
Di sisi lain.
Karena hari ini adalah hari minggu, Dean hanya ingin bermalas-malasan di dalam kamar. Padahal biasanya setiap pagi dia sudah bergegas mandi dan pergi ke kantor, tapi karena libur ia pun memanjakan dirinya seharian di dalam kamar. Apalagi ia tahu hari ini akan ada tamu spesial yang akan berkunjung lagi.
Sekarang sudah pukul dua siang dan Dean baru saja keluar kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang. Rambut cokelatnya bahkan masih meneteskan air hingga berjatuhan ke dadanya yang bidang. Karena tak suka tubuhnya basah, Dean melepaskan handuknya untuk mengeringkan rambut dan tak peduli meski tubuhnya telanjang. Toh tidak ada siapa-siapa yang akan melihatnya, pikir Dean.
Sambil menggosok-gosokkan handuk berwarna merah itu di kepala, Dean menatap indahnya kota dari arah jendela. Ingatan akan kejadian semalam saat dirinya bersama Kensky membuat Dean tersenyum sayang. "Aku harus berhasil mendapatkanmu, Kensky. Aku harus berhasil."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Dean terkejut dan menoleh. Bukannya membungkus tubuhnya dengan handuk, justru handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut tadi dilempar ke lantai secara asal.
Sebelum membuka pintu kamarnya, Dean mengintip di lubang kecil yang ada di pintu untuk memastikan siapa yang ada di baliknya.
Zet!
"Akhirnya kau datang," kata Dean sambil menyeringai. Bukannya langsung membuka pintu, ia justru berteriak dari dalam, "Masuk!" Setelah mengatakan itu ia kemudian bersembunyi di balik pintu dengan senyum yang melebar.
Clek!
Kensky mendorong pintunya dengan pelan. Matanya jelalatan melihat isi kamar untuk mencari sosok yang menyuruhnya masuk. "Dean?" panggil pelan. Matanya kemudian mengarah ke handuk merah yang ada di lantai. Dalam hati Kensky berpikir, "Mungkin lelaki itu sedang berada di ruang ganti." Ia pun bergerak menjauhi pintu untuk menunggu Dean keluar.
Brak!
Bunyi pintu tertutup membuat Kensky terkejut. Ia menoleh dan melihat tubuh Dean yang tanpa sehelai benang bersandar di belakang pintu. "Akh!" Ia berteriak sambil menutup mata.
Tapi Dean tak peduli dan bergerak mendekatinya. "Kenapa berteriak, Sayang?" bisiknya sambil memeluk Kensky, "Bukannya kau sangat menikmati adegan tadi malam sampai tadi pagi, hah? Jadi kenapa harus malu?"
Kensky menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hal itu ternyata membuat Dean tersenyum dan semakin merasa gemas. "Kau tahu, Kensky. Apa yang kita lakukan semalam sampai tadi pagi membuatku gila. Rasanya aku ingin melakukannya lagi, lagi dan lagi."
Kensky masih menutup matanya dengan tangan sambil menggelengkan kepala. "Kumohon pakailah bajumu."
Bukannya menggubris, Dean malah meraih tubuh Kensky dan membawanya ke atas ranjang.
Wanita itu terkejut. "Kumohon turunkan aku, Pak Dean. Aku ke sini bukan karena ini."
"Aku tahu, tapi ini lebih penting bagiku daripada hutang ayahmu."
Dean membaringkan tubuh Kensky di atas ranjang, membuat baju terusan berwarna krem yang dipakai Kensky kini merosot hingga ke bagian atas. Paha mulusnya terpampang dan tangan Dean begitu cepat menempel di sana sambil mengelus dengan gerakan lembut.
Kensky terdiam saat merasakan lembutnya tangan Dean yang menyapu pahanya. Bahkan ******* kecil berhasil lolos ketika tangan itu menyentuh bagian di antara kedua pahanya.
"Kenapa kau berubah formal, hah?" bisik Dean tepat di leher Kensky.
"Kau itu calon istriku. Tidak seharusnya kau bersikap formal kepadaku, apalagi ketika berada di luar kantor."
Perkataan Dean membuat Kensky teringat akan pesan ibunya lewat buku harian itu. Matanya langsung terbuka dan dengan kasar ia mendorong tubuh Dean hingga pelukannya terlepas.
"Jauhi aku! Kau bukan calon suamiku! Kau berbohong," kata Kensky dengan suara meninggi. Ia bangkit dari ranjang dengan dada yang naik turun.
