
Kensky kembali menyandarkan kepalanya di dada Dean. "Selama kau bisa jujur dan mau menceritakannya, aku tidak akan pernah mengurangi kadar cintaku terhadapmu, meskipun kau seorang penjahat."
Dean tak menjawab. Ia perlahan bergerak dan memeluk tubuh Kensky erat-erat. Ia mengecup kepala gadis itu penuh penekanan seakan-seakan mewakilkan jawaban dari pertanyaannya tadi. Apakah itu berarti Dean sudah benar-benar jatuh cinta kepada Kensky?
***
Keesokan harinya Dean bangun lebih pagi. Kenikmatan berkali-kali yang ia berikan kepada Kensky membuat wanita itu terlelap sampai saat ini.
"Bos, ada telepon dari Rebecca," kata Matt seraya menyondorkan ponsel Dean.
Saat ini kedua lelaki itu ada di taman samping mension tersebut. Dean sedang menikmati kopi dengan tubuh yang hanya terbalut jubah tidur, sementara Matt sudah rapi dengan setelan jas gelap dan rambut tersisir rapi.
"Halo," sapa Dean datar.
"Dean, kenapa kau tidak mengangkat teleponku dari kemarin?"
"Aku sibuk. Ada apa?"
"Kapan kau akan pulang? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Sekarang saja. Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku ingin kau segera menikahi Soraya."
Dean diam sesaat. "Tugasmu belum selesai, Rebecca. Kau bahkan berjanji akan menjual Kapleng Group dan rumah keluarga itu kepadaku, tapi mana?"
"Kau tahu kan Eduardus sudah hilang, dan sampai sekarang aku tidak tahu Mr. Lamber ada di mana. Sementara semua bukti tentang perusahan itu dan sertifikat rumah mereka ada padanya. Jadi aku harus berbuat apalagi? Aku harus mencari mereka di mana?"
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya selama Kapleng Group belum jatuh ke tanganku, aku tidak akan pernah menikahi Soraya."
"Jangan mengancamku, Dean! Aku bisa melaporkanmu ke polisi atas semua perbuatanmu terhadap Eduardus. Ingat, semua bukti ada padaku, Dean. Jadi sebaiknya kau tepati janjimu atau kau akan di penjara."
Tut! Tut!
Rebecca memutuskan panggilannya sepihak dan itu membuat Dean marah. "Hubungi Mr. Pay sekarang, aku ingin bicara dengannya."
Matt pun langsung melaksanakan perintahnya.
Sementara Dean dengan emosi meluap-luap mengarahkan matanya ke arah lain. "Kau sudah salah mengancamku, Rebecca. Kita lihat saja siapa yang akan di penjara."
Di sisi lain.
"Bagaimana, Ma? Apa kata Dean?" tanya Soraya. Saat ini ia dan Rebecca sedang sarapan pagi berdua.
"Sepertinya dia akan menghindar, tapi kau tenang saja. Dia tidak akan berani mengingkari janjinya kepada mama. Oh, iya, apa kau punya kontak Kensky yang bisa dihubungi? Mama coba telepon ke kontaknya, tapi sudah tidak aktif."
Soraya menggeleng. "Tidak ada. Memangnya kenapa Mama ingin menghubunginya?"
"Mama sudah membuat jadwal pertemuannya dengan dokter Harvey minggu depan. Mama akan berbohong padanya dan memberitahukan, bahwa ayahnya sudah sekarat. Dengan begitu dia pasti akan ke sini dan mama akan langsung mengarahkannya untuk menghadiri pertemuan pertama bersama dokter Harvey."
"Baiklah, mungkin aku bisa mengirim email kepadanya."
"Iya, secepatnya lebih baik."
"Kapan Mama mau dia datang ke sini?"
"Secepatnya. Besok, lusa pun bisa."
Soraya menyuapi potongan daging ke mulutnya. "Kalau Dean tidak mengijinkannya, bagaimana? Kan mereka baru saja tiba di sana, Ma."
Rebecca menyesap sedikit air dari gelasnya. "Itulah kenapa mama tidak ingin Dean tahu soal ini. Karena meskipun kita punya tujuan yang sama, tapi mama tidak mau dia mencampuri urusan mama. Mama tidak mau dia menggagalkan rencana kita untuk menjodohkan Kensky dengan dokter Harvey hanya karena alasan pembalasan dendam. Dia pasti ingin Kensky terus bersamanya untuk melampiaskan amarahnya terhadap Eduardus, tapi di satu sisi kita juga butuh Kensky untuk kepentingan kita sendiri."
Soraya menyudahi sarapannya. "Baiklah, soal Dean sekarang aku serahkan semuanya kepada Mama. Aku ingin secepatnya mendapat kabar darinya kapan dia akan menikahiku."
"Kau tenang saja, Sayang. Dia pasti akan menepati janjinya."
"Kalau begitu aku berangkat dulu. Meskipun Dean tidak ada, tapi aku harus menunjukkan kedisiplinanku di kantor itu."
