Mysterious CEO

Mysterious CEO
Kecemburuan.



Dean terkejut, tapi senang. Sikap cemburu Kensky bahkan membuatnya gemas dan ingin sekali memeluknya. "Kenapa, kau tidak setuju? Baiklah, kalau begitu aku akan memecat Soraya dan mengembalikan Kim sebagai sekertarisku."


"Jangan!" Tangan Kensky sontak terulur dan meraup kedua pipi Dean, "Kumohon jangan lakukan itu. Kan kau bisa menyuruh Soraya menjadi asisten Mr. Hans dan Kim tetap menjadi sekertarismu di sini."


Dean tersenyum. "Kau cemburu aku dekat dengan soraya?"


Kensky menunduk. Sesaat ia teringat akan perkataan Soraya tempo hari di rumah sakit. Sambil menatap Dean ia lalu berkata, "Bisakah kau jujur kepadaku?"


Dean mengusap pipi Kensky. "Aku akan selalu jujur kepadamu."


"Apa benar Soraya calon istrimu?"


Dean langsung menggeleng kepala. "Itu tidak benar, Sayang. Percayalah padaku, calon istriku hanya satu di dunia itu, namanya Kensky Revina Oxley."


Ingin rasanya Kensky tak mempercayai kata-kata itu. Tapi mengingat pengakuan Mrs. Stewart tempo hari dan perkataan Rebecca mengenai perjodohan yang direncanakan ayahnya, hal itu membuat Kensky yakin bahwa lelaki itu tidak mungkin membohonginya. Ia pun hanya diam sambil menatap Dean.


Namun ternyata sikap diam Kensky membuat Dean gelisah. Sambil berdiri ia pun berkata, "Maafkan aku, Sayang. Tapi keputusanku sudah bulat, Soraya akan tetap menjadi sekertarisku dan Kim akan menjadi asistennya Mr. Hans."


Kensky kesal. Dalam hati ia berkata, "Kenapa harus Soraya, sih? Kan wanita itu juga menyukai Dean. Pasti kalau aku tidak ada di sini Soraya akan terus menggodanya. Tidak, itu tidak boleh terjadi."


Baru saja ingin melontarkan ketidaksetujuannya, Dean segera menghampiri meja lalu kembali dan berkata, "Inilah bukti kenapa aku memilih Kim untuk menggantikan posisimu." Dean duduk di samping Kensky lalu memperlihatkan sebuah video yang ada di ipadnya.


Mata Kensky membulat. "Ini, kan ...," ia menatap Dean dengan wajah tak bisa diekspresikan secara nyata, "Ini rekaman kapan? Dan sejak kapan kau meletakkan cctv di ruangan kami?"


Dean tersenyum lebar. "Ini baru saja, coba kamu perhatikan beberapa menit sebelum kamu keluar dari sana."


Kensky menatap rekaman cctv yang ditujukan Dean itu dengan teliti.


"Dan seperti dugaanku, mereka pasti akan melakukannya ketika kau meninggalkan mereka," kata Dean lalu tertawa.


Kensky masih syok dengan rekaman yang baru saja dilihatnya. "Ya, ampun, aku tak menyangka kalau Mr. Hans berpacaran dengan Kim," Kepala Kensky tersentak menghadap Dean, "Tapi bukannya di perusahan ini ada aturan bahwa sesama kolega dilarang berpacaran."


"Benar, tapi aturan itu sebentar lagi akan dilenyapkan."


Kensky tersenyum lebar. "Tapi kira-kira mereka tahu tidak ya kalau kau sudah tahu tentang hubungan mereka?"


Dean menyandarkan kepalanya di bahu Kensky. Perlahan ia melepaskan ipad itu dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kensky. "Mereka belum tahu, bahkan aku sendiri tidak tahu sejak kapan mereka main sembunyi-sembunyi di dalam kantor ini."


Alis Kensky mengerut bingung. "Kalau begitu dari mana kau bisa tahu mereka menjalin hubungan?"


"Sejak aku menaruh cctv di ruangan kalian," Dean terkekeh, "Kau ingat saat aku menyuruh Mr. Hans memanggilmu di kantin?"


Kensky tampak berpikir. "Iya, aku ingat."


"Waktu kau kembali, Kim masih ada di sana, bukan?" tanya Dean sambil menatap profil di samping wajah Kensky.


"Tidak. Tapi seingatku, saat aku hendak masuk ruangan Kim baru saja keluar dengan ekspresi terkejut," ia menatap Dean, "Memangnya kenapa?"


"Dari situlah aku tahu mereka punya hubungan. Jadi di dalam ruangan itu mereka tidak hanya sekedar mengobrol, melainkan ada yang mereka lakukan. Kau ingin melihat apa yang mereka lakukan di sana?"


