
Rebecca semakin panik. Sudah lusinan kunci yang ia masukan ke lubang pintu itu tidak ada satu pun yang cocok, sementara kunci yang belum dicobanya hanya tinggal tiga buah.
Sambil berdoa dalam hati Rebecca mulai memasukan lagi anak kunci yang pertama. Bahkan tangannya sampai gemetar, takut kalau dua anak kunci yang tersisa bukanlah duplikat dari kunci kamar Kensky. "Tuhan, semoga saja ini yang terakhir."
Rebecca tidak yakin Tuhan akan mengabulkan doa dari sosok penjahat seperti dirinya, tapi dengan penuh keyakinan Rebecca yakin kalau pintu itu akan terbuka di saat ia memasukan anak kunci yang terakhir.
Zet!
Rebecca terkejut. Saking kecewanya bahkan ia ingin menangis karena waktunya terbuang begitu saja karena anak kunci sialan itu. "Jika kunci-kunci ini tidak ada yang cocok, lantas di mana kunci duplikat kamar ini, ya?"
Dengan emosi tak tertahankan wanita itu membuka pegangan pintu secara kasar dan melakukannya berulang-ulang. "Dasar pintu sialan."
Tak ingin menyerah begitu saja, Rebecca kembali mencoba untuk memasukan lagi anak-anak kunci tersebut dengan gerakan pelan dan satu-persatu. Ia berharap tadi itu hanya karena dirinya gugup, sehingga ada anak kunci yang mungkin seharusnya cocok terlewatkan begitu saja.
Dengan sabar dan pelan Rebecca memasukan kembali setiap anak kunci pada tempatnya. Sambil berdoa ia meminta kepada Tuhan agar pintu itu bisa terbuka. Ia bahkan berjanji tidak akan melukai Kensky kalau sampai pintu itu terbuka, karena memang niatnya hanya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu dalam kamarnya. "Ya, Tuhan, kumohon bantu aku. Semoga saja kunci duplikat kamar ini ada di sini."
Clek!
Anak kunci yang kesekian kali ternyata cocok. Mata Rebecca melotot kaget. Saking senangnya ia bahkan dengan cepat mengucap syukur berkali-kali. "Ya, Tuhan, terima kasih. Terima kasih, Tuhan." Dengan cepat ia mendorong pintu kamar itu dan menyapu semua ruangan dengan pandangannya.
Zet!
Kamar itu sangat rapi. Foto-foto Barbara bahkan terpajang di setiap dinding. Rebecca pun mendekati lemari, membukanya, tapi semua lemari itu di kunci. Tak ingin menyerah, Rebecca kemudian mendekati nakas dan membukanya.
Zet!
Hasilnya sama, semuanya dikunci dan kuncinya tidak ada di sana. "Dasar bodoh," katanya pada diri sendiri, "Percuma saja kau masuk ke kamar ini, Rebecca! Lemari dan nakasnya dikunci," ia mengendus, "Buang-buang waktu saja."
Wanita itu berbalik meninggalkan kamar, tapi saat matanya tak sengaja menyapu meja rias yang dipenuhi segala macam barang, Rebecca menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati meja itu. Matanya secara bergantian menatap semua barang-barang di atas meja, baik botol parfum, lotion dan sebagainya. Karena tidak ada yang menarik, Rebecca melemparkan pandangan ke kotak merah yang kebetulan ada di atas meja itu. Ia hanya melirik kotak itu lalu bergerak menuju pintu.
"Dari pada buang-buang waktu saja, lebih baik aku telepon dokter Harvey dan mengajaknya makan siang."
Saat langkah dan tubuhnya hendak keluar, batin Rebecca tertuju kembali ke arah kotak yang ada di atas meja tadi. Ia pun menoleh dan menatap kotak yang seperti sedang memanggilnya untuk minta dilihat. Ia pun kembali masuk dan mendekati meja untuk melihat kotak itu.
Zet!
Rebecca membuka kotak itu dan mendapati foto Barbara dan bocah laki-laki yang sedang duduk saling berdampingan. "Aku pikir harta karun apa, ternyata hanya sebuah foto dan buku saja. Buang-buang waktuku saja." Karena matanya tertuju ke arah buku harian itu, Rebecca pun meraih buku kecil itu kemudian membuka dan mulai membacanya.
