Mysterious CEO

Mysterious CEO
Masa Lalu Dean.



Kensky tersenyum nakal. "Iya, tapi bukan di kamar."


"Kalau bukan di kamar, lalu di mana?"


"Di sofa," jawab Kensky cepat, "Aku ingin kita bicara di ruang tamu dengan penerangan yang minim sambil menikmati anggur."


***


Dean tertawa sambil membopong tubuh Kensky. "Kau semakin nakal ya, sekarang."


Kensky ikut tertawa. "Kau yang membuatku nakal, Dean."


Setelah mereka tiba di kamar, Dean duduk di sofa dan mengambil posisi di sebelah Kensky.


"Terima kasih kau sudah mengerti aku," kata Kensky, "Kau benar, kalau kita bicara di ruang tamu orang lain akan melihat kita."


Dean hanya tersenyum kemudian menuangkan sedikit anggur ke masing-masing gelas kristal yang sudah ia sedikan sebelumnya. Dan setelah menelan habis isi gelasnya, Dean mulai bercerita dengan tangan sebelah menggenggam tangan Kensky.


"Saat ulangtahunku yang ke-tujuh tahun, ibuku memberi hadiah, dia memberiku kabar bahwa dirinya akan segera menikah. Aku sangat senang sekali waktu itu, karena selama hidup aku tidak pernah tahu keberadaan ayahku dan siapa namanya. Bahkan ibu tidak pernah menceritakan atau menyebutkan gambaran tentang sosok ayahku seperti apa. Malah setiap kali aku bertanya soal ayah, ibuku selalu bilang kalau dia sudah meninggal."


Kensky menyimak dengan tatapan penuh cinta yang sanggup membuat lelaki sejahat Dean pun pasti akan luluh.


"Begitu ibuku memproklamasikan kapan mereka akan menikah, aku merasa bahwa dirikulah yang paling bahagia di dunia ini," kata Dean lalu menunduk sesaat.


Kensky yang melihatnya pun langsung mengusap punggung lelaki itu. "Jangan diteruskan jika itu membuatmu sakit."


Dean mendongak menatap Kensky. Setelah menarik napas panjang ia kembali bercerita, "Belum sampai dua bulan mereka menikah aku mulai dekat dengan ayah tiriku. Dia sangat baik dan penyayang, namun ternyata kebaikannya itu hanya pura-pura. Pernikahan mereka hanya formalitas bagiku. Karena setelah tiga bulan pernikahan mereka, ayah tiriku sering pulang larut malam dan datang-datang akan memukul ibuku jika dia tidak menyiapkan makan malam. Ibuku sampai sakit karena beban pikirannya yang begitu banyak. Aku berpikir itu karena sikap ayah yang berubah jahat dan sering memukulnya. Aku rasa ibuku juga menyesal ketika tahu ternyata pria pilihannya itu salah."


Kensky menatap sedih. "Terus?" lirihnya sambil mengusap punggung Dean.


Dean melanjutkan lagi. "Bukan hanya ibu, aku juga sempat berpikir bahwa ternyata bukan hanya ibuku yang kecewa, tapi aku juga. Bahkan penyesalanku jauh lebih besar daripada ibuku."


Alis Kensy berkerut. "Apa dia juga sering memukulimu?"


Dean menggeleng. "Tidak, tapi dia telah merebut kebahagian aku dan ibu. Jika bisa diulang kembali saat itu, aku akan memilih tidak punya ayah sambung daripada harus kehilangan kebahagiaan bersama ibu. Aku dan ibu sangat bahagia waktu hidup berdua, aku merasa diriku anak paling beruntung di dunia karena memiliki ibu yang sangat baik. Dia selalu menuruti semua permintaanku. Tapi sejak kehadiran laki-laki itu di tengah-tengah aku dan ibu, kehidupan kami jadi seperti di neraka. Dia sering memukuli ibuku jika tidak menuruti kemauannya."


Kensky menatap benci. "Jahat sekali dia."


Dean menatap Kensky. Tatapannya lama sekali. "Kau tahu, bahkan sampai sekarang aku masih menyimpan dendam tersendiri kepada ayah tiriku itu."


"Kenapa?"


"Karena dialah ibuku sampai meninggal."


Kensky terkejut. "Meninggal, apa dia membunuh ibumu?"


Dean menggeleng kemudian kembali menatap lurus. "Saat itu tengah malam. Aku sudah tidur dan ibuku sedang sakit, tapi lelaki itu tidak peduli. Walaupun ibu sedang sakit dia tidak pernah peduli kepada ibu. Dan sikapnya itu membuatku berpikir, bahwa dia menikahi ibuku hanya karena harta."