Wajah Kensky berubah merah. "Tidak usah, yang jelas aku senang kalau memang itu alasan kau memindahkan Kim sebagai asistennya. Tapi apa kau tidak akan memberikan sanksi kepada mereka?"


"Menurutmu?"


"Kenapa?" goda Dean.


"Karena kita juga akan melakukannya." Kensky menoleh dan mencium bibir Dean.


Lelaki itu pun terkejut atas sikap Kensky yang tiba-tiba berubah nakal dan semakin mesum. Ia kemudian melepaskan ciumannya. "Kenapa sekarang kau jadi nakal begini, hah?"


Mata Kensky berubah sayu saat melihat bibir Dean yang begitu menggiurkan akibat hisapannya. "Bukankah kau sediri yang mengajariku?"


Dean mengerutkan alis. "Aku? Aku tidak pernah mengajarkanmu seperti itu, tapi seperti ini." Lelaki itu tersenyum dan membawa Kensky ke dalam pangkuannya. Setelah Kensky duduk di atas pangkuannya, saat itulah mereka saling bertatap dengan pandangan saling menginginkan, "Aku makin cinta kalau kau seperti ini, Sky," bisik Dean.


Keduan tangan Kensky perlahan terulur dan melingkar di tengkuk Dean. Sedangkan sebelah tangan lelaki itu kini melingkar di pinggangnya dan mencium gadis itu. Ciuman panas yang mampu membangkitkan hormon testosteron dalam tubuh mereka hingga saling merespon dan mendamba.


"Kumohon jangan," kata Kenksy saat tangan Dean mulai membuka kancing kemejanya.


Mata Dean semakin sayu. "Kenapa, kau tidak suka?"


"Maksudku jangan berhenti."


Saat itu Kensky hendak bangkit dari pangkuan Dean, tapi lekaki itu mencegahnya. "Mau ke mana?"


"Kita pindah ke pintu, aku takut kalau ada yang masuk tiba-tiba dan melihat kita. Aku tidak ingin mereka tahu soal ini." Kensky segera turun dari pangkuan Dean berlari ke arah pintu. Dengan cepat ia membuka kancing kemejanya untuk memperlihatkan dadanya kepada Dean.


Dengan kecupan lembut Dean menyerang bagian itu. Bagian putih mulus yang selalu membuatnya rindu. "Oh, Sayang. Rasanya aku tak perlu sarapan," bisik Dean.


"Kenapa?" tanya Kensky setengah mendesah.


Bibir Dean kini mengarah ke bagian pucuknya. "Karena mau telah memberikanku sarapan pagi yang enak."


***


Di kediaman keluarga Oxley tepatnya di dalam gudang, tempat di mana surganya barang-barang bekas baik dari jaman Barbara belum menikah sampai dia meninggal. Di dalam gudang itu Rebecca sedang sibuk mencari anak-anak kunci yang merupakan kunci duplikat untuk semua pintu yang ada di rumah besar itu. Rasa penasaran karena sikap Kensky semalam membuatnya ingin membuka kamar gadis itu tanpa sepengetahuannya.


"Semoga saja duplikatnya ada di sini."


Rebecca terus membongkar peti kayu berukuran besar yang memang dikhususkan untuk menyimpan benda-benda penting di rumah itu. Peti di mana ada foto-foto Barbara bersama Kensky saat gadis itu masih kecil dan Barbara masih gadis.


"Ketemu!" seru Rebecca ketika melihat rentenan anak kunci yang bergelantungan pada sebuah besi bulat saat ia mengangkat bingkai foto ukuran sedang. Di dalam foto itu Barbara dan Eduardus sedang mengenakan pakaian pengantin dan saling berpelukan. Tapi Saking senangnya mendapatkan anak-anak kunci itu, Rebecca seakan tidak peduli dengan foto itu. Baginya yang lebih penting saat ini adalah kunci untuk membuka kamar Kensky.


"Semoga saja salah satu di antara mereka ini bisa membantuku."


Dengan segera Rebecca menutup kembali peti itu setelah meletakan kembali barang-barang yang ia geserkan tadi. Rebecca kemudian menutup pintu rungan itu dan keluar. Sambil membawa anak-anak kunci ia menaiki tangga kemudian menuju kamar Kensky.


Satu-persatu anak kunci itu mulai dicoba dan dimasukan ke dalam lubang, lubang di mana letaknya pintu kamar Kensky. Rasa takut jika ketahuan oleh sang pemilik kamar justru tidak berarti bagi Rebecca, daripada gagal mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu.


"Ya, ampun, semoga saja ini keliru," katanya sambil membuka pintu itu dengan anak kunci yang sampai sekarang tidak ada yang cocok.


Zet!


Bersambung___