Mysterious CEO

Mysterious CEO
Menyangkutpautkan CEO.



"Kita berdoa saja, Ma. Semoga saja temanku itu bisa membantu dan memberikan pinjaman uang agar aku bisa melunasi hutang papi. Seandainya itu bukan perusahan mami, aku tidak akan peduli meski perusahan itu akan jatuh ke tangan orang lain."


"Baiklah. Jika itu sudah keputusanmu, mama hanya bisa mendukungmu, Sayang."


Kensky pun berdiri. "Tunggu sebentar, aku akan mengambil sertifikat itu."


Rebecca pun bersorak-sorak gembira. Dalam hati ia berteriak-teriak seperti orang yang sedang menang undian. "Sebentar lagi aku akan kaya raya. Uang dari penjualan perusahan ditambah uang rumah ... Wahh, aku tak sabar lagi ingin liburan dan menjauh dari keluarga ini."


Di sisi lain.


"Kau sudah mengurus semuanya, Matt?" tanya Dean yang kini sedang berada di ruang tamu.


"Sudah, Bos. Semuanya sudah beres."


Bibir Dean mengulas senyum licik. "Aku tak sabar lagi ingin melihat mereka keluar dari rumah itu," katanya seraya menyodorkan tubuhnya untuk menuangkan wiski ke dalam gelas.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel membuat Dean menghentikan tangannya. Tangan berbulu itu kini mengambang ke udara saat hendak meneguk minuman.


Matt yang kebetulan berada di dekat meja tempat di letakannya ponsel Dean langsung mengambil benda itu dan memberikannya pada sang atasan.


"Siapa?" tanya Dean.


"Rebecca, Bos."


Dengan cepat Dean pun menelan habis isi gelasnya lalu menyambungkan panggilan. "Hmm?" sapa Dean begitu panggilan terhubung.


"Dean, aku sudah tahu di mana sertifikat itu. Sertifikat itu ternyata ada pada Kensky."


Seringai tajam semakin tampak di wajah Dean. "Bagus. Tapi apa dia mau memberikan sertifikat itu kepadamu?"


"Iya, dia mau memberikannya. Aku sengaja menyuruh orang yang sama untuk datang dan memberikan keterangan palsu. Aku menggunakan namamu sebagai alasannya."


"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Dean.


"Orangku bilang padanya, bahwa kau ingin dalam minggu ini hutang itu harus lunas bagaimana pun caranya. Sebelumnya aku memang sudah berpikir pasti Kensky akan minta perpanjang lagi. Jadi aku sudah mengajarkan kepada orangku, bahwa jika itu terjadi dia harus beralasan bahwa kau meminta jaminan untuk perpanjangan sampai hutang itu lunas. Dan ternyata cara itu ampuh, dia menyetujuinya dan langsung memberikan sertifikat rumah ini."


"Kau memang jenius, Rebecca. Aku memang tidak salah memilihmu sebagai partner kerjaku. Lalu, apa sekarang dia sudah memberikan sertifitkat itu kepadamu?"


"Sudah. Sertifikat itu sekarang ada pada orang suruhanku. Tapi jika kau mau, besok akan kubawa sertifikat itu padamu agar transaksi kita bisa dipercepat sebelum dia melunasi hutang yang sebenarnya tidak ada."


"Memangnya dia bilang padamu, bahwa dia akan melunasi hutang Eduardus?"


"Iya, katanya dia akan minta bantuan kepada temannya. Aku tidak tahu teman yang mana, yang jelas aku juga tidak mau tahu. Yang penting aku bisa mendapatkan keuntungan dari kalian berdua."


Dean berdecak. "Baiklah, tapi tunggu sampai aku kembali. Besok aku akan ke Jerman. Ada urusan bisnis yang harus kulakukan di sana."


"Tidak masalah, calon mantuku. Kapanpun transaksi itu dilakukan, ibu mertuamu ini akan selalu bersedia. Jaga dirimu, ya."


Tut! Tut!


Rebecca mematikan sambungannya, sementara Dean yang kini sedang duduk tampak menunjukan ketidaksukaannya. "Matt?" panggilnya pelan.


"Iya, Bos?"


"Baik, Bos."


"Ingat, main cantik. Jangan sampai dia tahu kalau aku yang menyuruh kalian."


"Siap, Bos." Matt menunduk pamit.


Merasa puas dengan perbuatannya, Dean kini menuangkan wiski lagi ke dalam gelas. "Kita lihat saja, siapakah yang lebih pintar di antara kita berdua, aku atau kau, Rebecca? Dean tertawa lepas, "Kau pikir aku mau mengeluarkan uang seperpun untukmu," kata Dean kemudian menelan habis isi dalam gelasnya.


