Mysterious CEO

Mysterious CEO
Rencana CEO.



Keesokan harinya di rumah keluarga Oxley Rebecca dan Soraya sedang beradu mulu. Soraya dengan kesal meluapkan emosinya kepada sang ibu ketika tahu Kensky tidak pulang.


"Kau ini masih pagi-pagi sudah mengajak mama ribut," kata Rebecca seraya mengatur menu sarapan di atas meja.


"Aku memang ingin ribut," ketus Soraya seraya berkacak pinggang sambil menatap Rebecca, "Kenapa Mama bersikap biasa saja, sementara anak tiri Mama tidak pulang dan mungkin sekarang sedang tidur bersama calon suamiku?"


Rebecca menghentikan tangannya yang sibuk mengatur piring. "Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus marah-marah kepada Dean, begitu?" tangan Rebecca kembali meletakkan sendok dan garpu di samping piring, "Kalau kau mau aku seperti itu, kau saja yang melakukannya sendiri. Aku tidak mau hanya karena mencampuri urusan pribadinya, Dean akan membatalkan semua rencana yang sudah di susun rapi," Rebecca berhenti dan menatap anaknya, "Harusnya kau sadar, Soraya. Kalau bukan karena mama Dean tidak akan mau menikahimu. Jadi, sebaiknya kau jangan marah-marah padaku."


Soraya terkejut. "Oh, jadi sekarang Mama lebih membela Kensky daripada aku, begitu?"


Rebecca berkacak pinggang. Dengan wajah tak kalah garang ia menatap Soraya. "Memangnya kau tidak punya kesabaran, hah? Kau kan bisa menunggu sampai Kensky pulang dan minta penjelasannya? Bukannya berdiri di sini dan marah-marah padaku. Aku ini ibumu, Soraya."


"Aku___"


Ting! Tong!


Bunyi bel pintu membuat perkataan Soaraya terhenti.


Ting! Tong!


Ibu dan anak itu saling bertatap.


"Itu pasti dia!" jawab Rebecca seraya berjalan untuk membuka pintu.


Soraya yang masih mengenakan jubah mandi dengan handuk di kepalanya pun ikut mengekor di belakang Rebecca.


Clek!


"Halo, Sky! Kenapa kau baru pulang?" Nada Rebecca terdengar dibuat-buat dan itu membuat Soraya kesal.


"Maaf, Ma. Karena semalam sudah larut, ibunya temanku mengajak kami menginap."


"Memangnya pestanya di mana, Sayang? Kenapa tidak temanmu saja yang mengantarkanmu pulang, kan kau bisa beralasan padanya bahwa pagi-pagi harus bekerja?"


"Aku___"


"Cukup!" sergah Soraya yang emosinya semakin meluap, "Mama kenapa basa-basi segala, hah?" ia menatap Kensky, "Sekarang kau jelaskan kepadaku, Sky. Kenapa tadi malam kau keluar dari apartemen itu bersama Dean?"


Kensky terperanjat. "Mampus, apa jangan-jangan Soraya membuntutiku semalam, ya?" pikirnya. Dengan cepat ia mengubah ekspresi seakan tidak tahu, "Apartemen? Apartemen mana, ya? Mungkin kau salah orang, Soraya."


Soraya berdecak. "Aku tidak mungkin salah orang, Kensky. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau keluar dari apartemen itu bersama Dean. Kalian masuk ke mobil Dean dan pergi bersama entah ke mana."


"Gawat, ternyata benar," kata Kensky dalam hati, "Dia pasti membututiku semalam," ia pun tak bisa mengelak. Dan hal terbaik sekarang adalah berkata jujur, "Maafkan aku karena tidak jujur," katanya lemah. Ia menatap wajah Soraya dan Rebecca secara bergantian, "Tuduhanmu itu memang benar, Soraya. Semalam aku memang keluar bersama Dean."


Rebecca terperanjat. "Kenapa kau tidak jujur kepada mama, Sayang?"


"Mama!" bentak Soraya sambil menatap Rebecca, "Kenapa Mama terus bersikap lembut kepadanya, hah?"


"Diam, Soraya!" bentak Rebecca, "Sekarang lebih baik kau pergi ke kamarmu dan tinggalkan kami berdua, aku ingin bicara dengan Kensky."


"Tidak! Aku harus___"


"Aku bilang masuk!"


