
"Iya. Karena kalau menurut rencanamu, dia pasti tidak akan percaya soal surat kaleng yang mengatasnamakan Barbara. Jadi mama pakai cara mama saja dengan menyangkut-pautkan nama ayah ke dalam masalah ini."
Soraya mengangguk-angguk dengan wajah penasaran. "Terus Mama bilang apa padanya?"
"Mama bilang, bahwa ayahnya telah menjodohkan dia dengan laki-laki tampan dan mapan. Dan tanpa bertanya siapa laki-laki itu dan pekerjaannya apa, dia malah langsung senang dan setuju. Matanya bahkan berkaca-kaca karena bahagia, Soraya."
Mata Soraya berbinar-binar. "Mama memang hebat. Padahal aku baru ingin meminta saran dari Mama soal rencana itu. Aku sedikit tidak yakin dengan rencanaku, tapi ternyata Mama sudah melakukannya. Aku sempat ragu dengan caraku itu, takutnya dia malah akan curiga kepada kita kalau kita menyangkut-pautkan ibunya di dalam surat itu. Tapi seandainya calonnya itu jelek, kira-kira dia akan setuju tidak, ya?"
Rebecca tertawa. "Mama sempat menanyakan hal itu, tapi baginya tidak masalah. Katanya cinta bisa timbul kapan saja."
Soraya terbahak, tapi Rebecca segera mengodekan kepadanya agar volume suara wanita itu dipelankan. "Kau mau dia dengar, ya?"
Soraya menahan tawa. "Maaf, Ma, aku terlalu bahagia soalnya. Lalu apa rencana Mama selanjutnya?"
"Mama tidak akan membahas masalah ini untuk berapa hari ke depan. Tapi nanti mama akan mengatur jadwal untuk dokter Harvey dan Kensky, mereka harus bertemu dan berkencan."
Alis Soraya berkerut-kerut menatap ibunya. "Maksud, Mama?"
"Mama akan mereservasi restoran untuk mereka berdua. Tapi sebelumnya mama akan mendiskusikan hal ini dulu dengan dokter Harvey. Yang terpenting kan sekarang Kensky sudah setuju, jadi kita tinggal menunggu respon dari si dokter tampan itu. Dan jika dia setuju, kita akan mempertemukan mereka berdua secepatnya."
Soraya menatap geli. "Ya, ampun, aku tak bisa membayangkan mereka berdua akan bertemu akibat cinta yang menggebu-gebu. Tapi Mama yakin Kensky akan tertarik pada dokter Harvey?"
"Itu pasti, Sayang. Responnya tadi sudah sangat jelas membuktikan bahwa dia setuju. Dia bahkan senang sekali waktu mendengar dirinya sudah dijodohkan dengan laki-laki tampan dan mapan."
"Kalau begitu Mama harus cepat-cepat menghubungi dokter Harvey. Usahakan mereka bertemu sebelum Dean mengajaknya ke Jerman, Ma."
"Itu pasti, Sayang."
Di sisi lain.
Di dalam kamar mandi Kensky sedang berlama-lama untuk menikmati kebahagiaannya saat ini. Ia tak pernah menyangka jika ternyata orangtuanya telah menjodohkan dia dengan Dean. Misteri dari semua rasa penasaran terhadap pengakuan Dean dan Mrs. Stewart saat itu kini sudah terungkap semua dan hal itu membuatnya sangat bahagia. Dan sekarang di bawah pancuran air yang sangat pelan, Kensky menggosokkan tubuhnya dengan sabun hingga menciptakan busa yang sangat banyak. Ia bahkan melakukannya secara perlahan-lahan, seakan membayangkan bahwa Dean-lah yang menggosokkan sabun itu ke tubuhnya.
Perlahan Kensky memejamkan mata, membayangkan betapa nikmatnya bibir Dean saat menyentuh leher, bibir, dada dan bagian terlarang miliknya yang selalu membuat tubuhnya bergetar ketika mencapai puncak dari kenikmatan itu. Kenikmatan yang selalu membuatnya gila dan tak bisa melupakan Dean.
Karena saat ini ia sudah menemukan jawaban atas segala yang mengganggu pikirannya, Kensky pun sudah memutuskan siapa laki-laki yang pantas untuk menjadi suaminya.
Setelah selesai mandi Kensky membungkus tubuh dan rambutnya dengan handuk berwarna merah senada. Belum langsung mengenakan pakaian, Kensky segera mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi ceo. Ia harus memastikan bahwa lelaki itu sudah menepati janjinya, karena sebentar lagi pasti Mr. Lamber akan datang dan menanyakan soal hutang sang ayah.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah___"
Tut! Tut!
