
Lelaki itu pun seger bergegas pergi menuju kamar di mana ada Kensky. Karena kamarnya berjauhan dengan kamar tamu yang di tempati Kensky saat ini, ia terpaksa berjalan pelan-pelan agar tidak mengganggu penghuni rumah yang lain.
Rumah besar itu ditempat Mrs. Stewart dan lima orang pelayan. Meskipun Dean jarang pulang, ia tidak terlalu khawatir karena banyak yang menemani Mrs. Stewart di rumah itu.
Dean pun tiba di depan kamar Kensky. Dengan hati yang tak karuan akibat perasaan yang dialaminya saat ini, ia memanjatkan doa, berharap semoga pintu kamar itu tidak dikunci. Ia sengaja ingin masuk ke kamar ini dengan cara menyelinap sebab kalau dirinya masuk dan hal itu diketahui Kensky, ia takut tidak bisa mengontrol dirinya sendiri akibat gairah setiap kali berinteraksi dengan Kensky. Dean hanya ingin melihat, memastikan saja sampai rasa rindunya terhadap gadis itu bisa terobati.
Clek!
Senyum Dean kini melebar. Tuhan telah mengabulkan doanya, karena ternyata pintu itu tidak terkunci. Apa itu memang disengaja atau tidak, yang jelas saat ini ia merasa sangat bahagia. Dengan sangat pelan pun ia mulai masuk ke dalam kamar dengan langkah sangat hati-hati.
Zet!
Dean terkejut. "Kenapa gelap sekali? Apa dia suka tidur tanpa lampu?" katanya dalam hati.
Lelaki itu terus berjalan menyusuri kamar. Namun saat tubuhnya tiba di depan ranjang, bunyi percikan air dari kamar mandi mengenai telinganya. Dean menoleh dan ternyata kamar mandi itu tidak dikunci. Cahaya dari dalam sana juga begitu terang sehingga bisa memantulkan sinar sampai ke dalam kamar.
"Ternyata kau suka remang juga, ya," pikir Dean. Ia nyaris tertawa saat membayangkan betapa terkejutnya Kensky jika tahu di dalam kamar itu ternyata ada dia.
Rencananya pun berubah. Jika tadi dia berniat hanya ingin melihat Kensky dan tidak akan macam-macam, kali ini ide nakal pun muncul dalam benaknya. "Ya, Tuhan, maafkan aku. Karena aku sudah di di sini, rasanya aku ingin memberinya kejutan."
Dengan cepat lelaki itu melepaskan semua pakaiannya. Setelah semuanya terlepas hingga tersisa panties, ia kemudian naik ke atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang sangat tebal. "Semoga saja dia tidak menyalakan lampunya. Sebab kalau dia sampai menyalakannya, dia akan tahu keberadaanku."
Tiba-tiba bunyi air dari kamar mandi terhenti. Dean yakin kalau gadis itu pasti sudah selesai. Membayangkan tubuh Kensky telanjang saja sudah membuat keperkasaannya mengeras di balik selimut, apalagi jika tubuh itu akan tidur di sampingnya sampai pagi.
Dengan tubuh segar, bersih dan wangi Kensky keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang melingkar di tubuhnya. "Akhirnya segar juga. Semoga saja ini cara ampuh agar aku bisa tertidur."
Tahu di dalam kamar itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri, Kensky segera melepaskan handuk itu dan melemparkannya secara asal ke lantai hingga tubuhnya telanjang. Apalagi di dalam kamar itu tidak ada pakaian wanita, toh tidak mungkin dirinya tidur mengenakan gaun. Jadi lebih baik ia tidur dengan tubuh tanpa sehelai benang.
Kensky menghambur ke atas ranjang dan menyusupkan tubuh di dalam selimut. Sambil menatap langit-langit kamar ia berkata, "Semoga ini obat terakhir agar aku bisa tidur. Oh, Tuhan, bantu aku."
Gadis itu menarik selimut untuk menutupi tubuh hingga ke batas leher. Ia mencoba memejamkan mata, berharap bisa membuang jauh-jauh pikirannya dari wajah Dean, "Ya, ampun ... kenapa aku terus memikirkannya, ya?" tanya Kensky kepada dirinya sendiri, "Dean, apakah kau juga sedang memikirkanku, hingga aku gelisah memikirkanmu?"
"Itu benar, aku memang sedang memikirkanmu."
Suara berat yang mengenai telinganya mengejutkan Kensky. Dengan cepat ia mengarahkan kepala ke samping dan menatap sosok yang saat ini berada di atas ranjang yang sama. "Dean?!" Dengan cepat pun Kensky menarik selimutnya untuk melindungi diri dari ancaman musuh, "Sejak kapan kau di sini, hah?"
Dean menepiskan selimut yang menutupi tubuhnya hingga batas pinggang. "Sejak aku tidak bisa tidur karenamu," Dean bangun dan menyampingkan tubuh menghadap Kensky. Sambil menompangkan kepala di sebelah tangannya ia berkata, "Aku sangat merindukanmu, Sky. Aku tidak bisa tidur, karena terus memikirkanmu."
