Mysterious CEO

Mysterious CEO
Tiket Ke Eropa.



Saat itu juga Dean muncul dengan wajah terlihat datar.


Soraya yang lebih dulu melihat kedatangan sang atasa dengan cepat berdiri dan memberi salam. "Selamat pagi, Pak."


Kim terkejut dan ikut berdiri. "Selamat pagi, Pak. Eh, Pak, jadwal penerbangannya tidak ada yang siang. Yang ada hanya di atas jam sembilan malam, Pak."


Dean menghentikan langkahnya kemudian menatap Kim. "Tidak masalah. Kau atur saja, Kim."


"Baik, Pak."


Dean hendak pergi, tapi segera berbalik begitu memori dalam otaknya teringat sesuatu. "Oh, iya, Kim, jangan lupa satu tiket yang kusebutkan namanya tadi."


"Iya, Pak."


Dean pun akhirnya masuk ke ruangannya. Kim juga langsung duduk untuk melaksanakan tugasnya kembali. Sementara Soraya perlahan duduk sambil menatap layar komputer yang ada di hadapan Kim.


Tut!


Bunyi intercom membuat Kim terkejut dan langsung menerimanya. "Iya, Pak?"


"Apa kau sudah memberitahu Kensky aku sedang menunggunya?"


"Sudah, Pak. Tadi aku sudah titip pesan kepada Mr. Hans, mungkin sebentar lagi dia tiba."


Di waktu yang sama Kensky muncul dengan napas terengah-engah. "Selamat pagi!"


Kim menahan tawa. "Pak, nona Oxley baru saja tiba."


"Suruh dia segera masuk."


"Baik, Pak." Kim segera menutup interkomya lalu menatap Kensky, "Kau sudah ditunggu Pak Dean."


Wajah Kensky menatap heran. "Ada apa lagi? Apa ada masalah?"


"Tidak," balas Kim dengan wajah berseri-seri, "Nanti kau akan tahu," Kim melihat dada Kensky naik turun karena napasnya yang belum stabil, "Kau kenapa? Habis olahraga, ya?"


"Lift mati, jadi aku naik lewat tangga darurat."


Kim tertawa. "Anggap saja kau habis olahraga. Sana masuk, bos sudah menunggumu."


"Baiklah, semoga saja tidak ada kabar buruk," katanya kemudian menarik napas panjang lalu masuk ke dalam ruangan sang atasan.


Soraya yang sedari tadi pikirannya penuh tanda tanya itu langsung melontarkan wajah tak sedap pada Kim. "Kenapa pak Dean memanggilnya?"


Kim kembali duduk dan menghadap komputer. "Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan pak Dean kepadanya."


"Soal apa?"


Kim bisa menangkap nada tidak suka dari pertanyaan Soraya. Dan inilah kesempatannya untuk meledek wanita itu. "Pak Dean akan mengajaknya ke Eropa, lusa mereka akan berangkat." Kim terus menatap komputer sehingga tidak bisa melihat wajah Soraya yang kini merona merah karena marah.


"Ke Eropa! Untuk apa? Dan kenapa harus Kensky?"


Saat itulah Kim mengalihkan pandangan untuk menatap Soraya. "Maaf, Bu Soraya. Tapi saya juga tidak tahu. Saya hanya ditugaskan memesan tiket untuk keberangkatan mereka," katanya kemudian kembali menatap komputer.


Emosi Soraya meledak. "Ini sudah kelewatan! Pasti ada apa-apanya di antara mereka," katanya dalam hati. "Bu Kim, aku ke toilet dulu." Dengan kesal Soraya meninggalkan meja.


Sedangkan Kim dengan wajah penuh kemenangan menatap wanita itu hingga menghilang di balik tembok pembatas. "Sepertinya aku baru saja mencium hati gosong."


Di sisi lain.


"Kenapa harus aku?"


Dean berdiri dari kursinya. Sambil berjalan gontai ia mulai mendekati Kensky. Ketika tubuh tingginya bersandar di meja kerjanya, saat itulah ia menarik Kensky agar masuk ke dalam pelukannya. Dengan posisi memeluk gadis itu dari belakang, ia pun berkata, "Aku ingin kau memonitor perusahan cabang yang ada di Jerman, aku tidak bisa memantaunya sendirian. Jadi, aku butuh seseorang yang pantas kupercaya untuk memantau segala sesuatu di perusahan itu."


Kensky tampak nyaman saat tangan besar Dean melingkar di perutnya. "Tapi aku belum berpengalaman. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukerjakan di sana."


