Mysterious CEO

Mysterious CEO
Berdua.



Kensky mulai terbiasa dengan sapuan bibir Dean. Serangan nikmat yang menggetarkan hati itu membuat ia akhirnya menggerakan bibir untuk membalas ciuman Dean.


Lelaki itu terkejut. Perlahan ia melepaskan ciumannya dan menatap wajah Kensky yang masih memejamkan mata. "Kau suka?" bisiknya lalu mengecup leher Kensky.


******* kecil berhasil lolos lagi dari mulutnya. Perlahan tangan gadis itu terangkat dan mengalung di leher Dean. Dengan mata tertutup ia tersenyum lembut lalu menjawab, "Aku suka."


Dean mengecup bibirnya lagi.


Kensky tersenyum. "Kau tahu, ini pertama kalinya aku berciuman. Dan aku senang karena orang yang menciumku adalah calon suamiku."


Dean menyipitkan mata. "Apa itu berarti kau menerimaku sebagai calon suamimu?"


Tanpa bersuara Kensky hanya mengangguk pelan.


Dean tersenyum dan kembali merapatkan wajahnya ke telinga Kensky. "Apa alasannya kau mau menerimaku, hah?"


Kensky mengelus punggung Dean dengan lembut. "Karena aku juga menyukaimu. Aku menyukaimu, Dean."


Dean tersentak dan langsung menjauhkan wajahnya. Ia memborong semua wajah gadis itu dengan hasrat yang terpendam. Ia tahu Kensky sedang mabuk, tapi justru ia tahu orang mabuklah yang selalu berkata jujur. "Kau menyukaiku apa hanya karena aku ini calon suamimu?" katanya dengan suara parau lalu mendekatkan wajahnya lagi ke leher Kensky.


Gadis itu hendak menggeleng saat Dean mengecup lehernya, tapi kecupan lembut itu terlalu nikmat sehingga tangan Kensky langsung meremas rambut Dean. Ia mendesah pelan lalu menjawab, "Karena kau lelaki idamanku, kau tipe lelaki yang kuinginkan."


Tak menunggu lama Dean langsung menyerang leher Kensky dengan bibirnya. Sapuan lidahnya yang basah dan dingin membuat Kensky terlena. *******-******* kecil yang keluar dari mulut Kensky bagaikan irama yang mengalun merdu di telinga Dean. Tangannya perlahan menyusuri tubuh Kensky untuk mencari-cari di mana letak ritsleting gaun itu. Lampu kamar yang begitu remang berwarna kuning membuat Dean semakin sulit menemuman ritsletingnya. Dan saat jemarinya menyentuh bagian yang keras di samping tubuh Kensky, Dean tersenyum samar lalu menggerakkan jemarinya untuk membuka ritsleting itu. "Aku akan melepaskan gaunmu, biar kau tidak kepanasan."


Kensky hanya diam tak menjawab.


Setelah gaun itu mulai melonggar di tubuh Kensky, Dean mengangkat wajah untuk melihat reaksinya. Dilihatnya gadis itu diam saja. Hal itu pun membuat Dean kembali menggerakkan tangannya sampai gaun itu terlepas dari tubuh Kensky dan ....


Zet!


Dean terpana saat melihat dada Kensky yang mulus dan kencang itu kini terlihat. Pelindung yang melapisi bagian kenyal itu sangat tipis sehingga membuat bagian pucuknya yang berwarna cokelat itu terlihat.


Dean kemudian mengalihkan pandangannya. Ia menatap wajah lembut yang matanya masih terpejam lalu berkata, "Kau sangat cantik," bisiknya seraya mengusap bagian pucuk itu dengan punggung tangannya.


Kensky tidak berkata apa-apa. Tapi ******* yang keluar dari mulut gadis itu saat punggung jemari Dean mengelus, membuat lelaki itu yakin kalau malam ini misinya pasti akan berhasil. Karena tak ingin usahanya sia-sia, Dean bangkit dari kasur. Dengan hasrat yang menggebu-gebu lelaki itu mendekati nakas untuk menuangkan anggur ke dalam gelas kristal sambil menatap tubuh indah Kensky yang kini sedang menggeliat di atas ranjang.


"Dean, kau di mana?" Kensky mencoba bangun, tapi kepalanya terlalu pusing hingga membuatnya kembali terbaring.


Dean pun segera menghampiri dengan mulut yang penuh anggur. Perlahan ia menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Kensky.


Setelah Kensky menelan anggur itu, Dean menunduk dan memagut bibirnya. Lagi-lagi respon gadis itu membuat Dean bertanya-tanya dalam hati, "Apakah jika sedang tidak mabuk dia mau diperlakukan seperti ini?" Dean tak peduli. Tangannya terus menyusuri setiap lekuk tubuh Kensky hingga wanita itu mengeluarkan erangan-erangan yang mampu membangunkan keperkasaannya yang sedang tertidur. Perlahan ia pun melepaskan bibirnya dan berbaring di samping Kensky.


