Mysterious CEO

Mysterious CEO
Penyebab Kematian Barbara.



Ekspresi Dean langsung berubah. "Saat malam ulangtahunmu yang ketujuh tahun, ibumu menemuiku waktu itu."


Kensky tampak berpikir. "Kalau itu aku ingat, tapi mami tidak bilang padaku kalau malam itu dia mau ke mana."


"Malam itu dia datang untuk meramaikan acara yang aku, kakek da nenekmu laksanakan demi memperingati hari ulangtahunmu. Jadi setiap tanggal lima belas juni, kami merayakan ulangtahunmu tanpa kau ketahui."


Mata Kensky kembali berkaca-kacaa. "Benarkah?"


Dean tersenyum. "Benar, dan saat itulah kami sepakat membuat ulang tahun Kitten Group tepat di tanggal yang sama dengan tanggal kelahiranmu."


"Ya, Tuhan, jadi barusan peringatan itu bukan hanya sekedar ulang tahun kantor?"


"Tidak, Sayang, ulang tahun kantor bukan tanggal yang sama dengan ulangtahunmu. Tapi kami semua sudah sepakat melakukan peringatan itu di tanggal kelahiranmu, dan itu tidak ada yang tahu kecuali aku dan semua keluargamu."


Kensky kembali menangis. "Aku tak menyangka, ternyata keluarga mami tidak pernah melupakanku. Padahal aku berpikir selama ini mungkin keluarga mami tidak mau menganggapku dan mencariku, karena membenci mami."


"Sama sekali tidak, Sky. Meskipun kakek dan nenekmu tidak pernah menampakan diri di hadapanmu, tapi cinta mereka begitu besar terhadapmu. Dan setahu aku, begitu aku bergabung dengan keluarga Stewart, hanya mereka bertigalah yang aku kenal."


"Kakek? Bisa kau ceritakan soal kakek kepadaku?"


Dean mengangguk pelan. "Kakekmu adalah sosok yang baik, tapi tegas. Beliau sangat disiplin dan berdedikasi tinggi. Beliau sangat tampan dan wajah ibumu sama sekali dengan beliau. Namun, sayangnya aku tidak bisa lama hidup bersama mereka," Dean menarik napas panjang.


"Kenapa?" Kensky sebenarnya ingat waktu Mrs. Stewart bilang, bahwa suaminya meninggal setelah anak perempuannya meninggal. Tapi saat ini ia ingin mendengarnya langsung dari Dean.


"Setelah ibumu menikah dengan Eduardus, aku mengirim mata-mata untuk menjaga kalian. Dan malam setelah ibumu datang kepadaku dan memeberikan kotak ini, orang suruhanku itu memberi kabar bahwa Barbara kecelakan dan menurut polisi kecelakan itu disebabkan karena rem mobilnya putus. Tapi setelah aku menyuruh orang untuk menyelidikanya kembali, ternyata ayahmu yang menyebabkan rem mobil ibumu rusak. Jadi sebelum dia datang menemuiku untuk kedua kalinya, ibumu datang dan membawa kotak yang sama denganmu kemudian memberikannya padaku. Dan setelah itu dia pulang untuk menemuimu lagi, ternyata Eduardus mengajaknya bertengkar. Dia kembali menghibungiku dan menceritakan soal perdebatan yang terjadi di antara mereka. Dia bahkan mengemudi sambil menangis karena masalah yang di hadapinya saat itu. Dia meluapkan kekesalannya, dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap ayahmu dan ingin bercerai, dan suara terakhir yang aku dengar hanyalah sebuah teriakan sampai akhirnya panggilan kami terputus."


Air mata Kensky mulai menetes. "Jadi saat mami keluar lagi sambil menangis, papi sudah merusak rem mobil mami?"


"Kemungkinan iya."


"Kenapa papi begitu tega kepada mami? Berarti papi tidak pernah mencintai mami."


Dean membuang napas panjang. "Apa yang ayahmu inginkan pada ibuku, begitu juga yang dia inginkan dari ibumu. Tujuannya hanyalah harta, Sky. Dia sengaja mencelakai ibumu, biar harta Barbara akan tetap jatuh ke tangannya. Jika dia bercerai, kan dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Di samping itu dia sudah menjalin hubungan dengan Rebecca. Jadi jalan satu-satunya agar dia tetap kaya dan bisa menikah dengan Rebecca adalah menyingkirkan ibumu."


Zet!


"Jadi papi membunuh mami hanya karena Rebecca?"


"Iya."


Alis Kensky mengerut. "Dari mana kau tahu, Dean?"


"Dua hari setelah kematian ibumu, aku menyuruh orang untuk memata-matai ayahmu. Dia sering mengunjungi kelab malam di mana Rebecca bekerja. Rebecca adalah wanita malam yang paling disukai ayahmu."


"Ya, ampun, berarti Rebecca ...."


"Iya, dia wanita ****** yang merusak hubungan ayah dan ibumu. Tapi dia tidak tahu, kalau sebenarnya yang kaya itu adalah ibumu. Jadi begitu mendengar kabar itu, aku langsung mendatangi Rebecca diam-diam, membuatnya mabuk, memberikan uang dan mengorek informasi tentang ayahmu. Di situlah Rebecca membongkar semuanya. Bahkan tanpa sadar dia mengungkapkan kepadaku soal kedekatannya dengan ayahmu. Dia bilang padaku bila mana dia mendekati ayahmu hanya karena harta dan menyuruh ayahmu untuk membunuh ibumu, agar dia bisa menikah dengan ayahmu."


