Mysterious CEO

Mysterious CEO
Sebuah Perjanjian.



"Mama sudah gila, ya? Untuk apa Mama minta maaf kepadanya?" ketus Soraya tiba-tiba. Hal itu membuat ibunya terkejut.


Rebecca menatap tajam ke arah pintu. "Kau pikir mama sungguh-sungguh, hah?"


"Lantas kenapa Mama pakai acara menangis segala, hah?"


"Mama hanya berpura-pura, Soraya," ia menatap anaknya, "Kita harus berpura-pura baik di depannya selama Eduardus sakit."


"Untuk apa?" tanya Soraya lagi.


"Memangnya kamu mau diusir dari sini, hah? Kita harus bersikap baik kepadanya agar kita berdua tidak diusir dari rumah ini."


"Diusir? Siapa yang akan mengusir kita?"


"Kensky-lah. Dia pasti akan mengusir kita setelah ayahnya meninggal. Ini kan rumahnya. Jadi lebih baik kita harus bersikap baik kepadanya sampai kau menikah nanti dengan Dean dan pindah dari rumah ini."


Soraya tersenyum meremehkan. "Kenapa harus pakai acara berpura-pura segala? Kan Mama bisa meminta Dean untuk menikahiku secepatnya. Begitu kami menikah, kita akan keluar dari sini dan biarkan gadis bodoh itu sendirian."


"Tidak segampang itu, Soraya. Mama punya perjanjian dengan Dean. Pokoknya selama Eduardus masih hidup kita tidak bisa keluar dari sini sebelum tugas mama selesai."


"Perjanjian? Tugas?" tanya Soraya dengan alis mengerut, "Tugas apa, Ma?"


Pandangan tajam Rebecca menuju ke arah pintu masuk dapur ruang makan. "Dean menjanjikan uang satu juta dolar kepada mama kalau berhasil melakukan tugas ini dengan baik. Tugas itu adalah ... mama harus membuat ayahnya Kensky sakit dan lumpuh hingga tak berdaya."


"Mama sudah gila, ya? Kenapa Mama___"


Rebecca menatap Soraya dan hal itu membuat reaksi wanita itu yang tadi emosi kini terdiam seperti patung.


"Kau tidak mau hidup miskin, bukan?" tanya Rebecca.


Soraya pun menggeleng.


"Itu sebabnya kenapa mama rela melakukan ini," Rebecca berdiri dan mulai membereskan meja. Sambil mengumpulkan piring kotor ia berkata, "Apa yang Dean katakan itu benar. Jika nanti Eduardus meninggal kita tidak akan dapat apa-apa darinya. Semua warisan baik rumah maupun perusahan adalah milik Kensky. Jadi saat Dean menawarkan kerjasama yang bisa menjamin hidup kita di masa depan, mama tak berpikir panjang lagi dan langsung menyetujuinya." Selesai mengatakan itu, Rebecca mulai membawa semua piring kotor itu ke dalam bak cuci piring.


"Meninggal? Berarti Mama ingin ayah cepat meninggal, ya? Dasar istri durhaka."


"Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa, Soraya. Jadi sebaiknya kau jangan banyak protes dan turuti saja perkataanku. Kita akan hidup susah kalau laki-laki itu meninggal, karena semua kekayaannya milik Kensky."


"Tapi kalau aku menikah sebelum ayah meninggal itu berarti aku bisa mendapatkan perusahan itu, bukan? Kan kata ayah siapa yang lebih dulu menikah dialah yang pantas mewarisi perusahan ayah."


Rebecca berbalik. "Kau pilih mana, perusahan yang nantinya akan membuatmu repot atau menjadi istri Dean yang hanya tinggal makan, tidur dan bersenang-senang ke manapun kau mau?"


"Tapi kan aku akan menikah dengan Dean, Ma."


Rebecca mendekati meja makan. "Dean tidak akan menikahimu kalau tugas mama belum selesai, Soraya. Mama harus membuat Eduardus lumpuh perlahan lalu meninggal, baru setelah itu dia mau menikahimu."


"Kalau begitu kenapa tidak dari sekarang saja kita bunuh ayah?"


Rebecca melirik ke arah pintu. "Tidak segampang itu. Mama harus membuatnya menderita dulu baru membunuhnya. Itu pun mama harus menunggu perintah dari Dean jika sudah waktunya si tua itu dibunuh."


Alis Soraya mengerut. "Tapi kenapa dia ingin membunuh ayah, Ma? Apa dia punya dendam kepada ayah?"


"Anak tiri?" Soraya terkejut, "Berarti Dean dan Kensky kakak beradik, dong? Sama seperti aku dan dia."


Rebecca menggeleng. "Tidak, mereka tidak punya hubungan apa-apa. Kata Dean sebelum Eduardus menikah lagi dengan ibunya Kensky, dia pernah menikah dengan ibunya Dean. Dan saat Dean berumur tujuh tahun, Eduardus mengusir mereka ke jalanan. Jauh setelah Eduardus meninggalkan mereka, dia kemudian menikah dengan ibunya Kensky. Jadi, mereka sama sekali tidak punya ikatan apa-apa."


