Mysterious CEO

Mysterious CEO
Kembali Berakting.



Setelah berpamitan di atas pusara yang bertuliskan nama Eduardus Oxley, Soraya mengajak Kensky untuk kembali ke rumah. Sambil berjalan pelan mereka menceritakan soal perjodohan itu.


"Kau yakin ingin menikah dengan orang itu?" Soraya memulai.


Kensky tersenyum sambil menatap kakinya yang sedang melangkah dan menginjak rumput gajah mini. "Aku yakin, aku bahkan sangat yakin karena lelaki itu adalah pilihan orangtuaku. Jika bagi mereka dia adalah sosok yang baik, berarti buatku juga dia pasti yang terbaik."


"Kalau aku ... pasti aku tidak akan mau," balas Soraya seraya melirik Kensky.


"Kenapa?"


"Menikah dengan orang yang belum kita kenal itu berisiko, Sky. Apalagi kita sama sekali tidak memiliki perasaan kepada orang itu, sama saja kita sedang membeli kucing dalam karung."


Kensky tersenyum lagi. "Tapi kan cinta bisa tumbuh dengan sendirinya. Lagi pula aku tidak akan langsung menikah, aku ingin menjalaninya dulu. Saat ini pak Dean sudah menugaskanku di Jerman, dan beliau mempercayakanku untuk memonitor segala operasional di sana. Jadi ada baiknya aku akan fokus kerja dulu sambil menjalani hubungan dengan lelaki itu."


"Oh, iya, ngomong-ngomong soal pak Dean ... aku minta maaf. Aku hanya cemburu,Sky," katanya basa-basi. Ia sengaja mengutarakan kata-kata itu agar Kensky tahu dirinya benar-benar tidak ada dendam atau pun rasa iri lagi terhadapnya.


Membawa topik soal Dean memang sengaja dilakukan Kensky untuk mengorek perasaan Soraya terhadap lelaki itu. "Tidak apa-apa, lagi pula sudah sewajarnya kau cemburu. Bukankah kau sangat menyukainya?"


Soraya terkekeh. "Tapi sepertinya dia sangat menyukaimu," katanya sambil melirik Kensky. Ia sengaja berkata begitu untuk melihat ekspresi Kensky.


Tapi sayangnya Kensky tidak mudah diprovokasi. Ia yakin kalau Soraya sengaja melontarkan hal itu hanya karena rasa penasarannya terhadap apa yang telah terjadi antara dia dan Dean. "Itu hanya perasaanmu saja, Soraya. Oh, iya, ngomong-ngomong seberapa besar rasa sukamu terhadap bos kita itu?" Suara Kensky tertawa agar kesannya terlihat santai.


"Sangat besar, Sky. Aku sangat menyukai pak Dean. Bahkan jika disuruh mati sekalipun asal dia dia mau menikahiku lebih dulu, aku akan melakukannya."


Kensky terdiam. Ia melirik Soraya dengan hati yang penuh tanya. "Ya, Tuhan, seandainya dia tahu Dean dan aku telah dijodohkan, apakah dia akan merusak hubungan kami?"


Suara Soraya mengejutkan Kensky. "Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada. Aku hanya ... aku hanya heran saja kenapa kau sampai begitu menyukai bos kita, padahal bagiku dia tidak ada menariknya."


Soraya tertawa. Tapi karena mereka sudah tiba di rumah, ia mengajak Kensky masuk dan mencari Rebecca. "Ma! Mama!" panggil Soraya.


Kensky melihat semua ruangan yang kosong itu dengan matanya. "Mungkin mama di kamar."


"Ayo, sebaiknya kita cari sebelum dia melakukan hal bodoh untuk mengikuti ayah."


Kensky terkejut. "Kau jangan bicara begitu, Soraya."


Saat ini kedua perempuan itu sudah menaiki tangga menuju kamar Rebecca. Bahkan tanpa mengetuk Soraya segera membuka pintu itu dan menghambur masuk.


Clek!


Didorongnya pintu lalu melangkah masuk ke dalam.


Kensky menurut dan mengekor di belakangnya.


"Kamarnya gelap," kata Soraya seraya berjalan menuju sakelar lampu yang letaknya di dekat ranjang. Dan saat lampu kamar menyala, mata kedua perempuan itu tertuju pada sosok yang masih berpakaian serba hitam yang sedang terkulai di lantai.


"Mama!" pekik mereka bersamaan. Kensky dan Soraya langsung menghampiri dan membantunya.


"Mama kenapa, Ma? Bangun, Ma," kata soraya.


Rebecca menangis. "Biarkan mama mati saja. Mama ingin menyusul ayah kalian."


Soraya dan Kensky ikut menangis. "Ma, kumohon jangan berkata begitu," balas Kensky, "Aku dan Soraya sangat membutuhkan Mama di rumah ini."


"Kalian sudah besar, Sky. Kalian sudah bisa mengurus diri kalian sendiri."


"Jangan begitu, Ma. Aku sangat membutuhkan Mama. Hanya Mama satu-satunya orang yang bisa menjadi wali di saat aku menikah nanti."