***


Di dalam kamar Kensky tampak bersedih. Hari sudah gelap, bahkan detik jarum jam yang berbunyi sangat terdengar jelas di telinganya. Gadis itu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan tengah malam. Ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan perjanjiannya dengan Mr. Lamber.


"Kenapa dia tidak merespon teleponku, ya? Apa dia marah padaku? Tapi karena apa?" tanya Kensky seraya menatap foto bocah lelaki yang sedang duduk bersama ibunya.


Kensky terus menghubungi kontak yang bernama Ceo itu, tapi sejak tadi__ entah sudah berapa panggilan tak terjawab__ teleponnya tidak direspon. Kensky takut jika masalahnya tidak akan terselesaikan, sementara ia sudah berjanji sampai-sampai memberikan sertifikat rumahnya sebagai jaminan. "Ini semua salahku. Harusnya aku jangan dulu berharap dan jangan dulu memberikan sertifikat itu sebelum mendapat persetujuan langsung dari dia," Kensky mengendus, "Mami, bagaimana jadinya kalau ternyata dia menolak untuk membantuku? Rasanya aku tak tega perusahan mami harus jatuh ke tangan orang lain."


Kenksy membaringkan badan menghadap langit-langit. "Mami, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Seandainya mami ada di sini, masalah pasti tidak akan sesulit ini. Tapi semoga saja laki-laki yang entah namanya siapa itu bisa membantuku untuk mempertahankan perusahan mami."


Wajah Dean tiba-tiba muncul dalam benaknya. Wajah tampan yang begitu datar melayang-layang seakan memanggilnya. Kensky tersentak. "Kenapa aku memikirkannya?"


Tak bisa dipungkiri Kensky memang menyukai Dean. Kenangan-kenangan yang telah mereka lewati pun menyelimuti pikirannya. "Seandainya aku tidak dijodohkan oleh mami, aku pasti sudah menerima tawaranmu itu, Dean. Bahkan tanpa keterkaitan soal hutang pun aku mau menjadi pacarmu."


Air mata Kensky mulai menetes di pipinya. Kenangan sejak awal dirinya dan Dean bertemu, hingga tadi saat lelaki itu muncul di apartemen Tanisa membuat Kensky merasakan rindu terhadap lelaki itu. Dan meskipun begitu singkat, tapi Kensky ingin menyimpan kenangan-kenangan manis yang pernah dia lewatkan bersama Dean. Apalagi sikap Dean yang mesum, tapi tetap menghargainya.


Karena tak ingin berlarut dalam kesedihan yang membuatnya sakit hati, Kensky bangkit dari ranjang, mendekati nakas kemudian meraih ponselnya. Ia kemudian berjalan menuju balkon seraya menghubungi kontak Ceo. Sambil menempelkan ponsel di telinga ia berkata, "Semoga saja dia mau membantuku," kata Kensky penuh harap.


"Halo, Sayang?" sapa seseorang dari balik telepon.


Kensky terkejut seakan tak percaya. Tapi karena sadar jika itu nyata, ia pun tersenyum lebar karena setelah sekian kali akhirnya orang yang dihubungi mau mengangkat teleponnya. "Maaf mengganggumu malam-malam begini," kata Kensky dengan suara terdengar lemah.


"Tidak apa-apa. Tapi kenapa suaramu pelan, apa kamu sakit?"


"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya ... Eh, aku ... eh ...."


Sosok di balik telepon tertawa. "Eh, eh, apa?"


Kensky bingung harus berkata apa. Sebenarnya sangat tidak pantas jika ia meminta lelaki itu untuk melunasi hutang Eduardus. Namun karena lelaki itu pernah menawarkan diri untuk selalu membantunya, Kensky pun sedikit mengorbankan harga diri demi mengutarakan masalah yang ia hadapai saat ini. "Maaf sebelumnya, tapi ...."


"Tapi apa, Sayang?"


Suara lembut dari balik telepon membuat Kensky yakin jika dia mau membantunya. "Maaf jika aku lancang, tapi apa pertolonganmu masih berlaku sampai saat ini?"


Laki-laki itu terbahak. "Sayang, kamu itu lucu. Aku jadi gemas padamu. Seandainya kamu ada di sini, aku sudah memelukmu dan tidak akan melepasmu."


Wajah Kensky kontan memerah. Entah kenapa kata-kata itu membuatnya teringat pada Dean. "Maaf, tapi___"


"Sekali lagi kau minta maaf, pertolongan itu tidak akan berlaku lagi," ledeknya.


"Baiklah. Eh, begini ... Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Ini menyangkut perusahan mami," kata Kensky.


"Perusahan Barbara? Maksudmu Kapleng Group?"


Bersambung__