Rebecca tersenyum mengejek, tapi rasa keingintahuan terhadap kelanjutan isi buku itu membuatnya terus membaca lagi.
"Kau lihat foto anak laki-laki yang bersama mami, kan? Kau tahu, dia itu adalah calon suamimu. Hahahaha. Kau pasti terkejut, kan? Tapi itulah faktanya, Sky. Dia adalah calon suamimu."
Zet!
Mata Rebecca melotot. Dengan ekspresi laget ia segera mengambil foto itu dan menatap lekat-lekat wajah bocah itu. "Jadi Barbara telah menjodohkan dia?" Rebecca terus menatap wajah bocah itu, "Siapa anak ini?" Rebecca kembali mengarahkan pandangannya ke catatan harian dan terus membacanya untuk meluapkan rasa penasaran, sekaligus mencari informasi tentang bocah itu.
"Mami minta maaf karena tidak memberitahukannya lebih dulu. Tapi mami memang sengaja menjodohkan kalian, karena mami rasa dia-lah orang yang pantas untuk menjadi suamimu, Sky. Dia juga orang yang baik dan bertanggung jawab. Tapi sekali lagi mami minta maaf, karena tidak bisa mengatakan siapa namanya dan di mana dia berada. Ini semua demi keselamatanmu, Sayang. Tapi percayalah, sejak kecil sampai sekarang dia selalu ada bersamamu. Dia selalu memantaumu di manapun kau berada, dia juga akan selalu menjaga dan melindungimu sampai kapanpun bahkan sampai maut memisahkan kalian."
Rebecca membuka lembaran berikutnya, tapi kosong. "Brengsek, dia tidak menyebutkan nama anak ini," mata Rebecca kembali menatap foto itu sambil berpikir. "Kensky pasti belum tahu siapa anak ini," Rebecca tampak berpikir, "Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa menyangkut pautkan foto itu dengan rencanaku. Jika benar Kensky belum tahu siapa anak ini di foto ini, itu berarti dokter Harvey bisa kumanfaatkan sebegai orang di dalam foto ini," Rebecca tertawa, "Anggap saja ini kejutan untukmu, Kenksy."
Rebecca pun kembali meletakkan buku dan foto itu di dalam kotak dan mengaturnya seperti semula. "Aku tak menyangka kalau selama ini kau telah menyembunyikan sesuatu. Pantasan saja dia begitu bahagia saat tahu dirinya telah dijodohkan. Mungkin dia anggap laki-laki itu adalah orang yang sama dengan bocah di foto ini," katanya sambil tersenyum lebar, "Kensky, Kensky, aku tak sabar lagi menunggumu pulang. Aku tak sabar lagi ingin menyampaikan kebohonganku ini kepadamu."
***
Di dalam ruangan kantor yang atmosfernya begitu panas akibat gairah, Dean dan Kensky masih dengan posisi yang sama; di belakang pintu sambil berciuman dengan tangan keduanya begitu sibuk menyusuri tubuh masing-masing.
Kensky-lah yang pertama kali melepaskan bibir Dean. "Sebaiknya kita hentikan saja," lirihnya.
Dean menatap kecewa. "Kenapa?"
Mata Kensky begitu sayu. "Ini kantor, Sayang. Kalau ada yang datang, bagaimana?"
Dean mengerti. Ia sendiri merasa bodoh karena tak mampu membedakan tempat untuk bermesraan. Seandainya sedikit saja ia bisa menahan gejolak dalam diri untuk tidak menyentuh Kensky, mungkin keperkasaan di balik celananya itu saat ini tidak akan mengeras seperti batu. "Baiklah. Tapi nanti malam kau tidur di apartemenku, ya? Kau tidak usah lagi membawa pakaian. Begitu kita tiba di Jerman, aku akan membawamu berbelanja semua keperluan dan kebutuhanmu."
"Tapi, Dean, aku___"
Dean ******* bibir Kensky sampai gadis itu terdiam. Setelah yakin gadis itu tidak akan protes lagi, barulah dia melepaskan bibir mereka. "Aku tidak mau diprotes. Sekarang yang aku mau kau harus menuruti semua apa yang aku perintahkan."
Kensky tersenyum. Seandainya Dean bukanlah calon suaminya, ia tidak akan pernah mau menuruti perintah lelaki itu.
Bersambung____