Mysterious CEO

Mysterious CEO
Kondisi Eduardus.



"Jadi kau besok ulang tahun juga? Wah, sungguh kebetulan. Tapi kenapa kau bilang merayakannya dengan foto ... Maaf bukannya ingin ikut campur, apa ibumu sudah meninggal?" Kim meraih sebelah tangan Kensky dan mengusapnya.


Kensky tersenyum. "Tidak apa-apa. Iya, ibuku sudah meninggal saat ulang tahunku yang ketujuh. Itu sebabnya setiap tanggal itu aku merayakan dua perayaan; mengenang kematian ibuku dan memperingati hari ulang tahunku. Aku___"


"Jangan! Jangan diteruskan," sergah Kim. Matanya mulai nanar, "Aku minta maaf karena sudah membahas hari ulang tahun, yang ternyata adalah hari berdukamu."


Kensky tertawa. "Ya, ampun, kau kenapa? Aku tidak apa-apa, Kim. Santai saja."


Kim menghapus bulir kristal yang menumpuk di ujung mata. "Sebenarnya aku juga tidak ingin hadir, besok adalah anniversary aku dan pacarku yang kesatu tahun. Kami berencana akan merayakannya di sebuah restoran, tapi karena pak Dean sudah mengumumkan undangannya mau tidak mau aku dan pacarku membatalkan rencana kami."


"Ya, ampun, pasti pacar Anda sangat kecewa," kata Kensky dengan wajah sedih.


"Jangan formal. Ingat, Kim saja."


Kensky mengangguk sambil tersenyum.


Sedangkan Kim langsung melanjutkan penjelasannya. "Meski rencana kami batal, tapi kami akan tetap bertemu. Jadi sebenarnya tidak ada masalah," Kim melirik kiri dan kanan lalu mencondongkan wajah seakan berbisik, "Sebenarnya pacarku karyawan Kitten Group juga, Sky. Tapi kau jangan bilang siapa-siapa, ya? Kau tahu, perusahan ini punya aturan khusus untuk masalah itu."


"Aturan khusus?" tanya Kensky, "Aturan apa, ya?"


"Pak Dean melarang semua karyawan Kitten Group untuk menjalin hubungan dengan sesama kolega. Jadi bagi siapa yang saling jatuh cinta, mau tidak mau harus menjalin hubungan secara diam-diam. Termasuk aku," bisiknya.


Mata Kensky terbelalak. "Benarkah?" tanyanya dengan nada terkejut.


"Sstt! Jangan keras-keras."


"Ops! Maaf." Kensky tertawa.


"Tidak apa-apa, tapi kau harus janji dulu bahwa kau tidak akan membeberkan berita ini kepada siapa pun, karena kalau hal ini bisa sampai di telinga pak Dean maka habislah riwayat kami."


"Ya, ampun. Kejam sekali."


Kim melirik ke kiri dan kanan untuk memeriksa keadaan. Merasa aman karena posisi mereka jauh dari jangkauan orang lain, ia pun hendak berbisik saat Soraya muncul di hadapannya. Wanita itu berdiri tepat di belakang Kensky. Dan mau tidak kau Kim terpaksa menelan kata-katanya yang hendak terucap lalu membetulkan duduknya. Ia bersyukur kata-kata itu belum terucap, karena ia ingin mengatakan kepada Kensky siapa nama pacarnya itu.


"Ternyata kau di sini! Aku sudah lelah mencarimu ke mana-mana, tapi ternyata kau malah asik duduk manis di sini," ketus Soraya.


Kensky terkejut dan langsung menoleh ke samping di mana Soraya saat ini berdiri. "Untuk apa kau mencariku? Kau kan tahu sekarang waktunya jam makan siang," balas Kensky tak kalah ketus.


"Kenapa ponselmu tidak aktif? Mama menghubungi, tapi nomormu katanya tidak aktif."


Kensky nyaris saja menyebutkan kontak barunya. Tapi mengingat ponsel itu adalah tipe keluaran terbaru dan hanya beberapa orang yang memilikinya, ia lebih baik menyimpan rahasia tentang ponsel itu untuk sementara demi keingintahuan Soraya dari mana datangnya benda itu.


"Handphone-ku mati total. Kemungkinan juga sudah rusak. Aku belum punya uang untuk membeli baru."


"Kalau sudah mati dikubur saja," kata Soraya enteng, "Kata mama tadi ayah pingsan di kantor dan sekarang sudah pulang ke rumah. Jadi, kata mama kau tidak usah keluyuran dan langsung pulang ke rumah begitu selesai jam kerja. Intinya kau disuru cepat pulang untuk menjaga ayah," kata Soraya. Selepas mengatakan itu ia pun langsung pergi.


Kim yang dari tadi sudah jengkel dan penasaran dengan cepat melontarkan pernyataan kepada Kensky, "Maaf, Kensky ... tapi jujur aku sangat tidak suka padanya. Dari sikap maupun cara bicaranya aku sangat tidak suka."


