Mysterious CEO

Mysterious CEO
Kemunafikan.



Dean pura-pura emosi. "Brengsek! Lari ke mana si pencuri itu? Apa kau tidak menghubunginya?"


"Kontaknya tidak aktif, Dean. Tapi waktu aku ke rumahnya, tetangganya bilang rumah itu sudah kosong sejak beberapa hari lalu. Aku takut, Dean. Aku takut dia membawa lari sertifikat itu dan memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya."


Dean menatap garang ke arah jalan. "Salahmu juga. Harusnya kau memilih orang yang terpercaya, bukan asal-asalan seperti dia."


"Justru hanya dia orang yang bisa kupercaya, Dean. Tapi aku sediri tak menyangka kalau dia akan melakukan hal ini kepadaku."


Dean mengepalkan tangan. "Kau tenang saja, aku akan menyuruh orang untuk melacaknya," kata Dean penuh keyakinan. Ia kemudian menatap Rebecca, "Apa kau sudah dapat kabar tentang Soraya dari perusahanku?"


Alis Rebecca berkerut. "Soraya? Kenapa dia, Dean?"


"Matt akan mengantarkanmu ke sana. Nanti kau akan tahu setelah tiba di sana."


Rebecca semakin penasaran. "Apa yang terjadi dengannya, Dean? Katakan saja, jangan membuatku penasaran."


"Dia tidak apa-apa. Matt, tolong antarkan Rebecca ke Soraya," katanya tanpa menatap pria itu.


"Baik, Bos."


"Maaf, Rebecca. Aku tidak bisa lama-lama, aku sudah ada janji dengan klien di dalam."


Rebecca menatap bingung saat Matt mengajaknya menuju mobil.


"Ayo, Nyonya."


Wanita itu terpaksa menurut dan meninggalkan Dean.


Sementara Dean dengan seringai licik langsung masuk ke dalam restoran untuk menemui sang pengacara yang sejak tadi sudah menunggunya. "Selamat siang, Mr. Pay. Maaf membuatmu menunggu," sapa Dean saat menghampiri sosok yang sedang duduk di kursi pojok restoran.


Si pengacara berdiri dan menyambut Dean. "Tidak apa-apa, Anda pasti sangat sibuk. Silahkan duduk, Pak Dean."


Dean mendudukan tubuhnya di kursi tepat di depan Mr. Pay. Sementara Mr. Pay melihat-lihat sekeliling untuk mencari pelayan restoran. Setelah ia mengodekan jari kepada pelayan pria yang berdiri di tengah-tengah para pengunjung, saat itulah Mr. Pay duduk dan menatap Dean. "Tidak masalah kan kalau kita bicara sambil makan siang?"


Dean mengangguk. "Tidak masalah, kebetulan aku juga belum makan siang."


"Permisi, ada yang bisa dibantu, Pak?" sapa si pelayan pria dengan ramah.


Si pengacara pun memesan menu makan siangnya. Begitu juga Dean. Dan setelah mereka selesai dan si pelayan pergi, mereka kembali melanjutkan perbincangan penting mengenai Rebecca.


"Jadi begini, kemarin saya ke Kapleng Group untuk bertemu pak Eduardus. Tapi begitu tiba di sana, kata mereka beliau sudah berminggu-minggu tidak masuk kantor. Dan karena tidak ingin istrinya tahu soal indetitas saya yang sebenarnya, saya berpura-pura datang ke rumah mereka dan mengaku sebagai sahabat beliau."


Dean mengangguk. "Itu adalah penyamaran yang bagus, Mr. Pay. Lalu apa kata Rebecca? Dia tidak mencurigai Anda, kan?"


"Sepertinya tidak. Dan saat saya bilang ingin bertemu pak Eduardus, beliau langsung beralasan bahwa suaminya sakit parah dan sekarang sedang melanjalankan pengobatan tradisioanal dalam jangka panjang di sebuah perkampungan yang jauh dari kota."


Dean berdecak. "Dan Anda percaya? Kan bisa saja dia menyingkirkan Eduardus agar semua rencananya berjalan lancar."


"Kalau begitu kita sama. Saya juga sama pemikiran dengan Anda, Pak Dean."


Dean menarik napas panjang. "Lalu apa rencana Anda selanjutnya, Mr. Pay?"


"Saya akan memprosesnya ke jalur hukum. Tapi sebelum itu saya harus mencari bukti kuat dulu. Saya harus benar-benar memastikan di mana keberadaan pak Eduardus saat ini."


"Kalau soal kejahatan yang Rebecca lakukan aku punya buktinya. Aku tahu di mana wanita gila itu menyembunyikan pengacara gadungannya. Dan soal ketidakberadaan Eduarus di rumahnya saat ini, Anda bisa menuntutnya sebagai tuduhan kejahatan. Kalau perlu Anda bongkar semuanya kepada putri kandung Eduardus, karena aku yakin saat ini dia sendiri tidak tahu ayahnya ada di mana."


"Tapi saya masih ragu, Pak Dean. Saya takut kalau saya sudah menuntutnya, tiba-tiba dia menghadirkan pak Eduardus dan balik menyerangku."