Dean menyipitkan mata. "Apa maksudmu berkata begitu? Aku ini calon suamimu, Kensky." Dilihatnya wajah Kensky tampak merah akibat marah. Tak ingin hal itu terjadi, Dean bangkit dari ranjang lalu meraih handuk dari lantai, membungkus tubuhnya hingga batas pinggang, kemudian berjalan mendekati nakas. Sambil menuangkan sisa anggur semalam ke dalam gelas ia berkata kepada Kensky, "Apa yang membuatmu menjadi emosi, Sayang? Kenapa kau jadi berubah seperti ini?" Sesaat kemudian ia menoleh untuk menatap Kensky. Tangan sebelahnya memegang gelas kristal yang sudah terisi anggur dan kembali berkata, "Kau masih ingat apa yang kita lakukan semalam dan tadi pagi, bukan?"
Kenksy hanya diam. Entah apa yang harus ia jawab dengan rentenan pertanyaan yang dilontarkan Dean kepadanya. Di sisi lain ia sudah mengetahui siapa calon suaminya dari pemberitahuan ibunya melalui isi kotak itu. Sementara dari pengakuan Dean, lelaki itulah yang akan menjadi calon suaminya karena Eduardus telah menjodohkan mereka. Hal itu pun membuat Kensky bingung. "Apakah aku sudah dijodohkan dengan dua lelaki yang berbeda?" katanya dalam hati. Entah kenapa Kensky ragu meski saat itu Dean begitu meyakinkan ketika mengucapkan pengakuan itu. Dan meski sang ayah belum pernah sekali pun membenarkan pernyataan Dean, tapi mengingat apa yang membuat sang ayah terikat dengan Dean saat ini mau tidak mau Kensky harus mempercayainya, "Apa jangan-jangan papi menjodohkan aku dengan Dean karena hutang itu?" kata Kensky dalam hati. Matanya menatap Dean saat lekaki itu menenggak habis isi dalam gelasnya. Setelah Dean meletakkan kembali gelas itu, Kensky memberanikan diri untuk bertanya, "Dari mana kau mendapat ide untuk mengaku, bahwa aku ini calon istrimu?"
Dean membalikan badan menatap Kensky yang masih berdiri di dekat ranjang. Karena tahu gadis itu tidak sedang bercanda, ia tidak ingin mendekati Kensky dan berjalan mendekati jendela. Sambil menatap keramaian kota ia menjawab pertanyaan itu. "Aku tidak bohong. Aku memang calon suamimu, Kensky."
"Atas dasar apa kau membenarkan pengakuan itu? Atau kau hanya memutuskan sepihak karena ayahku terlilit hutang kepadamu? Karena sampai sekarang pun ayahku tidak pernah membahas atau membetulkan pengakuan itu."
Dean berbalik cepat. "Kalau begitu dari mana kau berasumsi bahwa aku mengada-ngada, sementara kau sendiri belum mendengarnya langsung dari ayahmu? Apa dia sudah bilang kalau pengakuan itu tidak benar?"
Kensky berdecak. "Kalau pun itu benar, aku tidak akan setuju. Ibuku sudah menyiapkan lelaki yang pantas aku menjadikan suami. Beliau sudah memilih lelaki yang tepat untuk menemaniku."
Dean tersenyum samar. "Dari mana kau tahu, bukannya ibumu sudah meninggal?"
"Iya, tapi dia meninggalkanku sebuah kotak di mana itu adalah bukti untuk membenarkan pengakuanku saat ini. Dan soal pengakuan ayahku ... aku tidak bisa membenarkannya, Dean."
Dean meyeringai licik. "Terserah kamu saja kalau begitu. Dan sekarang kita langsung saja ke inti masalah," katanya lalu berjalan mendekati Kensky, "Kalau kau menolak pengakuanku, lantas kenapa kau mau berciuman denganku? Kau bahkan pasrah di bawah tubuhku, Nona Oxley."
Kensky terkejut. Ia tak menyangka kalau Dean akan melontarkan pertanyaan itu. "Aku terpaksa. Kalau kau tidak menahanku, aku pasti tidak pernah melakukan itu bersamamu."
Dean membelakangi Kensky. "Pembohong. Kau pasti menyukaiku, kan? Jujur saja, karena jujur aku juga menyukaimu, Kensky."
Perkataan Dean membuat wajah Kensky merona merah. Tak ingin lelaki itu tahu perasaannya yang sebenarnya, ia pun mengalihkan pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan. "Apa benar papi punya hutang kepadamu?"
Dean berbalik. "Benar."
"Apa benar papi menjadikan perusahannya sebagai jaminan atas hutangnya kepadamu?"
"Benar sekali."
Kensky menelan ludahnya dan hal itu direkam oleh Dean. Rasa khawatir yang dirasakan gadis itu membuat Dean merasa menang.
"Tapi kau tidak perlu membayar hutangnya, Kensky. Kau cukup melakukan sesuatu jika kau ingin menyelamatkan perusahanmu itu."
Kensky mendadak senang. Tapi sebisa mungkin ia tidak terlalu menampakkan rasa senangnya itu dari Dean. "Melakukan apa? Katakan."
Bersambung___