"Aku mengerti sekarang. Bisa jadi Eduardus selingkuh dengan ibunya Kensky saat status mereka masih suami-istri. Begitu, kan?"


"Mu-mungkin. Mama tidak tahu masa lalunya seperti apa, karena Dean tidak pernah menceritakan secara jelas. Hanya saja setiap kali amarah Dean terhadap Eduardus muncul, dia pasti akan berkata, 'Aku akan membuatnya menderita dulu sebelum mati. Aku akan membuat dia merasakan seperti yang dia lakukan kepadaku dan ibuku dulu.' Begitu yang mama dengar," jelas Rebecca. Ia menarik napas panjang lalu berpikir, "Tapi sepertinya pemahamanmu benar, Soraya. Kemungkinan Dean dendam kepada Eduardus, karena lelaki itu memilih mamanya Kensky dan mengusir mereka."


"Iya. Karena kalau dengar dari penjelasan Mama, mungkin karena itu alasannya sampai Dean ingin balas dendam."


"Mama rasa juga begitu, tapi sampai saat ini Dean tidak pernah menceritakannya secara jelas tentang alasan yang sebenarnya. Intinya dia ingin balas dendam karena sakit hati kepada Eduardus."


Soraya menyeringai licik. "Aku tahu sekarang alasannya kenapa Dean menerima Kensky bekerja di kantornya. Aku rasa Dean juga akan balas dendam kepadanya."


"Itu sudah pasti. Dean bahkan melarang mama untuk menyakiti Kensky," kata Rebecca cepat.


"Melarang kenapa?" Alis Soraya mencuat menyiratkan minat.


"Mama rasa dia sendiri yang akan melakukannya, apalagi dia tahu Kensky adalah anak kandungnya Eduardus. Dia pasti sudah menyusun rencana untuk gadis itu. Dan kita tidak boleh menyentuhnya demi kebaikan kita sendiri. Jadi, biarkan Dean yang akan menyakitinya. Kita hanya menyimak dan mendengar saja apa yang akan terjadi."


Rebecca menyajikan sup yang masih mengepulkan uap ke dalam mangkuk sedang. Diambilnya botol kaca kecil berwarna gelap dari saku rok kemudian membuka tutupnya.


"Apa itu, Ma?" tanya Soraya saat melihat Rebecca membuka tutup botol itu.


"Ini obat untuk ayahmu," kata Rebecca sambil membuka kertas yang tadi diambilnya dari dalam botol. Kertas itu berisi obat yang sudah dihaluskan kemudian dimasukkan ke dalam sup.


"Kenapa Mama menaruhnya di dalam sup ayah?"


"Iya, karena kalau mama menaruhnya di gelas air ini, bisa-bisa kita akan ketahuan," Rebecca meletakkan mangkuk itu ke dalam nampan bersama segelas air putih, "Sekarang bawa ini ke kamar ayah dan suapi dia."


"Tapi___ "


"Pergi sekarang dan jangan membantah."


Soraya pun terpaksa menurut. Dirinya sekarang tahu apa alasan yang membuat Rebecca sampai mau menaruh obat itu ke dalam sup. Sambil menyeringai puas ia kemudian berjalan sambil membawa nampan berisi makan malam untuk Eduardus. "Ayah, nasibmu sangat sial."


***


Pukul dua belas malam ponsel Kensky bergetar di bawah bantal. Ia sengaja memasang mode getar kalau berada di rumah agar Soraya maupun Rebecca tidak akan tahu soal benda itu. Begitu juga di kantor, namun di kantor ia selalu memasang mode diam agar tidak mengganggu pekerjaannya. Di kantor Kensky tidak pernah memperlihatkan kepada siapa pun handphone yang merupakan hadiah dari sosok lelaki yang menurutnya misterius. Dan yang membuat Kensky masih terheran-heran sampai saat ini adalah; kenapa orang itu bisa memasang foto ibunya di layar handphone itu.


Hal itulah yang membuat Kensky sampai sekarang masih penasaran. Ia bahkan ingin mencari tahu siapa sebenarnya si sosok Ceo yang ada di dalam kontaknya itu.


Gertaran dari bawah bantal membuat Kensky terbangun dari tidurnya. Perlahan ia meraba-raba dengan mata masih terpejam. Merasakan itu bukan hanya sekedar getaran notifikasi, Kensky pun membuka matanya perlahan. Dan begitu melihat nama si pemanggil yang kini terpampang di layar ponsel, matanya terbuka lebar dan terkejut saat melihat Ceo sebagai penelepon.


"Dia meneleponku?"


Dengan cepat Kensky menghubungkan panggilannya sebelum panggilan itu berakhir. Dan inilah kesempatan bagi Kensky untuk mencari tahu siapa sosok bernama Ceo di balik ponsel itu.


Bersambung____