
Drtt... Drtt...
Dean meraih ponselnya dari saku celana. Dan sudah seperti yang dipikirkannya ternyata benar, ponsel bergetar itu berasal dari panggilan Rebecca. Dean bahkan sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan wanita itu kepadanya. Tapi yang namanya lelaki manipulasi, Dean bersikap seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa.
"Hmm?" sapanya begitu menyambungkan panggilan.
"Dean! Kau di mana? Apa kau sudah di Jerman?" Suara Rebecca terdengar khawatir.
Dean menahan tawa. Sebelumnya dia memang mengatakan kepada Rebecca akan ke Jerman, tapi sebenarnya itu tidak benar. Dean sama sekali tidak ke Jerman, karena ada hal lain yang lebih penting dari segalanya, yaitu menyusun rencana untuk menculik Eduardus. Ia sengaja beralasan seperti itu agar Rebecca tidak menyangkut-pautkan dirinya dalam masalah ini. Padahal wanita itu tidak tahu bahwa sebenarnya penculikan itu adalah perbuatan Dean.
"Iya, aku sudah di Jerman. Ada apa?" bohongnya.
"Ya, ampun, Dean. Eduardus diculik. Aku tidak tahu itu pantas disebut penculikan atau tidak, yang jelas ada beberapa orang datang ke sini dan membawa Eduardus pergi entah ke mana."
"Apa? Kenapa bisa?" Nadanya meninggi seakan terkejut, "Memangnya kau di mana sampai tidak tahu mereka sudah membawa suamimu?"
"Tadi pagi setelah memberinya sarapan tiba-tiba sosok lelaki muncul ke rumahku bersama anak buahnya. Dia bilang sih tujuannya datang untuk menagih hutang yang dipinjam Eduardus kepadanya."
"Menagih hutang? Memangnya Eduardus punya hutang padanya?" tanya Dean pura-pura.
"Aku tidak tahu, Dean. Tapi kata orang itu Eduardus telah meminjam uang kepadanya raturan ribu dolar. Dan parahnya, suami gilaku itu memberikan jaminan rumah kepadanya. Ya, ampun, untung saja dia tidak memaksa agar jaminan itu harus diberikan. Kalau seandainya dia bersikeras meminta jaminan rumah yang dijanjikan Eduardus, bisa-bisa kami akan diusir karena tidak memiliki sertifikat itu."
"Tapi kalau mereka kembali dan meminta jaminan itu bagaimana?"
"Itulah yang membuatku takut, Dean. Aku ingin secepatnya kau membayar Kapleng Group agar aku dan Soraya bisa kabur dari sini. Aku sudah tidak peduli dengan rumah ini. Jadi kalau mereka kembali untuk menagih hutang atau pun meminta jaminan rumah, setidaknya aku dan Soraya sudah tidak ada di sini lagi. Biarlah Kensky yang berurusan dengan mereka, toh dia anaknya Eduardus."
Dean menyeringai licik. "Baiklah, besok aku akan menyuruh orang untuk mencari Eduardus."
"Benarkah?"
"Iya."
"Oh, Dean, terima kasih. Aku takut sekali kalau ada kejadian seperti itu lagi, aku takut mereka akan datang lagi tiba-tiba dan mengusir kami dari rumah ini."
"Kau tenang saja. Aku akan menyelidiki dulu siapa orang yang telah berani membawa mangsaku. Aku belum puas membuatnya menderita, tapi mereka telah membawanya."
"Baiklah, Dean. Kumohon bantu aku."
"Iya."
Tut! Tut!
Dean memutuskan panggilannya. Dengan seringai tajam ia menatap keluar jendela. "Matt?" Suara berat itu seakan mampu menggetarkan dinding-dinding kaca di sekitarnya.
"Iya, Bos?"
"Pergilah dan temui si pengacara gadungan itu. Bujuk dia agar mau bersaksi di depan polisi atas apa yang selama ini Rebecca perbuat kepada Eduardus. Berikan nominal yang tinggi agar dia membuka kejahatan Rebecca di depan polisi."
"Baik, Bos." Matt menunduk kemudian pergi.
Sementara Dean masih di posisi yang sama dengan seringaiannya yang semakin tajam. "Kalian memang pantas mendapatkannya, Rebecca. Kau pikir aku sebodoh itu ingin memberikan uang jutaan dolar kepada kalian? Apalagi berharap akan menikahi Soraya ... jangan mimpi."
Dean menatap kembali layar ponsel untuk mencari kontak Mr. Pay. Setelah menemukan kontak tersebut, lelaki itu langsung bergerak mendekati meja dengan ponsel yang menempel di telinga. "Halo, Mr. Pay, bisa kita bertemu di restoran tadi pagi."