"Itu tidak mungkin, dia pasti sudah melenyapkan Eduardus. Buktinya dia bilang Eduardus sedang berada di perkampungan, kan? Rebecca pasti tahu kalau perusahan itu ada kuasa hukumnya. Dan untuk menghindari pertemuan dengan Anda, dia mempercepat tindakannya untuk melenyapkan Eduardus. Jadi ketika Anda datang, dia bisa seenaknya beralasan karena sosok yang bersangkutan sudah tidak ada."


Dean menyeringai. "Itu saja sudah bisa menjadi bukti kuat, bahwa Rebecca tidak ingin Eduardus bertemu Anda. Alasan seperti itu sungguh tidak masuk akal, Mr. Pay."


"Benar, kalau begitu kapan Anda bisa menghadirkan saksinya kepada saya, Pak Dean?"


"Beri aku waktu satu-dua hari. Aku akan menyuruh orangku dulu untuk melacaknya, karena terakhir aku dengar dari Rebecca dia sering berpindah-pindah."


"Baiklah, terima kasih banyak karena Anda mau membantu. Seandainya tidak ada Anda, pasti saya sendiri tidak akan tahu kalau Kapleng Group sudah beralih ke tangan orang lain."


Saat itulah menu makan siang mereka datang. Dan sambil menyantap makan siang bersama, Dean menanyakan beberapa pertanyaan mengenai perkembangan operasional Kapleng Group kepada Mr. Pay.


Di sisi lain.


"Apa yang terjadi, Soraya?" tanya Rebecca saat menghambur masuk. Dilihatnya kepala Soraya yang terdapat perban putih dan plester.


"Aku tidak apa-apa. Lagi pula kenapa juga Mama khawatir padaku, bukannya Mama sudah tidak peduli lagi padaku?"


Buk!


Soraya memukuli tangan Soraya dengan dompetnya. "Kau ini bicara apa? Aku itu selalu peduli, peduli dan peduli kepadamu, Soraya."


"Pembohong! Mama hanya peduli kepada Kensky. Mama bahkan lebih membela dia daripada aku."


"Kau ini bicara apa, hah?" ketus Rebecca.


Soraya tak menjawab. Ia malah mengalihkan pandangan ke arah lain dengan mimik wajah cemberut.


"Kau ini sudah dewasa, Soraya," kata Rebecca, "Sebentar lagi kau akan menikah, masa sikapmu seperti anak kecil begitu?"


Kepala Soraya tersentak menatap Rebecca. "Menikah? Aku tahu semua ini hanya rekayasa Mama biar aku tidak membongar kejahatan Mama di depan Kensky. Iya, kan?"


Rebecca menyipitkan mata. Sambil mendekati anaknya ia berkata, "Atas dasar apa kau menuduhku begitu, Soraya?"


"Tidak usah berpura-pura tidak tahu, Ma. Mama pasti tahu semuanya. Siapa yang tidak tahu Mama? Mama kan hanya lebih mementingkan uang daripada anak kandung Mama sendiri."


Plak!


Tamparan keras mengenai pipi Soraya. Matanya berkaca-kaca. Tangan sebelahnya bahkan menempel di pipi untuk menahan perih yang berdenyut-denyut saat bekas tangan Rebecca masih terasa di bagian itu. "Sudah kedua kalinya Mama menamparku seperti ini, padahal sebelumnya Mama tidak pernah sama sekali bersikap kasar kepadaku."


"Itu pantas kau dapatkan. Kau seharusnya tidak boleh berkata begitu kepadaku, Soraya."


Wanita itu menunduk menahan emosi. Ia mencoba menahan sakit hati, tapi tidak bisa. Airmatanya pun merebak membasahi pipi. "Siapa yang tidak sakit hati jika ibu kandungnya sendiri memberi harapan kepada anaknya dengan menjodohkan si anak dengan lelaki idamannya. Tapi lelaki yang telah dijodohkannya itu lebih memilih ke luar negeri bersama wanita lain, daripada dengan wanita yang dicalonkan."


Rebecca menatap bingung. "Apa yang kau bicarakan, Soraya? Oke, mama minta maaf karena sudah menamparmu. Tapi tolong jelaskan kepada mama, apa maksud dari perkataanmu tadi? Apa maksudmu pergi bersama wanita lain?"


Soraya menarik cairan hidung dan menghapus airmatanya. "Lusa Dean akan mengajak Kensky ke Eropa."


Rebecca terkejut. "Ke Eropa?"


Saat itulah Soraya menatap ibunya. "Iya. kata sekertaris Dean dia akan mengajak Kensky ke sana, mereka akan pergi bertiga: Dean, Kensky dan supirnya."


Rebecca memiringkan kepalanya sambil menatap Soraya. "Dalam rangka apa mereka ke sana?"


Soraya menatap sedih. "Aku tidak tahu, Ma. Yang jelas Mama harus membantuku. Jika benar Mama tidak menjodohkan Kensky dengan Dean, Mama harus mencegah mereka berdua. Aku tidak mau mereka pergi bersama ke sana, Ma."


Bersambung___