Dean mengecup leher Kensky yang telanjang. "Ada trainer yang akan membantumu, Sayang. Kau tidak usah khawatir."


"Tapi, Dean. Aku ...." Kensky memejamkan mata, menahan geli saat bibir Dean menyusuri lehernya.


"Jangan menolaknya. Aku sudah menyuruh Kim untuk memesan tiket, lusa kita akan berangkat."


Dean menghentikan gerakan bibirnya yang bermain di leher Kensky. "Kalau dia tidak setuju, bagaimana?"


"Setuju atau tidak yang penting aku sudah meminta ijin."


"Berarti kau setuju pergi ke Eropa bersamaku?"


Kensky membalikan tubuh menghadap Dean. Perlahan tangannya terangkat untuk menyentuh pipi lelaki itu. "Jujur, aku tidak mau jauh darimu. Kalau aku di Jerman dan kau di sini, kita tidak akan bisa bersama lagi. Aku pasti akan gila karena rindu."


"Kata siapa kita tidak akan bersama?" Dean semakin merapatkan tubuh mereka hingga hidung mereka bersentuhan, "Tugasmu di sana hanya memantau. Kau juga bisa ambil libur berapa kali dalam sebulan untuk pulang melihat ayah dan keluargamu. Soal diriku ... kapan saja kau merindukanku, aku pasti akan datang dan menemuimu di sana. Kau tenang saja."


Kensky tersenyum lebar. "Entah kenapa rasanya saat ini aku tidak ingin jauh-jauh darimu lagi."


Lelaki itu tersenyum. "Semakin kau tidak bisa menjauh, semakin besar pula cintaku padamu."


Mereka pun berciuman. Tangan Dean yang besar itu kini berada di bagian belakang tubuh Kensky yang tegas dan keras, sementara tangan Kensky mengalung di leher Dean sambil memejamkan mata.


Tok! Tok!


Bunyi ketukan pintu mengejutkan mereka. Kensky-lah yang lebih dulu menjauhkan diri hingga tubuh mereka penuh jarak.


Dean kesal. "Siapapun dia, akan kupastikan hidupnya tidak akan aman."


Kensky tertawa sambil merapikan kembali dandanannya. "Kalau begitu aku keluar saja."


Tok! Tok!


"Jangan, kau tetap di sini. Aku belum selesai. Masuk!"


Clek!


Sosok Kim muncul dengan wajah khawatir. "Maaf mengganggu, Pak. Tapi ini penting."


Alis Dean berkerut. "Ada apa?"


"Kata petugas kebersihan Soraya jatuh dari tangga saat turun dari toilet. Kepalanya berdarah, Pak."


Kensky terkejut. "Ya, Tuhan. Tapi tadi bukannya dia ada di depan bersama Anda?"


"Iya, Sky. Tapi saat kau masuk, dia pamit padaku untuk pergi ke toilet."


"Lalu sekarang dia di mana?"


"Mereka sudah membawanya ke Bebbi Hospital, Pak."


Dean menatap Kensky yang wajahnya penuh kepanikan. "Ikut denganku, kita akan ke rumah sakit. Kim, tolong hubungi Mr. Hans untuk mengurus biaya administrasi rumah sakit Soraya."


"Baik, Pak."


Dean pun membawa Kensky menuju rumah sakit. Mereka duduk di bangku belakang, sementara Matt mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas normal.


Dean menatap Kensky yang sejak tadi hanya diam saja seakan banyak pikiran yang terus membebaninya. "Tidak usah khawatir, dia pasti akan baik-baik saja."


"Mama! Pasti Mama belum tahu."


Kensky hendak mengambil ponselnya, tapi ternyata ia tidak membawa apa-apa saat keluar dari kantor. "Ya, ampun, ponselku ada di ruangan."


Dean merangkulnya. "Biar aku saja yang akan menyuruh Kim untuk menghubungi ibumu. Sekarang kau tenang saja dan tidak usah berpikir yang macam-macam," dalam hati Dean bertanya-tanya, "Apakah sekhawatir ini Kensky terharap ibu dan saudara tirinya? Lantas kenapa Soraya dan Rebecca begitu jahat kepadanya?"


Tak berapa lama mereka pun tiba di rumah sakit. Matt selaku supir sekaligus tangan kanan Dean segera keluar dan membukakan pintu untuk mereka.


Kensky tampak tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit.


Sementara Dean masih berdiri sambil menatap sang supir. "Matt, tolong hubungi Mr. Pay. Suruh dia menunggu sampai urusanku selesai."


"Baik, Bos."


Bersambung___