Membawa kata pernikahan membuat tangis Rebecca terdiam. "Menikah? Memangnya kau ingin menikah, Sky?"


Kensky menatapnya. "Iya, Ma. Bukankah Mama sendiri yang bilang kalau papi telah menyediakan calon untukku?"


"Kata siapa papi tidak bisa menyaksikannya? Aku justru ingin menikah dan melakukan pemberkatan itu di depan makam papi, Ma."


Rebecca terkejut. "Kau serius, Sky?"


"Kalau memang itu permintaan papi, aku akan melakukannya sebelum aku kembali ke Eropa."


Wajah Rebecca tersenyum lebar. Dengan bekas air mata yang masih membasahi pipi ia berkata sambil menatap langit-langit kamar, "Eduardus, kau dengar itu? Anakmu mau melakukan perintahmu. Dia ingin menikah dengan calon pilihanmu."


Kensky dan Soraya saling melemparkan senyuman.


Rebecca berdiri dan menatap Kensky dengan ekspresi yang sengaja dibuat-buat. "Mama masih tidak percaya dengan keputusanmu ini, Sayang. Mama takut kalau kau___"


"Tidak, Ma," sergah Kensky, "Mama tidak usah takut, oke? Yang menjalaninya kan aku bukan Mama."


"Benar, tapi setidaknya kau lihat dulu siapa Lelaki itu. Mama sendiri cukup kaget saat mendengar namanya."


Soraya ikut berkomentar. "Bisa aku tahu siapa calon adik iparku itu?"


Rebecca menatap garang. "Kensky saja belum tahu, masa kau yang harus tahu lebih dulu."


Kensky bisa melihat ekspresi Rebecca saat menatap anaknya. "Apa mungkin mama sengaja tidak mengatakan kepada Soraya karena lelaki itu adalah Dean?" kata Kensky dalam hati, "Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya Soraya tahu bahwa lelaki itu adalah Dean."


"Baiklah. Eh, nanti malam mama akan undang dia ke sini, bagaimana?" tanya Rebecca kepada Kensky.


"Boleh, Ma," balas Kenky. Ia menatap Soraya, "Kau mau kan temani aku ke butik? Aku ingin membeli gaun."


"Gaun untuk apa? Memangnya kau akan menikah sekarang?" kata Soraya dengan nada meledek.


Rebecca memprotes. "Dia harus mengenakan gaun yang berkelas, Soraya. Calon suaminya kan orang terpandang."


Kensky semakin yakin kalau itu adalah Dean.


Sedangkan Soraya berkomentar seakan tidak tahu siapa lelaki itu. "Aku jadi penasaran, memangnya siapa sih lelaki itu? Kenapa juga mama merahasiakannya dari aku dan Kensky?"


Kensky terawa. "Kau saja sudah penasaran, apalagi aku."


"Sudah, daripada kalian berdua pusing. Mending sekarang kau temani Kensky ke butik untuk membeli gaun," kata Rebecca kepada Soraya. Ia mengalihkan pandangan kepada Kensky, "Sayang, kau harus tampil cantik, oke? Pokoknya mama mau malam ini kau harus kelihatan cantik dan sempurna."


"Tenang saja. Biar tanpa dandan pun Kensky tetap cantik, kok. Iya kan, Sky?" kata Soraya.


Kensky hanya tertawa. Dan karena malam ini dirinya harus bertemu lelaki itu, ia pun bersama Soraya pergi ke butik untuk memilih gaun sekaligus ke salon demi mempercantik diri. Meskipun ia yakin lelaki itu adalah Dean, tapi tetap saja gadis itu ingin tampil cantik di depan lelaki pujaannya.


Di sisi lain.


Dalam gedung Kitten yang menjulang tinggi, Dean tampak gelisah sambil mondar-mandir di dalam kamar tepatnya di lantai dua puluh. "Bagaimana? Apa ada kabar tentang mereka?" tanya Dean kepada Matt.


Saat ini pria itu baru saja menutup panggilannya dari salah satu anak buah Dean yang bertugas di kediaman keluarga Oxley. "Katanya nyonya Kensky dan Soraya baru saja keluar rumah dan naik taksi."


Dean tampak berpikir. "Ke mana mereka, ya?" katanya pelan lalu kembali menatap Matt, "Suruh seseorang mengikuti mereka."


"Baik, Bos."


"Selain itu, apalagi yang mereka katakan?"


"Sebelumnya mereka melihat nyonya Kensky dan Soraya keluar dari rumah dan menuju taman belakang. Setelah nyonya Kensky dan Soraya kembali ke dalam rumah, mereka memeriksa tempat itu yang ternyata adalah sebuah makam. Pusaranya tertulis nama Eduardus Oxley dan tanah itu terlihat masih segar seperti baru digali."


"Apa?" pekik Dean, "Makam Eduardus?"


"Iya, Bos. Makam itu tertulis atas nama Eduardus Oxley."


Bersambung___