Dengan kesal Soraya menatap mereka. "Kalian berdua sama saja! Lihat saja apa yang akan kulakukan kepada kalian. Aku akan membuat kalian berdua menyesal seumur hidup karena sudah menyakitiku hari ini."


Rebecca menatap Soraya dengan mata melotot. "Kau yang akan menyesal karena sudah mengatakan itu kepadaku, Soraya."


Wanita itu tak menggubris. Ia hanya menatap kesal ke arah Kensky kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


"Oh, Sayang. Mama harap kau bisa memaafkan Soraya," kata Rebecca begitu pendangannya teralih kepada Kensky, "Ayo, masuk dulu. Kita bicara di dalam saja, ya," setelah mereka tiba di dalam Rebecca mengajak Kensky duduk di sofa ruang tamu, "Sekarang jelaskan kepada mama apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Kenapa kau tidak jujur, bahwa kau semalam pergi bersama Dean?"


Saat ini Kensky merasa sikap Rebecca sudah benar-benar berubah. Sebab sudah kedua kalinya wanita itu membentak Soraya di depannya, ia yakin kalau Rebecca tulus membela meski sebenarnya dia harus rela diamuk atau dibenci oleh Soraya. "Sebenarnya aku ingin jujur, tapi aku takut Mama akan marah dan mengatakannya kepada Soraya. Mama tahu kan bagaimana Soraya sangat menyukai Dean."


"Oh, Sayang, itu tidak mungkin," balas Rebecca.


"Tapi aku bersumpah, Ma. Aku dan Dean tidak punya hubungan apa-apa. Kemarin itu beliau sendiri yang memintaku untuk menghadiri acara ulang tahun ibunya. Tapi karena tak ingin Mama dan Soraya tahu, mau tidak mau aku terpaksa berbohong kepada kalian."


"Brengsek, berani-beraninya Dean mengajak Kensky ke pesta ibunya," ketus Rebecca dalam hati, "Harusnya kan dia mengajak Soraya bukan gadis sialan ini," Rebecca memborong wajah Kensky, "Ini tidak boleh dibiarkan. Pasti ada sesuatu di antara mereka berdua," katanya dalam hati. Tak ingin Kensky curiga dengan apa yang ia pikirkan saat ini, Rebecca meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, "Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting sekarang kamu sudah jujur."


"Terima kasih, Ma."


"Tapi mama juga ingin kau jujur, apa benar kau dan Dean tidak berpacaran?"


Kensky menggeleng kepala. "Tidak, Ma. Sumpah, aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya."


"Lalu kenapa dia mengajakmu bertemu ibunya?"


"Aku sendiri tidak tahu, Ma. Tapi seandainya beliau bukan atasanku, aku pasti akan menolaknya dan menyuruh Soraya untuk menemaninya."


"Lalu kenapa kau tidak pulang? Kau kan bisa menyuruhnya untuk mengantarkanmu pulang tadi malam?"


"Ibunya yang melarang kami pulang, Ma. Karena pak Dean jarang pulang, ibunya meminta kami untuk menginap di rumah itu semalam."


"Aneh," kata Rebecca dalam hati. Ia menatap Kensky lalu berkata, "Ya, sudah. Sekarang sebaiknya kau mandi dan ganti baju. Kau akan ke kantor, kan?"


"Iya, Ma."


"Ya, sudah. Cepat sana, nanti kau terlambat."


"Terima kasih ya, Ma," kata Kensky lalu berdiri meninggalkan Rebecca.


Sementara Rebecca dengan tatapan menyipit terus melihat tubuh Kensky yang kini sedang menaiki tangga. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Ini sangat aneh. Masa Dean mengajak Kensky bertemu ibunya, sementara yang dia tahu calon istrinya adalah Soraya," Mata Rebecca terbelalak, "Apa jangan-jangan benar Dean sudah jatuh cinta kepada Kensky? Tidak! Ini tidak boleh terjadi, aku harus melalukan sesuatu."


Di sisi lain.


Di dalam kamar apartemennya yang besar, tubuh Dean sudah mengenakan setelan jas lengkap. Rambutnya pun sudah tersisir rapi. Saat ini lelaki itu sedang menatap indahnya kota New York pagi hari sambil mengingat kembali kenangan-kenangan indah yang dilakukannya bersama Kensky. "Aku akan membuatmu semakin tergila-gila padaku, Sky. Aku bersumpah."


Drtt... Drtt...


Zet!