Kensky mencoba lagi untuk menghubungi nomor yang sama.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
Tut! Tut!
"Kenapa tidak aktif, ya?" bisiknya pelan. Tak ingin usahanya sia-sia, Kensky kembali menekan radial dan lagi-lagi jawabannya sama, "Ya, sudah, mungkin dia sedang sibuk."
Karena hal ini merupakan masalah yang sangat penting baginya, Kensky mengetik pesan singkat untuk menyuruh lelaki itu agar menghubunginya kembali begitu ponselnya aktif.
"Ya, Tuhan, semoga dia cepat membaca pesan ini."
Ting!
Gadis itu menoleh. Tahu kalau itu notifikasi balasan dari orang yang memang sedang ia tunggu, dengan cepat Kensky mengambil ponsel itu dan membaca isi pesannya.
Zet!
Mata Kensky cemerlang saat melihat satu pesan itu yang ternyata dari orang yang dia harapkan.
"Maaf aku tidak sempat mengabarimu. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan minggu ini dan harus aku sendiri yang menanganinya. Nanti malam aku akan meneleponmu, ya. Jangan marah."
Selesai membaca pesan itu, Kensky bertanya-tanya dalam hati, "Kira-kira dia sudah berhasil melunaskan hutang papi tidak, ya? Atau jangan-jangan Dean tidak mau menerima uangnya?"
Tak ingin memikirkan hal itu, Kensky bergerak menuju lemari dan mengambil kotak yang selalu di simpannya dengan baik. Diambilnya foto di mana ada sosok lelaki yang baru saja mengirim pesan kepadanya itu yang tak lain adalah bocah di dalam foto."
"Mami, apa mami akan marah padaku jika aku menolak lelaki ini? Apa mami tidak akan merestui, jika aku menikah bukan dengan lelaki pilihan mami ini?" Air mata Kensky mulai menetes, "Tapi aku sangat mencintai Dean, mami. Aku hanya ingin menikah dengan Dean dan hanya Dean. Maafkan aku, mami. Tapi aku sudah memutuskan, bahwa aku hanya ingin menikah jika lelaki itu adalah Dean."
Kensky terus menangis karena merasakan sesak di dadanya. Air mata bahkan jatuh ke atas foto yang ada di tangannya tepat di atas wajah Barbara. Ini adalah pertama kali ia tidak mematuhi perintah sang ibu, padahal sejak kecil Kensky tidak pernah melanggar atau bahkan menolak apa yang dikatakan Barbara. Namun, kali ini ada pengecualian karena keinginan sang ibu sangat bertolak belakang dengannya. Kensky sudah terlanjur jatuh cinta kepada Dean, bahkan cinta itu muncul jauh sebelum ia membuka kotak itu.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel membuat Kensky menoleh. Sambil memegang foto ia mengambil benda itu kemudian menghubungkan panggilannya. "Halo?" sapa Kensky lemah.
"Maafkan aku sudah membuatmu menunggu."
Sosok di balik telepon ternyata adalah lelaki calon pilihan Barbara yang tak lain adalah ceo, "Bagaimana kabarmu?" tanya lelaki itu.
Bukannya menjawab, Kensky menarik cairan hidungnya dan hal itu membuat sosok di balik telepon bertanya-tanya.
"Ada apa, Sayang? Kau habis menangis, ya?"
"Tidak," bohongnya, "Aku sedang flu."
"Kau sudah minum obat? Atau mau kusuruh dokter ke rumahmu untuk___"
"Jangan ... tidak usah, terima kasih. Sebenarnya ada hal yang ingin kubicaran denganmu."
"Hal penting? Katakanlah."
Kensky menarik napas panjang lalu membuangnya pelan-pelan. "Aku dapat tugas dari atasanku untuk mengawasi perusahan mereka di Eropa. Lusa aku akan berangkat ... apa kau akan mengijinkanku pergi ke sana?"
Seseorang di balik telepon itu diam sejenak. "Kamu sendiri bagaimana, apa kau ingin pergi ke sana?"
"Iya. Tapi jika kau tidak mengijinkannya, aku tidak akan pergi." Kensky sengaja mengeluarkan kata-kata itu demi keingintahuannya terhadap; seberapa besarkah lelaki itu mendukung pekerjaannya?
"Sebagai calon suami aku tidak akan memberikan batasan terhadap apa yang disukai calon istriku. Jika itu memang keinginanmu, pergilah. Tapi ingat, kau tidak akan kuijinkan lagi bekerja setelah kita menikah. Aku bisa membiayai semua keperluan dan kebutuhanmu tanpa harus bekerja ke luar negeri."
"Terima kasih banyak, aku pikir kau tidak akan mengijinkanku."
Bersambung___