Kensky senang ternyata lelaki itu pun sama merindukannya, tapi posisi mereka saat ini membuatnya merasa tidak aman dan merasa terancam. Mungkin jika tubuh seksinya itu tidak telanjang di balik selimut tebal yang kini menutupinya, ia pasti akan duduk bersandar sambil berbicara dengan lelaki itu untuk melampiaskan kerinduan mereka. Tapi karena kondisi tubuhnya saat ini tanpa sehelai benang di balik selimut itu, ia pun terpaksa menyuruh Dean pergi untuk meninggalkannya. "Sebaiknya kau keluar sekarang, Dean. Aku sudah mengantuk."
Dean terkekeh. "Pembohong! Bukannya barusan kau bilang tidak bisa tidur karena memikirkanku, hah?"
Perlahan tangan sebelahnya terangkat untuk memeluk Kensky, tapi dengan cepat gadis itu menarik selimut hingga semuanya menumpuk di tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Dean lagi.
"Tidak apa-apa," balas Kensky sambil menggeleng-geleng kepala, "Aku hanya mengantuk dan ingin tidur saja."
Dean tahu gadis itu berbohong. "Kalau begitu tidurlah. Aku akan menjagamu sampai kau benar-benar tertidur."
Sikap jail Dean pun mencuat. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kensky lalu berbisik, "Kau yakin ingin aku keluar?" godanya.
"Iya, kumohon keluarlah."
Dean menyeringai nakal. Namun bukannya keluar, justru lelaki itu semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Kensky. "Kau berbohong. Kau pasti takut bergairah jika berada di dekatku, kan?"
Kensky tak menggubris. Namun, dalam hati ia membenarkan tuduhan yang dilontarkan lekaki itu. Ia takut dirinya tak bisa mengontrol jika tubuh mereka sudah saling menyentuh satu sama lain.
Dean terkekeh melihat sikap diam Kensky. "Baiklah kalau kau ingin aku keluar. Aku akan keluar, tapi aku harus memeluk dan menciummu lebih dulu baru aku akan keluar."
Zet!
Mata Kensky terbelalak. "Jangan, Dean. Kalau seperti itu yang ada aku akan semakin susah tidur."
Senyum Dean semakin lebar. "Kalau begitu aku akan tetap di sini sampai pagi."
"Brengsek!" umpat Kensky dalam hati. Ada rasa penyesalan mengingat dirinya lupa mengunci pintu kamar tadi saat masuk. Tapi karena sudah terlambat, saat ini ia harus memikirkan bagaimana caranya membujuk lelaki itu agar mau keluar dari kamarnya. "Kumohon mengertilah, Dean."
Dean tersenyum samar. "Baiklah. Aku akan mengerti, tapi kau juga harus mengerti padaku. Sedikit saja kecupan yang kau berikan, aku akan langsung keluar dari kamar ini."
Kensky menimang-nimang. Jika ia menyetujui permintaan Dean itu artinya ia harus terima resiko. Tapi jika menolak, ia pun akan menyesal seumur hidup. Pikiran itu membawa Kensky ke perjanjian mereka sebelumnya, perjanjian di mana Dean tidak akan pernah lagi mengganggunya setelah pesta ulang tahun ibunya berakhir.
"Dean?"
"Hmm?"
Dengan skeptis ia bertanya, "Apa kau masih memberlakukan perjanjian kita yang kemarin?"
"Perjanjian yang mana?" tanya Dean pura-pura.
Kensky menatapnya. "Perjanjian di mana kau tidak akan menggangguku lagi setelah aku menemanimu ke pesta ulang tahun ibumu."
Dean merubah posisinya. Jika tadi ia menyamping sambil menatap Kensky, kini ia berada di atas gadis itu dengan tubuh bagian atas terlihat. "Kalau aku melanggar janji itu, bagaimana?"
Kensky menutup wajahnya dengan kedua tangan karena wajah Dean sangat dekat. Embusan napas lelaki itu bahkan sangat terasa di jemarinya yang pucat akibat suhu udara dingin di kamar itu. "Tapi kan kau sudah berjanji."
Dean menyeringai. "Baiklah, jika itu yang kau ingikan aku akan menepatinya. Tapi kau mau kan memberiku ciuman terakhir sebelum perjanjian itu berlaku?"
Tak bisa dibohongi Kensky sebenarnya tidak ingin ada jarak di antara mereka. Ia tidak ingin perjanjian itu berlaku hingga ada jarak di antara mereka. Ia mau selamanya bersama Dean. Perlahan tangannya mulai menjauh dari wajah. Dilihatnya wajah Dean yang kini sedang menatapnya.
"Kau mau kan menghabiskan malam ini bersamaku sebelum perjanjian itu berlaku?" bisik Dean.
Tak bisa dipungkiri Kensky pun sangat menginginkan hal itu terjadi. Bahkan seandainya Dean tidak memaksa, ia pun akan mencium lelaki itu sampai dirinya tak sadarkan diri. "Aku mau."
Bersambung___