Kensky menggeleng-geleng. "Mereka sungguh kejam."


"Itulah alasannya kenapa aku memanfaatkan Rebecca untuk membalaskan dendamku, Sky. Aku ingin membuat ayahmu menderita seperti yang telah dia lakukan kepadaku dan ibuku dulu. Aku juga ingin dia jatuh miskin, karena aku tak rela harta Barbara jatuh kepadanya atau pun kepada Rebecca dan Soraya."


Kensky menatap sayu. "Aku tak menyangka ... di balik sikapmu yang kejam ini ternyata ada tujuan mulia yang ingin kau gapai."


Dean menggenggam sebelah tangan Kensky. "Berjanjilah padaku."


"Bahwa kau akan merahasiakan ini dari ayahmu. Aku tidak ingin dia tahu siapa keluarga Barbara yang sebenarnya dan apa tujuan kami sebenarnya. Meskipun sekarang dia sudah berubah, tapi biarlah kita membangun lembaran baru dengan keluarga yang baru. Di mana yang dia tahu aku anaknya Mrs. Stewart dan kau anaknya Barbara."


Mata Kensky berkaca-kaca. "Aku janji, aku tidak akan mengatakan hal itu. Tapi sebelumnya aku ingin tahu ... apa kau mencintaiku hanya karena aku ini anaknya Barbara?"


Dean tersenyum sayang. "Awalnya begitu, tapi semakin lama perasaan itu timbul dengan sendirinya. Aku sudah memantaumu sejak kau masuk sekolah menengah dan saat itulah aku merasa, bahwa aku mulai jatuh cinta padamu."


Kensky tersenyum lebar. "Seandainya aku tidak bekerja di Kitten Group, berarti selamanya kita tidak akan pernah bertemu."


"Siapa bilang?" kata Dean dengan nada meledek, "Kan aku yang menyuruh Tanisa untuk mereferensikan Kitten Group kepadamu."


Mata Kensky terbelalak. "Oh, iya? Sejak kapan?"


"Sejak aku tahu kalian satu Universitas," balas Dean.


Lagi-lagi Kensky terkejut. "Bagaimana bisa?"


"Saat itu aku mengajaknya makan. Aku jujur padanya, kalau aku mengincarmu. Dia menanyakan alasannya, tapi aku tidak bilang kalau ibumu punya ikatan denganku. Aku bilang padanya, bahwa aku menyukaimu. Jadi kalau dia bisa membantuku untuk mendekatkan kita berdua, aku akan memberikan imbalan besar kepadanya. Dan begitu dia berhasil membuatmu mengirim lamaran ke surel Kitten Group, saat itulah aku memberikan dia uang tabungan dan menyediakan pekerjaan yang bisa menjamin masa depannya."


Mulut Kensky terbuka. "Pantasan dia keras kelapa agar aku harus berpacaran denganmu. Ya, ampun, ternyata kalian sekongkol."


Dean tertawa. "Maafkan aku. Tapi aku melakukan ini semua agar kau mencintaiku secara murni, bukan karena paksaan atau berdasarkan perjodohan. Aku ingin kau mencintaiku tulus dari hatimu, bukan karena hubunganku dengan ibumu."


Kensky mengalungkan kedua tangannya di leher Dean. "Kau tahu, bahkan sebelum kau mengatakan soal perjodohan itu aku sudah jatuh cinta padamu, Dean. Aku sudah jatuh cinta saat pertama kali melihat kau turun dari mobil waktu itu."


"Benarkah?"


"Benar. Kau tipe lelaki yang kuinginkan, matang, tampan dan menggairahkan."


Tangan Dean bergerak ke buah dada Kensky. "Sungguh?"


"Sungguh, apalagi saat lidahmu menyentuh ... Oh, Dean, rasanya aku rela mati demi dirimu."


Dean menatap sayu lalu melepaskan tubuh Kensky dari pelukannya.


Gadis itu terkejut. "Kau mau ke mana?"


Dean tak menjawab. Ia terus berjalan mendekati pintu kemudian menguncinya.


Clek!


Wajah Kensky bersemu merah. Tahu apa yang akan dilakukan Dean, ia pun segera duduk di kursi dengan kaki sedikit terbuka.


Dean menyeringai. Tanpa berkata apa-apa ia segera mengangkat tubuh Kensky dan mendudukannya di atas meja.


Kensky merasa malu karena tindakannya salah. Tapi begitu tubuh Dean duduk di kursi dan menyusupkan tangan ke balik roknya, dengan mata sayu ia menatap Dean sambil menggigit bibir.


"Kau siapa?" tanya Dean setelah berhasil melepaskan panties dari balik rok ketat itu.


Kensky tak menjawab. Ia hanya mengangguk dan meletakan kedua kakinya di bahu Dean. Sambil berbaring di atas meja, ia mulai mendesah setiap kali sapuan lidah yang dingin menyambar kewanitaannya yang mulus.


"Oh, Dean. Kau sungguh hebat."


Bersambung___