"Tentu saja, Pak Dean."
Tut! Tut!
***
"Kensky, bisa aku minta tolong?" kata Mr. Hans sambil memegang sebuah map berwarna merah.
Kensky yang kebetulan sedang menatap layar komputer pun langsung menoleh. "Tentu saja," jawabnya seraya berdiri dengan senyum yang menawan.
Lelaki itu terpesona. "Seandainya aku masih muda, mungkin aku akan mengencanimu, Sky," kata Mr. Hans dalam hati, "Bisa kau antarkan ini ke ruangan Pak Dean?"
Mendengar nama itu saja sudah membuat jantung Kensky berdetak cepat. Namun, karena tugas dari sang atasan ia pun mau tidak mau harus melaksanakannya. "Tentu saja, Mr. Hans. Hanya ini saja?"
"Iya, itu saja."
"Kalau begitu sebaiknya aku antar sekarang sebelum beliau pergi."
Kensky pun keluar dari ruangannya seraya membawa map merah yang diberikan Mr. Hans tadi. Dengan langkah anggun ia berjalan dan senyum mempesona setiap kali berpapasan dengan para kolega. Namun di balik senyum itu, hatinya gelisah ketika membayangkan sosok yang akan ditemuinya itu. Seandainya Kensky dan si pemilik perusahan tidak punya kedekatan tersendiri, mungkin gadis itu tidak akan segugup sekarang ini.
"Semoga saja dia tidak macam-macam denganku lagi," lirih Kensky begitu keluar dari pintu lift menuju meja sekertaris. Dilihatnya Kim dan Soraya sedang berkutat dengan pekerjaan masing-masing, "Selamat siang," sapanya sopan.
"Siang, Sky," balas Kim lalu berdiri.
Soraya hanya duduk dengan wajah kusut tanpa membalas atau pun menatap Kensky.
Kensky dan Kim pun melirik Soraya, tapi mereka tak memperdulikan ketidaksopanan gadis itu kemudian saling bertatap dengan senyum satu sama lain.
"Aku mau memberikan file ini kepada pak Dean. Apa beliau ada di dalam?" tanya Kensky kepada Kim.
Perkataan Kensky yang menyebutkan nama sang atasan ternyata mengundang mata Soraya untuk menatapnya. "Kenapa harus kamu? Kamu kan bisa menyuruhku atau ibu Kim untuk mengantarkannya ke dalam."
Kensky balas menatapnya. "Maafkan aku, tapi aku hanya diperintahkan oleh Mr. Hans untuk memberikan file ini kepada beliau secara langsung."
Kim mengambil alih. "Tentu saja kau bisa memberikannya langsung, Sky. Justru itu lebih bagus ... anggap saja kau meringankan pekerjaan kami," Kim melirik Soraya. Ia bahkan bisa melihat raut wajah wanita itu yang kontan menatapnya karena tidak suka, "Tapi masalahnya beliau belum datang sejak tadi pagi, mungkin beliau masih ada urusan."
Kensky terkejut. "Belum datang? Kenapa?"
Pertanyaan Kensky mengundang ketertarikan bagi Soraya. Mataya menyipit menatap saudara tirinya yang kini tampak khawatir begitu tahu Dean belum datang.
"Aku juga belum tahu, tapi tidak biasanya beliau seperti ini. Biasanya beliau akan mengabariku jika ada sesuatu yang membuatnya tidak datang atau terlambat," jelas Kim.
Ingin sekali Kensky melontarkan pertanyaan lagi kepada Kim menyangkut Dean. Tapi karena Soraya sudah berdiri dengan wajah garang saat menatapnya, ia pun menelan kembali pertanyaan itu untuk sementara waktu. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Kenapa Soraya begitu marah kalau ada hal yang menyangkut diriku dan Dean, ya? Kalau pun hanya sekedar terobsesi kepada Dean, toh dia tak perlu bersikap begitu kepadaku," ia mengalihkan pandagan ke wajah Kim, "Oh, iya, kalau begitu bisa aku minta tolong?"
"Tentu saja, Sky. Kau ingin minta tolong apa?" balas Kim.
"Tolong hubungi Mr. Hans, tanyakan kepada beliau kalau file ini akan dititip di sini saja atau akan dibawa kembali ke ruangannya?"
Kim segera menekan tombol interkom untuk menghubungi Mr. Hans. Sementara Soraya masih berdiri sambil menatap Kensky dengan pandangan tidak suka.
"Baik, Mr. Hans."
Bersambung___