku menghubingimu tidak bisa. Ternyata kau sedang bicara dengannya."
Kensky tahu Dean sedang sensitif karena kecemburuannya terhadap laki-laki lain. Tapi demi menjaga hubungan mereka, mau tidak mau ia harus jujur kepadanya. "Tadi begitu selesai bicara denganmu tiba-tiba saja dia menghubungiku. Padahal sudah sekian lama dia tidak menghubungiku, tapi malam ini dia kembali meneleponku."
"Apa yang dia katakan?"
Kensky bergerak dan duduk di kursi. "Dia mengajakku menikah."
Dean diam cukup lama. Dan hal itu membuat Kensky khawatir. "Dean?"
"Kau menerima lamarannya?" tanya Dean tiba-tiba.
"Aku belum memberi keputusan. Hanya saja, aku mengajak dia bertemu secara langsung."
"Untuk apa?" Nada Dean terdengar tidak senang.
"Aku ingin mengatakannya secara langsung, aku ingin bilang padanya siapa yang akan kupilih di antara kalian berdua sebagai suamiku."
"Kenapa hanya untuk mengatakan itu kalian harus bertemu? Kau kan bisa mengatakannya lewat telepon."
Kensky tersenyum. "Maafkan aku, Sayang. Tapi ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan dia."
"Soal apa?"
"Aku ingin mencari tahu latar belakang keluarga ibuku. Hanya dia satu-satunya orang yang mengenal ibuku. Jadi aku rasa dia pasti tahu siapa nenek, kakek, paman dan saudara ibuku yang lainnya."
"Memangnya selama ini ayahmu tidak pernah menceritakannya?"
"Tidak, sejak aku lahir ke dunia ini yang aku tahu kedua orangtuaku tidak pernah akur. Bahkan saat ibuku meninggal tidak ada kerabat maupun keluarganya yang ikut hadir dalam acara pemakaman. Dan itu adalah hal yang cukup mesterius bagiku, Dean. Jadi satu-satunya cara untuk mencari informasi tentang mereka, hanya melalui laki-laki itu. Dia orang satu-satunya yang aku tahu mengenal ibuku."
"Kau yakin dia mengenal ibumu?"
Kensky menarik napas panjang. "Saat ulangtahunku yang ke tujuh tahun, ibu memberikanku sebuah kotak hadiah. Kotak yang ternyata adalah pemberian terakhirnya untukku. Aku sendiri tak percaya jika malam itu adalah malam terkahir aku bersama ibu dan sebelum ibu pergi hingga kecelakan merenggut nyawanya, ibu berpesan agar aku membuka kotak tepat di usia yang kedua puluh tiga tahun. Aku menurut dan membukanya tepat di ulangtahunku yang kemarin."
"Apa isi kotak itu?" tanya Dean.
"Isinya sebuah buku harian dan foto. Foto di mana ibuku masih muda dan sedang duduk bersama laki-laki itu. Usianya di foto itu mungkin sekitar delapan tahun, tapi wajahnya tidak jelas sehingga aku sulit mengenalinya."
"Lantas dari mana kau bisa tahu kalau itu dia?"
Inilah waktu yang tepat bagi Kensky untuk menceritakan semuanya. "Kau ingat saat pertama kita bertemu hingga pakaianku basah semua?"
"Iya."
"Malam itu ada yang mengirimku sebuah paket. Paket itu isinya ponsel, ponsel itulah yang selama ini aku gunakan. Aku sendiri heran kenapa orang itu bisa tahu ponselku rusak. Tapi begitu aku membuka dan mengaktifkan benda itu, foto ibuku terpampang di sana. Aku terus mencari dan berharap ada petunjuk lain, tapi tidak ada. Kontak telepon di dalam ponsel itu justru hanya terdapat satu nama yang bertulis ceo."
"Ceo?" ulang Dean.
"Iya, si pengirim paket itu menjuluki kontaknya dengan sebutan ceo. Tapi begitu aku menanyakan namanya saat dia menelepon, dia sama sekali tidak mau mengatakannya. Dia bilang panggil saja dia dengan sebutan itu, karena profesinya adalah ceo."
"Ceo di mana? Siapa tahu dia adalah relasiku."
"Dia tidak mau mengatakannya, Sayang. Tapi menurut pengakuannya, dia selalu memantauku di manapun aku berada. Kata-kata itu sama persis dengan yang tertulis di buku harian ibuku. Jadi, begitu membaca buku itu aku langsung menghubungi dia dan bertanya soal perjodohan yang dilakukan ibuku secara diam-diam. Dan ternyata benar, dia adalah laki-laki yang ada di foto itu. Bahkan belum sempat membahas soal kotak itu, dia yang lebih dulu bertanya kalau aku sudah membuka kotak itu dan di situlah aku percaya kalau itu benar-benar dia."