Rebecca ikut berdiri. "Itu harus, Sayang. Karena sebentar lagi kau akan menjadi istri dari pemimpin perusahan itu."
"Aku pergi dulu ya, Ma. Bye."
"Hati-hati, Sayang," Rebecca menatap tubuh Soraya yang kini berjalan menuju pintu. Dengan pandangan kosong ke arah itu ia berkata pelan, "Kau sudah salah mengajak orang untuk bekerja sama, Dean. Kau sudah salah melibatkan orang, jadi jangan pikir kau bisa segampang itu membodohiku," Rebecca kembali bergerak untuk membereskan meja makan. Dengan gerakan pelan ia berkata, "Semoga saja semua ini cepat berakhir. Aku tak tahan lagi ingin hidup seperti nyonya-nyonya besar pada umumnya."
Dengan cepat ia meletakkan semua piring kotor itu ke dalam bak cuci, kemudian merogoh ponsel dari sakunya. Sambil menunggu panggilannya terhubung, Rebecca mencari kursi untuk duduk. "Halo, Dean. Maaf aku menghubungimu lagi."
"Ada apa lagi?"
"Begini, aku punya rencana soal Kensky. Jika kau tidak keberatan, minggu depan aku akan menyuruh dia pulang untuk menghadiri pertemuan."
"Pertemuan apa?"
"Kau tahu, ternyata dia telah dijodohkan oleh ibunya. Aku telah membongkar kamarnya kemarin dan tidak sengaja melihat kotak yang isinya ada foto Barbara yang sedang duduk bersama bocah laki-laki. Di dalam kotak itu juga ada buku kecil yang dulunya adalah buku harian Barbara. Aku sempat membaca isi buku itu dan ternyata bocah yang duduk di samping Barbara itu adalah calon suami Kensky. Itu sebabnya aku ingin dia pulang ke sini minggu depan, karena aku akan mempertemukan dia dengan laki-laki itu."
"Memangnya kau tahu laki-laki itu siapa?"
"Tidak, tapi aku punya laki-laki lain yang akan kujodohkan dengan dia. Lagi pula dia juga pasti tidak tahu laki-laki di foto itu siapa dan ada di mana. Jadi daripada dia menunggu lama, aku sudah menyiapkan lelaki tampan dan mapan untuk menggantikan posisi laki-laki itu."
Dean terdiam cukup lama. "Baiklah, kapan kau akan mengadakan pertemuan itu?"
"Minggu depan. Mungkin sebaiknya hari sabtu saja."
"Oke."
"Kau akan mengijinkannya, Dean?"
"Iya."
"Oh, Dean, terima kasih."
Tut! Tut!
Dengan hati penuh bahagia Rebecca berdiri dan meletakan ponselnya di atas meja dapur. Ia tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan semua rencananya akan berjalan dengan mulus. "Aku tak sabar lagi menunggu waktu itu datang."
Ting! Tong!
Rebecca yang baru saja menyalakan air di bak cuci terpaksa mematikannya kembali. "Siapa, sih?" ketusnya sambil melangkah keluar dapur dan berjalan untuk membuka pintu depan.
Ting! Tong!
"Sebentar!" pekiknya kesal, "Siapa sih pagi-pagi begini sudah bertamu?"
Clek!
Dibukanya pintu dengan kasar dan ....
Zet!
Rebecca terdiam saat menatap sosok dua pria berpakaian polisi yang kini berdiri di depan pintu. Keduanya sama-sama bertubuh tinggi. Tapi yang satu terlihat lebih tegap dan kokoh, sementara yang satu lagi terlihat lemas akibat usia.
"Maaf, kalian ingin mencari siapa?" tanya Rebecca.
Kedua polisi itu berbalik menghadap Rebecca.
"Selamat pagi. Apa benar ini rumah Mrs. Oxley?" tanya polisi yang wajahnya terlihat lebih dewasa dari polisi yang satu lagi.
"Iya, saya sendiri."
"Kebetulan sekali, kalau begitu sebaiknya Anda ikut kami saja sekarang."
Mata Rebecca melotot. "Ikut kalian, untuk apa? Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa."
"Sebaiknya Anda ikut kami saja dulu dan menjelaskannya di kantor polisi. Ada seseorang di sana yang sudah menunggu Anda."
Rebecca terdiam. "Seseorang? Siapa?"
"Itu sebabnya kami menjemput Anda, Nyonya Rebecca. Ayo, sebaiknya sekarang Anda ikut kami."
Rebecca memberontak. "Tidak, aku tidak mau! Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa."
"Kami tidak mengatakan bahwa Anda melakukan kesalahan, Nyonya. Kami hanya ingin Anda ikut ke kantor polisi, karena seseorang sudah menunggu Anda di sana."
Wanita itu berpikir sejenak. "Seseorang? Siapa dia, dan kenapa dia harus menungguku di kantor polisi?" mata Rebecca kembali melotot, "Gawat, apakah orang itu adalah Eduardus?"
Bersambung___