Senyumnya kontan melebar saat melihat nama si pemanggil. "Halo, Mami?"


"Dean! Oh, Sayang. Aku sangat senang sekali," sahut wanita di balik telepon yang ternyata adalah Mrs. Stewart.


Dean tersenyum. "Aku ikut senang, Mami."


"Terima kasih kau sudah memberikan kejutan kepadaku dengan membawanya ke rumah ini."


"Itu memang sudah niatku. Lagi pula itu memang sudah kurencakan sejak lama, dan syukurlah dia punya waktu dan mau kuajak ke rumah."


"Oh, Dean, aku sangat bahagia. Sumpah, aku sangat bahagia."


"Aku ikut juga sangat bahagia, bisa menepati janjiku dengan mempertemukan kalian."


"Kalau begitu kapan kalian akan menikah?"


"Aku belum membicarakan hal itu dengannya, Mam. Tapi aku janji, setelah semua urusanku beres aku akan langsung melamarnya."


"Secepatnya, Dean. Aku ingin melihat kalian menikah sebelum aku meninggal nanti."


"Mami, kumohon jangan bicara begitu. Aku janji padamu. Pokoknya secepatnya aku akan segera melamar Kensky, oke?"


Mrs. Stewart tertawa. "Baik, Sayang. Aku percaya padamu. Ya, sudah, kalau begitu kau kerja saja dulu. Sampaikan salamku kepadanya, ya?"


"Itu pasti."


Tut! Tut!


Dean mutuskan panggilan. Sambil menyeringai ia berkata, "Baiklah, sekarang waktunya untuk menyelesaikan semuanya. Siap-siap saja aku akan segera melamarmu, Kensky."


Dean berjalan keluar kamar. Tibanya di depan pintu sosok Matt sedang menunggu sambil menunduk hormat kepadanya. "Apa ada berita terbaru, Matt?" tanya Dean sambil berjalan menyusuri koridor.


"Ada, Bos. Mr. Pay baru saja menelepon, beliau ingin bertemu Anda."


"Di mana?"


"Beliau memintaku agar tempat dan waktunya diatur saja oleh Anda."


"Baik, katakan padanya aku tunggu di restoran biasa saat makan siang."


"Baik, Bos."


"Matt?" panggil Dean saat langkahnya berhenti.


"Iya, Bos?"


"Apa minggu ini ada jadwal penting untuku?"


"Tidak ada, Bos."


"Kalau begitu besok kau siapkan semuanya, lusa kita akan ke Eropa."


"Siap, Bos."


Dean menyeringai licik lalu melangkah lagi. Dan saat mereka tiba di dalam mobil, lelaki itu merogoh ponsel dari saku jasnya untuk menghubungi seseorang.


"Kim?" sapa Dean begitu panggilan terhubung.


"Iya, Pak?"


"Lusa aku dan Matt akan ke Jerman. Tolong pesankan tiket untuk tiga orang."


"Baik. Tapi tiket yang satunya atas nama siapa, Pak?"


"Kensky."


"Maaf, Pak. Tapi maksud Anda Kensky asistennya Mr. Hans?"


"Iya, memangnya nama Kensky di kantor kita ada berapa?"


"Maaf, Pak. Kalau begitu saya akan langsung memesankan tiketnya."


"Setelah itu kau hubungi dia, lalu suruh dia ke ruanganku dua puluh menit lagi."


"Siap, Pak. Saya akan memberitahukannya."


Tut! Tut!


Di sisi lain.


Di dalam gedung kantor Kitten Group Kim terlihat sibuk dengan tugas yang diberikan sang atasan barusan. Ia juga sudah mengecek semua travel, tapi tidak ada jadwal penerbangan yang sesuai dengan kemauan sang atasan.


"Selamat pagi," sapa Soraya begitu tiba di ruangan mereka.


"Pagi," balas Kim tanpa menatapnya.


Alis Soraya mengerut. "Ada apa? Sepertinya Bu Kim serius sekali?" tanya Soraya saat melihat wajah wanita itu yang begitu tegang menghadap komputer. Ia meletakkan tasnya kemudian duduk di samping Kim untuk melihat apa yang menyebabkan seniornya itu begitu serius.


"Aku sedang mencari tiket untuk pak Dean, tapi semua jadwal tidak ada yang sesuai dengan keinginan beliau."


"Tiket? Memangnya bos mau ke mana?"


"Eropa."


Bersambung___