Dean melanjutkan lagi. "Malam itu dia pulang dalam keadaan mabuk, aku terbangun karena mendengar suara ibu saat dia berteriak. Aku segera keluar dan melihat dia hendak mendorong ibu ke tangga. Tapi untung saja aku cepat dan menahan ibu, kalau tidak ...." Dean menghentikkan perkataannya.


Mata Kensky mulai berkaca-kaca saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Dean.


"Malam itu juga emosiku tak bisa ditahan lagi. Aku hendak melawan, tapi dia memukuliku hingga wajahku berdarah. Ibuku menghalangiku, tapi aku tetap melawan. Aku tidak mau dia memperlakukan ibuku seperti itu. Namun apa daya, aku hanya bocah berusia delapan tahun yang tidak bisa berbuat apa-apa, Sky. Aku hanya bisa menyaksikan apa yang dia lakukan kepada ibuku."


Kensky menangis. "Ya, ampun, kau pasti sangat kesakitan waktu dia memukulimu?"


Dean memeluknya. "Saat itu rasa sakit pun tidak ada artinya buatku, Sky. Meskipun dia membunuhku malam itu juga aku pasti akan rela, asalkan dia berhenti menyakiti ibuku. Dan saat aku ingin melawannya lagi, ibuku berteriak untuk mencegahnya sampai melakukan penawaran dengan lelaki itu, agar lelaki itu tidak menyakitiku lagi."


"Penawaran apa?"


Dean menarik napas panjang. "Ketika lelaki itu mendengar penawaran yang ibuku sebutkan, saat itulah apa yang pernah aku pikirkan ternyata benar; dia menikahi ibu hanya karena harta."


Kensky terus menangis, tapi Dean tidak sedikitpun menghentikan cerita masalalunya. Menurutnya Kensky harus tahu apa yang pernah ia rasakan dulu.


"Malam itu juga dia menyuruh aku dan ibu keluar dari rumah. Uang, perhiasan, mobil, serta rumah yang satu-satunya kami punya diambil olehnya. Aku tidak setuju karena malam itu ibu sedang sakit, tapi lelaki brengsek dan tidak tahu diri itu langsung mengusir kami malam itu juga. Dia bahkan tidak memberi kesempatan satu malam untuk ibuku menginap, padahal ibu sedang sakit parah. Sementara ibuku sakit karena dia."


Kensky menarik cairan hidungnya. "Lalu kalian pergi ke mana malam itu?"


Dean melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Kensky. "Malam itu kami memutuskan untuk tidur di jalan. Ibu tidak punya kenalan atau pun kerabat yang bisa menampung kami. Aku bahkan menanyakan siapa yang bisa kami temui malam itu, tapi ibu melarangku. Katanya dia tidak ingin menyusahkan orang lain."


"Ya, ampun, Dean." Air mata Kensky kembali merebak.


"Jadi mau tidak mau malam itu aku membawa ibu ke kompleks pertokoan. Hanya di sanalah tempat yang aman bagi kami malam itu, karena tidak ada tempat lain yang bisa menampung kami selain tempat itu. Rumah tetangga pun sudah tutup, sementara kondisi ibu semakin memburuk. Jadi malam itu dengan beralaskan kardus aku mengajak ibu tidur di depan toko perhiasan sampai pagi datang, agar besoknya aku bisa membawa ibu ke dokter," Dean menatap kosong, "Tapi ternyata itu hanya sampai rencana. Aku tak menyangka kalau malam itu adalah waktu terakhirku bersama ibu."


Kensky tersentak. "Apa ibumu meninggal?"


Dean menunduk sesaat sebelum matanya menatap Kensky. "Iya, ibuku meninggal dan itu karena ayah tiriku."


Flashback On:


Begitu fajar menanti, Dean tebangun akibat suara sentakan pintu secara kasar dari pemilik toko. Mereka diusir karena akan mengganggu para pembeli datang.


"Pergi kalian! Menghalang rejekiku saja kalian pagi-pagi."


Dean pun bingung dan tak tahu akan membawa ibunya ke mana, sementara kondisi ibunya semakin parah. Dengan penuh ketakutan terpaksa Dean meminta tolong kepada siapa saja yang ada di sana untuk menampung mereka. Namun karena kondisi mereka seperti itu__ kotor akibat becek dan debu lantai__ membuat orang-orang tidak mau membantu mereka.


"Kumohon beri kesempatan beberapa menit lagi, Pak. Ibu saya sedang sakit."


Lelaki pemilik toko itu tak menjawab, ia hanya diam lalu masuk ke dalam tanpa memperdulikan Dean dan ibunya.


Dean ingin membeli obat untuk ibunya, tapi tidak punya uang sementara dirinya juga lapar. Dia mengemis-ngemis kepada setiap orang yang lewat, tapi tidak ada satu pun orang yang mau memeberikannya uang. Bahkan ada yang mendorongnya hingga jatuh karena tidak mau didekatinya.


Bersambung____