"Apa ibumu tidak bilang siapa dia dan di mana dia berada?"
"Tidak, ibuku sama misteriusnya dengan dia. Ibuku bahkan tidak mau menyebutkan nama dan di mana laki-laki itu berada."
"Kalau kau sudah mendapatkan informasi tentang keluargamu dari dia, apa kau akan menerima lamarannya?"
Kensky menggeleng. "Tidak, Dean. Aku hanya ingin menikah denganmu, sumpah."
"Kalau begitu tidak usah bertemu dengannya. Kau tidak boleh bertemu dengannya, Sky."
"Tidak ada tapi-tapian, Sky. Pokoknya kau tidak boleh bertemu dengannya, titik."
"Dean, aku___"
Tut! Tut!
Lekaki itu memutuskan panggilan dan Kensky hanya bisa menerima dengan mata berkaca-kaca. "Ya, Tuhan, bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Mami, kumohon bantu aku. Berikan aku petunjukmu, mami."
***
Setelah malam berlalu, keesokan hari Kensky terbangun akibat getaran ponsel dari bawah bantal. Sambil memejamkan mata ia menyusupkan tangannya untuk meraih benda itu. Dan saat tangannya menemukan ponsel itu, perlahan Kensky membuka matanya. Dengan senyum lemah ia segera menyambungkan panggilannya.
"Halo, Dean?" sapanya lemah.
"Sayang! Kau kenapa? Kau sakit?" tanya Dean dari balik telepon.
Kensky mengubah posisinya menghadap langit-langit kamar. "Aku tidak apa-apa, aku juga tidak sakit."
"Lalu kenapa suaramu seperti itu?"
"Aku baru bangun," balas Kensky,
"Jam berapa sekarang?"
"Baru jam tujuh. Memangnya semalam tidur jam berapa? Oh, iya, soal semalam ... aku minta maaf karena sudah membentakmu."
Kensky beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. "Tidak apa-apa. Aku mengerti, kok."
"Tapi itu tidak akan mengubah keputusanku, Sky. Pokoknya aku tidak mau kau bertemu dengannya. Apapun alasamu, aku tidak akan pernah mengijinkan kau bertemu dengannya meski hanya sedetik saja."
Sambil duduk di atas kloset Kensky mendengar suara Dean. Ia tahu lelaki itu cemburu, tapi untuk saat ini ia lebih baik menurut. "Iya, aku tidak akan bertemu dengannya."
"Janji?"
"Aku janji."
"Baiklah, sekarang aku siap-siap dulu. Hari ini aku akan menghadiri pertemuan dengan beberapa relasi. Setelah itu aku juga akan mengikuti rapat dengan para direksi. Kemungkinan hari ini aku akan sangat sibuk. Jadi kalau aku tidak bisa menghubungimu, begitu selesai aku akan langsung meneleponmu."
"Iya. Jangan nakal, ya?" balas Kensky.
"Pasti, Sayang. Kau juga."
"Iya," kata Kensky sambil tersenyum kemudian memutuskan panggilannya.
Karena tadi ia sedang buang air kecil, sekarang Kensky berdiri dan keluar dari kamar mandi untuk menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
Ting!
Bunyi notifikasi membuat Kensky menoleh. Diraihnya benda itu dan melihat isi pesannya.
Zet!
"Aku sudah tiba di Jerman. Kau ingin kita bertemu di mana?"
Pesan yang ternyata dari ceo membuat Kensky terdiam. Ia tak menyangka jika laki-laki itu begitu cepat menepati janjinya. Sejenak Kensky berpikir, apakah ia harus menemui laki-laki itu atau menuruti perkataan Dean?
"Ya, Tuhan, bagaimana ini? Jika aku melanggar janji Dean itu berarti aku sudah berbohong padanya. Tapi kalau aku mengabaikan ceo, itu sama juga aku membohonginya," rengek Kensky, "Oh, mami, anakmu ini harus bagaimana? Apa aku harus menemui dia atau menuruti perkataan Dean?"
Bingung harus mengambil tindakan yang mana, Kensky mengabaikan pesan itu kemudian masuk ke kamar mandi. Di dalam sana ia berendam sambil memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil. Setelah hampir setengah jam ia memikirkan tentang keputusannya itu, Kensky pun sudah punya jawabannya.
"Maafkan aku, Tuhan. Semoga ini keputusan yang terbaik. Lagi pula Dean kan tidak akan tahu, dia di Amerika dan aku di Eropa. Maafkan aku, Dean, tapi ini demi keluargaku. Aku janji setelah bertemu dengan laki-laki itu dan tahu tentang keluarga mami, aku tidak akan lagi berkomunikasi dengannya, aku janji."
Bersambung___