Mysterious CEO

Mysterious CEO
Undangan Pesta Kantor.



"Ada apa, ya? Apa ada masalah?" bisik salah satu gadis kepada temannya.


"Sepertinya iya," balasnya begitu melihat wajah Mr. Hans yang datar.


Lelaki yang usianya hampir mendekati kepala lima itu dengan pelan mengetuk kaca ruangannya.


Tok! Tok!


Sosok Kensky menoleh dari dalam dan Mr. Hans segera mengodekan kepada gadis itu untuk segera keluar dan bergabung.


Kensky menurut. Dengan segera ia meninggalkan pekerjaannya yang kebetulan sudah selesai dan berbaur bersama karyawan-karyawan seniornya yang lain.


Sebagaian di antara mereka ada yang mentap Kensky dengan tatapan heran. Maklum, Kensky kan pendatang baru di Kitten Group. Tapi ada juga sebagian dari karyawan laki-laki yang menatapnya ingin karena penampilan Kenksy yang sangat seksi dengan rok merah ketat, pendek dan kemeja putih berlengan panjang yang cukup transparan memperlihatkan bagian ********** yang berwarna gelap. Hal itu membuat sebagai perempuan yang lain menatapnya kagum dengan penampilannya. Rambut Kensky yang dikuncir kuda juga memperlihatkan lehernya yang panjang dan menggoda. Namun itu semua hanya alasan, yang paling membuat mereka iri padanya adalah posisinya yang langsung menduduki jabatan lebih tinggi dari mereka padahal dia masih berstatus karyawan baru dan belum berpengalaman.


"Selamat pagi, semua," sapa Mr. Hans begitu melihat para bawahannya sudah berkumpul. Ia menatap wajah-wajah mereka yang kini penuh tanda tanya dengan berita yang akan ia sampaikan ini, "Aku menyuruh kalian semua berkumpul di sini karena ada satu informasi penting yang harus disampaikan."


Saat itulah bisik-bisik kembali terdengar. Kensky yang berdiri tepat di belakang Mr. Hans pun bisa mendengar beberapa karyawan seniornya mengeluarkan suara saat kepala divisi mereka itu hendak memulai.


"Jadi, begini," katanya tegas, "Karena besok adalah ulang tahun kantor, pak Dean akan mengundang kita semua. Acara itu akan diadakan di salah satu mension beliau pukul delapan malam besok."


"Ulang tahun kantor? Wah, kok aku bisa lupa, ya," kata salah satu karyawan wanita, "Aku pikir berita apa, ternyata ulang tahun kantor. Ya, ampun, sungguh, aku lupa. Mungkin karena aku terlalu sibuk sampai tidak ingat."


"Iya, tapi kalau selarut itu sepertinya aku tidak bisa. Anakku ada ujian besok," balas si wanita kepada teman sebelahnya.


Mr. Hans bisa melihat respon bahagia yang dipancarkan oleh sebagian besar wajah-wajah cantik dan tampan itu.


"Tapi dengan catatan," kata Mr. Hans.


Mendengar itu semua karyawan langsung terdiam dan kembali menatapnya.


"Bagi siapa yang tidak hadir di acara besok pak Dean langsung yang akan memberi sanksi bagi karyawan tersebut dan siapapun itu termasuk aku."


"Huuuu!"


Teriakan semua karyawan membuat Kensky dan Mr. Hans terkejut.


"Sanksi apa, Mr. Hans?" tanya salah satu karyawan wanita yang sudah tua.


"Kata pak Dean, bagi siapa yang tidak hadir besok malam akan diskors selama dua minggu. Undangan resminya akan dipajang besok pagi di pintu masuk. Jadi untuk sanksi selengkapnya, kalian bisa membacanya di sana."


"Huuu!"


Lagi-lagi sorakan mereka membuat Mr. Hans menggeleng kepala. "Aku harap kalian semua hadir dan tidak membuat malu divisi kita. Paham?"


"Paham!"


"Baiklah, cukup sekian dan terima gaji. Eh, salah, maksudku terima kasih," kata Mr. Hans.


"Huuu!"


Sorakan yang terakhir membuat Kensky tertawa.


Mr. Hans berbalik tepat di hadapannya. "Oh, iya, kau juga besok harus hadir. Kata pak Dean kalau kau tidak hadir di acara besok, lusanya kau tidak usah datang ke kantor lagi."


Kensky menelan ludah. "Kejam sekali dia itu," katanya dalam hati, "Iya, Pak. Saya pasti akan hadir."


Mr. Hans tersenyum lalu berjalan memasuki ruangan diikuti Kensky dari belakang. Begitu tiba di dalam ruangan ia berkata, "Apa kau sudah menyelesaikan tugas yang kuberikan tadi, Nona Oxley?"


Kensky berlari kecil mendekati mejanya. "Sudah, Pak," ia mengumpulkan lembar-lembar kertas itu lalu memberikannya kepada Mr. Hans, "Ini, Pak."


Mr. Hans memeriksa lembaran itu satu persatu. "Kerjamu ternyata sangat rapi. Terima kasih, Nona Oxley. Tapi kalau boleh aku minta, jangan panggil aku dengan sebutan Pak. Aku belum menikah."


Kensky terkejut. "Saya minta maaf."


Kensky jadi bingung ingin memanggil apa. Tapi ia ingat kalau ada beberapa karyawan yang memanggil lelaki itu dengan sebutan Mr. Hans.


Mr. Hans kembali ke kursinya. Setelah duduk ia pun berkata kepada Kensky, "Aku senang pak Dean menempatkanmu di sini bersamaku. Tapi ngomong-ngomong siapa wanita yang duduk bersama Kim? Katanya dia saudara tirimu, ya?"