"Tidak usah digubris, dia memang seperti itu. Aku saja kadang tidak terlalu peduli kepadanya."


Di saat itu juga sang pelayan muncul membawa pesanan mereka. Tak ingin membahas tentang Soraya lagi, Kensky melontarkan beberapa pertanyaan mengenai aturan dan tata tertib yang berlaku di Kitten Group.


***


Sesuai pesan Rebecca kepada Soraya tadi saat makan siang, Kensky segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat lalu pulang. Jika biasanya ia akan mampir ke tempat Tanisa untuk mengobrol, kali ini pulang kantor ia langsung pulang ke rumah. Karena sedikit terlambat akibat berjalan kaki, Kensky langsung mencari Eduardus untuk memastikan kondisinya tanpa melepas atribut kantor.


"Papi! Aku pulang."


Kensky menaiki tangga menuju lantai atas dan masuk ke kamar yang dulunya yang di tempati mendiang ibunya bersama Eduardus. Meski hubungannya dan sang ayah tidak pernah akrab sejak Rebecca hadir di rumah itu, tapi mendengar lelaki itu sakit membuat hati kecil seorang anak ikut tergerak. Sejahat-jahatnya Eduardus kepada Kensky, lelaki itu tetap ayah kandungnya.


"Papi!" pekiknya di depan pintu. Ia berlari mendekati ranjang, "Apa yang terjadi, Papi?" Dilihatnya Eduardus terbaring dengan tubuh yang tertutup selimut, "Apa yang terjadi?"


Rebecca yang sedang duduk di kursi samping ranjang terlihat sedang menangis.


"Entahlah, Kensky. Saat jam makan siang tadi mereka mengantar ayahmu pulang ke rumah. Kata mereka ayahmu jatuh pingsan di ruangan rapat. Tadi ayahmu sudah sadar, tapi tidak tahu kenapa pas dia bangun tiba-tiba kondisinya sudah seperti ini," kata Rebecca kemudian kembali menangis.


"Papi? Papi bangun, Papi!" Matanya nanar, "Papi sakit apa? Apa yang Papi rasakan?" tanya Kensky.


Eduardus menggeleng. Matanya yang tadi terpejam kini perlahan terbuka. Ia mencoba untuk meraih tangan Kensky, tapi tidak bisa.


Kensky terkejut. "Papi kenapa? Tangan Papi kenapa, Pi?" Kensky memegang tangan Eduardus, "Papi lemas? Kita ke dokter saja ya, Pi?"


Lagi-lagi Eduardus menggeleng lemah. Jika tadi matanya menatap cemerlang, kini matanya berubah nanar. Ia terus mencoba mengangkat tangannya untuk meraih pipi Kensky, tapi lagi-lagi tidak bisa. Setiap kali hendak mendekati wajah gadis itu, tangannya langsung terjatuh dan kembali terkulai.


Zet!


"Papi!" pekik Kensky, "Apa yang terjadi, Papi?" Ia menatap Rebecca dan Soraya," Kenapa kalian diam saja? Ayo bawa papi ke rumah sakit!" bentak Kensky. Air matanya merebak lalu menatap Eduardus, "Papi, kumohon bertahanlah. Papi pasti akan sembuh. Tunggu sebentar, ya? Aku akan menghubungi dokter dulu." Kensky segera berlari keluar dan meninggalkan kamar.


Soraya yang sedari tadi berdiri hanya diam dan terus menatap ibunya yang dia tahu hanya berpura-pura.


Rebecca yang tadinya ikut menangis, kini menghapus air matanya lalu menunduk menatap Eduardus dengan wajah garang. "Dasar laki-laki sialan! Pokoknya kau harus menolak untuk diperiksa, paham?"


Mata Eduardus melotot menatap Rebecca. Ia tak menyangka bahwa wanita yang dicintainya ternyata sangat jahat.


"Kau dengar, tidak? Pokoknya kau harus menolak kalau dokter memeriksamu. Kalau kau membiarkan dirimu diperiksa, akan kupastikan besok kau tidak akan bernapas lagi. Mengerti?"


Rebecca kembali berakting saat dentuman hak tinggi Kensky kembali terdengar.


"Papi," teriak Kensky begitu masuk ke dalam kamar, "Dokter tidak bisa ke sini, Pi. Sebaiknya kita saja yang ke sana." Kensky menepiskan selimut yang menutupi sebagian tubuh Eduardus, tapi sang ayah malah menggeleng kuat dan hal itu membuat Kensky terdiam, "Kenapa, Papi? Kita ke dokter, ya? Papi pasti akan sembuh."


Kensky membantunya untuk bangun, tapi Eduardus menolaknya.


"Hnnng! Hnnng!"


"Papi?" Kensky terkejut, "Papi kenapa?"


"Hnnng! Hnnnng!"


"Papi bersuara, Pi! Kenapa Papi tidak bersuara?"


Bersambung___