Gadis itu lagi-lagi tidak merespon dan langsung menghadapkan tubuhnya kepada Dean. Matanya yang masih tertutup membuat lelaki itu tersenyum. "Buka matamu, Sayang. Lihat aku."


Kensky menurut. Perlahan ia mencoba untuk membuka mata, tapi gagal. "Aku tidak bisa, kepalaku sakit dan rasanya pusing sekali."


Dean semakin tersenyum. Tak berkata apa-apa ia segera langsung memeluk Kensky hingga tubuh mereka menempel. Tangannya mengelus punggung gadis itu dengan lembut, dan sambil menyusupkan kepala gadis itu ke dadanya Dean berkata, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu pusing."


Kensky tak merespon. Ia semakin membenamkan wajahnya ke dada Dean untuk mencari posisi nyaman. Aroma woody dari tubuh lelaki itu membuatnya mengantuk.


Perlahan tangan Dean menyentuh pengait bra yang ada di belakang punggungnya. Merasa tak ada perlawanan dari gadis itu, Dean segera melepaskan pelindung itu hingga benda tersebut terlepas. Ia kemudian menunduk menatap Kensky yang hanya diam saja tanpa respon apa-apa. "Di saat seperti ini kau masih bisa tertidur?" kata Dean. Ia tersenyum lebar karena merasa lucu dengan sikap Kensky, "Tapi sayangnya aku tidak akan membuatmu tertidur, Sayang."


Tak ingin menghentikan niatnya, Dean perlahan membaringkan tubuh Kensky hingga terlentang. Pelindung yang tadi sudah terlepas, kini diambil kemudian dilemparkannya ke lantai secara asal hingga tubuh bagian atas Kensky telanjang. "Kau sangat cantik, Kensky. Kau sangat cantik," perlahan Dean menunduk dan mendekatkan wajahnya ke bagian subur itu untuk menghirup aromanya, "Brengsek! Kau membuatku gila, Kensky."


Tak kuasa menahan godaam mata, Dean menyentuh pucuk bagian itu dengan lidahnya. Dan karena tak mendapatkan reaksi apa-apa dari sang gadis, Dean langsung memasukan pucuk berwarna pink itu ke dalam mulutnya. Agar menadapat perlakuan yang adil, Dean melakukan hal yang sama di bagian pucuk yang satu lagi.


Kensky terbangun. Rasa nikmat yang diciptakan oleh mulut Dean di dadanya membuat gadis itu sadar. Perlahan ia membuka mata dan melihat tubuh Dean yang kini berada di atas tubuhnya. "Dean?" bisiknya hampir tak terdengar.


Dean menghentikan gerakan mulutnya dan menatap Kensky. "Apa aku menyakitimu?" tanyanya lalu menggenggam tangan Kensky.


Gadis itu tersenyum. "Tidak, aku justru suka kau melakukan itu. Rasanya sangat enak."


Dean balas tersenyum lalu merapatkan wajah mereka. "Benarkah?" ia berbisik dengan bibir yang saling menempel, "Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu." Tanpa menunggu jawaban Kensky, Dean kembali menyerang bagian itu dengan serangan bibir dan lidah secara bergantian serta perlakuan yang lebih kasar dari sebelumnya.


Kensky tetap diam dan sangat menikmati. "Oh, Dean ... Jangan berhenti. Rasanya enak sekali, Dean." Kensky menggigit bibir saat rasa nikmat terus menyerangnya.


Karena sama-sama saling menikmati, Dean menuruti semua yang diperintahkan oleh pikirannya. Tubuh mereka hangat oleh gairah yang meluap-luap ingin segera meledak.


Perlahan Dean menyusuri tubuh Kensky dengan bibirnya. Mulai dari dada, perut, hingga ke bagian lembut di antara perut dan ....


Dean menghentikan serangan bibirnya. Sambil menatap Kensky ia berkata, "Kau ingin aku menghentikannya?"


Kensky yang juga sudah diliputi gairah yang tinggi justru tak ingin lelaki itu berhenti. Ia menggeleng pelan. Matanya yang masih terpejam hanya terbuka sedikit seakan mengintip. "Jangan, kumohon jangan berhenti."


Dean tak tahan lagi. Perkataan yang keluar dari mulut Kensky justru terdengar seperti ******* yang semakin membuatnya bergairah. Dengan lembut ia pun membuka kedua kaki gadis itu hingga terkangkang. Balutan kain hitam transparan yang menutupi bagian mulus berwarna kemerahan itu membuat bara dalam diri Dean semakin membara.


Bersambung___