Kenksy tahu siapa yang dimaksud Mr. Hans, tapi mendengar nama yang satunya lagi membuatnya menatap bingung. "Kim? Maaf, Mr. Hans. Maksud Anda Kim siapa, ya?"


"Kimberly, dia sekertarisnya pak Dean. Tadi aku lihat ada wanita bersamanya, kata Kim dia saudara tirimu. Benar, begitu?"


"Oh, Soraya. Iya, Mr. Hans, dia saudara tiriku."


Mr. Hans terdiam sesaat. "Kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu."


Mr. Hans tampak berpikir. Tapi karena sudah tidak ada lagi yang harus ditugaskan kepada asisten barunya itu, ia pun berkata, "Kau kembali saja duduk. Nanti akan kupikirkan lagi tugas apa yang harus kau lakukan."


"Baik."


Mr. Hans menatap Kensky yang kini berjalan menuju kursinya yang tak jauh dari tempatnya. Dengan wajah datar ia tampak berpikir. "Aneh, kenapa pak Dean mempekerjakan kakak-beradik di kantor ini, ya?" tanyanya dalam hati.


***


Begitu jam makan siang tiba, Kensky memilih kantin kantor sebagai tempatnya istirahat. Sambil duduk memikirkan menu apa yang ingin disantap ia memilih meja kosong paling pojok untuk di dudukinya.


"Halo?" Sosok dari arah belakang menyapa Kensky.


Gadis itu menoleh dan terkejut. "Eh, Ibu Sekertaris."


"Boleh aku duduk di sini?"


Kensky tersenyum. "Oh, silahkan, Bu."


Wanita itu pun duduk di hadapan Kensky sambil menghadap pintu masuk kantin. Sedangkan Kensky duduk di hadapanya seraya menatap para pegawai kantin yang sedang sibuk menyiapkan pesanan.


"Jangan panggil aku ibu, Kensky. panggil aku Kimberly atau Kim saja," katanya pelan, "Ngomong-ngomong kamu pesan makan apa?"


Kensky menyebutkan menu makanan yang ia pesan.


Karena menu yang diucapkan Kensky adalah makanan favorit-nya juga, Kim ikut memesan menu yang sama.


Tepat di saat itu seorang pelayan wanita datang menyapa mereka. "Mau pesan apa, Ibu-Ibu cantik?"


Kensky tersenyum malu. Ia mempersilahkan Kim untuk memesan menu makan siang mereka.


"Baik, apa ada tambahan?" kata si pelayan.


"Tidak, itu saja," balas Kim.


"Baik, terima kasih. Ngomong-ngomong ini karyawan baru ya, Bu Kim?"


"Iya, namanya Kensky. Cantik, kan?"


Setelah memperkenalkan diri pelayan itu akhirnya undur diri sambil membawa catatan menu.


"Oh, iya, bagaimana hari pertamamu di sini, Kensky?" tanya Kim basa-basi.


"Sangat menyenangkan. Mr. Hans langsung memberiku tugas saat datang tadi dan syukurlah aku berhasil mengerjakannya tepat waktu."


"Mr. Hans? Jadi kamu asistennya Mr. Hans? Hebat! Kau sangat beruntung mendapatkan posisi itu. Banyak para staf lain yang mengajukan permohonan untuk menjadi asistennya, tapi gagal."


"Gagal? Kenapa?" tanya Kensky dengan mimik wajah penasaran.


"Aku tidak tahu. Yang jelas setiap kali pengajuan itu diberikan kepada pak Dean, tidak pernah ada data karyawan yang lolos secara lisan. Mungkin prosedurnya terlalu berat sehingga mereka tidak lolos untuk menempati posisi itu."


Kensky tampak berpikir. "Secara lisan? Tapi kenapa aku tidak dites seperti itu? Bahkan aku tidak diwawancara sama sekali," katanya dalam hati, "Apa mungkin Dean sengaja mengosongkan posisi itu demi aku?"


Kimberly mengerutkan alis. "Kau memikirkan apa, Kensky?"


Gadis itu terkejut lalu tersenyum. "Ah, tidak! Aku tidak memikirkan apa-apa."


Kim tampak muram. "Seandainya pak Dean menempatkanmu bersamaku, aku pasti akan senang. Aku sebenarnya senang, karena pak Dean telah memberikanku asisten. Tapi asisten yang ini membuatku ...," ucapan Kim terhenti begitu menyadari bahwa Kensky dan Soraya adalah saudara, "Maaf, apa Soraya adalah saudara tirimu?"


"Iya. Apa dia yang mengatakannya?" tanyanya pelan. Ekspresinya bahkan biasa saja.


Kim menggeleng. "Tidak, aku hanya berasumsi. Kalau dilihat dari caranya menatapmu sepertinya dia tidak menyukaimu, ya?"


"Sikapnya memang seperti itu, kami memang tidak saling cocok sejak dulu."


Karena tak ingin membahas soal Soraya lagi, Kim mengalihkan pembicaraan dengan membawa topik acara besok. "Kau akan datang di acara ulang tahun kantor, kan?"


Kensky tampak murung dan Kim menyadarinya.


"Ada apa? Kau pasti punya kencan dengan pacarmu, ya? Besok kan malam minggu," ledek Kim sambil tersenyum.


Merasa Kim adalah orang yang dapat dipercaya, ia pun mengungkapkan perasaan yang sedari tadi membuatnya gelisah. "Sebebarnya bukan karena itu, tapi besok adalah ulangtahunku yang ke dua puluh tiga. Setiap ulang tahun aku hanya ingin berada di rumah dan merayakannya di kamar bersama foto ibuku. Itulah yang kulakukan di setiap ulang tahunku; menghabiskan waktu di dalam kamar sambil menatap foto mami."


Bersambung___